
"Sudah kuduga kamu ini makhluk luar angkasa tak kenal adat. Tak ada tingkatan tua muda, suami istri dan bos dan bawahan. Semua sama di matamu ya?" kata Ezra tanpa menoleh. Kalau dia memandang ke arah Adeeva pasti akan ketahuan sedang akting. Anak ini bukan gadis tolol gampang dikelabui. Akting harus sempurna biar dapat piala Oscar di dunia akting.
"Tergantung sikon pak! Kadang ada batasan, kadang kelepasan kalau adrenalin dipaksa naik ke level atas."
Ezra pusing dengar celoteh Adeeva yang sok pakai bahasa elite. Ezra harus peras otak agar gadis ini tidak kabur darinya. Kekerasan tak mempan diterapkan pada gadis ini. Dia lebih keras lagi dari Ezra.
"Sudah...diam! Fokus ke jalan raya. Nanti tabrakan lagi. Sudah hilang mata nanti hilang pula kuping."
"Kalau sudah gitu lebih baik bapak masuk panti jompo. Nggak nyusahin orang. Sudah buta pekak lagi. Jamin selir bapak pada kabur."
"Kau pikir mereka bodoh mau pergi tanpa pegangan? Mereka itu bertahan karena memikirkan tumpukkan dolar di brankas aku!"
"Jangan lupa aku ini masuk parade selir mu! Biarlah di bilang bodoh asal tidak tertular penyakit menjijikkan."
"Apa maksudmu?"
"Apa bapak pikir aku besar makan dedak? Aku makan nasi dan makanan bergizi jadi otakku kinclong. Menurut analisaku aktifitas ranjang bapak pasti dahsyat. Puluhan paha mulus silih ganti hiasi ranjang bapak. Nah di situ inti topik aku! Pernah belajar biologi? Virus ganas akan menyerang bila gonta ganti pasangan terutama pada wanita bergelar kupu-kupu malam."
Ezra merasa kena hantam Godam oleh kalimat Adeeva yang menyudutkan dia. Anak ini tidak tahu bagaimana perjalanan kisah cinta Ezra tapi langsung vonis Ezra suka main perempuan. Tuduhan sepihak tanpa bukti.
"Kau menuduh?"
"Apa penting dijawab? balas Adeeva penuh nada sinis.
"Sok tahu..."
"Bukan sok tahu tapi berdasarkan hasil pantauan kedua mata bionik aku!"
"Kesimpulan apa itu! Menuduh itu sama saja dengan fitnah. Kau tahu hukum fitnah orang?"
Adeeva tertawa pahit merasa tidak lakukan tindakan tak terpuji pada Ezra. Apa yang dia lihat selama ini sudah wakili kehidupan asmara Ezra. Adeeva makin ingin jauhi laki ini.
"Pak...kalau laki baik-baik dia akan segan telanjang di depan wanita. Tidak menyimpan isteri sampai setengah lusin. Itu yang terdaftar pada Tuhan. Yang ilegal kan masih ada. Aku tak tahu berapa banyak wanita dalam hidup bapak. Aku tak mau hidup makan hati maka pilih tak jadi wanita bapak. Aku ini orangnya setia maka menuntut lelaki setia. Bapak jauh sekali dari kriteria aku! Maka itu aku selalu berontak. Jadi isteri tukang ojek tak masalah asal hidup damai." ujar Adeeva serius tidak konyol seperti biasa. Ezra harus dengar isi hatinya agar ikhlas bebaskan dia tanpa timbul gap antara mereka. Pisah baik-baik masih bisa berteman kendatipun sebatas bos dan anak buah.
Ezra perbaiki sikap duduk agak gerah diprotes Adeeva spontan. Gadis ini tidak salah minta apa yang sesuai isi hati. Dia memang tidak tamak incar harta Ezra. Kalaupun kelak dia jatuh cinta pada Ezra itu murni cinta tulus tanpa embel nama besar Ezra si raja tambang.
"Kau tak ngerti!" keluh Ezra ntah diarahkan pada siapa.
"Aku tak perlu ngerti pak! Kumohon kita bekerja secara profesional antara bos dan bawahan. Lupakan aku ini termasuk barisan selir bapak. Kuijinkan Rani ambil posisiku sebagai isteri keenam. Ikhlas tanpa dendam."
Ezra terpojok oleh permintaan Adeeva yang sangat sederhana. Tidak menyulitkan Ezra bahkan tetap tawarkan hubungan baik walau beda status.
Ezra harus ekstra hati-hati jawab agar tak jadi bumerang menyerang diri sendiri. Berdasarkan kemampuan Adeeva di bidang teknologi bukan sulit lacak seluruh kegiatan Ezra. Dia pasti akan gampang tahu seluk beluk kisah asmara laki ini dengan wanita manapun. Ezra tak boleh kecolongan kehilangan bayinya untuk kedua kali.
Adeeva tidak bicara lagi karena Ezra ragu menjawab. Keraguan Ezra telah beri jawaban pasti bahwa dalam hidup laki ini bukan cuma enam isteri. Pasti ada udang tersembunyi di balik batu. Belum waktunya ditangkap untuk dijadikan rempeyek goreng. Adeeva biarkan saja bosnya berpikir dalam kegelapan.
Adeeva larikan mobil dengan kecepatan melebihi rata-rata agar cepat tiba. Rute ini sudah dia lalui bertahun-tahun bolak balik tempat kerja dan rumah Abah. Setiap tikungan sudah hafal luar kepala.
Adeeva sengaja menyiksa Ezra larikan mobil kencang. Laki itu pasti ketakutan diajak berpacu dengan kecepatan tangan dan kaki Adeeva. Tangan pegang stiur sedang kaki injak gas dan rem.
Tepat dugaan Adeeva, bosnya ini mengatup mulut rapat-rapat tak bisa berkotek. Mau protes nanti dibilang nyali ayam. Ditakuti sedikit langsung berkotek bak hendak disembelih. Sekarang tutup mata percaya Tuhan akan lindungi dia dari kejahilan Adeeva.
Keduanya berdiam diri sampai tiba di kawasan yang dimaksud Ezra. Adeeva menunggu instruksi selanjutnya di mana letak posisi tempat liburan mereka.
__ADS_1
Adeeva turunkan kaca mobil biarkan angin sejuk berlomba-lomba masuk ke dalam mobil membelai kulit Adeeva yang terbalut kemeja lengan panjang. Cara pakaian Adeeva sederhana tidak neko-neko pamer aurat.
Ezra diam saja menanti Adeeva bertanya padanya lokasi villa. Namun gadis justru menanti Ezra duluan mengeluarkan suara. Adeeva punya segudang cara menyiksa orang yang terkenal angkuh itu. Keangkuhan Ezra tak berlaku pada Adeeva. Paling dipecat dapat uang pesangon. Ini bisa biayai Adeeva berapa bulan sebelum dapat pekerjaan baru.
Perang dingin tanpa senjata berlangsung beberapa menit sampai akhir Ezra gregetan tak mampu menahan diri. Tangan Ezra sudah gatal ingin cubit pipi Adeeva sampai bengkak biar tahu bosnya lagi marah.
"Mau nginap di jalan?" tegur Ezra tak sabaran.
"Ide bagus...ada rencana jadi gelandangan elite?"
"Kamu saja jadi gelandangan. Aku belum segila kamu. Sekarang sampai mana?"
"Dekat mesjid. Ambil kiri atau kanan?
"Lurus belok kanan. Jalan terus sampai jumpa villa warna merah."
Tawa Adeeva meledak dengar ada villa dicat warna merah. Warna menantang selain warna hitam menyolok. Adeeva kira villa itu ada hubungannya dengan Rani si penggila warna merah. Dari sini Adeeva makin yakin hubungan Ezra dan Rani bukanlah sekedar isteri sahabat tapi isteri ilegal.
"Kenapa ketawa? Kumat gilanya?"
"Suka-suka aku dong! Ketawa itu gratis. Belum dipungut bayaran maka Ketawalah sepuasnya sebelum dilarang. Ok kita capcuss ke lokasi shooting sinetron kisah nyata tuan tajir lusinan bini!" Adeeva injak pedal gas gunakan tenaga dalam biar kotak besinya bergerak kencang.
Ezra tersentak akibat Adeeva injak gas dengan kasar. Kalau itu Ruben sudah pindah kepala dari leher. Berhubung yang bawa mobil Adeeva si bengal Ezra tak berkutik.
Berkat kejelian mata Adeeva villa yang dimaksud Ezra akhirnya tertangkap kornea mata Adeeva. Villanya cukup besar dengan arsitektur cukup bagus. Salahnya cuma warna merah menyala seolah hendak saingi mentari.
Adeeva bukan pencinta warna lambang berani itu. Kesannya terlalu menggoda mata. Setiap orang yang lewat villa ini pasti akan ringankan mata menoleh lihat siapa pemilik villa berkesan cari perhatian.
Adeeva membunyikan klakson pada penjaga agar dibukakan pintu gerbang villa. Villa sebagus ini pasti ada penjaga agar villanya tak jadi sarang hantu. Villa tak berpenghuni kadang jadi seram. Para demit akan gantiin pemilik villa nungguin villa.
Adeeva beri klakson sebelum majukan mobil ke dalam. Klakson tanda bersahabat. Adeeva anggukan kepala pada lelaki itu minta ijin majukan mobil ke dalam.
"Punten akang!" sapa Adeeva ramah.
"Mangga neng geulis!" sahut laki itu makin riang jumpa orang ngerti bahasa Sunda.
"Hatur nuhun kang!" seru Adeeva agak keras biar didengar oleh lelaki penjaga villa itu.
Mobil dikendarai Adeeva maju sampai ke depan pintu rumah villa. Lelaki penjaga villa ikut sambil berlari kecil menyusul mobil Adeeva sampai berhenti. Adeeva duluan keluar dari mobil meluruskan pinggang pegel akibat kelamaan bawa mobil.
Adeeva sengaja biarkan Ezra tersiksa dalam mobil test kesabaran cowok itu. Sudah terlalu lama jadi orang sombong kini rasakan jadi orang diabaikan.
"Wilujeng sumping neng!" laki itu ucapkan selamat datang pada Adeeva yang dia anggap ngerti bahasa Sunda.
"Nuhun kang!" balas Adeeva dibarengi senyum cantik bikin hati meleleh.
"Hayuk!" Laki itu persilahkan Adeeva masuk tak sadar masih ada orang tertinggal dalam mobil.
Adeeva tidak serta-merta naikin tiga anak tangga untuk capai pintu villa. Villa dibuat lebih tinggi dari halaman untuk jaga dari segala kemungkinan. Kalau bilang banjir tak mungkin. Daerah pegunungan dari mana muncul air dalam jumlah besar.
Adeeva balik ke arah mobil membuka pintu mobil sebelah kiri untuk keluarkan bos yang tertahan dalam mobil. Adeeva sungguh tukang jagal kelas berat. Ezra bulat-bulat jadi mangsa Adeeva.
"Untung otakmu masih ada sisa. Kukira sudah habis dimakan belatung." geram Ezra diabaikan oleh Adeeva. Baru kali ini ada orang berani permainkan moodnya. Nampaknya Adeeva minta dihukum berat.
__ADS_1
Penjaga villa kaget tak sangka ada bos dia dalam mobil. Adeeva sungguh lancang abaikan bos sendirian dalam mobil. Herannya mengapa Ezra tidak turun sendiri dari mobil. Apa yang terjadi? Penjaga villa kan belum tahu bosnya sudah buta. Bos sangar tak kenal kata belas kasihan kini mati kutu kena kenakalan Adeeva.
Adeeva bukannya bawa Ezra naik ke urutan anak tangga melainkan berjalan ke pinggir rumah dekat taman bunga. Ntah permainan apa lagi terlintas di benak Adeeva kerjain Ezra.
Ezra bukannya tidak tahu ke mana larinya akal Adeeva. Anak ini mau test apa benar Ezra buta atau pura-pura. Mungkin anak ini sudah menemukan sesuatu yang janggal maka test keabsahan buta Ezra. Kedengaran memang kelewatan permainkan orang buta tapi Adeeva mau test supaya hati tenang dekat laki ini.
Ezra ikut saja ke mana di bawa Adeeva. Kalau dia menyerah maka anak itu telah menang bongkar kedok Ezra. Mereka berdua berjalan terus sepanjang taman bunga.
Adeeva tetap setia gandeng bosnya kelilingi taman diikuti oleh penjaga yang bingung apa mau Adeeva ajak bosnya keliling kayak orang stress.
Adeeva tersenyum puas tatkala lihat Ezra bagai kerbau dicocok hidung ikuti majikan. Rasa percaya Adeeva naik sedikit lagi pada bosnya.
Kini baru Adeeva bawa bosnya naik ke anak tangga menuju ke pintu villa yang sudah terbuka. Ezra naik dengan hati-hati takut terpeleset jatuh dari anak tangga. Pokoknya akting aktor kawakan.
"Kang...tolong keluarkan koper dalam mobil bawa ke kamar bos. Tas milik aku tarok saja di depan kamar aku!" ucap Adeeva manis pada penjaga villa.
"Enya neng..." penjaga itu berlari keluar laksanakan perintah Adeeva. Adeeva datang bersama Ezra tentu saja punya kuasa beri perintah. Dan perintah itu juga dalam batas wajar.
Mata Adeeva mencari bayangan para selir di dalam villa. Masih sepi artinya mereka belum datang. Kalau sudah datang pasti suasana tidak setenang ini. Suara riuh merayu Ezra pasti berkumandang sana sini.
Adeeva dudukkan Ezra di sofa warna putih bersih. Untunglah tempat duduk tidak ikutan warna merah. Isi rumah malah berbeda jauh dari cat rumah. Hampir seluruh ruang dan perabotan berkonsep warna bersih. Mata jadi adem tidak terbakar.
"Nampaknya selir bapak belum hadir." ujar Adeeva ikutan duduk ambil jarak agak jauh dari Ezra. Sebisa mungkin Adeeva hindari terlalu intim dengan Ezra. Jangan sampai terbuka cerita dia adalah salah satu selir Ezra. Hancur nama baik seorang Adeeva jadi isteri keenam.
"Kau yakin? Kurasa mereka sudah duluan datang. Paling pergi cari makan!" sahut Ezra datar.
"Ntah...bapak mau ke kamar mandi atau istirahat sejenak di kamar."
"Ke kamar saja! Kamar aku di lantai atas. Di situ cuma ada satu kamar khusus untukku. Yang lain di bawah."
Adeeva melongo terkesima dengar di atas cuma ada satu kamar. Di mana dia harus tidur kalau cuma satu kamar. Dia juga tak mungkin tinggalkan Ezra pada kawanan hyena kelaparan. Tengah malam Ezra dimangsa mereka.
"Bapak tidur di bawah saja. Aku lebih gampang pantau bapak."
"Aku tak biasa Gonta ganti ranjang. Nggak bisa tidur nyenyak. Kang Apoy tahu yang mana kamarku!"
"Ya ampun...siksaan neraka datang lagi!" desis Adeeva kesal.
"Nggak segawat gitu nak! Aku siap tawarkan kenyamanan surga." ledek Ezra mau bikin Adeeva muntah darah.
Penjaga villa yang bernama kang Apoy kembali dengan koper dan tas tangan. Adeeva orangnya praktis tidak bawa banyak kebutuhan maka cukup tas kecil berisi beberapa potong pakaian.
"Bawa ke atas semuanya kang Apoy!" Ezra buka suara beri perintah pada penjaga villanya.
"Iya pak...Oya ..tadi nyonya-nyonya sudah pada datang."
"Ke mana mereka?"
"Ada di belakang sedang renang. Mau kupanggilkan?"
"Tidak usah. Ini adalah nona Poni asisten aku! Turuti semua perintahnya."
"Iya pak.." Kang Apoy menyahut lalu membawa koper dan tas Adeeva ke lantai atas.
__ADS_1
Adeeva ikut berdiri bermaksud bawa bos ke atas untuk istirahat.