Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Sapu Bersih


__ADS_3

Adeeva merasa sudah cukup training mental pegawainya baru ajak Ezra turun ke lantai dasar untuk buat sensasi spektakuler bikin keluarga pak Jul jantungan. Tujuan Adeeva adalah singkirkan keluarga pak Jul satu persatu. Yang hanya jual tampang masuk kantor akan rasakan tangan besi Adeeva.


Adeeva didampingi Ezra berdiri di teras memandang jauh ke pelataran parkir yang sarat dengan pegawai.


Mata Adeeva mencari sosok pak Jul yang legendaris. Tak ada tampak bayangan pak tua itu. Pak tua itu merasa penting tak usah hadir di pertemuan pertama Adeeva dengan para pegawai. Nanti Adeeva akan kasih hadiah yang takkan dilupakan pak tua itu. Kejutan bikin jantung pak tua itu berhenti total.


Ruben tampil ke depan menenangkan semua pegawai yang diliputi rasa ingin tahu apa sebab mereka dipanggil ke pelataran parkir. Mereka ini tak ubah seperti penjahat yang sedang dihukum oleh petugas keamanan. Dijemur di bawah terik matahari.


Bunyi ******* dan keluhan mulai terdengar sana sini. Ada yang mengutuk dan ada yang merepeti Ruben.


"Ada apa ini?" seru Ika anak pak Jul yang putih cantik.


"Tenang kak Ika...ini pak Ezra mau bicara! Silahkan pak Ezra!" Ruben mundur ke belakang beri tempat pada Ezra umumkan perpindahan tampuk kepemimpinan kepada Adeeva.


Ezra tampil ke depan berdiri di tengah-tengah para pegawai. Mata Ezra tajam menatap lurus ke depan membuat semua pegawai bergidik. Dalam hati tentu bertanya-tanya ada apa ini?


"Saudara-saudaraku. Di sini aku mau umumkan ini hari terakhir aku berdiri di sini sebagai pemimpin kalian. Begitu aku pindah kaki dari hadapan kalian maka kepemimpinan telah diambil alih oleh Bu Adeeva Dilangit. Mulai detik ini CEO kalian adalah Bu Adeeva. Untuk selanjutnya semua menjadi tanggung jawab Bu Adeeva. Aku harap kalian hormati Bu Adeeva sebagai pimpinan baru kalian. Terima kasih." Selesai bicara Ezra bergeser ke belakang beri tempat pada Adeeva mulai debut sebagai bos baru ribuan karyawan.


Suara dengung nyamuk lebah sejuta serangga berkumandang di pelataran parkir. Semua tak sangka mereka dipanggil untuk dengarkan perpindahan kepemimpinan perusahaan. Kejutan dahsyat di hari ini.


"Assalamualaikum.. aku Adeeva Dilangit mulai hari ini akan memimpin kalian di perusahaan ini. Aku mohon kerja sama anda semua. Aku tak banyak minta pada kalian semua selain ikuti peraturan yang kubuat. Sebagai pemimpin baru aku akan buat beberapa peraturan baru yang kuharap diterapkan seluruh jajaran karyawan. Aku tak peduli tingkatan karyawan apa. Tak ada pengecualian. Dari yang paling tinggi sampai jajaran [aling bawah. Kalau ada yang melanggar artinya kalian sedang membuat surat pengunduran diri. Ingat itu!" kata Adeeva lantang diikuti suara dengung nyamuk lebah ataupun ribuan serangga di sekitar pelataran parkir.


Ruben dan Ezra tak tahu kebijakan apa akan diterapkan cewek keras ini. Kedua laki ini pastikan kebijakan Adeeva akan merugikan para karyawan cewek yang selama ini jual tampang di kantor.


Selain kasak kusuk tak ada yang berani mengeluarkan suara menantang Adeeva. Sekarang mereka hanya bisa menunggu kebijakan baru Adeeva.


Adeeva berdehem dua kali sebelum lanjutkan pidato perdana sebagai Ceo perusahaan besar ini.


"Dengar semua ya! Mulai detik ini semua pegawai dilarang datang terlambat dan keluar kantor sesuka hati. Kalaupun keluar kantor harus ada ijin atasan serta alasan keluar. Tradisi tidur siang cantik di hotel, pergi keluar masuk salon dan window shopping tidak berlaku di kantor ini. Aku yang akan pecat karyawan melanggar semua aturan aku. Aku akan perhatikan kesejahteraan semua karyawan asal rajin dan taat pada peraturan kantor. Dan aku kaji ulang semua posisi karyawan sesuai pendidikan kalian. Jangan sampai ada pendidikan designer pakaian duduk di posisi sebagai manager keuangan. Aku akan memberi keadilan pada mereka yang punya skill tapi tersisih. Kalau ada komplain silahkan kirim ke email aku. Aku ini orangnya adil akan membela kebenaran. Tak perlu takut intimidasi karena aku akan melindungi setiap nasib karyawan aku."


Perkataan Adeeva disambut tepuk tangan meriah pegawai yang hak mereka terampas oleh nepotisme dalam kantor. Belum apa-apa Adeeva telah membela mereka yang tersisih.


Anggota pak Jul mulai ketar ketir kena syok mental oleh Adeeva. Keberanian Adeeva patut diacungi jempol. Adeeva tak peduli semua keluarga pak Jul yang kuasai lebih dari setengah anggota perusahaan.


"Peraturan aku yang lain akan segera menyusul. Kuharap jangan ada yang melanggar karena sama saja kalian ingin tinggalkan kantor ini. Di luar sana masih banyak insan siap pakai ganti posisi kalian. Cukup sekian dan terima kasih. Silahkan kembali ke meja kerja masing-masing."


Adeeva bubarkan pertemuan singkat hari ini. Adeeva kasihan juga pada karyawan yang pasti kepanasan di bawah cahaya terik matahari. Ada yang menatap Adeeva dengan tatapan penuh amarah dan ada juga yang salut pada keteguhan bos baru mereka. Kejam pada tempatnya.


Ruben dan Ezra masih dampingi Adeeva membuat kebijakan baru. Hanya Adeeva punya nyali bikin mereka yang tiap hari setor wajah ketakutan. Adeeva cocok jadi pemberantas hama di perusahaan. Ezra sudah tepat serahkan tampuk singgasana ke Adeeva. Biarlah cewek ini bermain sampai puas baru Ezra akan kuasai kembali perusahaan.


Adeeva tersenyum puas telah beri pelajaran berharga bagi mereka yang hanya jual tampang di kantor. Tak punya skill apapun tetapi tiap hari keluar masuk kantor tunjukkan diri bahwa dia orang penting dalam kantor. Adeeva akan segera hapus orang-orang tak penting yang keliaran seperti tikus pengerat di dalam kantor.

__ADS_1


Ruben acung jempol kagum pada gebrakan pertama Adeeva telah pukul mental mereka yang jadi parasit selama ini. Ezra pura-pura tak ikut campur karena kekuasaan berada di tangan Adeeva. Terserah dia mau bagaimana urus kantor asal tidak merugikan.


Ketiga orang ini kembali ke ruang Ezra yang sekarang jadi kantor Adeeva. Ruben dan Ezra berjalan di belakang Adeeva mirip pengawal pribadi gadis ini. Semua mata menatap Adeeva dengan berbagai ekspresi. Ada yang suka dan ada yang benci. Tergantung status mereka di kantor. Yang bakal kena gusur pasti benci pada Adeeva sedang yang selama ini bekerja di bawah tekanan pasti bersyukur telah muncul pahlawan kebenaran.


Sesampai di dalam ruangan kerja Ezra Adeeva langsung menghempas diri ke atas sofa sambil mengusap muka akibat kena cahaya matahari di pelataran parkir tadi. Wajah gadis ini memerah bak tomat siap petik.


"Mau minum nyonya bos?" gurau Ruben lihat Adeeva kepanasan.


Adeeva mengangguk lirik Ezra. Kini status Ezra adalah asisten pribadi yang harus layani bos dua puluh empat jam. Tugas ambil air minum menjadi tugas Ezra.


Ruben tak biarkan Ezra mengambil minuman buat Adeeva. Kasihan Ezra dari pemimpin tertinggi kini jadi jongos Adeeva. Ruben yakin sudah ada tabel derita Ezra tersusun di dalam daftar benak cewek ini. Cuma cewek ini belum keluarkan daftar tugas Ezra. Pasti tak ada yang baik.


Ruben memberi satu botol air mineral pada Adeeva. Di dalam ruangan Ezra ada kulkas khusus berisi minuman untuk Ezra. Dan kini jadi milik Adeeva.


"Ada perintah lain Miss Adeeva?"


"Aku mau baca semua CV pegawai sini. Aku mau mutasi semua pegawai sesuai keahlian masing-masing. Yang tak ada hubungan dengan kantor aku akan tempatkan di mana mereka bisa bekerja baik."


"Siap Miss Adeeva. Kalau ada keperluan setiap saat call ya!" Ruben mengacung jari tanda siap berbakti.


"Oya...aku mau tambah cctv. Pasang dalam jarak empat meter persatu cctv dan langsung terhubung dengan aku."


Ezra tak sangka Adeeva langsung perbaiki sistem keamanan di perusahaan. Adeeva boleh masih muda tetapi soal pengamanan dia adalah orang jempolan. Ezra tidak membantah keinginan Adeeva menambah kamera pengawas di kantor. Ezra tahu ini untuk menjaga keamanan di dalam perusahaan.


Setelah Ruben pergi ponsel Ezra berbunyi kencang. Ezra melihat siapa yang telepon lantas menghela nafas. Ternyata perpindahan kekuasaan sudah sampai ke telinga ibu suri di istana. Ezra tak bisa hindari perdebatan dengan mamanya itu. Cepat atau lambat dia akan hadapi kemelut ini. Lebih cepat selesai lebih bagus.


"Siapa pak? Kok mendung?" tanya Adeeva heran melihat wajah Ezra kusut.


"Mama..." sahut Ezra singkat.


Adeeva tidak panik karena tahu mereka pasti akan lalui rintangan ini. Bu Humaira mana mungkin segampang ini menyerah peninggalan suaminya dikuasai anak kecil.


"Bapak sudah siap?"


"Serahkan padaku saja!" Ezra geser layar terima telepon dari Bu Humaira.


"Ya ampun nak! Apa yang terjadi? Kau masih waras tidak?" belum apa-apa Bu Humaira marah besar.


"Tenang ma! Aku sangat mencintai Adeeva tak rela dia pergi. Untuk buktikan cinta aku maka aku relakan semua untuknya."


"Hebat banget anak itu! Pakai ilmu pelet apa sampai kamu bertekuk lutut padanya. Mama tak mau tahu kau harus ambil kembali seluruh harta keluarga."

__ADS_1


"Sudah terlambat ma! Perpindahan sudah sah secara hukum. Aku tidak keberatan sedikitpun karena Adeeva adalah isteri aku. Aku rela hidup sederhana asal dia tetap di samping aku!"


"Dasar budak cinta. Apa kau bisa hidup dengan cinta? Gimana dengan para isterimu yang lain? Jangan bilang jatah lima juta juga kamu pangkas."


"Itu tergantung Adeeva! Dia beri aku berapa itu yang akan kuberikan pada wanita di istana. Dulu aku tawar jalan terbaik tapi semua memilih bertahan. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Terserah kalian saja! Mau bertahan atau mau tinggalkan istana ya terserah. Sekarang istana juga milik Adeeva."


"Apa? Jadi kamu ini gelandangan tak punya harta sepeserpun?"


"Tidak...aku punya Adeeva. Itu sudah cukup. Peduli amat dengan harta. Itu semua hanya bawa masalah buat aku. Aku lega bisa hidup tenang tak perlu pikir banyak beban. Adeeva pasti takkan biarkan aku lapar."


"Ya Tuhan Hakim...di mana akal sehat kamu? Sekarang dia kasih makan kamu dia hari lagi dia usir kita semua. Tadi mama dengar dia akan mutasi semua pegawai. Bagaimana nasib om dan saudara kamu?"


"Adeeva sudah janji akan mutasi sesuai keahlian. Tak ada yang dirugikan. Adeeva pasti bijak ambil keputusan."


"Lalu bagaimana nasib Ika? Ilham? Om kamu? Apa kau pernah pikir untuk saudara kamu?"


"Sudah kubilang Adeeva akan atur kerja sesuai keahlian. Mama juga salah masukkan Ika ke kantor. Dia itu kan ahli kecantikan pemilik salon. Mama suruh kerja di kantor. Ya tiap hari hanya setor muka makan gaji buta. Apa yang bisa dia kerjakan di kantor ini?"


"Sudah bertahun dia kerja tak ada masalah mengapa baru sekarang kau masalahkan? Dia kan bisa sumbang pikiran. Ika itu cerdas dan pintar."


"Pikiran apa yang dia sumbang ma? Datang kantor jam sepuluh. Makan siang sampai jam empat sore. Balik ke kantor untuk pamitan pulang kerja. Ini yang dia sumbang? Aku bolehlah tidak bicara karena dia keponakan mama tapi sekarang bos baru punya kebijakan sendiri. Kita harus ikuti. Beri Adeeva kesempatan pimpin perusahaan. Aku hanya bantu dari belakang. Kuharap mama maklumi posisi aku sekarang. Jangan sampai aku ditendang dari kantor demi bela saudara mama."


"Harusnya kau diskusi dengan mama soal ini. Aku ini mamamu berhak tahu semua yang terjadi."


"Aku minta maaf soal ini. Tapi semua sudah terjadi. Kita terima saja ya! Aku masih ada sedikit uang. Kalau ada yang mau lepas aku akan beri kompensasi tapi tidak sebesar dulu. Suruh mereka pikir sendiri. Hubungi aku jika sudah pikir matang. dan satu lagi ma! Bilang pada om Jul jangan berpikiran buruk karena akibatnya fatal. Aku takkan ijinkan siapapun sentuh Adeeva. Aku akan habisin orang yang berani ganggu dia."


"Kau sudah gila nak! Berapa harga anak itu?"


"Sekarang berharga. Adeeva sudah bikin surat pernyataan kalau terjadi sesuatu padanya dia akan sumbang seluruh harta kekayaan Dilangit pada yayasan anak yatim piatu."


Adeeva besarkan mata tak terpikir Ezra akan omong begitu pada mamanya. Adeeva tahu Ezra hanya ingin lindungi Adeeva dari tindakan kejahatan yang pasti akan terlintas di benak anggota pak Jul.


"Kalian dua sama gilanya. Malam ini kamu pulang sini bawa istrimu itu. Mama akan bicara dengannya agar tahu diri. Merampok harta kita tanpa malu."


"Mama salah...Adeeva tak pernah minta tapi aku yang beri. Untuk sementara aku tak bisa pulang karena Adeeva sibuk jadwal ulang struktur kantor. Aku harus dampingi dia."


"Hakim...aku ini mama kamu. Aku berhak bicara pada menantu aku! Dia harus tahu diri."


"Kami akan datang setelah Adeeva selesai atur semuanya susunan baru di kantor. Maafkan aku telah berkata kasar! Aku hanya mau melindungi orang yang kusayangi. Mama harus ingat aku sangat mencintai Adeeva. Dari kecil aku sudah menunggu dia."


"Hakim...kau bela orang lain daripada mama?"

__ADS_1


"Adeeva bukan orang lain tapi isteri aku! Sudahan ya ma! Kami akan mulai sibuk." Ezra mematikan ponsel setelah minta ijin Bu Humaira tutup ponsel.


__ADS_2