
Don tak bisa berkata apa-apa lagi kalau niat Ezra jadikan Adeeva pendamping seumur hidup. Don bukan tak tahu hidup Ezra yang penuh dengan paha-paha licin. Namun tak satupun bisa mengetuk pintu hati Ezra. Pilihan Ezra jatuh pada anak kemarin sore.
Ruben datang cepat sekali begitu dapat telepon dari Don. Ruben tak sabar ingin lihat kondisi Ezra setelah alami kecelakaan. Ruben kuatir terjadi sesuatu pada kesehatan Ezra. Mata adalah pelita hidup seorang manusia. Tanpa sepasang alat penglihatan pemberian Tuhan dunia ini tak berwarna. Hitam semua.
Don bertugas membuka pintu untuk Ruben. Lajang kasep itu langsung nyelonong masuk tanpa beri salam. Emang tak ada tradisi beri salam dalam kamus anak muda ini. Beda dengan Adeeva yang terdidik baik di keluarga penuh kasih sayang. Maju mundur tetap harus ada aturan.
"Bang...gimana keadaanmu?" Ruben dekati Ezra sambil goyangkan tangan di depan mata Ezra. Tak ada reaksi apapun dari Ezra. Goyangan tangan Ruben dianggap tak pernah ada.
"Hanya mata saja! Nanti kau urus mobil di bengkel. Klaim asuransi."
"Hanya mata? Mata itu senter kita bang! Tanpa mata kita bisa apa? Apa Abang tak tahu satu malam aku diteror rubah-rubah di istana Abang. Mereka marah kartu mereka diblokir." Ruben tampak terpukul mendapatkan berita Don akurat. Mata Ezra telah cacat.
"Aku sudah bicara sangat jelas kalau perusahaan sedang macet. Apa mereka tak punya kuping?" bentak Ezra naik darah.
"Abang yang tenang! Aku akan jelaskan pada mereka. Gimana kalau kita berobat ke luar negeri? Siapa tahu teknik pengobatan sana lebih bagus." usul Ruben tak sanggup lihat Ezra jadi orang tak berguna.
"Perusahaan sedang dalam masa sulit. Aku mana mungkin pergi jauh. Untuk sementara kau tangani semua masalah. Semua proyek harus ada persetujuan aku. Aku buta tapi otakku masih berfungsi. Semua dokumen harus kau periksa lalu serahkan pada Poni. Biar dia yang saring untuk aku!" kata Ezra tegas tak mau dibantah.
Ruben tak berdaya diperintah oleh Ezra. Semua uang dia lakukan selalu penuh perhitungan. Dalam catatan Ezra tak ada proyek rugi, semua harus untung.
"Mana Poni?" Ruben tak menangkap sosok pemberontak itu. Apa dia kembali karena Ezra buta. Ada perasaan juga anak itu. Ruben pikir hati Adeeva terbuat dari batu karang tak mudah lumer.
"Dia sudah pergi belanja. Sekarang kau ke kantor. Kalau dari istana ada telepon kau kabari aku lewat Poni. Ponsel aku akan dimatikan agar tidak pusing dengar ocehan dari istana."
Ruben hanya bisa angguk-angguk patuh pada rencana Ezra. Tak mungkin laki itu mau merugikan perusahaan sendiri. Semua pasti sudah diatur dengan baik oleh Ezra. Ruben cuma heran mengapa Ezra sangat tenang walau masa depan suram. Laki itu tak bisa nikmati indahnya lekuk tubuh makhluk berkulit licin. Mungkin ini jalan Tuhan buat laki ini sadar kalau hidup bukan hanya urus peri, selir maupun rubah. Terakhir kuda Poni galak.
"Kau tunggu apa lagi? Segera ke kantor! Kau rapat katakan bila ada masalah harus lapor ke kamu baru akan koordinasi dengan aku. Kalau ada yang sok pintar ambil keputusan sendiri langsung pecat tanpa kecuali. Aku tak peduli dia siapa termasuk kamu." Ezra perlihatkan ketegasan agar tak ada yang berani berbuat curang di saat ini.
Ruben menelan air ludah ngeri dengar nada suara Ezra lebih dingin dari es abadi di Antartika. Ini pasti efek dari kebutaan laki ini. Orang buta perasaan lebih sensitif. Ruben tak salahkan Ezra bila makin dingin dan tegas.
"Iya pak!" jawab Ruben merubah cara panggil Ezra. Ini dalam suasana bertugas maka dia wajib posisikan diri sebagai anak buah. Lain bila lepas dari pekerjaan, dia adalah adik sepupu Ezra.
"Pergilah!"
"Apa yang harus kukatakan pada dewan direksi. Katakan kondisi pak Ezra sebenarnya?"
"Ya...katakan aku kecelakaan dan mengalami kebutaan. Itu saja! Kita tak bisa bohongi publik."
"Tapi pak...saham kita bisa terbanting bila tersiar berita bapak buta."
"Itu sudah kupikirkan. Biarlah kita lihat kondisi bursa saham! Kalau jatuh juga takkan fatal karena tambang kita semua produktif. Pergilah! Kalau keadaan aku membaik besok aku usahakan ke kantor."
"Iya pak. Permisi." Ruben angkat kaki dari rumah Ezra. Beban tugas akan menghimpit pundak Ruben. Dia harus makin hati-hati hadapi saingan bisnis dan juga lintah darat penyedot dana perusahaan. Ruben belum tahu Adeeva telah menyedot semua rekening gendut saudara dari mama Ezra termasuk dana salah satu selir Ezra si Renata.
Adeeva telah melanggar hukum sangat berat bila ada yang melapor. Tapi siapa berani melaporkan kehilangan uang karena uang itu juga hasil curian. Kalau mereka melapor sama saja ungkap dirinya seorang pencuri. Dari mana asal uang pasti akan ditelusuri. Adeeva sudah pertimbangkan hal ini maka berani lakukan hal ilegal ini. Istilahnya skimming pencurian uang nasabah lain.
Satu jam ke depan Adeeva pulang bawa banyak belanjaan. Belanjaan segitu banyak ditenteng sendiri tanpa minta bantuan siapapun tanda tenaga anak ini melebihi gadis muda lain.
Adeeva melihat Don dan Ezra masih ngobrol di tempat semula. Belum ada perubahan posisi duduk. Wajah Ezra datar tanpa ekspresi. Adeeva duga sekarang Ezra baru sadar kalau buta itu tidak enak. Dunia jadi sempit. Mau ke mana juga tak bisa.
"Assalamualaikum..." sapa Adeeva menyampaikan salam pada tuan rumah. Ini cara sapa orang beradab. Bukan nyelonong tanpa ijin.
"Waalaikumsalam...banyak benar belanja!" Don menatap berkantong-kantong plastik kresek berisi aneka keperluan rumah tangga. Hanya Adeeva tahu isi kantong itu.
__ADS_1
"Iya...cukup banyak! Ini struk belanja. Nanti cek di ponsel berapa uang ditarik. Cocokkan sama struk!" Adeeva meletakkan kartu dan lembaran kertas putih cukup panjang di atas meja. Adeeva melihat Ezra tidak ada reaksi. Adeeva mendekap mulut sadar telah salah omong. Bosnya telah buta mana bisa lihat semua catatan dari supermarket.
"Pegang dulu kartunya. Gunakan untuk keperluan lain." akhirnya Ezra bersuara.
Adeeva menjadi tak enak hati telah mengejek kebutaan Ezra tanpa sadar. Adeeva belum terbiasa dengan Ezra yang cacat. Gadis ini masih terbawa ke hari sebelum Ezra buta.
"Maaf pak! Aku tak bermaksud.."
"Aku tahu...sekarang antar aku ke kamar! Aku masih sedikit pusing." Ezra bangkit meraba sudut meja lanjutkan akting jadi orang buta sejati. Adeeva tahu diri segera meraih tangan bosnya agar berpegangan padanya.
Don tertawa sinis lihat cara tak lazim Ezra tipu gadis baik ini. Sungguh konyol berkesan tolol.
"Aku balik dulu ya bro! Nanti malam aku akan datang bila sempat." Don minta diri merasa tak ada guna berada di antara dua orang ini. Satu baik dan satunya licik. Don bisa muntah darah lihat tingkah bodoh Ezra hanya untuk bisa bersama Adeeva korbankan harga diri.
Don pergi tanpa tunggu jawaban Ezra yang sudah masuk kamar. Adeeva dengan hati-hati bimbing Ezra ke tempat tidur. Sisi galak Adeeva hilang sejak Ezra alami kebutaan. Ezra makin tahu kalau dasar Adeeva memang orang berbudi baik. Dia tidak jajah orang lemah. Adeeva hanya akan keras pada orang keras. Keras lawan keras. Cocoklah dengan karakter Ezra yang keras.
"Bapak istirahat ya! Aku bereskan meja makan dan akan masak untuk makan siang." Adeeva menepuk punggung tangan Ezra dengan penuh persahabatan. Sikap ini yang kurang disukai Ezra. Rasa itu bukan Adeeva yang dia kenal. Adeeva si otak batu.
"Jangan pergi jauh!"
"Nggaklah! Oya...ini dompet bapak! Simpanlah di tempat aman agar jiwa miskin aku tidak berontak terpancing jadi maling!" Adeeva merogoh kantong mengeluarkan benda tipis berisi banyak kartu berisi duit semua.
"Ada juga maling jujur ya?"
"Ada... satu-satunya di dunia ini! Ok...aku ke dapur!"
Ezra mengangguk tak jawab lagi. Kepala Ezra masih sedikit pusing sisa mabuk semalam. Benar kata orang tua, mabukan hanya bawa petaka. Kini omongan orang tua terbukti. Ezra mabukan bikin semua jadi runyam. Tapi ada hikmahnya juga. Dia bisa cari fakta orang yang tulus padanya juga bisa meraih kembali kuda Poninya.
Adeeva membereskan meja makan semampu dia lalu mulai meracik masakan sederhana khusus untuk orang sakit. Adeeva pilih yang paling gampang dan sederhana yakni bubur wortel. Di tambah segelas jus wortel akan percepat kesembuhan mata Ezra.
Adeeva duduk santai sambil menunggu bubur masak sambil diaduk sekali-kali agar tidak mengendap. Soal lengket sudah ada ahlinya yaitu panci anti lengket. Adeeva tak perlu sport tangan aduk terusan.
Iseng-iseng Adeeva teleponi Nunik yang kecewa tidak dapat liburan ke Thailand barengan saudara. Tanpa Adeeva ikut Nunik pastikan tak mau ke sana. Jaga dua pasangan pacaran hanya bikin hati nelangsa. Mending tetap jaga rumah jangan kabur.
"Halo assalamualaikum.. sudah bangun?"
"Waalaikumsalam...gimana bos kamu?" Nunik sengaja tidak bilang suami karena tahu Adeeva ilfil dianggap isteri Ezra.
"Ya gitulah! Ini akibat mata terlalu sering jajan paha mulus. Ditutup dulu biar tobat."
"Mata tak bisa lihat tapi tangan kan masih merasa. Ngelus dari atas bawah. Parah sis?"
"Parah nggak parah tetap buta. Dia memang agak pucat dan lesu. Itu aku paham! Siapapun pasti syok tiba-tiba buta. Dia termasuk tegar tidak menjerit kehilangan warna dunia. Kalau giliran aku ntah gimana ya? Amit-amit dah!"
"Idem...kalau terjadi ke aku mungkin akan gantung diri! Apa arti hidup hanya ada kegelapan."
"Kalau ingat kelakuannya dulu mau kurujak dia tapi lihat kondisinya jadi tak tega."
"Cie..cie...mulai ada rasa. Manis, pahit, asin, kecut atau asem?"
"Bau...bau ketiak lhu! Mandi sono! Bau nafas naga tercium dari sini."
Nunik terkekeh karena tebakan Adeeva betul. Dia baru bangun tidur akibat tidur kemalaman. Nunik bukan penganut kehidupan malam maka tak tahan bila begadang.
__ADS_1
"Hari ini aku akan mati kebosanan. Mau ke tempat kamu ada ikan paus sedang terluka. Ngasih saran dong!"
"Cari hiburan di klub taekwondo! Di sana jiwa kita bebas."
"Itu lagi...gara ini gue kabur! Kalau gue masih ke klub akan dirantai oleh nyokap. Di kurung di menara sepi meratap sisa hidup." ujar Nunik dramatis kondisinya yang dipaksa tinggalkan hobi berantem.
"Lebay...tunggu bentar! Gue aduk bubur dulu!" Adeeva bangkit dari kursi mengaduk bubur yang meletup-letup hasilkan gelembung kecil. Bau aroma bubur sungguh sedap karena ditambah daun bawang dan daun sop.
Adeeva lanjutkan obrolan setelah yakin bubur bisa disuruh urus diri sendiri. Tidak dipaksa kerja berat cukup ubah butiran beras jadi seperti lem.
"Hei...tidur lagi?" seru Adeeva karena dari seberang tak terdengar apapun.
"Mau tidur lagi. Emang bangun mau ke mana?"
"Kerja kek! Nyari laki laku kawin kek!"
"Sama juragan sapi di Jawa sono? Ogah..."
"Kenalin dulu orangnya. Siapa tahu orangnya asyik. Kalau kau tak mau kenalin ke aku."
"Stop...kau calon kakak ipar mana boleh kenalin laki lain. Bang Satria cocok untukmu."
"Oya ..mana Abang ganteng kita? Kok tak ada kabar?"
"Lagi bertugas di kota B. Minggu depan baru balik. Dia kirim salam untukmu kok!"
"Salam apa?"
"Assalamualaikum..."
"Nggak asyik...sudahan ya say! Aku urus dulu bubur aku! Nanti gosong pula. Kusaran kamu bangun lalu cari kegiatan. Kalau begini terus Kujamin kamu akan masuk rekor cewek bertubuh subur. Pinggang lhu yang ramping akan dipenuhi lemak tak jenuh lalu paha lhu akan segede pohon kelapa."
"Amit-amit dah! Doa orang sirik tak didengar Tuhan. Aku akan pergi ke fitness dekat rumah. Kali aja ada cowok ganteng buat cuci mata."
"Sisain satu buat aku ya!"
"Nggak usah harap. Kamu tunggu lamaran dari bang Satria saja. Jadi ibu bhayangkari saja. Ok? Jaga diri baik-baik say! Ingat lhu itu calon bini bang Satria!"
"Mau lhu doang! Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam.."
Adeeva meletakkan ponsel di atas meja balik ke dapur urus bubur yang hampiri jadi. Untuk siang ini anggap saja tugas Adeeva telah selesai. Ntah bagaimana sore nanti. Apa ikan paus akan berontak tak sabar hadapi perubahan mendadak yang bikin dunianya jadi gelap gulita.
"Poni..."
Adeeva menghela nafas dengar panggilan tanpa daya dari dalam kamar. Apa mau laki itu lagi? Mau bikin susah dia atau memang kurang enak badan.
Demi jaga keamanan dapur Adeeva matikan kompor gas tanam sebelum masuk ke kamar Ezra. Adeeva merasa diri bukan karyawan Ezra lagi melainkan isteri yang wajib layani segala kebutuhan Laki itu.
Adeeva masuk ke kamar mencari tahu apa mau laki itu. Ezra sudah berdiri hendak ke satu tempat tapi takut jatuh. Ceritanya Ezra belum adaptasi dengan dunia kelamnya.
"Ada perlu apa pak?"
__ADS_1
"Aku mau buang air kecil."
"Oh...mari!" Adeeva lapangkan dada antar Ezra ke tempat paling membahayakan posisi Adeeva. Di sana hanya ada kegiatan buka baju dan celana. Kalau tidak mandi ya buang hajat.