
Ruben pamitan setelah dapat sedikit keterangan dari Ika. Ruben makin mantap penjarakan Kenzo agar tahu gimana nikmatnya tipu orang. Ganjaran harus dibayar mahal.
Ruben harus kembali ke kantor lapor pada Ezra semua perkembangan kasus Rani dan Kenzo. Ruben tetap pilih berurusan dengan Ezra daripada Adeeva.
Kondisi Adeeva belum bisa diajak kompromi soal kejahatan para penjahat. Adeeva pasti tak tega buat susah orang. Dia susah boleh tapi giliran orang susah dia lebih susah lagi.
Hari bergulir makin siang. Semua penghuni kota ogah lakukan aktifitas di luar rumah akibat garangnya cahaya matahari. Sang mentari tidak pandang bulu bakar siapa saja menantangnya.
Adeeva mulai ngantuk kalau siang sudah datang. Mata wanita itu mulai sayu menahan ngantuk. Monitor di depan mata serasa tak menarik lagi karena cahaya mata Adeeva mulai redup tinggal lima Watt.
Ezra yang duduk tak jauh dari Adeeva tersenyum melihat kepala isterinya mulai ayunan di leher. Angguk-angguk bak ayam jelang petang.
Ezra hampiri Adeeva bermaksud bawa isterinya masuk ke ruang istirahat.
"Sayang...ngantuk ya?" bisik Ezra lembut di kuping Adeeva.
Adeeva angkat kepala tatap suaminya dengan mata sayu. Maunya sih tidur tapi perut juga tak mau bersahabat. Pakai acara berontak pula.
"Ngantuk tapi lapar..."
Ezra terbengong dengar jawaban Adeeva. Lapar dan ngantuk. Mana yang harus didahulukan. Makan dulu baru tidur atau tidur dulu setelah itu baru makan.
"Jadi? Makan dulu ya! Aku sudah pesan makanan untuk kita."
"Tapi mataku tak mau diajak kompromi." keluh Adeeva mengerjap mata. Bulu mata lentik Adeeva turun naik karena mata itu berkedip-kedip.
"Ok...tidur dulu barang sebentar! Ayo kubantu masuk kamar ya!" Ezra menarik Adeeva dari kursi.
Adeeva bangkit ikuti keinginan Ezra. Usul Ezra cukup bagus dilaksanakan. Manjakan mata sekejap barulah nanti mengisi perut dengan makanan. Dalam keadaan ngantuk mengisi perut juga tidak ada terasa nikmatnya.
Namun belum sempat Adeeva dan Ezra masuk ke kamar istirahat ponsel Adeeva berbunyi. Ezra melirik ponsel isterinya di meja. Di situ tertera nama Desi.
Mau apa gadis itu teleponi Adeeva lagi. Apa belum selesai dia usik Adeeva. Ezra tak ingin Adeeva bicara dengan sahabat culas itu namun sayang Adeeva duluan menyambar benda tipis itu.
"Assalamualaikum teh!"
"Waalaikumsalam..."
"Tumben telepon...mau ajak makan siang bersama?" tanya Adeeva muncul kembali semangat. Rasa ngantuk yang merajai mata sirna seketika mendengar suara Desi.
Ezra menjadi kasihan pada Adeeva tidak peka punya teman jahat. Istrinya itu masih tetap menganggap Desi sebagai sahabat terbaik. Adeeva tak tahu kalau Desi baru saja melakukan suatu hal buruk untuk memisahkan Ezra dan Adeeva.
"Teteh mau pamitan pulang ke kota B. Ada urusan mendadak di rumah. Kau jaga diri baik-baik ya! Kalau teteh ada berbuat salah sengaja atau tidak harap kamu maafkan!"
"Isshhh teteh ini! Ngomong kayak mau pergi jauh. Rencana mau migrasi ke planet Mars?"
Desi tertawa sedih dengar Adeeva masih anggap dia sebagai teman baik. Ketamakan telah butakan mata hati Desi sampai tega punya niat busuk. Semua sudah terlanjur terlambat untuk menyesal. Ezra terlanjur marah padanya.
"Teteh harus segera pulang karena ada sesuatu hal. Nanti teteh hubungi kamu lagi. Kau baik-baik saja ya!"
"Pasti dong! Aku akan persembahkan keponakan yang cantik dan manis buat teteh. Kalau aku lahiran nanti teteh harus hadir ya!"
"Insyaallah...teteh ijin dulu ya! Assalamualaikum." Desi tak sanggup ngobrol lebih lama karena merasa bersalah pada Adeeva. Tak seharusnya dia mempunyai pikiran jahat untuk menguasai Ezra untuk diri sendiri.
"Waalaikumsalam.." Adeeva agak termenung karena Desi mendadak pamitan. Masalah apa sedang dihadapi oleh temannya itu sehingga pergi secara tiba-tiba. Adeeva ingin sekali membantu Desi bila menemukan kesulitan. Sayang sekali Adeeva tidak tahu kesulitan apa yang sedang dihadapi oleh sahabatnya itu.
"Hubby...teh Desi pamitan pulang kampung!" lirih Adeeva masih dipenuhi pertanyaan.
__ADS_1
Ezra yang sudah tahu hanya bisa tersenyum tipis. Ezra bersyukur Desi tahu diri tidak persulit keadaan. Adeeva tidak perlu tahu apa yang sedang terjadi. Cukup dia tahu Desi ada masalah di kampungnya.
"Mungkin ada kesulitan tak bisa dibagi pada kita. Kita hormati saja keputusan dia. Jadi tidur?"
Rasa ngantuk Adeeva sirna karena mendadak Desi minta ijin pulang kampung. Adeeva belum bisa menerima Desi pergi begitu saja. Masih tersisa ganjalan di dalam hati Adeeva.
"Makan saja Hubby! Mengapa ya Teh Desi mendadak pergi?" gumam Adeeva bingung Desi hanya pamitan lewat telepon.
Ezra tak biarkan Adeeva banyak pikiran tentang Desi. Sahabat model gitu tak pantas dikenang. Kalau Desi memang sahabat sejati maka dia akan mendoakan kebahagiaan Adeeva. Bukannya menghancurkan kebahagiaan Adeeva.
"Ayo kita makan saja! Ruben sudah memesan makanan online untuk kita. Semuanya sesuai dengan selera kamu." bujuk Ezra harap Adeeva melupakan kepergian Desi.
Satu lagi parasit disingkirkan dari sisi Ezra. Desi bertahan di kantor hanya membawa masalah buat Ezra. Karena dari awal niat wanita itu tidak baik.
Adeeva hanya bisa ikuti permintaan Ezra untuk isi perut. Kandungan Adeeva makin membesar seiring waktu. Nafsu makan juga luar biasa karena yang mengisap gizi bukan satu orang melainkan tiga orang.
Selesai makan Adeeva mulai ngantuk lagi. Kali ini Ezra memaksa Adeeva untuk istirahat agar jangan banyak pikir tentang Desi. Adeeva sibuk memikirkan Desi sedangkan Desi belum tentu memiliki kan Adeeva.
Ezra lega setelah Adeeva patuh masuk ruang istirahat. Satu persatu masalah bikin sakit kepala Ezra menghilang. Semoga cahaya terang mulai sinari hidup Ezra. Segitu banyak masalah tuntas satu persatu.
Ruben datang menghadap usik konsentrasi Ezra terhadap pekerjaan. Ruben sendiri tak kalah sibuk namun tetap harus bantu Ezra selesaikan kemelut keluarga.
Ezra membuat tanda tenang sebelum Ruben mengatakan sesuatu. Ezra tentu saja takut Ruben melapor sesuatu tak ingin didengar oleh Adeeva.
Ruben mengangguk ngerti. Adik Ezra itu berdiri dekati Ezra agar bisa bicara lebih pelan tanpa takut di dengar Adeeva.
"Aku sudah selidiki Desi di kantor cabang. Nyatanya dia main gila dengan Judika. Tunangan Judika kepergok Desi bersama Judika di rumah Judika."
Ezra mengernyit alis tak sangka Desi minta pindah ke kantor pusat karena bermasalah dengan pimpinan divisi mereka.
"Tunangan Judika labrak Desi. Sekarang tunangan Judika sudah putuskan hubungan dengan Judika. Desi memang tak benar dari awal. Pak Ezra ingat dulu Desi pernah dilabrak oleh perempuan yang bilang Desi ada hubungan dengan suaminya? Kurasa itu juga salah satu kesalahan Desi."
Ezra mengusap wajah agak pusing dengar laporan Ruben. Sedikitpun Ezra tak sangka di kantornya tersimpan bibit wanita genit. Untunglah Adeeva tidak ikut jejak Desi jadi wanita murahan.
"Kau harus tutupi masalah ini dari Adeeva. Dia pasti sakit hati ditipu oleh Desi. Sekarang Judika gimana?"
"Masih di kantor sesali kebodohan selingkuh dengan Desi. Imron juga marah pada mereka berdua karena merusak jalinan persaudaraan. Semoga tak ada Desi kedua di sini. Oya... Rani akan segera disidang! Tampaknya kau dan Adeeva harus hadir."
"Aku saja hadir. Adeeva pasti akan ngawur kacau kan sidang. Kau tahu sifat anak itu."
"Iya...Rani pantas mendapatkan semua ganjaran atas kesalahannya. Aku juga tak ingin jadi saksi buat dia."
"Kau ada jumpa dengannya?"
"Ada...dia titip anaknya padamu. Dia akan kembali suatu saat. Perusahaan juga dia alihkan ke kamu. Dia tak mau keluarga Herman kelola perusahaan karena yakin akan hancur."
"Aku tak mungkin kelola perusahaan Rani. Kalau aku masuk artinya aku ingin terlibat dalam hidupnya. Dan lagi perusahaan kita sudah cukup banyak cabang. Kita tak mungkin ikut campur. Biarlah jadi kebijakan Rani sendiri! Aku mau hidup tenang bersama Adeeva. Yang lain tidak penting lagi."
"Lebih baik begitu! Untuk sementara aku akan dampingi Ika untuk tuntut si Kenzo. Rumah dan mobil yang dibeli dengan uang Ika akan segera disita oleh pihak kepolisian. Ika ingin kembalikan semuanya kepada perusahaan karena merasa telah mencurangi perusahaan. Keputusannya ada kepada bapak."
"Kau pegang dulu semuanya. Aku juga sudah ikhlas semuanya. Mereka yang curang juga tidak kaya, kita yang dicurangi juga tak miskin."
Ruben tepuk tangan Ezra berubah menjadi lebih bijak. Ruben menduga ini semua berkat ketulusan Adeeva serta tuntunan dari kedua orang tua Adeeva.
"Ok...abangku berubah lebih religi! Cinta memang dahsyat. Dia sanggup mengubah sebongkah batu menjadi batu akik berkilauan. Ok...aku permisi! Kalau ada gerakan baru aku akan melapor. Jangan lupa bahagia bos!" ujar Ruben membuat Ezra tersenyum.
Sorenya Ezra ajak Adeeva cek up kondisi kandungannya. Ezra mau pantau semua kesehatan Adeeva dan kedua bayi mereka. Mereka adalah nafas Ezra. Tanpa mereka hidup Ezra akan menyesak.
__ADS_1
Adeeva sendiri antusias mau tahu perkembangan bayinya. Apa mereka telah tumbuh menjadi lebih besar atau tetap segumpal darah.
Ezra dan Adeeva antri bersama ibu-ibu lain. Ada yang datang sendiri dan asa yang datang bersama suami. Setiap pasangan pasti akan bahagia mendapat keturunan. begitu juga dengan Ezra dan Adeeva. Mereka harus bersabar menunggu giliran untuk jumpa dengan dokter.
Ezra tak ubah seperti suami lain menemani isteri cek up. Ezra menemukan satu perasaan aneh menjadi seorang suami yang sempurna. Pagi bekerja di kantor dan sorenya menjadi suami siaga menemani istri cek up kandungan.
Ada beberapa ibu-ibu asyik menatap Ezra berharap anak mereka terlahir seperti lelaki berada di ruang tunggu ini. Sudah ganteng berwibawa pula. Nebeng sedikit aura Ezra pasti akan hasilkan anak luar.
Ezra sendiri tak sadar dijadikan contoh oleh para ibu-ibu hamil. Lelaki ini sangat menikmati moments sebagai papa dari bayi kembar. Rasanya tak sabar tunggu hati H segera tiba.
"Bu Adeeva Dilangit.." nama Adeeva dipanggil. Giliran Adeeva konsultasi dengan dokter.
Ezra dan Adeeva segera masuk dipandu oleh seorang perawat simpatik. Adeeva ditimbang dulu lalu di tensi tekanan darah. Ezra menyaksikan semua kegiatan sang perawat tanpa protes.
Apa yang dilakukan perawat pada Adeeva adalah perihal rutin pemeriksaan kandungan.
Setelah selesai barulah Adeeva dibawa temui dokter. Ezra dan Adeeva disuruh duduk di depan dokter berkacamata yang agak reseh menurut Ezra.
Dokter itu menurunkan kacamata menatap Ezra. Dokter itu ingat Ezra sewaktu bawa Adeeva sedang pendarahan.
"Halo papinya di kembar!" sapa dokter itu melucu.
"Ingat toh! Aku mau periksa kandungan isteri aku." kata Ezra juga ingat dokter yang penuh sejuta protes.
"Kamu yang periksa atau aku? Sekarang biar aku periksa, nanti malam baru bapak periksa pakai rudal balistik. Semoga tembakan rudalnya masih aktif." ejek dokter itu.
Adeeva yang tersipu dengar gurauan menjurus ke arah dua puluh satu tahun ke atas. Perawat yang layani Adeeva juga tersipu malu. Dasar dokter tak punya etika. Sama pasien sempat-sempat bergurau.
"Itu tak perlu pak dokter kuatirkan. Jangkauan cukup jauh maka hasilnya unggul." balas Ezra tak mau kalah.
Dokter itu tertawa ngakak saat balasan telak.
"Ok...ibu si kembar! Kita lihat perkembangan mereka. Papi boleh ikut lihat bayinya."
Adeeva disuruh berbaring di tempat tidur sedangkan perawat siapkan alat USG. Perut Adeeva dilumuri semacam gel dingin agar bisa lihat gimana perkembangan bayi.
Monitor dihidupkan akan muncul bayangan bayi dalam perut Adeeva. Tangan sang dokter bergerak memegang alat berputar di atas perut Adeeva.
Gambar dua janin muncul di layar. Mereka bergerak pelan karena belum terbentuk sempurna. Namun telah ada kaki dan tangan. Kedua bayi itu berdenyut-denyut tanda ada kehidupan.
"Wah mereka cukup sehat. Ini sudah tiga bulan seminggu. Kalian dengar denyut jantung mereka." Sang dokter perjelas suara denyut jantung janin biar kedua calon orang tua itu senang.
Ezra terharu sekali lihat sosok bayi-bayinya sehat. Masih perlu tunggu waktu setengah tahun lagi baru bisa jumpa mereka.
Adeeva lain pula tanggapan. Wanita ini merasa tegang sadar kedua anak itu akan hadir ke dunia ini berbaur dengan segala kebaikan dan kemunafikan. Adeeva takut tak mampu urus kedua anak itu. Dia sendiri saja kadang tak terurus apalagi harus urus dua bayi sekaligus.
"Dok...apa mereka segera keluar?" tanya Adeeva linglung.
"Ya tidak dong! Masih butuh proses panjang. Kamu harus makan makanan bergizi dan minum vitamin mengandung DHA agar anaknya cerdas kelak. Sejauh ini semua ok. Jangan kelewat capek bekerja! Kamu punya suami segini besar jadi bebankan semua tugas padanya. Kau cukup istirahat di rumah." dokter itu melirik Ezra sambil senyum ngejek lagi. Senang amat kerjain orang pikir Ezra. Dokter atau biang masalah.
"Iya pak dokter! Suami aku memang tak ijinkan aku capek tapi aku bosan duduk di rumah. Ikut ke kantor kerjakan sebisanya membuatku merasa berguna."
"Oh gitu...silahkan lanjutkan bila ibu merasa nyaman! Kalau nyuci baju, masak, ngepel biarlah dikerjakan suamimu. Kulihat profilnya cukup ahli jadi asisten rumah tangga."
Adeeva tertawa kecil bayangkan Ezra memakai pakaian pembantu kerjakan semua tugas asisten rumah tangga. Bisa raib rudal balistik Ezra diganti dengan apem terbelah.
"Pak dokter ini makelar pembantu ya? Atau pak dokter mantan asisten rumah tangga." semprot Ezra mulai jengkel. Iseng amat sekak Ezra terusan.
__ADS_1