
Adeeva merasa kupingnya tersumbat salah dengar kalimat Ezra. Laki itu kan suka asal Nyaplak. Bicara tidak pakai saringan.
"Melahirkan anak?" gumam Adeeva belum percaya diminta melahirkan. Bermimpi saja Adeeva tak ingin apalagi betulan di alam nyata.
"Kau benar. Aku ingin punya anak untuk meneruskan tahta Dilangit."
"Selir bapak gitu banyak kenapa harus aku?"
"Sederhana saja! Aku ini laki setia teguh pada janji. Kau terlahir untukku maka kutetapkan anakku harus dari rahim kamu."
"Apa tak ada negosiasi lain?"
"Untuk sementara tidak ada. Kau mau bawa mobil ke mana? Memang kau tahu arah ke apartemen aku?" Ezra merasa Adeeva bawa mobil makin menjauh dari kota.
Adeeva merengut tak senang ditekan Ezra terusan. Dasar cowok tak punya hati. Ganteng di tampang doang, akal monster. Adeeva makin termenung coba kilas balik nasibnya sejak kenal Ezra. Tak satu hari pun dia hidup tenang seperti dulu. Hari ceria sudah tamat. Ke depan ntah apa lagi.
"Jangan kelewat lama melamun! Ditinggal jodoh baru tahu." Ezra buyarkan lamunan Adeeva.
Adeeva melontarkan tatapan membunuh lewat kaca pion. Makin dilihat wajah Ezra makin mirip monster paling jelek sedunia. Rasanya ingin diawetkan kirim ke planet mars untuk bergabung sama sesama jenis.
"Jodoh apa? Sudah habis dipatok ayam licik. Tampang ayam jago isi ikan paus."
"Jauh amat perbedaannya! Maunya tampang ayam jago badan burung Garuda. Gagah perkasa."
"Cis...mana ada burung Garuda licik kayak tikus. Sekarang mau diantar ke mana? Ke neraka?"
"Wuih sinis amat nih bini! Kalau aku ke neraka kamu harus ikut. Isteri setia ikut suami ke manapun. Kita sehidup semati ya?"
"Mati aja sendiri! Aku masih mau hidup seribu tahun."
"Aku tak tega mati duluan tinggalkan kamu sendirian menjanda. Pokoknya kamu adalah milikku sampai dunia berhenti berputar."
"Mimpi..." omel Adeeva.
"Pinggirkan mobil biar aku yang bawa jalan!"
"Tak usah...mobil aku alergi cowok mesum!" ketus Adeeva percepat laju mobil tanpa arah. Di mana rumah Ezra dia tak tahu. Laki itu juga tidak kasih arahan di mana Adeeva harus melakukan kenderaan.
"Kamu pasti takut mobilnya jatuh cinta padaku. Semua orang ngaku aku ganteng. Ayo kamu ngaku juga!"
Adeeva peragakan mau muntah ada orang demikian pede ngaku ganteng. Sungguh laki muka tembok.
"Jangan banyak mulut! Di mana rumah bapak? Aku harus pulang ke rumah orang tuaku."
"Ok...kita ke sana barengan! Aku mau silahturahmi dengan mertua. Minta ijin produksi cucu untuk mereka."
Kalau di depan Adeeva ada racun tikus pasti sudah digasak ke mulut tak punya etika itu. Ngoceh sesuka hati tak hitung perasaan orang. Siapa lagi mau mengandung anak dari orang sombong macam Ezra.
"Aku pulang sendiri saja pak! Hari ini aku kan masih libur kerja. Besok baru masuk kerja. Kita ini rekanan perusahaan."
"Tapi kamu isteri aku. Di mana tanggung jawabmu sebagai isteri? Melecehkan suami tiap hari. Itu tanda wanita jauh dari surga."
__ADS_1
Adeeva menarik nafas gundah kalau Ezra gunakan agama sebagai tameng. Kata Ezra tidak salah kalau Adeeva terusan melawan suami. Pintu neraka terbuka untuknya. Untuk ini Adeeva memilih bungkam.
Ezra tersenyum menang. Laki ini menemukan kelemahan Adeeva yang lain. Ezra makin tahu cara taklukkan kuda poni yang masih liar ini. Tak perlu pakai pawang untuk jinakkan kuda itu. Ezra sudah punya cambuk ajaib jinakkan gadis ini.
Ezra mengarah Citra ke arah rumahnya. Di daerah bilang kaum elite. Daerah yang putaran duit gunakan dolar. Adeeva tidak heran kalau Ezra tinggal di daerah khusus orang Borjuis. Uang mereka disusun bisa jadi satu bangunan rumah.
Mobil Adeeva tampak paling kumuh di antara mobil mentereng seharga ember-ember. Kalau mobil punya rasa malu pasti akan segera sembunyi hindari parade mobil dengan cat berkilauan.
Adeeva meringis seperti makan cabe rawit super pedas. Bunyi desisan pedih tangisi nasibnya yang kere. Perbedaan antara langit dan bumi. Ezra berada di puncak tangga tertinggi sedang Adeeva berada di kolong tangga tertutup cahaya sehingga suram.
Ezra menyuruh Adeeva tinggalkan mobilnya di parkiran agak sudut. Ezra akan urus mobil Adeeva agar terhindar dari incaran detektif mamanya. Mobil itu harus disingkirkan untuk sementara agar jejak isteri keenam Ezra lenyap untuk saat ini.
Ezra ajak Adeeva naik ke atas di mana Ezra tinggal selama ini. Jelas private area. Mereka naik ke atas dengan lift khusus untuk orang-orang Borjuis penghuni apartemen mewah.
Ezra menekan tombol lantai delapan belas pada panel di dinding lift. Adeeva ikut saja karena memang buta soal tempat tinggal mewah ini. Adeeva terbiasa hidup merakyat karena memang datang dari keluarga sederhana. Tidak kaya juga tidak miskin. Dari kalangan biasa.
Mereka tiba di satu pintu besi dicat warna putih keabuan dengan list warna hitam. Adeeva melihat Ezra menekan beberapa angka barulah terdengar bunyi tit tanda pintu terbuka.
Ezra langsung masuk dengan langkah besar. Adeeva ikut sambil meneliti siapa penghuni apartemen ini selain Ezra. Adeeva berharap tiba-tiba muncul seorang wanita ngaku pacar atau bini Ezra sehingga dia bisa terbebas dari cengkeraman laki ini.
Adeeva tak sangka ruang apartemen Ezra sangat luas. Semua perabotan tertata rapi sesuai keinginan empunya rumah. Sofa tamu bulat melingkar di tengah ruang. Ada mini bar dipenuhi minuman aneka model. Adeeva menduga itu minuman keras. Ke sana lagi ada ruang keluarga dihiasi televisi segede satu lembar triplek, kiri kanan ada loudspeaker yang harganya tentu tak bisa dihitung pakai sepuluh jari.
Adeeva mengira-ngira berapa duit dihabiskan Ezra beli perabotan yang rata-rata mahal ini. Mereka sungguh beda kelas. Ezra cocok jadi ikan paus sedang dirinya cukup jadi ikan teri.
Ezra sudah menghilang ntah ke ruang mana. Tinggal Adeeva seperti orang bodoh berada di ruang Ezra tak tahu harus berbuat apa. Betapa asing suasana rumah orang kaya.
Adeeva tak berani melangkah ke sana sini sidak tempat tinggal suaminya. Salah-salah dianggap sok akrab.
Adeeva persis orang bodoh duduk sendirian di ruang tamu Ezra. Nelangsa tak tahu harus buat apa. Lama-lama bisa menjamur dia di sana.
Ezra sudah ganti pakaian dengan stelan kerja. Pakaian resmi seorang CEO pujaan para cewek. Adeeva harus akui Ezra sangat tampan dalam pakaian apa pun. Kharisma seorang pemimpin melekat pada dirinya.
"Bukalah pakaianmu! Kita ke rumah orang tuamu lalu ke kantor! Aku mau kau atur semua sistim keamanan kantor. Ada dua yang harus kau tutup yakni uang perusahaan serta data keuntungan perusahaan. Aku mau hanya aku yang bisa buka. Kau sanggup?" Ezra konyol sudah hilang ganti Ezra bertampang serius bahas soal kerja.
"Itu gampang pak! Bukankah dulu sudah kupisahkan? Apa belum bapak terapkan?" Adeeva ikut buang gap antara mereka. Bahas soal pekerjaan akan lebih capai titik temu.
"Sudah sebagian tapi belum seluruhnya. Tetap harus ada yang atur karena semua dipegang oleh adik mama. Kau tak boleh ngaku bagian IT. Kamu ngaku asisten bantu Ruben. Mereka itu otaknya kotor."
"Kita mulai dari mana?"
"Kita mulai dari uang di rekening om Jul. Kau sikat semua uangnya pindahkan ke rekening perusahaan. Bisa kau buat seolah dia yang pindahkan!"
"Bisa tapi harus ada nomor ponsel dan akun email om bapak. Ini ilegal lho! Ketahuan bisa nginap di hotel prodeo."
"Aku tanggung jawab. Kau ubah beberapa sandi dulu agar om tidak bisa periksa data di perusahaan."
"Baik tapi aku minta bapak janji jangan libatkan aku dalam pertikaian keluarga. Aku ini hanya karyawan biasa." Adeeva bersedia bekerja tapi takut terlibat dalam masalah perebutan kekuasaan.
"Apa kamu bukan bagian dari aku? Kelak anakmu adalah pewaris seluruh harta Dilangit." ujar Ezra seraya masuk ke ruang lain. Laki ini tak peduli Adeeva mau berpikir apa tentang omongannya. Adeeva selalu ingin ciptakan jarak antara mereka. Gadis ini mungkin lupa statusnya sebagai isteri sah Ezra.
Ezra keluar lagi bawa segelas air putih untuk Adeeva. Rumah ini tak ada makanan selain air putih. Ezra tak pernah makan di rumah ini karena tak ada yang urus dia makan. Paling pesan makanan dari luar ataupun makan di restoran.
__ADS_1
Rugi punya segudang isteri namun tak satupun bisa diandalkan untuk mengurus laki ini.
"Kau lapar?"
Adeeva manggut tak mau bohong. Sarapan pagi belum menyentuh perut rata Adeeva. Semoga cacing di perut belum Galang massa demo tuan rumah.
"Kita makan dulu! Berpakaian seperti asisten umum! Satu lagi. Jangan jual tinju di mana-mana! Jaga sikap seorang Aspri dari bos. Cara berpakaian juga harus mencerminkan aspri tulen."
Mata Adeeva menyipit dengar permintaan Ezra Adeeva harus tampil sesuai keinginan Ezra. Bagaimana Adeeva harus menampilkan diri. Membungkus diri dengan pakaian sexy seperti Aspri lain.
Rok pendek di atas lutut atau gaun ketat perlihatkan bentuk tubuh gol.
"Aku harus pakai bikini?" cetus Adeeva pancing tawa Ezra. Adeeva lucu sekali kalau sudah pasang wajah judes. Ezra makin gemas kerjain Aspri plus bini. Asli Aspri plus-plus.
"Kau mau? Aku sih senang saja. Terutama kalau kita berduaan. Telanjang juga boleh. Kita seperti Adam dan Hawa di taman Eden tanpa busana."
"Stress...pokoknya aku tak pandai pakai rok mini dan baju ketat. Sesak nafas. Aku akan tetap pakaian ala selera aku!"
"Aku tak suruh kamu pakai baju sexy. Tapi bergaya lah seperti Aspri lain. Rapi menarik perhatian orang biar aku dipuji punya Aspri cantik!"
"Sudah banyak orang cantik, tak perlu ikutan lagi. Pakaian aku ada di kota B semua. Ini cuma bawa berapa potong."
"Sudah kita beli yang lain. Sekarang bersiap pulang ke rumah orang tua kamu. Setelah itu kita ke kantor ya!" kata Ezra seakan membujuk anak kecil.
Adeeva dilanda dilema antara tugas dan kebebasan. Tampaknya dia makin jauh terperosok dalam lubang digali Ezra. Sekali jatuh sulit berdiri.
"Baiklah kita ke rumah orang tuaku! Berjanjilah tidak katakan apapun pada Abah dan Umi tentang kita! Bersikap biasa saja."
"Kau pikir aku anak kecil bikin orang tua susah hati. Kamu yang bikin orang tua berpikiran. Ayok bersiap! Ganti pakaianmu di kamar. Kamarmu sebelah kamar aku!" Ezra membawa Adeeva ke satu kamar cukup bagus. Adeeva pikir itu kamar tamu karena lebih sederhana.
Adeeva terpaksa tranformasi lagi. Pakaian busana muslim ditanggalkan untuk tampil sebagai Adeeva biasa lagi. Adeeva harus berperan dua pribadi berbeda. Satu isteri Ezra berpenampilan jadul dan satunya sebagai asisten pribadi yang harus tampil elegan. Tampil elegan ini yang buat Adeeva susah. Dia terbiasa tampil apa adanya apa bisa sela dia muncul dengan sosok high class lenggak-lenggok bak peragawati?
Adeeva akan berusaha semaksimal mungkin jadi Aspri Ezra bantu laki itu keluar dari perangkap para pengerat. Biasa orang normal tangkap pengerat, ini terbalik. Orang pintar masuk perangkap pengerat. Di mana nalar Ezra sebagai seorang lelaki berotak encer.
Pagi ini Adeeva kenakan kemeja lengan panjang bermotif kotak kecil aneka warna dengan celana jeans ketat bungkus kakinya yang indah. Di sini Adeeva lebih mirip mahasiswi hendak pergi kuliah ketimbang Aspri dari bos kaya.
Ezra menanti Adeeva di ruang tamu sambil mainkan ponsel. Gaya duduk laki itu menampilkan sosok cowok gentle berkharisma. Setiap inchi dari laki itu memang menarik perhatian cewek. Adeeva tak pungkiri daya tarik Ezra. Sebagai cewek normal Adeeva puji Ezra walau cuma dalam hati. Ezra tak boleh tahu dia kagum pada profil laki itu. Bisa jatuh gengsi Adeeva tertarik pada lelaki yang bikin harinya amburadul.
"Berangkat pak!" Adeeva menarik perhatian Ezra dari layar ponsel.
Ezra memutar kepala melontarkan tatapan ke arah asprinya. Mata elang cowok ini bergerilya seluruh tubuh Adeeva seolah ingin tahu isi di balik pakaian anak kuliahan itu.
"Mau langsung ke kampus?" kata Ezra berjalan ke tempat Adeeva berdiri. Laki ini sangat tidak setuju Adeeva tetap ikuti gaya hidupnya yang agak urakan. Kapan gadis ini akan belajar hargai pemberian Tuhan. Punya tampang licin tapi tak dipoles lebih kinclong.
"Bapak mau apa?" Adeeva kaget Ezra mendesaknya ke dinding maju terus memaksa Adeeva ngalah mundurkan langkah.
"Aspri aku harus tampil elegan. Berpakaian rapi. Bukankah sudah kubilang dari tadi kau harus berpakaian menarik agar tak ada yang curiga?" Ezra menangkap dagu Adeeva memaksa gadis ini menatap matanya.
"Ini pemerkosaan hak asasi manusia. Aku tak punya duit beli pakaian mahal. Emang bapak pikir berapa gaji aku? Seratus juta? Cuma delapan juta. Itu harus bayar kontrakan, biaya makan, biaya bahan bakar. Emang ada uang lebih untuk foya-foya?" Adeeva bela diri tak mau dikira tak tahu fashion.
"Bukankah aku ada kasih kamu kartu untuk belanja hari-hari?" Ezra makin dekatkan wajah nyaris menyentuh hidung bangir Adeeva. Adeeva memejamkan mata tak berani menyahut takut bibir kasar Ezra nemplok di salah satu indera di wajah.
__ADS_1