Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Aksi Ika


__ADS_3

Kata-kata Umi memancing rasa penasaran di hati Adeeva. Cewek ini review keadaannya selama beberapa waktu ini. Dia agak malas dan melar. Pagi suka mual seperti masuk angin. Dan tamu bulanan kayaknya sudah berapa lama tidak nongol. Adeeva sendiri lupa kapan terakhir dia datang bulan.


Adeeva menepuk jidat baru sadar dia sudah lama tidak beli pembalut. Ini sama saja perkuat dugaan Umi dia sedang hamil anak Ezra.


"Astaghfirullahaladzim." seru Adeeva bikin kaget Umi. Untung jantung Umi tahan banting tidak copot.


"Kenapa nak? Ingat sesuatu?"


"Eva sudah lama tidak datang bulan. Adeeva benaran hamil dong!"


Umi meringis menepuk dada jengkel punya anak demikian teledor. Berapa bulan tidak halangan tidak jadi perhatian. Kewanitaan Adeeva diragukan oleh Umi. Apa ada perempuan se badak ini?


"Sudah yakin sedang hamil?" kata Umi mesem-mesem.


Adeeva mengelus perutnya yang masih rata. Rasanya ajaib dalam perut ini ada isinya. Bukan cuma diisi oleh usus dan organ tubuh lain melainkan ada janin hidup di dalamnya.


"Eva harus ngapain?"


"Jaga kesehatan sampai melahirkan! Jangan berantem lagi! Lembut dikit! Jangan seperti preman pasar ngajak orang duel melulu."


"Yang benar Umi?" Adeeva masih belum percaya dia bakal jadi ibu dari anak kecil. Bakal ada yang panggil dia Umi.


"Ya Allah...benar! Sekarang kau tunggu Ezra jemput kamu ke kantor. Jangan pergi sendiri! Bahaya."


"Bahaya apa?" Adeeva kurang nyaman menjadi bumil. Kegiatan terbatas tak bisa berbuat sesuka hati lagi.


"Kau pikir Umi tidak kenal kamu?"


"Ya ampun Umi! Masak jadi ibu hamil tak boleh ngapain. Eva masih banyak tugas harus dikerjakan. Tak mungkin hitung hari sampai lahiran."


"Kamu boleh kerja tapi di bawah pengawasan Ezra. Sekarang kau terima ngak hamil?"


"Memangnya kalau nggak terima bayinya bisa titip ke perut Umi?"


Umi gemas dengar jawaban Adeeva. Tak pelak Umi jewer kuping anaknya yang sedikit gila. Sudah jadi ibu masih konyol tak ketolongan.


"Sakit Umi." Adeeva mengelak mengelus daun telinga tak berdosa itu. Korban dari kecepatan tangan sang Umi.


"Sudah jadi umi mulut dijaga. Mulai detik ini hilangkan sifat preman kamu. Jaga image seorang ibu. Kau mau anakmu terlahir seperti preman kaki lima?"


"Ya nggak Umi! Umi tenang saja! Eva pasti beri Umi cucu yang sehat dan lucu. Cantik seperti Uminya."


"Gimana kalau laki?"


"Ya ganteng seperti Uminya." ujar Adeeva kocak bikin hati Umi lega. Adeeva mau terima dia sedang hamil anak Ezra sudah merupakan karunia Tuhan. Semoga Adeeva sehat sampai lahiran.


"Eva...terima kasih sudah mau beri cucu pada Abah dan Umi." Umi menggenggam tangan Adeeva erat-erat penuh keharuan. Adeeva tersentuh pada ucapan Umi. Seharusnya dia yang ucapkan terima kasih telah membesarkan Adeeva hingga sekarang punya anak.


Adeeva memeluk Umi penuh keharuan. Rasanya Adeeva tak menyesal harus jual seluruh hidupnya pada Ezra. Punya anak laki itu tentu tak mungkin kabur dari laki itu lagi. Suka tak suka Adeeva harus jalani hidup bersama pria cabul itu.


"Eva akan jaga cucu Umi." janji Adeeva sepenuh hati.

__ADS_1


"Terima kasih sayang." Umi menepuk punggung Adeeva pelan. Adeeva menyusupkan kepala ke bahu Umi cari damai. Kelak dia pula akan alami hari ini bila anaknya punya bayi. Siklus kehidupan memang bergiliran. Setiap insan akan lalui tahap demi tahap berkeluarga. Cuma Umi lebih beruntung dari Adeeva punya suami tunggal dan penyayang.


Ezra datang bersama Ruben jemput ratu hati. Setiap permintaan Adeeva adalah sabda maha ratu. Ini adalah anak pertama Ezra. Laki ini akan super hati-hati jaga Adeeva.


Ezra dan Ruben menunggu di luar tak masuk lagi. Di kantor memang butuh penanganan secepatnya karena banyak kekacauan ditimbulkan oleh Ika. Ilham masih lumayan bekerja dengan hati walau ujungnya korupsi juga.


Adeeva malu-malu kucing jumpa Ezra. Wajahnya bersemu merah tanpa permisi pada empunya wajah. Adeeva si liar tampak agak jinak hari ini.


Ezra menduga Umi telah berhasil bongkar kehamilan Adeeva. Sejauh ini tak ada tanda-tanda akan terjadi perang mulut antara dia dan Adeeva. Cewek itu adem ayem masuk ke dalam mobil disupiri oleh Ruben.


Ezra dan Adeeva duduk di belakang sebagai sepasang majikan. Ruben dengan senang hati menjadi supir pribadi pasangan ini. Jujur Ruben iri pada Ezra berhasil menguasai hidup Adeeva. Ruben sendiri sangat kagum pada semangat hidup Adeeva. Selalu optimis walau banyak halangan. Kini satu persatu halangan tersingkirkan. Ezra juga mulai bisa menata hidup lebih baik tanpa dikendalikan oleh Bu Humaira.


"Langsung ke kantor?" tanya Ruben belum tahu ke mana rute Adeeva. Kini bukan tanya pada Ezra melainkan pada Adeeva. Adeeva adalah bos di atas bos. Ezra saja takut padanya.


"Ke kantor...emang mau ke gelanggang olahraga?" Adeeva mulai permainkan Ezra. Jamin laki ini sport jantung bila Adeeva minta ke tempat olahraga.


"Ke kantor...emang mau ke gelanggang olahraga? Kita banyak kerja di kantor." timpal Ezra cepat sebelum Adeeva berubah pikiran.


"Malam ini kita lembur. Aku sudah minta rekan dari klub datang sekarang juga. Ika mau keluarkan stok barang di gudang. Kita tak tahu apa yang akan dia keluarkan. Ini pencurian namanya!" Adeeva langsung to the point.


"Kok tahu?" tanya Ruben dari depan.


"Aku ini kan peramal kondang dari abad 22."


"Iya Miss Adeeva... peramal sadis dari masa depan. Apa rencana kamu tangani kasus ini?"


"Kalau kita libatkan pihak berwajib pasti Ika akan nginap di hotel bintang tujuh. Pak Jul masih di rumah sakit aku tak tega. Begini saja! Kita segel dulu gudang sebelum mereka bergerak. Minta orang kepercayaan pak Ezra kawal gudang dulu. Anggota Ika kita singkirkan dulu biar mereka tak bisa berbuat semena-mena."


"Mereka hanya pesuruh. Biangnya yang harus kita gantung di jemuran biar jadi ikan asin. Aku akan pecat Ika tanpa pesangon. Aku punya banyak bukti kesalahan dia." ujar Adeeva berapi-api mau habisin Ika tanpa kekerasan. Adeeva ingat bayi dalam perutnya butuh ibu lembut. Takut anaknya ketularan ibu brutal maka Adeeva urungkan niat hajar Ika.


"Terserah kamu! Yang penting kamu senang." Ezra iyakan saja keinginan ibu hamil. Memanjakan bumil muda sama memanjakan anak dalam kandungan Adeeva.


Adeeva angguk senang Ezra patuh. Ntah kenapa Adeeva sudah tidak begitu benci pada Ezra setelah tahu hamil. Apa ini pengaruh bayi dalam perut atau takut anaknya tak punya bapak bila mereka asyik ribut.


Ruben sengaja memutar stiur belok kanan secara mendadak membuat tubuh Adeeva oleng ke badan Ezra. Ezra auto menangkap tubuh Adeeva agar jangan terbanting. Tubuh Adeeva kini berada dalam pelukan suami tak diinginkan.


Ezra dengan senang hati memeluk Adeeva karena ini harapan dia selama ini. Sedangkan Adeeva canggung jatuh ke pelukan lelaki yang masih gencatan senjata dengannya.


Ezra beri kode jempol pada Ruben tanda terima kasih sudah lakukan sesuatu untuk perbaiki hubungan buruk antara dia dan Adeeva. Dari balik kaca pion Ruben tersenyum.


Lingkaran tanda malaikat menyembul dari atas kepala Ruben. Tanda itu hanya dapat dirasakan Ruben karena tak kasat mata. Hari ini dia sudah berbuat baik pada Ezra. Semoga Ezra tahu cara balas budi.


Adeeva membeku sesaat berada dalam pelukan Ezra. Rasanya hangat banget. Maunya tidak lepas selamanya. Betapa nyaman dipeluk papanya sang bayi. Ini efek hamil atau Adeeva mulai buka hati pada Ezra lagi.


Adeeva cepat-cepat tarik diri dari pelukan Ezra biar laki itu tidak Geer bisa peluk dia. Adeeva masih bentang benang permusuhan.


Ezra tersenyum simpul menggoda isterinya yang tampak sangat malu. Kalau mau jujur antara mereka masih ada rahasia apa? Ezra pernah memiliki Adeeva seutuhnya maka tercipta janin di perut wanita muda itu. Ezra tidak katakan apapun jaga mood bumil yang konon katanya suka berubah.


Sesampai di kantor Adeeva langsung sebar mutasi pegawai. Dia telah susun semua jabatan pegawai sesuai keahlian masing-masing. Di sini tak ada main nepotisme. Pegawai yang merasa dizolimi silahkan layangkan keberatan termasuk minta resign.


Ruben dan Ezra takjub melihat kekejaman Adeeva sikat para mafia dalam perusahaan. Ezra memang lihay berbisnis namun tak luput dari kelalaian percaya pada kelompok pengerat. Perusahaan mulai dilanda krisis baru sadar telah diracuni secara perlahan. Untung muncul pahlawan wanita selamatkan Ezra dari jurang kehancuran.

__ADS_1


Hari itu Adeeva bekerja keras demi Ezra. Bukan cuma demi Ezra melainkan juga demi anak dalam kandungan Adeeva. Kalau perusahaan bangkrut gimana nasib anaknya kelak. Adeeva harus jadi raja tega untuk selamatkan perusahaan.


Ruben dan Ezra hanya jadi penonton buat ketegasan Adeeva. Ezra belum tentu setegas Adeeva.


Ika dan Ilham juga dengar berita ini cukup kaget karena mereka bergeser dari posisi basah ke posisi gersang. Adeeva tidak segera pecat Ika sebelum dapat bukti lebih real untuk paksa wanita itu keluar dari perusahaan tanpa uang pesangon.


Tak butuh waktu lama Ika langsung datang ke kantor buat perhitungan dengan Adeeva. Ika didampingi oleh pacar yang gantengnya saingi bintang film.


Ezra tergerak naluri siaga lindungi Adeeva dari segala kemungkinan buruk bakal terjadi. Cuma mereka belum bisa lakukan apapun sebelum Ika lakukan hal di luar batas.


Ika masuk ke dalam ruang kerja Adeeva tanpa permisi. Mata Ika nyalang seolah ingin telan Adeeva bulat-bulat. Tak ada sopannya pada Adeeva sebagai bos dari perusahaan. Ika sudah lama hidup nyaman di atas hak orang. Begitu kena geser tak terima.


Adeeva tidak kaget Ika datang bikin perhitungan. Kalau bukan ingat bayi dalam perutnya ingin rasanya Adeeva layangkan bogem pada wajah full make up itu.


"Ika...jaga sikap! Ini kantor Adeeva." bentak Ezra takut Adeeva ke pancing sikap kasar Ika. Ezra yakin Adeeva bisa lebih kasar bahkan sanggup bikin Ika patah lima.


"Dasar apa kau letakkan aku di bagian pengawasan rumah tangga perusahaan?" Ika berkacak pinggang di depan Adeeva dengan nafas berburu. Dadanya turun naik akibat menahan emosi.


Adeeva bukan takut pada Ika melainkan tertarik pada sepasang bukit kembar di dada Ika. Bentuknya bulat sempurna seperti hasil operasi plastik. Apa disematkan dalam bukit kembar itu? Silikon atau batik kelapa?


"Aku mau tanya kamu operasi di mana bukit kembar kamu? Kok kayak mangkuk sup?"


Ika makin marah Adeeva tidak tanggap kekesalannya. Lain ditanya lain pula dapat tanggapan.


Ezra menahan tawa lihat emosi Ika makin membara. Salah sendiri usik macan manis sedang hamil. Rasakan sendiri akibatnya.


Kenzo pacar Ika terpaku lihat pesona Adeeva. Adeeva jauh lebih ok dari Ika. Terpenting Adeeva adalah bos dari segala bos di sini. Power Adeeva tentu saja lebih kuat dari Ika. Andai Adeeva bisa ditundukkan oleh ketampanannya merupakan berkah. Uang akan turun dari langit mulus meluncur. Masih kalah mulus tetesan air hujan.


"Apa urusanmu? Aku tak mau tahu kamu harus kembalikan aku ke posisi semula. Kau tahu aku siapa?" Ika majukan muka dekat wajah Adeeva. Kedua tangannya nemplok di atas meja pasang wajah garang.


"Tahu...wanita tak tahu malu sok berkuasa!" sahut Adeeva Santuy sengaja pancing amarah Ika. Adeeva sengaja bikin Ika kesal biar tumpahkan semua isi hati di depan Ezra.


"Kau... aku bisa depak kamu dari sini."


"Eh nona ..tadi pagi lupa sikat gigi ya? Nafasmu bau comberan. Pulang sikat gigi dulu biar ntar ciuman tidak merusak selera pacarmu yang ganteng. Ya kan ganteng?" Adeeva mengerling genit pada pacar Ika.


Kenzo kontan tersanjung melayang ke langit tingkat tujuh. Ternyata Adeeva akui pesonanya sebagai lelaki ganteng. Tidak rugi dia keluar masuk salon untuk perawatan. Hasilnya mampu membius para kaum hawa. Sekarang tambah korban baru yakni bos baru mereka.


"Jangan sok Adeeva! Aku ini keponakan mama Ezra. Aku bisa berbuat apa saja di sini."


"Coba saja! Kau akan menyesal lawan aku! Aku bos di sini. Pemimpin kalian. Aku pecat kamu juga sah-sah saja. Aku bukan Ezra saudara kamu! Aku ini CEO baru sini. Semua kata aku adalah perintah. Kau mau jadi ob? Dengan senang hati kuberi posisi mulia ini padamu!"


"What? Ob? Kau gila ya? Aku ini Ika Ginanjar. Ingat itu!"


"Oya? Apa hubungan dengan aku nama itu? Pergilah sebelum aku menggila. Aku tak ada mood hajar kamu."


"Kamu perempuan murahan. Hanya sampah dalam hidup Ezra. Kupastikan kau akan kutendang jauh."


"Coba saja nona! Kuharap kau pulang cuci mulut agar jangan kotor! Aku harap tak lihat kamu di sekitar ruang kerja aku! Tempatmu di belakang sana. Urus semua bawahan kamu dengan baik."


Ika benaran kena syok mental dihina Adeeva tanpa ampun. Ika angkat tangan ingin beri tamparan di pipi wanita sedang hamil itu. Ika lupa Adeeva bukan wanita gampang dibully. Kalau Adeeva balas bisa hancur tangan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2