Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Rumah Eyang Supono


__ADS_3

"Lalu apa kata lhu?"


"Gue bilang aja lhu sudah kawin lari sama Juragan sapi! Bendi marah ngancam mau lapor gue ke polisi. Gue malah ngasih saran dia lapor ke PBB. Tanggung cuma lapor polisi. Lhu di peternakan? Kok seperti suara bising mobil?"


"Lhu pintar! Aku sudah diungsikan ke desa terpencil. Kali aja bertapa dapat wangsit. Eh di sana signal megap-megap! Bagusnya kirim chating kalau mau hubung gue."


"Ok...ntar gue nyusul! Kasihan lhu bertapa sendirian! Gue kawani. Siapa tahu ada keajaiban meningkatkan sabuk gue. Malam ini gue nginap di rumah Krisna. Krisna tak ijin gue sendirian di hotel."


"Cie...cie...ada bau bau bunga bangkai bermekaran." olok Adeeva ikut senang Nunik telah dapat tambatan hati. Kasihan Akbar ditinggal pacaran oleh Nunik. Apa juragan sapi ini tidak sedih calon isteri diserobot orang lain.


Tanpa sadar Adeeva melirik wajah Akbar dari samping. Adeeva mau lihat bagaimana reaksi Akbar dengar percakapan antara dia dan Nunik.


Lelaki itu tidak bereaksi apapun selain fokus pada jalan yang diliputi oleh kegelapan. Hanya ada lampu sorot mobil menerangi jalan yang sepi. Sepanjang jalan yang mereka lalui tidak jumpai ada kendaraan lain melintas di situ. Dapat dibayangkan betapa sepinya desa yang mereka tuju.


Adeeva tidak menemukan apa-apa dari sorot mata Akbar. Yang ada keheningan sesaat karena adeeva dan Nunik menghentikan percakapan. Supono terngantuk-ngantuk menyandarkan kepala pada kaca mobil. Lelaki ini jelas sudah ngantuk berat.


"Ok deh Nik! Aku tutup dulu. Signal juga sudah tinggal segaris. Kau jaga diri. Besok kalau pulang coba telepon aku ya!"


"Ok...kau tenang di sana. Aku akan tutupi semua akses tentang lhu biar paus kering. Syukur kalau jadi ikan asin. Kan laku dijual."


"Kau pembunuh paus! Hebat...salut! Hati-hati sayang!"


"Lhu yang hati-hati! Jangan sampai ketangkap oleh ikan paus. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam..."


Keheningan kembali warna dalam mobil Akbar. Hanya terdengar deru kenderaan dan ******* nafas ketiga orang ini dengan irama berbeda.


Bunyi nafas Adeeva paling halus disusul oleh suara nafas Supono. Kalau nafas Akbar tidak usah dibilang terdengar sangat berat seperti menyimpan sesuatu di dalam dada. Adeeva segan memulai percakapan karena memang tak ada topik bisa dibahas. Adeeva juga tidak berhak bertanya soal Nunik yang akan dijodohkan dengan Akbar. Jelas sekali Nunik tidak tertarik pada Akbar malahan tertarik pada Krisna. Adeeva tidak bisa menyalahkan Nunik karena gadis itu memang periang tak bisa hidup dalam kesunyian.


Tiba-tiba Akbar memperlambat laju kendaraan lantas berhenti di tengah-tengah jalan dan mematikan lampu.


Adeeva tercekat langsung ketakutan kalau laki ini berniat buruk. Mereka berada di tempat ntah berantah. Gimana kalau Akbar punya niat jahat. Paling utama tentu ingin berbuat tak senonoh pada Adeeva. Apa Supono juga orang jahat seperti Akbar.


Akbar tidak lakukan apapun selain diam tanpa suara. Tak ada gelagat laki itu akan berbuat mesum. Adeeva hanya berdiam diri bersiap melawan bila Akbar lakukan sesuatu di luar dugaan. Tinju Adeeva sudah siap siaga di bawah paha gadis ini. Akbar lakukan gerakan sedikit tinju Adeeva akan melayang.


Akbar hidupkan mobil setelah beberapa saat berdiam diri. Lampu kenderaan kembali dinyalakan. Seketika jalanan kembali terang oleh sinar lampu mobil Akbar.


"Tadi ada segerombolan babi hutan lewat. Kita matikan lampu biar mereka lewat tanpa merasa diganggu. Babi bawa anak suka berangasan bila diusik." Akbar buka cerita mengapa dia berbuat aneh memicu jantung Adeeva kena sport.


Adeeva menghembus nafas yang ditahan dari tadi. Perlahan tubuh Adeeva berubah lemas setelah tegang sesaat. Masa kritis yang baru saja dilalui berangsur pulih.


"Oh...mas kenal sekali daerah ini?"

__ADS_1


"Kenal juga. Dulu sering kemari bersama Supono. Waktu kecil Supono tinggal bersama neneknya. Nasib Supono hampir sama dengan nasib aku. Ayah kurang ajar. Ayahku tinggalkan ibu sewaktu aku masih duduk di bangku SD. Dia menikah lagi dengan seorang janda tetangga yang memang nakalnya minta ampun. Ibu tidak tahan dengan teror dari janda itu memilih berpisah dengan ayah. Ibu hanya diberi modal satu rumah tua serta beberapa ekor sapi."


Adeeva tertarik pada kisah Akbar yang jadi korban ayah egois. Adeeva heran mengapa cerita yang dia temui semua bertema suami bejat. Dia juga korban suami bejat. Dan kini dia lelaki bertubuh tegap juga jadi korban ayah bejat. Apa di dunia ini tidak ada lelaki yang baik lagi?


Akbar menarik nafas seolah ingin keluarkan isi hati yang gelisah selama ini. Laki ini hembus nafas terdengar agak kasar.


"Ibu besarkan aku dengan modal apa yang diberi ayah. Aku dan ibu saling membahu beternak dengan sepenuh hati. Aku dan ibu berhasil kembangkan peternakan sampai sebesar ini. Datang gangguan dari pihak ayah tak henti. Bahkan pernah klaim semua sapi kamu miliknya karena itu modal darinya. Aku lapor polisi minta diusut pengakuan laki itu. Anak tiri ayah itu kurang ajar. Mabuk dia puluh empat jam dan suka main perempuan. Dia yang habiskan harta ayah. Belum lagi gaya hidup keluarga itu seperti juragan kaya. Aku tak ngerti apa mau ayah. Ingin ku lawan dia ayah kandung aku. Kadang aku kasihan pada diri sendiri juga pada ibu. Mengapa bisa terjebak pada laki berakal setan gitu."


Adeeva iba sekali pada nasib Akbar. Akbar sangat baik punya ayah berakal setan. Sudah terlantarkan anak masih mengusik hidup anak.


"Dia pernah datang ke peternakan?"


"Dulu sering teror minta sapi. Sudah kuberi sepuluh ekor sebagai ganti sapi pemberian dia dulu. Minta semua alasan semua sapi berasal dari modalnya."


Adeeva merasa kupingnya penuh kotoran salah mendengar pengakuan ayahnya Akbar. Kalaupun ayahnya Akbar memberi beberapa ekor sapi kepada Akbar tetapi tidak diusaha juga takkan berhasil. Sampai berlipat-lipat ganda itu berkat kegigihan Ibu dan Akbar sendiri.


"Ayahmu ada sakit jiwa ya?" Adeeva geram dengar cerita Akbar yang tak masuk akal. Kalau bukan adeeva mendengar sendiri pengakuan Parmin mungkin Adeeva tidak akan percaya kalau di dunia ini ada ayah model ayahnya Akbar.


Akbar tidak marah ayahnya dibilang sakit jiwa oleh Adeeva. Faktanya memang begitu. Ayahnya seperti orang sakit jiwa tidak tahu hukum dan peraturan.


"Anggap saja begitu. Aku tidak peduli pada mereka. Sekarang yang berkuasa itu anak tiri ayah. Semua sapi ayah dijual murah-murah tanpa izin ayah. Sekarang peternakkan mereka nyaris bangkrut maka itu Ayah sedang mencari sela untuk merebut apa yang aku miliki."


"Perlu dikasih pelajaran tuh laki! Suatu saat aku akan menjumpai saudara tirimu itu. Pasti akan kuberi hadiah yang tidak akan dia lupakan seumur hidup."


"Allah takkan tinggal diam saksikan umatnya dizholimi terusan. Dan kamu sendiri apa rencana selanjutnya? Tak mungkin kau sembunyi seumur hidup. Bagusnya hadapi Ezra lalu beri keputusan tegas. Dia sudah banyak berbuat salah pasti akan malu sendiri." Akbar mencoba mengasah keberanian Adeeva. Lari terus bukan jawaban dari persoalan Adeeva. Sampai kapan Adeeva mau hidup seperti seorang residivis.


Adeeva benarkan perkataan Akbar. Sampai kapan dia akan lari dari Ezra. Hidup pindah sana sini seperti buronan pihak berwajib.


"Aku tak tahu mas! Orang tuaku sedang urus surat cerai. Kurasa pengadilan pasti sudah layangkan panggilan pada orang cabul itu."


"Kita tunggu saja reaksi laki itu. Kau tenang saja di sini. Aku dan Supono pasti akan lindungi kamu." Akbar berkata sungguh-sungguh. Hati Adeeva terasa damai dengar pengakuan Akbar. Seorang teman saja laki ini bersedia jadi pelindung apalagi jadi pasangan laki ini. Hidup pasti akan nyaman tentram seumur hidup. Sayang sekali Nunik tidak tertarik pada kehidupan tenang di alam pedesaan. gadis itu memilih hidup di dalam rimba kota yang penuh dengan hiruk pikuk dan segala jenis keculasan.


Selanjutnya mereka tak banyak bicara lagi. Mobil melaju terus menembus kegelapan. Suasana tenang dan hening memancing rasa ngantuk Adeeva. Gadis ini biasa paling doyan tidur. Gara dekatan dengan Ezra hobi ini berangsur hilang. Boleh dikatakan Ezra sangat pengaruhi hidup Adeeva. Adeeva telah terlempar dari zona nyaman yang dia jalani selama ini.


Mata Adeeva makin sayu seiring waktu. Perlahan cewek ini terkulai menyambut mimpi. Mimpinya pasti sarat dengan kejadian menyeramkan.


Pertama-tama kepala Adeeva masih bertahan bertopang pada leher sendiri. Lama kelamaan kepala Adeeva bersandar pada bahu kokoh Akbar. Pertama Akbar kaget tiba-tiba dapat durian runtuh jadi sandaran bagi Adeeva.


Gerakan tangan Akbar memutar stiur sedikit terganggu akibat kepala Adeeva menempel di bahunya. Mau geser kepala cewek ini Akbar tidak tega. Orang baru saja terbuai mimpi pasti sedang nikmatnya berlayar menuju tidur nyenyak. Akbar memilih membiarkan kepala Adeeva bermanja di bahunya. Jalan satu-satunya adalah menjalankan mobil dengan perlahan tanpa banyak menggerakkan tangan ke kiri dan ke kanan. Akbar bertahan memajukan mobil dengan hati-hati dan perlahan.


Kehadiran mereka disambut Adzan subuh. Begitu masuk desa kecil ini adzan berkumandang memanggil umatnya laksanakan sholat pertama di pagi ini.


Supono duluan terbangun karena panggilan sholat. Laki mengucek mata lihat sekeliling sudah sampai di mana mereka saat ini. Suara adzan bertanda mereka sudah berada di sekitar desa eyangnya.

__ADS_1


Senyum Supono merekah lihat Adeeva bermanja pada Akbar. Laki ini beri tanda victory kepada Akbar untuk pemandangan yang dia lihat. Satu pemandangan indah dan langka.


"Ssttt..hangat ngak?" tanya Supono pelan takut didengar Adeeva.


"Tutup mulut jelekmu! Dia itu kelelahan. Aku kasihan padanya." balas Akbar dengan suara tak kalah pelan.


Adeeva tidur nyenyak sekali sampai tak sadar telah numpang tidur di bahu laki yang baru dia kenal belum lama. Rasa ngantuk lebih berkuasa membuat Adeeva tak sadar telah numpang pada tubuh lelaki lain.


"Rasa kasihan yang indah. Kujamin jantung kamu berdetak sangat kencang. Keringat dingin dan nafas diburu badak."


"Kau pikir aku malaria? Tutup mulut. Tuh rumah eyang kamu!" Akbar hentikan mobil perlahan takut ganggu tidur Adeeva. Cewek ini kalau tidur agak kebo sedikit. Dibuang ke sungai juga takkan terasa.


Supono segera keluar dari mobil untuk melemaskan otot kaku akibat lama berada dalam mobil. Di luar laki ini disambut hembusan angin desa yang segar. Bau dedaunan hilir mudik di hidung laki itu.


Supono gerakan tubuh kiri kanan cari posisi ternyaman. Sekali-kali Supono kerling ke dalam mobil di mana Akbar mati kutu tak berani bergerak takut ganggu tidur Adeeva. Akbar cuma bisa bertahan di posisi semula ijinkan Adeeva numpang di bahunya.


Supono menggoda Akbar acungkan jempol. Supono senang Akbar bisa temukan cewek bersedia hidup sederhana di peternakan. Nunik yang awalnya jadi pasangan Akbar samasekali tak bisa diandalkan. Gadis itu lebih senang cowok klimis berpakaian necis. Bedan dengan Akbar hanya seorang juragan sapi. Badan saja ada bau sapinya.


"Sialan kamu!" Akbar beri kode kalimat ini lewat bibir maju ke depan.


Supono beri hormat tempelkan telapak tangan ke jidat tetap pasang wajah jenaka. Akbar tak bisa berbuat apa-apa karena masih dibebani oleh Adeeva.


Seharusnya Akbar sudah ngantuk tapi karena ada kopi kental di samping rasa ngantuk itu sirna. Bau rambut Adeeva saja bikin Akbar terbuai. Harum sampo wanita segar lewati hidung Akbar.


Mungkinkah dia akan cium bau ini selamanya? Atau bau ini akan kembali ke pemilik aslinya. Akbar tak pikir apapun asal Adeeva bahagia itu sudah cukup. Gadis sebaik Adeeva berhak hidup bahagia.


Matahari mulai genit perlihatkan semburat jingga hiasi langit dipadu warna kelabu. Sebentar lagi sang mentari akan perlihatkan tubuh bundar seutuhnya beri kehidupan pada seluruh warga di dunia ini.


Adeeva masih tidur sedangkan Akbar mulai terasa kebas menahan kepala Adeeva dari tadi. Mau panggil gadis ini bangun tak tega.


Paling tahan diri dari semuanya. Tahan sesak kencing, tahan sesak panggilan alam buang kotoran di pagi hari. Mau buang angin saja Akbar tak berani. Takut baunya menyebar ke seluruh kabin mobil. Mati sesak akibat bau bom atom dari belakan Akbar.


Untunglah Supono datang mengetuk pintu kaca mobil. Laki itu sudah tampak segar dan ganteng. Supono pasti sudah bersih-bersih di rumah eyangnya.


Adeeva terbangun dengar ketukan di pintu kaca mobil. Adeeva mengumpulkan ingatan di mana dia sekarang. Kepala Adeeva masih betah nempel di bahu Akbar.


Lama Adeeva berpikir baru nyadar dia telah lancang numpang di bahu Akbar tanpa ijin. Adeeva meringis malu ketahuan berbuat mesum pada Akbar. Akbar bukan muhrim Adeeva sangat tidak pantas lengket berdekatan.


Adeeva auto menarik diri jauhi Akbar. Pipi Adeeva keluarkan semburat merah saking malunya. Sungguh malu nempel pada cowok lain. Apa bedanya dia dengan Ezra kalau begini. Adeeva tak ingin benarkan diri tertidur tanpa sadar. Nempel pada cowok lain itu sudah salah.


"Maaf."


"Ayo turun! Kita sudah sampai." Akbar tak ingin Adeeva makin malu pilih duluan turun dari mobil dobel kabinnya.

__ADS_1


Adeeva mengusap wajah merasa pipinya panas menahan rasa segan.


__ADS_2