
Don hampiri Ezra yang sudah duduk dikerubuti lalat pencinta bau bangkai. Kalau perempuan baik-baik mana mau murahkan diri digerayangi oleh pria. Apapun alasan tetap saja disebut kupu-kupu malam.
"Halo...tuan tajir! Apa kabar?" Don duluan menyapa Ezra. Sementara cewek-cewek di samping Ezra mulai pasang aksi ulat bulu kena minyak tanah. Meliuk pamer semua perabotan agar mata Ezra merah.
"Baik... usahamu makin lancar. Pengunjung lumayan banyak."
"Berkat bantuan dari lhu! Sejak renovasi semua makin membaik. Tumben sendiri...di mana lintah merah lhu?" Don mencari sosok yang selalu berada di samping Ezra bila keluar malam.
"Aku ingin sendiri. Aku tak mau diganggu." ujar Ezra dipahami Don kalau si orang kaya ini mengusir ulat bulu secara halus.
Don beri kode pada cewek-cewek agar jauhi Ezra sebelum laki itu menolak dengan kasar. Ezra bukan cowok peramah walau pemurah. Bahaya kalau ada yang memaksa keinginan.
Para ulat bulu memancungkan bibir kurang puas tak berhasil merayu bos tajir yang sangat disegani. Tapi apa daya sang tuan tajir sudah beri ultimatum agar mereka jauhi dia.
Don menepuk bahu Ezra dengan simpatik. Tentu saja menjilat pada donatur pubnya.
"Minum apa? Martini atau whisky dingin?" tawar Don masih cari muka. Kalau bilang pada Adeeva masih ada orang cari muka di depan Ezra mungkin gadis itu akan terpingkal-pingkal sampai buang angin busuk.
"Benedictine campur es batu."
"Ok...kutemani sahabat sampai mabuk!"
"Jangan gila! Satu gelas saja! Aku masih harus nyetir."
Don tertawa tak open ujaran sahabat. Mabuk paling telepon Ruben untuk bawa Ezra pulang. Ezra jarang mabuk karena tahu batasan. Ezra bukan tidak takut kena jebakan Baan dari orang yang ingin cari keuntungan dari bos kaya itu.
Don balik bawa dua gelas kristal dan sebotol minuman keras berbentuk gendut. Bau minuman keras menyeruak begitu Don buka tutup botol berwarna hijau gelap.
Ezra perhatikan Don mengaduk minuman keras itu. Tangan Don sangat terampil mengolah minuman memabukkan itu. Maklumlah pekerjaan Don memang cari rezeki dari barang haram.
Don menyodorkan gelas pada Ezra untuk rasakan keahlian meracik minuman memabukkan itu. Ezra mencicipi sambil mengangguk.
"Segar.."
"Kucampurkan sedikit mints! Biar pikiran segar dikit. Wajah ganteng lhu kusut! Ada apa?"
Ezra memutar gelas tak bisa sembunyikan rasa galau kehilangan kuda kecilnya. Sampai detik ini Ruben belum kasih kabar. Ke mana kaburnya kuda mini itu.
"Kau ingat ceritaku tentang bayi tunangan aku?"
"Ingat...yang raib tanpa kabar!"
"Aku sudah menemukannya! Tapi dia kabur menolak jadi wanitaku!"
Don melongo. Baru hari ini dia dengar ada wanita menolak Ezra. Wanita itu pasti luar biasa.
"Dia menolak kamu mungkin dia cowok."
"Tidak...dia cewek tulen! Aku hampir menangkapnya tapi kacau karena Rani." kata Ezra sendu.
"Rani lagi...aku kok muak dengar nama itu! Tak bisakah kau kirim dia ke planet lain? Dia menguasai seluruh hidup kamu!"
"Aku terlanjur janji pada Herman sebelum dia meninggal. Aku harus jaga anak dan isterinya." desah Ezra putus asa. Janji pada orang yang sekarat harus ditepati.
"Ini sudah tiga tahun berlalu. Tak mungkin kau habiskan seluruh hidupmu buat dia. Kau atur dia menikah lagi."
Ezra tertawa sinis ingat penawaran Rani agar mereka hidup bersama. Tidak dinikahi tak masalah asal hidup Ezra di tangannya. Ezra mau selusin selir Rani tidak keberatan. Rani tahu Ezra tidak open pada selir-selir di istana. Mereka jungkir balik juga Ezra tidak ambil hati.
__ADS_1
"Semalam dia menahan aku untuk tinggal bersama. Dia mulai berani unjuk perasaan ingin kuasai aku."
"Lalu kau patuh? Aku merasa kematian Herman bukanlah kecelakaan murni! Dia tidak mabuk mengapa tiba-tiba tabrak tiang. Kalau kita bilang ngantuk juga tak mungkin karena masih jam sembilan. Kau ingat Rani telepon dia pulang bilang anak mereka sakit."
"Kau mau bilang ada yang sabotase mobilnya? Ini sudah tiga tahun lalu bro! Di mana ada bukti?"
"Mobil Herman masih ada?"
"Kayaknya masih. Kata Rani untuk kenangan. Tidak diperbaiki tapi tersimpan rapi di garasi. Kau mau apa?"
"Nanti kupikirkan. Rani bukan lah wanita cocok dijadikan masa depan. Kau bilang telah menemukan tunangan kamu tapi dia menolakmu! Sangat menarik...aku harus jumpa dia!"
"Harusnya gitu!"
"Namanya?"
"Poni Liaran..."
"What? Orang tuanya buta huruf ya! Nama anak kok kayak nama hewan piaraan."
Ezra tersenyum hambar ingat kelucuan Adeeva. Dia begitu bersemangat hadapi gelombang pasang. Setiap hari ceria tak peduli mendung bergelayutan di langit. Hari bersama Adeeva penuh warna. Tak ada warna kelabu.
"Kau pikir ada bapak gila kasih nama itu? Dia lucu dan ada gilanya. Mirip kuda liar di Padang pasir. Tak kenal kata takut."
Don langsung paham kalau itu bukan nama asli gadis Ezra. Pasti Ezra sok pintar ganti nama anak orang. Ezra kembali menegak isi gelas hingga kandas. Don mulai paham mengapa Ezra galau. Ternyata kuda kecil yang dia piara terlepas dari kandang.
Don kembali mengisi gelas Ezra dengan miras memabukkan. Don akan merawat Ezra bila terkapar tak berdaya. Biarlah dia hilangkan rasa galau dengan minuman.
Tak terasa dua botol minuman pindah ke perut Ezra. Laki itu auto mabuk hilang kesadaran. Kalau ada orang niat jahat gampang sekali kerjain Ezra di saat gini. Tapi Don takkan biarkan siapapun dekati Ezra.
Lelaki ganteng itu terkapar lemas di tempat duduk pub Don. Wibawa bos kaya raya luntur dari profil lelaki kaya ini. Yang ada seorang cowok ganteng hilang kesadaran akibat miras.
"Rani... ngapain di sini? Siapa rawat anakmu?"
"Aku? Aku datang jemput masa depan aku! Serahkan Ezra padaku! Aku akan rawat dia!" kata Rani dengan senyum licik. Bibir dipoles gincu senada dengan pakaiannya makin menyala karena bergerak maju satu inchi.
"Ruben sedang kemari! Aku sudah minta Ruben jemput Ezra. Kalau kuserahkan dia padamu besok nyawaku akan pindah ke surga. Aku belum mau mati. Ezra tidak tertarik pada janda orang. Dia punya lusinan wanita lebih fresh. Untuk apa sisaan orang?"
Rani bukan marah dibilang sisaan. Selir-selir di istana Ezra tak lebih baik darinya. Mereka juga buka warung gratis untuk musafir yang haus akan gairah. Sekali saja Rani bawa Ezra maka seumur hidup dia akan jerat Ezra.
"Jangan banyak mulut! Kau pura-pura tak lihat saja! Bulan depan aku akan hamil anak Dilangit. Aku takkan lupa jasamu!" Rani berusaha meraih Ezra agar bersandar pada dadanya yang segede balon udara. Don duga isinya pasti silikon. Seingat Don dulu dada Rani tidak segede sekarang.
"Jangan bikin malu diri sendiri! Kalau Ruben datang tamatlah kamu! Ezra pasti takkan jumpai kamu lagi." ancam Don ambil ponsel foto kenakalan Rani coba jebak Ezra.
Rani bangkit mencoba rebut ponsel Don. Don lebih cepat menyimpan benda itu ke saku celana. Rani melempar tatapan penuh kebencian pada Don. Lagi-lagi Don halangi rencana besarnya bawa Ezra ke pelukan.
Dalam angan Rani sudah terbayang rengkuhan Ezra yang hangat. Perabotan Ezra pasti segede tubuhnya yang kokoh. Rani tak sabar ingin meleburkan diri pada Ezra.
"Sialan kamu! Aku takkan menyerah." Rani pilih mundur dulu sebelum jumpa Ruben. Kalau Don melapor semua rencana besarnya pasti berantakan.
Don menarik nafas lega Rani pergi meninggalkan Ezra. Tanpa buang waktu Don langsung teleponi Ruben. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak ponsel Ruben sedang di luar jangkauan.
Don segera periksa ponsel Ezra cari siapa yang bisa dia hubungi lagi selain Ruben. Don terpaksa pakai cara curang buka kata sandi ponsel Ezra dengan finger print di ponsel mahal itu.
Mata Don tertancap pada nama Poni Sayang. Don menduga ini nomor wanita yang disebut Ezra. Panggilan tidak dijawab. Don tertawa sedih. Masih ada masa kalah Ezra di bidang kulit mulus.
Don jadi penasaran pada sosok yang berani menolak Ezra. Tulang punggungnya pasti lebih keras dari wanita umumnya.
__ADS_1
Don mencoba hubungi Adeeva dengan ponselnya. Semoga saja disambut. Hari juga sudah larut malam. Apa wanita ini sudah tidur atau masih ngelayapan seperti selir-selir Ezra yang lain.
Panggilan masuk tapi tak dijawab. Tiga kali Don dial nomor Adeeva baru ada jawaban dari seberang. Suaranya tunjukkan orang yang jawab masih diayun mimpi. Suara bantal jelas terdengar di kuping Don.
"Halo... assalamualaikum..."
Don tertegun baru kali ini ada yang menyapa gunakan salam sopan. Suara di seberang juga bening dan mentah. Belum matang. Jelas suara nona muda.
"Waalaikumsalam..nona Poni?"
"Kau siapa? Tengah malam ganggu tidur orang! Di rumahmu tak ada ayam jago ya?"
"Emang untuk apa ayam jago?"
"Ayam jago berkokok di pagi hari. Belum berkokok artinya masih malem. Ada apa telepon? Aku kenal anda?"
Don ingin ketawa dengar nada sewot dari sana. Pantesan Ezra bilang Poninya lucu. Ternyata itu benar. Belum apa-apa sudah pancing tawa Don.
"Aku pemilik pub Gemerlap. Di sini ada laki bernama Ezra sedang mabuk. Dia asyik meracau panggil nama Poni maka kuperiksa ponselnya. Ada nama Poni Sayang maka kucoba telepon kamu."
"Lha apa hubungan dengan aku? Ceburkan ke bak mandi pasti waras!" sahut Adeeva tidak simpatik pada nasib Ezra. Kejadian siang tadi belum terhapus dari ingatan kini mabukan. Adeeva makin ilfil.
Don merasa perutnya digelitik ingin tertawa besar. Malang benar nasib Ezra. Masa jayanya telah berlalu. Pesonanya tak mampu beli hati wanita yang pasti muda. Dari suara dan gaya bicara Don yakin wanita di seberang anak ingusan.
"Bukan gitu nona Poni...Aku hanya kuatir Ezra dimanfaatkan orang. Kau tahu banyak orang mengincar dia. Tadi saja ada wanita mau bawa dia pergi. Bisa hancur reputasi Ezra."
Tak ada jawaban dari sana. Don rasa Poni sedang asah otak pikir kata Don.
"Kenapa tak telepon Bendi? Suruh jemput ikan paus sekarat! Kalau susah diatur campakkan ke laut. Itu habitatnya."
Don tertegun sejenak lantas ketawa renyah. Don tak dapat menahan tawa lagi. Wanita muda lawan bicaranya sungguh lucu dan kocak. Ternyata dia beri julukan ikan paus pada Ezra. Dan si bendi pasti Ruben.
"Nona...telepon Ruben tak aktif! Kalau aktif sudah kuteleponi. Gimana ini? Dari tadi hanya nama Poni di bibirnya. Kamu ini siapa Ezra? Kenapa dia terkenang padamu?"
"Aku ini tukang tagih kredit. Ezra ada hutang padaku, tak bisa bayar maka dia takut sendiri terbawa ke alam sadar. Di mana pub kamu?"
"Aku akan kirim alamat. Segera datang ya!"
"Yaelah...aku bukan burung punya sayap bisa terbang ke sana. Aku cari tumpangan dulu. Coba hubungi Bendi lagi! Tadi mungkin pingsan kena tabrak peri bergincu."
Setiap kalimat Adeeva pancing senyum Don. Dari mana muncul makhluk demikian menarik di dalam hidup Ezra. Biasa yang dia temui peri-peri berdandan menor. Yang ini luar biasa. Don makin penasaran ingin cepat jumpa makhluk aneh bin ajaib ini.
Don kirim alamat pubnya buat Adeeva. Di jam digital ponsel menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit. Sebenarnya Don tak tega biarkan seorang wanita muda keliaran di tengah malam buta. Namun untuk menyelamatkan Ezra dari incaran tangan setan Din harus tega.
Setengah jam kemudian Don melihat dua sosok gadis muda masuk ke dalam pub. Mereka tampak bingung melihat suasana pub yang bau rokok dan minuman keras. Satu tinggi dan satunya mungil. Don belum lihat jelas tampang mereka karena cahaya kurang memadai.
Don melambai bikin kode agar keduanya mendekat. Mata jeli Adeeva menangkap satu sosok besar terkapar tak sadar diri di kursi lebar.
Adeeva menyeret Nunik berjalan ke tempat di mana Ezra dijaga Don. Nunik ngeri-ngeri sedap melewati kerumunan orang setengah sadar. Salah-salah mereka bisa jadi korban pelecehan. Nunik tak pernah datang ke tempat ginian tentu ketakutan. Lain dengan Adeeva yang sering bantu teman kalau dapat masalah di pub. Teman mereka di klub banyak yang jadi satpam di pub. Sering terjadi bentrokan dengan pengunjung mabuk. Adeeva sering turun tangan tangani orang-orang dikuasai minuman keras. Kena bogem Adeeva kontan sadar.
Adeeva berdiri gagah di hadapan Don. Mata Don dapat melihat dengan jelas dua sosok gadis muda menarik. Satu cantik jelita dengan rambut diikat ekor kuda sedang satunya berambut sebatas bahu dibiarkan turun ke bahu.
"Poni?" tanya Ezra ragu tak tahu yang mana gadis Ezra. Don berat ke Adeeva yang matanya bak bintang kejora berkilat tajam.
Nunik tertawa geli mendengar ada orang panggil sahabatnya dengan nama aneh. Poni rambut atau poni si keledai bodoh.
"Abah sudah tumpengan belum?" tanya Nunik memancing delikan Adeeva.
__ADS_1
"Abah lagi asah pisau mau bacok mulut orang yang suka nyaplak sembarangan. Sekarang gimana? Monster laut ini kita campak ke mana?" tanya Adeeva tak peduli pertanyaan Don. Mata Adeeva menancap pada tubuh besar yang lupa daratan.