Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Test Mental


__ADS_3

Dalam keadaan basah kuyup gadis ini berpindah ke kamar sendiri untuk mandi sekali lagi. Adeeva tak tahu ini harus mandi wajib atau sekedar mandi biasa.


Adeeva ambil keputusan mandi wajib anggap telah melakukan hal luar biasa dengan Ezra. Adeeva benar tak tahu harus bagaimana jumpai Ezra saat ini. Betapa malu menyerah tanpa syarat. Adeeva harus makin kuat tak boleh terlena lagi. Enak banget ikan paus berhasil taklukkan dia.


Adeeva sengaja berlama-lama di dalam kamar mandi biar Ezra sadar Adeeva lagi kesal padanya. Suka curi kesempatan dalam kesempitan. Hampir satu jam Adeeva bertapa di kamar mandi sambil keringkan rambut lebatnya.


Adeeva paling suka ikat rambut bentuk ekor kuda maka Ezra selalu anggap dia kuda mini nan menggemaskan.


Adeeva heran apa yang dilihat Ezra dari dirinya. Tak bisa dibawa untuk tampil di umum. Adeeva kalah pamor dari selir-selir yang lain. Yang paling utama Adeeva tak punya skill berdandan rapi layak ibu sosialita. Orang di samping Ezra mesti high class. Semua selirnya masuk kategori wanita sosialita termasuk Rani.


"Poni....Poni..." kuping Adeeva menangkap suara Ezra berkesan agak jauh. Gadis ini tersentak baru sadar bosnya itu tak bisa melihat. Dalam keadaan buta apa yang dapat dia lakukan?


Jangan-jangan lelaki itu masih berada di dalam kamar mandi tak berani melangkah keluar takut terjatuh. Sudah berapa jam lelaki itu berada dalam kamar mandi dalam keadaan tanpa busana.


Adeeva menepuk jidat nyaris melupakan kalau bosnya itu tidak seperti dulu lagi. Tanpa menunda langkah Adeeva segera berlari ke kamar bosnya lagi. Benar saja dugaan Adeeva kalau Ezra masih berada dalam kamar mandi.


Adeeva melupakan segala rasa malu mengingat keselamatan bosnya berada dalam perlindungannya. Gadis ini segera menerobos masuk ke dalam kamar mandi dan melihat satu pemandangan miris. Bosnya yang biasa angkuh tampak lesu duduk di samping bathtub masih setengah telanjang.


Sudah begini timbul rasa iba dalam hati adeeva dan merasa sangat bersalah telah mengabaikan keselamatan Ezra. Tanpa mengatakan apapun Adeeva menyentuh tangan Ezra dan membawanya keluar dari kamar mandi.


Ezra pasang muka sedih diabaikan Adeeva. Laki ini mau gadisnya merasa bersalah telah abaikan suami yang buta. Tak perlu gunakan kata kasar hadapi gadis ini, balasannya pasti lebih kasar. Cukup main aman jadi orang tertindas. Gadis itu pasti luluh.


Adeeva dudukkan Ezra di kasur lalu serahkan pakaian Ezra yang sudah dia pilih dari tadi.


Ezra berdiri jatuhkan handuk dengan wajah tanpa dosa. Mata Adeeva kembali diberi tontonan laki bugil tanpa pungut bayaran. Secepat kilat Adeeva palingkan wajah tak mau menodai matanya dengan pemandangan 30 tahun ke atas. Asli telanjang bulat seperti anak bayi baru lahir cuma bayi ini kelebihan gizi.


Ezra bersorak dalam hati berhasil kerjain Adeeva. Adeeva makin gelisah merupakan kegembiraan Ezra. Rasakan kau anak kecil. Makin kau hindari makin akan sering bertemu kondisi begini ujar Ezra dalam batin.


Ezra sengaja memakai pakaian lama-lama supaya Adeeva makin tersiksa. Adeeva tidak melihat ke arah Ezra yang aktingnya makin bagus. Kalau tak jadi CEO lagi mungkin bisa diajak seliweran di layar kaca.


"Pak...pakai baju kok lama amat! Pake baju terbang ke bulan ya?" omel Adeeva mulai perlihatkan sifat tak sabaran.


"Orang tak bisa lihat maka baju putar sana sini. Orang sehat tak mau bantu. Aku bisa apa?"


"Sudah pakai ****** ***** belum?"


"Sudah...intip ya?" olok Ezra membuat Adeeva keluarkan suara mendecak.


"Najis..." Adeeva sudah berani balik badan karena daerah terlarang Ezra telah diselimuti pakaian.


Adeeva mau ketawa lihat pakaian Ezra terbalik. Orang ini sudah hilang kepekaan total. Pakaian terbalik dipasang ke badan. Apa tidak merasakan ada yang tak beres.


"Terbalik semua pak! Ayo buka ****** ***** nya!" ujar Adeeva menghela nafas. Tak ada jalan lain selain bantu bosnya berpakaian sewajarnya. Jangan karena buta jadi orang gila pula.


Ezra cepat-cepat turunkan ****** ***** warna hitam itu sampai ke mata kaki. Buta yang bawa berkah. Kalau begini Ezra betah jadi orang buta. Bisa intim dengan Adeeva walau tidak terjadi sesuatu yang lebih dahsyat.


Adeeva mengambil ****** ***** Ezra lalu balik ke posisi pas baru minta laki itu kenakan. Ezra pintar sekali menyiksa Adeeva. Mata Adeeva tetap terfokus pada tempat lain. Gadis ini biarkan Ezra memakai ****** ***** sendirian. Tak mungkin Adeeva yang masukkan ****** ***** ke kaki Ezra untuk naik ke atas pinggang. Itu sama saja nonton tayangan live Joni kedinginan.


Ezra mengulum senyum lihat kepala Adeeva masih berpusat pada kaca jendela kamar Ezra. Bertahan banget nih anak. Apa dia tidak pernah tertarik pada cowok?

__ADS_1


"Sudah...coba lihat bajunya apa terbalik juga?" Ezra menyodorkan kaos oblong ke hadapan Adeeva. Ezra sengaja miringkan tangan seakan tak tahu persis di mana posisi gadis itu.


Adeeva menyambar kaos Ezra lantas balik ke posisi pas juga. Yang ini Adeeva pakaikan langsung ke tubuh Ezra agar jangan buang waktu. Setelahnya baru berikan celana panjang dengan posisi telah siaga.


"Baru kali ini aku lihat ada cara berpakaian aneh! Biasa pakai celana dulu baru baju. Ini mah terbalik. Berhubung aku buta ya terima apa adanya saja!"


"Cerewet...ayok duduk di luar! Jangan asyik bertapa dalam kamar! Wangsit nggak dapat malah jadi kadaluarsa."


"Kok kadaluarsa? Emang aku ini makanan ada masa expired."


"Bapak harus sadar umur! Tak lama lagi habis masa aktif! Coba banyak beramal! Niscaya jalan bapak akan dimudahkan!"


"Kau mengutuk aku cepat mati? Aku takkan mati sebelum punya anak dari kamu. Kalau aku mati siapa pewaris kekayaan Dilangit? Lalu kamu janda ditinggal laki. Siapa mau kamu sisaan aku?"


"Ada dong! Buktinya bapak mau tampung sisaan orang lain. Tuh banteng liar ngaku bapak ini teman sehidup semati!"


"Banteng liar?"


"Tuh yang doyan amat pakai baju merah! Orang kurang satu garis."


"Huusss...dia itu bini sahabat aku!"


"Bini sahabat yang terindah? Asal bapak tahu ya! Dia itu bertanggung jawab pada kecelakaan kita. Dia kejar kita lalu suruh mobil lain seruduk aku dari depan. Aku banting setir maka terjadi insiden ini. Apa bapak masih anggap orang ini berharga? Apa dia tak tahu betapa bahaya bikin orang kecelakaan?"


Ezra tak lanjutkan langkah keluar dari kamar. Ezra tak sangka Rani tega berbuat brutal memaksa Adeeva berhenti. Selama ini tak tampak sifat buruk Rani. Dia itu seorang pemimpin baik dari satu perusahaan percetakan warisan sahabat Ezra. Sahabat Ezra meninggal dan titip anak isteri pada Ezra agar dijaga baik-baik.


"Kau serius?"


"Aku berbohong ada untungnya? Dari awal bapak mabuk dia sudah bikin ulah! Uda Don telepon aku jemput bapak dan dia datang mau bawa bapak. Ya kularang! Dia marah suruh preman hajar aku!"


"Lalu?"


"Ya begitu!" Adeeva malas cerita kronologi dia berantem dengan preman. Takutnya Ezra malah ilfil sama cewek suka berantem.


"Kau hajar premannya sampai babak belur?"


"Kok tahu? Bapak pura-pura mabuk kan?" Ezra memukul kepala Adeeva dengan pelan. Sudah Ezra duga Adeeva takkan tinggal diam kalau diserang duluan.


"Kau kira aku tak tahu kamu? Kalau waktu itu aku sadar aku sembelih kamu! Cewek kok suka berantem? Apa kau lupa aku sudah ingatkan tak boleh berkelahi lagi?"


Adeeva membawa Ezra duduk di ruang tamu. Dengan sedikit paksaan Adeeva dorong Ezra daratkan pantat ke sofa lembut. Jadi laki mulut kok kayak emak-emak kalah arisan.


"Lantas aku tunggu innalillahi dihajar preman? Enak banget tuh preman! Sok preman tapi tak punya Taji. Dihajar dua kali kontan K O. Berhubung aku orang baik hati dan berjiwa lemah lembut kukatakan pada agar jauhi banteng liar! Lebih baik fokus pada selir bapak. Pilih satu lalu hamili dia. Aman sentosa." Adeeva sok bijak beri nasihat pada Ezra.


Ezra angguk-angguk termakan usulan Adeeva. Memang itu kemauan Ezra hamili Adeeva cuma anak itu suka lupa pada status sendiri kalau dia masuk barisan selir Ezra.


"Aku setuju...gimana tugasmu? Sudah kelar?" Ezra bertanya tentang tugas yang dia embankan pada Adeeva.


Adeeva mengangguk walau dia tahu Ezra tak lihat. Bicara soal pekerjaan semangat Adeeva naik berkali lipat. Merupakan kenikmatan bisa gunakan keahlian bantu orang terjepit. Sekarang Ezra sedang dalam posisi kejepit oleh saudara mamanya. Perusahaan hampir kolaps.

__ADS_1


Adeeva duduk di samping Ezra melupakan insiden memicu adrenalin Ezra naik turun.


"Habis aku kuras! Rekening mama kamu nol total sedang yang lain kusisakan seratus ribu. Kasihan tak ada uang beli es krim untuk dinginkan hati." ujar Adeeva puas dengan hasil kerjanya.


"Kau betulan pembunuh berdarah dingin! Hebat.. Aku naikkan gaji kamu!"


"Diterima dengan senang hati. Aku cepat kaya kalau bapak murah hati. Sekarang kita tinggal sadap mereka. Kita pelajari ke mana lagi mereka simpan duit. Cuma ada satu tak bisa kulakukan yaitu retas rekening luar negeri. Ini akan bawa imbas pada bapak karena uang semua masuk ke rekening bapak. Yang di luar negeri pasti akan lapor polisi duit mereka raib."


"Aku ngerti...besok kita lihat kelanjutan permainan para tikus! Kau ingat! Setiap dokumen yang harus aku teken harus kau baca teliti. Takut nanti jebakan."


"Beres bos asal sesuai gaji! Mata aku akan terang bila ada lembaran merah." gurau Adeeva bikin Ezra tersenyum.


Siap magrib Ruben datang bawa makanan untuk Ezra sekaligus mau lapor kondisi kantor yang agak kacau tanpa pemimpin.


Mereka makan bersama sambil ngobrol kejadian hari ini di kantor. Ruben sekali-kali melirik Ezra cari tahu apa laki itu benaran buta atau cuma sedang test mereka. Sayang sekali Ruben tak menemukan cela kalau Ezra itu cuma pura-pura buta. Berkali laki itu salah ambil makanan sampai Adeeva turun tangan ambilkan makanan untuk Ezra. Ruben yakin Ezra itu kehilangan cahaya mata.


"Gimana kantor setelah ada berita aku buta?" tanya Ezra datar seperti memang sedang trauma.


Ruben membersihkan mulut dari sisa makanan lantas menegak cairan bening agar bisa jawab dengan mulus.


"Heboh...pak Jul juga sedang sibuk! Katanya perusahaan sedang diretas orang."


"Maksudnya?" Ezra pura-pura belum tahu kehebohan apa sedang melanda kantor. Apa ada yang lebih heboh dari bos kehilangan pandangan mata?


"Aku juga belum jelas! Tadi mama kamu ada datang jumpa pak Jul. Aku tak berani dengar obrolan mereka. Pokoknya tampak jelas mereka panik. Apa karena bos buta?" tanya Ruben hati-hati takut Ezra sedih telah buta.


"Besok pagi kita rapat internal. Aku mau tahu apa yang terjadi?" kata Ezra dingin kembali tegas pada karyawan. Ruben tetap karyawan walaupun adik sepupu Ezra. Di rumah dan di kantor adalah dua tempat berbeda. Di rumah Ruben boleh panggil Abang tapi di kantor dia tetap Ezra Hakim Dilangit.


"Baik..aku akan kabari seluruh dewan direksi! Satu lagi pak! Wanita-wanita di istana ribut minta kartu mereka dibuka blokir. Aku harus gimana?"


"Buka saja tapi kamu yang bayar. Aku tak mau uang perusahaan hilang satu senpun untuk biayai gaya glamor wanita-wanita itu. Kau ingat pesan aku! Bagusnya tutup semua kartu kredit mereka. Tak ada lagi kartu kredit."


"Baik sesuai perintah! Termasuk kartu kredit nona Poni?" tanya Ruben melirik ke arah Adeeva yang tak open pada obrolan mereka. Si gadis sibuk mengunyah makanan yang dia anggap enak.


Perusahaan biarlah jadi urusan Ezra dan Ruben. Dia cukup jadi pemirsa yang baik. Dengar dan nonton tak perlu ikutan jadi pemain dan jadi sutradara.


"Hei...kau butuh kartu kredit?" tanya Ezra tak ramah pada Adeeva.


Adeeva tidak angkat kepala karena tak merasa bernama Hei. Adeeva merasa tak ada hubungan dengan semua pengeluaran perusahaan selain gaji tiap bulan. Syukur kalau dapat bonus.


Ruben tersenyum salut pada Adeeva berani tak jawab pertanyaan Ezra. Kalau orang lain kena pertanyaan sedingin es batu pasti sudah beku ketakutan. Ini santai mengisi perut.


Ezra mendesah tak mendapat tanggapan dari gadisnya. Sungguh gadis bernyali singa. Merasa diri paling kuat sedunia.


"Poni....kau tak dengar pertanyaan aku?" Ezra ulang bertanya.


Kali ini Adeeva angkat kepala pindah tatapan mata ke arah wajah bosnya. Adeeva bukan tak dengar tapi malas jawab. Tak perlu jawab seharusnya Ezra sudah tahu jawaban.


"Aku tidak perlu semua kartu! Yang penting gaji tiap bulan jangan telat! Itu saja! Kalau bapak berbaik hati naikkan dikit gaji aku."

__ADS_1


"Gaji kamu tak ada dalam daftar pegawai karena namamu telah dihilangkan. Tapi aku akan transfer ke rekening kamu tiap bulan. Besarannya ya tergantung pak Ezra." cerita Ruben karena data Adeeva sudah dihapus dari daftar pegawai.


Ezra takut para pengerat cari tahu tentang Adeeva maka data tentang Adeeva dihapus total. Adeeva murni pegawai gelap Ezra.


__ADS_2