
Adeeva tampak tegar akan dibawa ke meja operasi. Dia hanya perlu siapkan mental jalani kodrat sebagai wanita. Memberi keturunan pada suami.
"Eva pasti bisa. Kalian tunggu saja bocah-bocah nakal ganggu kalian. Aku lepas tangan ya! Itu urusan Abah dan Umi." Adeeva mencoba bercanda dengan joke ringan agar tidak galau.
"Mana boleh gitu. Kita dong yang harus urus mereka. Kok merepotkan Abah dan Umi." sanggah Ezra tak setuju anak mereka diasuh oleh kedua orang tua Adeeva. Ini menyusahkan orang tua saja. Mereka sudah capek besarkan anak sekarang dapat tugas besarkan cucu lagi. Sungguh keterlaluan.
"Aduh nak Ezra...kok omong gitu? Umi senang kok jaga cucu. Kalian tak usah kuatir Umi dan Abah tak bisa urus cucu. Kami pasti bisa. Jamin seratus persen." tukas Umi cepat takut Ezra salah sangka pikir mereka tak bersedia tampung bocil-bocil Ezra.
"Umi...mereka anak-anak aku!" keluh Ezra meratapi nasib harus berbagi anak dengan mertua. Umi termasuk masih muda masih sanggup rawat anak kecil.
"Oh tenang! Mereka anakmu tapi cucu kami." tambah Abah sudah semangat Adeeva tidak pelit kuasai cucu mereka.
Ezra sangat menyesal Adeeva telah serahkan anaknya di bawa kekuasaan Abah dan Umi. Setiap kalimat yang keluar dari mulut tetap harus dipertanggungjawabkan.
"Ya ampun. Anaknya saja belum lahir. Tunggu mereka lihat dunia dulu. Kita doa saja mereka selamat mendarat di bumi."
"Amin.."
Kemudian keheningan mendera sekitar Adeeva. Tak tahu harus ucapkan apa karena yang ada rasa gelisah menunggu kehadiran para bayi.
Dua orang perawat berpakaian putih bersih bermasker datang ingin memindahkan Adeeva ke ruang operasi untuk persiapan operasi. Adeeva akan disteril dulu sebelum dilaksanakan operasi.
Jantung Ezra serasa mau jatuh tatkala adeeva akan segera didorong ke ruang operasi. Ezra tak rela Adeeva dibawa pergi. Tapi keadaan juga tak memungkinkan Adeeva bertahan tunggu pembukaan selesai. Tunggu pintu kelahiran terbuka akhirnya juga dioperasi. Lebih baik dipercepat proses kelahiran.
Ketiga keluarga Adeeva turut mengantar sampai ke pintu ruang operasi. Ezra hadiahkan kecupan mesra di bibir Adeeva agar wanita itu tahu dia dicintai.
"Hubby menunggumu di sini." bisik Ezra lembut.
"Iya hubby! Pergilah sholat tahajud agar anak-anak kita lahir selamat."
"Iya sayang! Hubby akan dirikan sholat untukmu dan anak kita."
Abah dan Umi melambai tak perlihatkan kesedihan biar Adeeva tidak ikutan stress.
Perlahan Adeeva disorong masuk ke dalam ruangan. Ezra kontan panjatkan doa keselamatan anak isterinya. Ezra sudah janji akan sholat demi Adeeva dan anaknya. Janji itu tak boleh diingkari.
"Abah...Umi...aku permisi mau laksanakan sholat. Tolong jaga Adeeva ya!" Ezra pamitan mau ke mushala di rumah sakit. Langkah Ezra makin mantap sejak hijrah lebih religi.
"Abah ikut! Umi tunggu sini saja!" Abah jejeri langkah Ezra turun ke lantai bawah untuk dirikan sholat bersama.
"Tapi Umi sendirian di sini. Umi takut." Umi memandangi lorong yang sangat sepi. Jam gini mana ada pasien lagi di sekitar ruang operasi. Waktunya sudah hampir lewat tengah malam
Abah edarkan mata ke sekeliling ruangan mendapatkan perkataan Umi adalah fakta. Tak ada orang lain di sekitar situ selain mereka. Abah memang tak tega tinggalin Umi sendirian di tempat berkesan seram ini.
Hawa dingin dari AC membuat suasana tambah mencekam. Umi bisa mati berdiri ketakutan ditinggal sendirian.
Abah mengalah biarkan Ezra sendirian pergi laksanakan sholat yang dia janjikan pada Adeeva. Ezra pergi dengan hati lapang yakin Allah tidak akan tinggalkan orang yang beriman padanya.
Usai Ezra sholat, Abah dan Umi juga pergi berdoa untuk cucu dan anak mereka. Sekarang pada siapa lagi akan mengadu bila tidak pada maha pencipta.
Ezra pula sendiri menunggu di depan ruang operasi. Ezra tidak takut pada makhluk halus melainkan takut dengar kabar buruk. Harapannya sih dengar kabar gembira.
Satu jam berlalu belum ada tanda-tanda dokter keluar. Ezra sudah mulai gelisah sementara Abah dan Umi belum kembali dari mushala.
__ADS_1
Nyali Ezra menciut karena Adeeva tak ada kabar sama sekali. Laki ini tak sabaran ingin masuk ke dalam ruangan agar bisa lihat keadaan isterinya. Baru kali ini Ezra dihinggapi rasa takut menyengat dada. Selama ini dia tak kenal kata takut tapi kali ini Ezra baru rasakan arti kata takut itu. Ternyata sangat menusuk jantung.
Abah dan Umi telah balik dari musholla rumah sakit. Kedua orang tua Adeeva juga agak panik lihat Ezra masih menunggu sendirian. Adeeva belum berikan kabar gimana kondisi di dalam ruang operasi.
"Gimana nak Ezra?" buru Abah sambil betulkan topi hajinya.
"Belum ada gerakkan." Ezra menggeleng.
Abah menghembus nafas lebih gundah dari Ezra. Abah sudah tak sabar ingin rasakan nikmatnya jadi seorang kakek. Sampai detik ini belum ada tangisan bayi berkumandang.
"Kalian dua ini. Melahirkan bukan seperti buka keran. Begitu buka langsung meluncur."
Ezra dan Abah tersenyum Umi ibaratkan Adeeva kran air. Mengalir lancar bebas hambatan. Umi lupa kalau terkadang air kran bisa juga tersumbat karena berbagai faktor.
Baru saja mereka siap berdebat pintu ruang operasi dibuka. Dokter songong musuh bebuyutan Ezra keluar sambil membuka masker.
"Selamat ya! Aku dapat dua jagoan ganteng. Putih kayak aku apalagi gantengnya. Semua jiplakan aku. Begitu nongol langsung panggil aku Daddy!" kata dokter konyol itu menggoda Ezra. Tak urung dokter itu salami Ezra sebagai ucapan selamat.
Ezra mendelik sekejap lalu tertawa sadar dokter itu kembali menguji kesabarannya. Ezra terlalu gembira untuk balas kekonyolan dokter itu.
"Terima kasih dok. Anakku sehat bukan?"
"Anak ibu sehat. Mereka sangat ganteng dan imut. Sangat tinggi ikut aku!"
Abah dan Ezra mau ketawa tapi ditahan. Dokter itu sok tinggi padahal tingginya standar orang Asia. Ezra yang cukup tinggi melebih standar orang Asia karena masih ada keturunan bulenya.
"Ok deh! Aku tinggal dulu. Mau lanjut tidur. Besok masih harus praktek. Adeeva akan dibawa ke ruang perawatan. Dia sadar kok karena cuma bisa lokal." Dokter itu menepuk bahu Ezra ikut sumbang kata senang lihat pasien dan keluarga gembira.
"Ok... jaga anak isterimu dengan baik ya! Mereka adalah harta tak tergantikan."
"Siap dok! Terima kasih."
Dokter itu melangkah pergi dengan senyum lebar. Pagi dini hari ini dia telah membawa dua penghuni baru ikut ramaikan hiruk pikuk dunia ini. Hitung-hitung dokter ini telah buat pahala membantu Ezra mempunyai keturunan.
Ezra segera menyalami Abah lalu salami Umi hanya merapatkan tangan ke dada. Ezra segan bersentuhan dengan ibu dari isterinya. Abah dan Umi junjung tinggi tata Krama kesopanan. Ezra harus terbiasa dengan kondisi religi dari keluarga Adeeva.
"Selamat ya! Abah dan Umi sudah jadi kakek dan nenek."
"Iya dong! Kakek paling keren seantero dunia. Kasih nama apa kedua anakmu? Apa perlu kakek yang kasih nama?" tanya Abah antuasias kelebihan kata senang.
"Nanti kita pikirkan. Jumpa juga belum. Kita tunggu Eva ke kamar dulu. Umi tak sabar mau lihat buah hati."
"Umi benar. Kita kasih nama paling keren. Dono dan Doni ya?"
Ezra nyaris keselek ludah sendiri dengar Abah sebut dua nama yang dianggap keren. Jaman gini mana terpakai nama sedikit jadul itu. Ezra tidak rela anaknya yang ganteng menurut kata dokter harus dipanggil Don. Mirip dengan nama temannya yang pengusaha bar itu.
Ezra akan pikirkan nama masa kini sesuai arus jaman. Itupun harus diskusi dengan Adeeva dulu. Perempuan itu pasti akan cerewet bila menyangkut panggilan untuk anaknya. Ezra harus jumpa ketiga buah hatinya dulu baru bisa ambil keputusan.
Adeeva di tempatkan di ruang termewah di rumah sakit ini yakni presiden suite room. Kamar terbaik di setiap rumah sakit. Lebih mirip kamar hotel ketimbang kamar perawatan orang sakit. Segala fasilitas kelas atas. Terpenting bayi boleh di bawa ke ruangan ini. Tidak terpisah dari orang tuanya.
Abah meminta Ezra azani kedua bayi itu sesuai agama yang dianut oleh mereka. Umi membantu Ezra gendong salah satu bayi untuk di azani sang ayah. Anak pertama di azani oleh Ezra barulah menyusul anak kedua. Abah dan Umi senang lihat Ezra makin kenal agama.
Ezra tak puas pandangi kedua bayi merah yang tertidur pulas dalam balutan kain bedong. Hanya tampak pipi tembem si bayi karena terbungkus kain.
__ADS_1
Betul kata Pak Dokter kalau kedua anaknya sangat ganteng. Raut wajah agak mirip dengan Adeeva tetapi postur tubuh mewarisi gennya Ezra. Pendek kata kedua anak Ezra betul-betul anak idaman.
Abah dan Umi tak bisa komentar saking takjub dia bocah mungil tertidur pulas dalam box bayi. Keduanya anteng tidak bikin rusuh.
Setelah puas menatap bayinya barulah Ezra dekati Adeeva beri kecupan di kening. Adeeva hanya tersenyum membalas kasih sayang dari Ezra. Tak usah diungkap kalau Ezra sangat bahagia.
"Terima kasih sayang. Kau sudah menderita melahirkan bayi kita."
"Itu sudah menjadi tugasku. Mereka sangat indah Hubby."
Ezra mengarahkan mata ke box bayi di mana kakek dan neneknya belum bisa pindah hati dari kedua bayi imut itu. Kini kedua orang tua itu punya gelar baru yakni kakek nenek dari dua bocah ganteng.
"Iya...mereka ganteng. Kau pasti lelah. Tidurlah! Aku akan menjagamu."
"Aku tak bisa tidur saking senangnya jadi Umi juga. Hubby sudah jadi Abah. Apa ada perasaan terasa tua?"
Ezra mengangguk, "Kau benar. Hubby merasa sangat tua. Sekarang tanggung jawab Hubby bukan hanya padamu tapi juga pada kedua anak kita dan kedua orang tuamu. Aku akan menjaga kalian."
Adeeva menggenggam tangan Ezra bersyukur tidak salah pilih suami walaupun ada gap di antara usia. Itu bukan topik bila mereka sama-sama mencintai.
"Hubby harus kasih kabar pada mama dan Bu Yuni. Terserah mereka mau datang lihat cucu atau tidak. Yang penting kita sudah beri kabar."
"Baik...tunggu hari terang dulu. Sekarang kau tidur ya! Hari mau pagi."
Adeeva memang sudah lelah maka tak menolak saran Ezra untuk istirahat. Dia telah berjuang melahirkan anak buat Ezra. Rasa lelah itu terbayar kontan setelah melihat kedua bayinya yang tampak sempurna tanpa cacat apapun.
"Aku tidur ya Hubby!"
Ezra manggut biarkan Adeeva pulihkan tenaga. Ezra menyelimuti Adeeva biar terasa hangat. Udara AC kamar cukup dingin. Untunglah kedua bayinya terbungkus rapat sehingga tidak terasa udara cukup dingin.
"Abah dan Umi juga istirahat. Ini sudah hampir pagi. Biarlah aku yang jaga bayi!" Ezra meminta kedua orang tua Adeeva pergi tidur. Malam beranjak pergi, sebentar lagi fajar akan perlihatkan semburat jingga menerangi persada Indonesia. Pagi cerah hari baru buat Ezra sekeluarga. Anggota keluarga bertambah dua orang.
Abah dan Umi tidur sebentar di tempat tidur cadangan khusus untuk keluarga. Sedangkan Ezra tidur di samping Adeeva di tempat tidur king size. Maklumlah fasilitas super VVIP.
Ezra tak tahu berapa lama dia tertidur. Begitu terbangun tampak Abah dan Umi sedang urus kedua bayinya. Kedua bayi itu sedang diberi susu formula karena Adeeva belum bangun sementara kedua bayi sudah lapar. Atas saran perawat maka kedua bayi disusui susu kalengan.
Ezra merasa malu didahului oleh orang tua sedangkan dia sebagai ayah dari bayi tak bisa berbuat apa-apa. Tetap yang tua lebih pengalaman urus anak. Benar kata Adeeva serahkan bayi pada orang tuanya lebih terjamin.
"Selamat pagi Abah Umi..." sapa Ezra dengan rasa jengah setinggi gunung.
"Pagi...lihat anakmu lahap sekali minum susu! Mereka pasti akan tumbuh sehat." Umi mengajak Ezra lihat anaknya yang sudah buka mata.
Ezra sedikit segan berhubung belum cuci muka. Namun rasa penasaran menggelitik hati Ezra untuk lihat anaknya. Laki ini ayunkan langkah ke tempat bayinya berbaring.
Ezra terkesima lihat dua makhluk kecil mengalir darahnya sedang minum gunakan botol susu kecil. Mulut kecil itu asyik menyedot susu dari botol dengan sekuat tenaga mereka. Satu pemandangan baru bagi Ezra.
"Mereka lucu sekali. Kecil sudah pintar isap susu." gumam Ezra tanpa sadar semua berjalan alamiah. Insting alami akan otomatis akan ajar si bayi bertahan hidup.
"Abah senang sekali punya cucu sehat. Mereka harus kenal agama. Abah akan didik mereka jadi manusia berguna tahu hitam putih bermasyarakat. Yang paling penting tanam pendidikan agama pada mereka agar tidak berjalan di atas bara api. Sudah tahu panas tapi masih coba berjalan di atasnya. Dan kau sebagai Abah mereka harus beri contoh yang baik." ujar Abah keren buka pintu hati Ezra agar tahu mana yang benar dan salah. Kejadian Ezra dan Adeeva tak perlu terjadi pada anak mereka.
"Iya Abah! Semua nasehat Abah akan kuingat selamanya. Aku bersyukur jumpa keluarga yang baik sehingga hidupku terarah. Lebih nikmat jadi orang baik."
"Bagus..kau boleh bersiap ke kantor. Perusahaan sama pentingnya dengan anak isteri. Kau harus makin rajin cari rezeki karena bebanmu makin bertambah."
__ADS_1