
Ezra meminta Adeeva minta izin dulu kepada orang tuanya. Ezra tidak mau Abah dan Umi Adeeva merasa kuatir anaknya tidak pulang. Makin hari Ezra makin kenal tata krama dan sopan santun.
Pasangan muda ini bergerak dari kantor polisi langsung menuju ke rumah mewah Ezra. Ruben tidak dapat ikut karena harus menyelesaikan masalah di kantor dan berjanji akan menyusul sekalian membawa Desi.
Ezra dan Adeeva menyambangi Bu Humaira sebelum pergi ke rumah Cendana Adeeva. Pas pula di situ ada Bu Yuni baru pulang entah dari mana. Mau tak mau Ezra dan Adeeva harus singgah di rumah Bu Yuni. Bu Humaira sudah pasti tak mau ikut pesta kebun dengan para anak muda. Bu Humaira sedang galau ingat Renata dan Ika. Belum lagi pak Jul yang belum sehat. Rencana mau berobat ke luar negeri amblas karena uang sudah dibawa kabur oleh Kenzo.
Bu Yuni juga menolak ikut pesta merasa tak pantas berada di antara anak muda. Biarlah pesta itu dinikmati para anak muda. Bu Yuni sangat perhatian pada Ezra. Walaupun hanya ibu tiri Bu Yuni tak ingin Ezra hancur. Kini hidup Ezra mulai terarah maka Bu Yuni sudah lega untuk tinggalkan Ezra pada orang yang berhak.
Ezra dan Adeeva duluan tiba di rumah Cendana yang sudah dibersihkan oleh Kiano dan Tuti. Kini giliran Kiano dan Tuti jadi pembantu paling penting di istana mewah ini. Mereka berdua secara langsung mengurus nyonya besar Dilangit.
Adeeva merasa kangen pada rumah mungilnya. Dia memang pernah jadi bagian dari rumah ini walau hanya sekejap.
Adeeva perhatikan Kiano dan Tuti sibuk menyiapkan acara sederhana mereka. Kedua pelayan setia demikian bahagia majikan mereka telah kembali. Tak ada kata lain selain puji syukur Adeeva bertahan di sisi Ezra.
Kedua pelayan itu sudah ketar-ketir mengingat para selir keluar satu persatu. Mereka pikir adeeva pasti ikut keluar karena dari awal adeeva tidak menyukai Ezra. Tak disangka yang bertahan justru Adeeva.
Ezra merasa sangat damai berada di rumah peninggalan orang tuanya. Ezra besar di rumah ini. Sayang semua kenangan terputus akibat meninggalnya ibu kandung.
Adeeva sendiri mencoba menenangkan diri di kamar lembab karena jarang dihuni. Kamar itu tetap bersih menanti majikannya kembali.
Ezra memantau kondisi Adeeva yang pasti agak syok setelah mendapat serangan dari Rani. Semoga hari ini adalah hari terakhir mereka mendapat ancaman.
Ezra duduk di atas kasur memandangi Adeeva yang berbaring di atas kasur. Wanitanya itu memandang ke langit-langit merasa takjub hidupnya yang semula tenang tanpa riak kini harus bertempur lawan puluhan orang berhati hitam. Mereka adalah manusia bakal kena kanker hati maka hatinya hitam.
Ezra berusaha menyelami isi hati Adeeva ingin tahu apa yang tersimpan di otak mungil itu.
"Pikir apa sayang?"
Adeeva putar kepala menghadap Ezra. Adeeva meneliti rona wajah Ezra mau tahu apa tujuan Ezra terhadap dirinya.
"Hubby... apa hubby tidak merasa aku ini bukan wanita yang tepat untuk hubby?"
Ezra tertawa merasa Adeeva sedang ngejudge perasaannya. Apa Adeeva lupa sudah puluhan kali dia bilang dia memang menanti kehadiran Adeeva dari dulu.
"Tidak ada wanita yang lebih tepat untukku selain kamu! Aku menunggumu sudah puluhan tahun. Sangat tidak mudah bagi kita untuk bersatu maka kita harus menggunakan kesempatan ini dengan baik untuk membangun masa depan yang cerah. Kita lupakan yang sudah-sudah dan melihat ke depan untuk anak-anak kita."
"Terima kasih sudah menungguku! Aku ingin kau peluk!"
Ezra mana mungkin menolak permintaan yang sudah dia tunggu-tunggu dari dulu. Kini Adeeva sendiri yang memintanya untuk memeluk dirinya. Kalau bisa bukan hanya sekedar memeluk melainkan lebih daripada itu.
Ezra sudah cukup lama bersabar untuk menyatukan diri dengan Adeeva. Ezra sendiri sudah lupa berapa lama dia tidak menyentuh kehangatan seorang wanita. Sejak skandal dengan Sonya seluruh gairah Ezra seolah-olah amblas ke perut bumi.
Ezra tidak biarkan Adeeva bangkit melainkan memeluk dari atas dengan hati-hati takut menyakiti bayi dalam perut Adeeva. Ezra berada di atas Adeeva dengan posisi sedang push up.
Kalau diizinkan Ezra ingin sekali melakukan push up barengan dengan Adeeva. Lantas mengantar wanita muda itu berlayar dalam bahtera cinta tak bertepi. Ezra takkan memaksa selama Adeeva menolak. Menjaga mood Adeeva adalah tugasnya sekarang.
Adeeva tersenyum melihat Ezra menatapnya penuh harapan. Mungkin ini saatnya mencoba berdamai dengan keadaan.
"Cium aku!" pinta Adeeva tak sadar sedang bercanda dengan gairah seorang lelaki dewasa.
Adeeva juga tak tahu mengapa dia ingin berlabuh dalam pelukan Ezra. Apa mungkin ini pengaruh aroma mistik dari rumah cendana ini. Adeeva merasa sangat rileks membutuhkan kasih sayang dari lelakinya.
__ADS_1
Ezra tidak menjawab melainkan menurunkan kepala untuk bersatu dengan bibirnya Adeeva. Ezra melakukannya dengan lembut agar wanita ini tahu Ezra sangat mencintainya.
Ezra pakar asmara tentu saja dengan mudah kuasai Adeeva selama wanita ini menginginkan cinta darinya. Kesempatan bagus ini mana mungkin dilewatkan Ezra begitu saja. Gairah yang telah mencapai ubun kepala harus segera di lepaskan agar otaknya tidak miring kiri kanan.
Ezra mengajar Adeeva melayani suami dengan setulus hati. Memberi segalanya termasuk jiwa raga. Ezra jadikan Adeeva satu-satunya wanita dalam hidupnya. Semua yang terbaik Ezra berikan.
Adeeva menemukan sensasi tersendiri mereguk cinta dari Ezra. Inilah surga di alam dunia bila bercinta saling membutuhkan.
Sekian lama bersatu akhirnya keduanya terlempar kembali ke bumi setelah melayang di awang-awang. Ezra tersenyum puas mengecup Adeeva berkali-kali sebagai tanda terima kasih sudah mau menyatukan cinta mereka.
"Terima kasih sayang! Kau tetap indah seperti saat pertama kita lakukan. Aku mencintaimu nyonya Dilangit." bisik Ezra mesra di kuping Adeeva.
Adeeva tersipu malu mendapat bisikan mesra dari Ezra. Munafik kalau Adeeva tidak ikut merasakan kenikmatannya bercinta. Ternyata bercinta tidaklah seburuk yang dia bayangkan malahan sangat indah sulit dilukis dengan kalimat.
"Hanya cinta?"
"Tidak ada batasnya. Kamu adalah segalanya buat aku! Kau tahu kenapa aku tidak pernah mencarimu setelah kita menikah? Itu karena hatiku telah terisi oleh kamu dari kecil. Tak ada wanita lain boleh duduk di tahta hatiku. Cuma kamu takdirku!"
"Gombalan atau ketulusan?"
"Tulus setulusnya...kau tidur saja! Nanti sebelum magrib aku akan bangunkan kamu."
"Hubby mau ke mana?"
"Tidak ke mana...cuma mau mandi!"
"Temani tidur dong! Masa sudah dapat jatah langsung tinggalkan! Ngak niat amat!" Adeeva merengut manja.
"Baiklah! Cobalah tidur!" Ezra memeluk Adeeva lebih erat agar wanita itu tenang.
Adeeva tertidur sangat pulas mungkin kelelahan melayani ikan paus gede. Manalagi dia sedang hamil muda. Rasa capek menyergap membuat Adeeva terlena.
Ezra segera bangun setelah melihat istrinya tertidur pulas. Ezra segera membersihkan diri sebelum hadirnya teman-teman Adeeva. Ezra merasa hidupnya makin sempurna. Semua putri kecantikan tak ada arti lagi dalam hidup Ezra. Cukup Adeeva seorang.
Usai salat magrib satu persatu temannya adeva dan Ezra datang ke istana Ezra. Desi, Supono dan Nunik tidak dapat menyembunyikan rasa kagum melihat istana Ezra. Beberapa bangunan besar menjadi saksi bisu berdiri di atas lahan yang luasnya ber hektar itu. Nunik yang sudah mendengar cerita Adeeva tentang selir-selir Ezra tidak heran dengan kemewahan bangunan yang ada di istana Ezra. Beda dengan Desi yang takjub tak habis pikir mengapa di dunia ini ada manusia sedemikian kaya. Lagi-lagi pikiran buruk menyelinap di hati Desi. Mengapa bukan dia yang berada di posisi Adeeva. Desi bisa membanggakan orang tua bila mendapat suami super kaya. Sayang sekali Desi hanya bisa berangan karena Ezra itu adalah milik sah Adeeva.
Kiano dan Tuti dengan cekatan melayani tamu majikannya. Kedua pelayan itu tidak pernah menerima tamu sedemikian banyak selama ini karena majikannya jarang ada di tempat. Malam ini merupakan malam yang sangat bersejarah buat kedua pembantu itu. Mereka seperti sangat berguna pada malam ini.
Desi dan Adeeva hanya duduk santai di bawah pohon rindang biarkan Nunik dan Supono serta Ruben jadi seksi sibuk. Ezra sendiri duduk agak jauh sibuk dengan ponsel.
Adeeva tak tahu apa yang sedang dilihat Ezra dari ponselnya. Adeeva tidak mau membangun pikiran buruk kepada Ezra karena tahu laki itu sudah mendapat pelajaran berharga. Mencoba berselingkuh adalah jalan menuju kematian.
"Eva..." panggil Desi mengharap perhatian Adeeva.
Adeeva berpaling dari Ezra menatap sahabat baiknya. Adeeva tidak terpikir sedikitpun kalau Desi iri padanya. Hati Adeeva tetap tulus pada Desi.
"Ya teh..."
"Katanya pak Ezra pernah punya bini sampai enam orang. Di mana mereka?"
Adeeva tertawa kecil mendengar pertanyaan Desi. Sudah bukan rahasia lagi kalau Ezra memiliki banyak istri. Tetapi syukurlah semua telah berakhir dan Ezra sudah bersumpah hanya memiliki Adeeva seorang.
__ADS_1
"Iya...tapi semua sudah ditalak karena pak Ezra tak pernah mencintai mereka. Semua isteri itu diberi oleh mamanya pak Ezra. Pak Ezra tak pernah menyentuh mereka. Baru ini pak Ezra talak mereka semua tinggal aku seorang."
"Kau tak cemburu pada mereka?" Desi berusaha mengorek keterangan dari Adeeva.
"Tidak karena hubby tak pernah cinta pada mereka. Bahkan Pak Ezra tak pernah menyentuh mereka sekalipun. Dan jujur aku sebelumnya memang tak menyukai Pak Ezra. Seiring waktu rasa sayang dan cinta timbul dengan sendirinya. Sekarang kami sedang berbahagia menanti kelahiran anak kami."
Desi menelan air ludah merasa kerongkongan tercekat. Perkataan Adeeva seperti busur menghujam jantungnya. Tak perlu punya pikiran aneh untuk meleburkan diri dalam lingkungan Ezra.
"Kau beruntung mendapat cinta dari pak Ezra. Dia sangat ganteng dan kaya raya. Pasti jadi idaman semua wanita. Gimana kalau tiba-tiba dia punya isteri lagi."
"Aku pasti bunuh dia!" kata Adeeva bergurau.
"Sadis..."
"Kau tahu kenapa dia alihkan semua kekayaan kepadaku? Dia percaya bahwa aku ini adalah takdirnya. Aku ini terlahir untuknya. Dia sudah jadi tunangan aku sejak lahir. Kami memang ditakdirkan untuk bersatu."
Desi makin yakin untuk buang semua angan sinting ikutan jadi isteri orang kaya walau hanya berstatus pelakor. Ezra bukan orang mudah ditaklukkan.
"Kudoakan semoga kalian bersatu selamanya."
"Amin...yang penting mesti bahagia. Dan kau juga mesti bahagia. Cobalah buka hati pada lelaki! Tuh ada adik pak Ezra. Ruben itu adik pak Ezra. Sekarang posisinya adalah wakil presiden."
"Adik pak Ezra?" Desi kaget mendengar status Ruben sesungguhnya. Desi tak sangka Ruben punya status cukup lumayan.
Andai Adeeva tahu bahwa dalam angan Desi hanya ingin dapat suami kaya mungkin takkan ijinkan Desi dekati Ruben. Desi tak punya cinta tulus. Cintanya hanya berpatok pada materi. Bahkan terbersit di hati ingin mencuri Ezra dari Adeeva. Desi merasa nilai lebih plus dari Adeeva. Adeeva hanyalah seorang anak bawang yang kebetulan nasibnya beruntung bertemu dengan seorang CEO kaya raya.
"Iya si Bendi adik sepupu pak Ezra. Sekarang dia duduk di posisi penting di perusahaan. Kau bisa coba!"
"Terima kasih saranmu! Aku akan berusaha. Aku salut pada nasibmu. CEO yang terkenal garang takluk di tanganmu."
"Sudah kubilang kami ini pasangan yang sudah ditakdirkan dari dulu. Menurut cerita pak Ezra dia menunggui kelahiran aku. Begitu aku lahir kami sudah dipasangkan."
Desi besarkan mata terkejut mendengar cerita Adeeva. Ternyata Adeeva memang jodoh Ezra dari awal. Kalau sudah memang ditakdirkan menjadi jodoh takkan lari kemana.
"Hebat...kisah cinta yang indah!" mulut Desi mengatakan demikian anak tetapi sangat menyesal di dalam hati. Mengapa Tuhan tidak adil bukan memilih dia untuk menjadi pasangan Ezra.
"Eva....sini! Ayok ikut makan! Dagingnya sudah siap dibakar!" teriak Nunik memecahkan ketenangan malam.
Nunik demikian riang tidak memiliki pikiran lain selain menikmati malam bersama teman-temannya. Beda dengan Desi yang mempunyai jutaan pikiran melenceng dari jalan sebenarnya.
Sesungguhnya manusia model Desi sangat berbahaya. Dari penampilan luar lemah lembut dan baik tetapi di dalam tersimpan ratusan anak busur siap dipanaskan ke lawan.
Adeeva dan Desi bangkit dari tempat duduk santai menuju ke tempat pemanggangan. Nunik menyerahkan seafood untuk Adeeva karena ibu hamil sangat bagus konsumsi seafood.
Desi mengambil sendiri makanan diinginkan. Gadis ini mengisi dua piring untuk dibawa kepada Ezra. Mencoba cari perhatian lebih baik daripada hanya melihat.
Desi membawa dua piring makanan hampiri Ezra yang masih sibuk dengan ponsel. Angin malam bertiup pelan menyibak rambut Desi beterbangan membuat gadis itu seperti seorang peri di malam kelam.
"Pak Ezra..." sapa Desi lembut.
Ezra mengangkat kepala lantas kembali tekuni ponsel di tangan. Laki ini tidak gubris kehadiran Desi.
__ADS_1
"Pak Ezra...aku bawakan makanan untuk bapak. Adeeva sedang sibuk makan maka aku bawakan untuk bapak!" Desi menyodorkan piring berisi daging bakar dan ikan. Tanpa permisi Desi duduk di samping Ezra berharap ada respon positif.
Di luar dugaan Desi bahwa Ezra tidak terlalu tanggapi Desi. Laki itu bahkan tidak terima piring dari Desi. Mata Ezra menatap lurus ke arah Adeeva lihat apa yang dilakukan isterinya.