
Ezra mengajak Adeeva segera pulang karena sebentar lagi akan magrib. Ezra mulai paham arti menjadi umat beragama. Ada keluh kesah tinggal melapor pada Yang Maha Kuasa. Segalanya akan dipermudahkan.
Mobil yang dikendarai oleh Ruben melaju meninggalkan istana Dilangit. Ruben akan mengantar Ezra dan Adeeva pulang ke rumah abahnya. Sampai sekarang Ezra dan Adeeva masih numpang di rumah Abah. Ezra bukan tidak sanggup menyediakan rumah untuk Adeeva melainkan untuk menjaga keselamatan wanitanya itu. Di luar masih banyak bahaya mengancam keselamatan Adeeva.
"Ben...gimana Desi?" tanya Adeeva.
"Lumayan walau tidak cekatan kayak kamu. Dia berencana pindah dari rumahmu. Dia ada minta aku cari kost."
"Sudah dapat?"
"Sudah...aku tawarkan kost di rumahku saja. Toh rumahku tak ada penghuni lain!"
"Wei...ada penyakit jiwa ya? Dia itu cewek dan kamu cowok. Mau kumpul kebo?" semprot Adeeva risih Ruben ajak Desi kost di rumahnya.
"Ya ngaklah! Kami kan teman."
"Tak boleh... cari kost lain! Atau kau halalkan saja Desi biar ada teman tidur kamu." gurau Adeeva mengolok Ruben.
"Sadis amat kamu ini. Masak cuma buat teman tidur. Teman segalanya dong! Aku masih berteman. Orangnya lembut dan tidak cerewet. Ya cocok dengan selera aku cuma masih butuh waktu proses."
"Jangan kelamaan entar kadaluarsa! Teh Desi itu jarang bergaul dengan cowok. Dari kantor langsung ke rumah. Selama aku kerja dialah yang jaga aku. Teh Desi sudah seperti kakak kandung buatku!"
"Aku akan usaha. Tapi apa mau sama aku?"
"Isshhh...cowok apa tuh? Belum perang sudah angkat bendera putih. Yang semangat dong!"
Ruben hanya tersenyum. Laki ini ingin juga akhiri masa jomblo berliku-liku. Ruben belum mantap pacaran maka tak berani mulai. Adeeva kasih semangat pada Ruben kalau cewek itu Desi orangnya. Adeeva yakin Desi pasti akan jadi isteri yang baik. Bahkan jauh lebih baik dari Adeeva.
Ezra diam saja biarkan Ruben dan Adeeva promosi Desi. Memang sudah waktunya Ruben mencari pasangan. Tak mungkin seumur hidup dihabiskan layani Ezra.
Sekarang Ezra sudah ada pendamping bernilai plus. Ruben hanya jadi pelengkap saja. Sekarang tanggung jawab Ruben bertambah besar dengan posisi sebagai wakil Ezra.
Ruben turunkan Ezra dan Adeeva di depan pintu pagar rumah Adeeva. Lalu Ruben segera jalankan mobil pulang ke rumah merangkul rasa sepi.
Sepanjang jalan Ruben masih memikirkan omongan Adeeva mengenai Desi. Sudah siapkah dia jalani hidup berdampingan dengan seorang wanita? Wanita pertama yang Ruben kagumi justru Adeeva. Ruben menyukai Adeeva pada pandangan pertama. Sayang wanita itu telah menjadi milik Ezra.
Dalam perjalanan pulang Ruben coba hubungi Desi untuk test bagaimana perasaannya kepada wanita itu. Ruben belum yakin perasaan pada Desi.
"Halo...Desi?" Ruben memasang hand free agar leluasa ngobrol sambil nyetir.
"Iya...pak Ruben? Ada masalah dengan pekerjaan?"
"Ach tidak...aku cuma mau tanya apa jadi cari tempat kost."
"Jadi...tapi jangan yang mahal ya! Pak Ruben kan tahu berapa gaji dan pengeluaran harian. Aku sudah tak enak numpang pada keluarga Adeeva. Aku seperti benalu saja."
"Kau bisa kost di tempat aku! Kita ajak Supono sekalian biar tidak jadi bahan omongan."
"Tak baik gitu pak! Oya...siapa Supono?"
"Aku hampir lupa kasih tahu kalau akan ada pegawai baru gantiin posisi aku. Orang Jawa Tengah. Teman bos cewek kita."
"Oh gitu ya? Kurasa tetap tak baik dilihat orang kost di tempat laki. Aku cari kost khusus untuk putri saja. Kau bisa ajak Supono tinggal di tempat bapak."
Ruben puji keteguhan Desi tidak tergoda cari jalan tengah. Dia adalah wakil Ezra paling tidak punya kuasa di perusahaan. Dekat dengannya sama saja dekat dengan pohon pelindung.
"Baiklah! Aku akan bantu kamu cari kost dekat kantor. Besok kujemput kamu ke kantor."
"Tak usah ..aku numpang sama Adeeva! Mereka kan ke kantor jadi searah."
"Baiklah kalau begitu! Kita jumpa di kantor."
"Iya pak! Bapak lagi nyetir ya?"
__ADS_1
"Iya ..kok tahu?"
"Ada bunyi kenderaan lain. Hati di jalan ya! Jaga keselamatan!"
"Terimakasih.. aku tutup telepon ya!"
"Ya..."
Hati Ruben sedikit berbunga diperhatikan Desi. Mungkinkah bunga itu akan berkembang dengan indah. Atau akan layu sebelum berkembang. Ruben sendiri belum bisa meraba akan ke mana hatinya akan berlabuh. Bayangan Adeeva sangat kental melekat di hati.
Ruben harus pandai kontrol perasaan pada isteri abangnya itu. Berbahaya bila dia biarkan perasaan pada Adeeva terus berkembang.
Ruben terus melaju menuju ke arah tanpa pasti. Mengapa dia harus meletakkan hati pada tempat salah. Semoga Tuhan berbaik hati mencabut bayangan Adeeva dari hati Ruben.
Esoknya Ezra bawa dua wanita ke kantor seperti hari sebelumnya. Desi sudah seperti sekretaris Adeeva. Tiap pagi ikut kantor dan pulang bareng.
Desi makin iri lihat kebahagiaan Adeeva. Adeeva beruntung dapat suami sangat sayang padanya. Dulu semua mengira Ezra itu bukan lelaki baik untuk jadi suami. Kenyataan sangat bertolak belakang. Ezra malah pengertian dan menyayangi Adeeva.
Desi harap suatu saat dia akan jumpa lelaki sebaik Ezra. Tak perlu menunggu sampai jadi wanita mesti disimpan dalam es tunggu beku.
Desi melihat Ezra tersenyum lembut pada Adeeva sebagai penyemangat kerja pagi ini. Satu senyum yang akan membangkitkan semangat hidup Adeeva.
"Hubby...aku mau tahu gimana Rani?"
"Untuk sementara tahanan kota. Polisi sedang menggali semua keterangan dari para penjahat. Temanmu itu polisi baik tidak tergiur uang. Dia bekerja sesuai prosedur."
Adeeva ilfil banget dengar kata uang. Artinya Rani sedang berusaha beli hukum. Ada yang tergiur dan ada yang kokoh bela kebenaran seperti Satria.
"Keluarga Satria kaya raya mana tertarik pada uang segitu."
"Kulihat Satria memuja kamu. Aku tahu dia tahan rasa cemburu padaku. Kau sudah lama kenal dia?"
"Lumayan...kami kenalan di kota B. Waktu itu aku tak tahu dia itu polisi. Apalagi abangnya Nunik. Semua mengalir begitu saja."
"Kau sudah menikah?
"Sudah...dalam dalam masa buronan." sahut Adeeva enteng.
Ezra tertawa ingat perjalanan hubungan mereka. Berbelit-belit barulah sampai hari ini. Syukur semua diposisikan pada tempat semestinya.
"Semua sudah berakhir. Kita tinggal tunggu kebusukan Rani terbongkar."
"Amin..."
Ezra ulurkan tangan menyentuh kepala Adeeva. Tayangan ini bikin Desi makin tercekik dalam kecemburuan. Kecemburuan sosial. Desi bukan suka pada Ezra melainkan cemburu pada nasib Adeeva. Wanita muda itu beruntung banget mendapat segitu banyak cinta.
Sesampai di kantor Desi langsung pisah menuju ke ruang kerjanya. Ezra dan Adeeva juga kembali ke ruang kerja mereka. Pagi yang baru dengan semangat yang baru.
Semua berharap pagi ini akan diawali dengan kegiatan penuh semangat dan segala berjalan dengan lancar.
Betapa terkejutnya Ezra dan Adeeva karena di dalam ruangnya telah menanti Rani dengan pakaian berwarna hitam. Ke mana Rani yang selalu bersinar dengan warna merah cabenya?
Adeeva benar-benar pangling melihat Rani berubah menjadi kusam tidak berseri. Wanita itu berubah total kehilangan pamornya.
Rani segera berdiri begitu melihat Ezra dan Adeeva. Ezra mengutuk kebodohan para satpam ijinkan manusia model ini masuk ke kantor. Ezra tidak menerima wanita berhati culas.
Ezra memberi kursi kebesarannya kepada adeeva untuk tunjukkan kepada Rani bahwa Adeeva segala-galanya buat Ezra.
Mata Rani menatap nanar ke arah Adeeva yang mendapat perlakuan sangat lembut dari Ezra. Rani belum terima kalau Adeeva berhasil jerat lelaki yang dia incar bertahun-tahun.
"Ezra..." panggil Rani agak keras karena diabaikan Ezra.
Ezra duduk di kursi tempat Adeeva bekerja. Ezra sengaja tempatkan Adeeva di tempat CEO biar Rani tahu hati Ezra penuh Adeeva.
__ADS_1
"Ada apa lagi? Mau buat rencana baru lagi?"
"Rencana apa? Aku jadi begini Semua ini gara-gara kamu. Kalau saja dari dulu kamu mau perhatian dan menjadi milikku maka semua ini tidak akan terjadi." Rani berkata berdiri di depan Ezra tak peduli pada tatapan Adeeva.
Ezra tertawa sinis heran Rani melimpahkan semua kesalahan pada dirinya. Apa dia yang meminta Rani melakukan kejahatan untuk mencapai tujuan?
"Rani... bagusnya kamu ke psikiater untuk berobat sakit jiwa kamu. Aku baik dan menjaga kamu karena kamu adalah istri dari mandi yang teman aku. Tidak pernah terpikir olehku untuk masuk ke dalam kehidupanmu sebagai seorang pasangan hidup. Aku melindungimu sebagai seorang saudara. Tidak lebih dari itu."
Rani memutar badan belakangi Ezra sambil mengusap wajah. Jelas sekali Rani marah tak dapatkan cinta Ezra. Apa arti perhatian Ezra selama ini? Hanya satu tanggung jawab isteri teman?
"Kalau bukan adanya Adeeva kau takkan berpaling dariku. Ini semua gara-gara Adeeva." Rani menunjuk muka Adeeva dengan marah.
Adeeva berusaha menahan emosi agar tidak terpancing umbar amarah. Rani bisa hancur kalau Adeeva ikuti rasa kesal.
"Maaf Tante...kau sadar tidak kamu ini perempuan paling memalukan. Mengemis cinta lelaki. Apa di dunia ini cuma ada Ezra? Masih banyak lelaki lain yang jauh lebih baik daripada Ezra. Pergilah sebelum kamu mempermalukan diri sendiri!"
"Betapa tajam mulut kamu ini anak kecil. Kau tahu aku sudah korbankan segalanya untuk Ezra. Tinggal selangkah lagi aku akan jadi nyonya besar Dilangit tapi kamu muncul."
"Mimpi apa kamu Tante?" Adeeva hidupkan rekaman ponsel untuk rekam semua pembicaraan. Siapa tahu Rani tak sengaja bocorkan rahasia kejahatannya.
"Mimpi? Aku bermimpi dari pertama jumpa Ezra. Aku menyesal menikah dengan Herman. Kenapa tidak dari dulu aku kenal Ezra? Mengapa harus Herman yang tak bisa apa-apa?" koar Rani makin tinggi nada suara.
"Lalu kau habisi Herman untuk capai niatmu?" pancing Adeeva makin pintar jebak Rani.
"Dia terlalu cemburu pada Ezra. Mengancam aku untuk tinggalkan Ezra maka aku mau tak mau harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan hidup aku."
"Secara tak langsung kamu mengakui kalau kamu yang berbuat sesuatu pada kecelakaan suami kamu?"
"Itu hanya dugaan kamu. Dasar Herman yang apes mengalami kecelakaan setelah rem mobilnya bolong."
"Kamu ini pintar atau tolol tante Rani? Mobil yang baru diservis bisa mendadak remnya plong. Apa bukan permainan uang kamu?"
"Kau tahu apa anak kecil? Kamu masih muda dan cantik. Kamu masih bisa mencari lelaki yang sepadan dengan kamu maka ku sarankan kamu tinggalkan Ezra dan hidup tenang dengan pasangan barumu."
"Kalau aku tak mau gimana? Sekarang aku adalah CEO dari Dilangit. Aku kaya raya. Apa kau pikir aku mau turun panggung?" Adeeva sengaja provokasi Rani.
"Kau akan alami nasib seperti Herman dan bapaknya. Aku jamin hidupmu takkan panjang."
"Wow...aku takut! Artinya kau sudah akui kaulah dalang di balik kematian bapak Herman dan juga Herman."
Rani tertawa bangga sudah sukses antar keluarganya jumpa malaikat maut. Satu prestasi hebat.
"Ingat! Aku ini Rani... selama ini aku bisa kontrol Ezra! Dan sekarang juga bisa. Dalam hidupku tak ada kata mustahil."
Adeeva tepuk tangan salut pada keyakinan Rani bisa kontrol Ezra.
"Kau mau habisin aku seperti kau lakukan rencana culik aku? Lalu kau mau bungkam aku dengan hilangkan nyawa aku? Wah...sungguh wanita super power! Sayang aku ini Adeeva. Bukan Renata, Dorce atau Farah."
"Aku bisa lakukan sekali lagi. Kau pikir anak buah aku cuma yang ada di penjara? Masih ada segudang."
"Aku ingat ada di tikus dan si botak. Aku kok tak lihat mereka? Sudah kau panggang daging mereka? Pasti tak enak, alot ya?" Adeeva semakin gencar pancing emosi Rani agar buka kartu.
"Mereka hanya tikus got tak berguna. Aku masih punya yang lebih baik. Dengar nasehatku anak kecil! Kau menghilang dari hidup Ezra dan aku anggap kita impas. Aku takkan ganggu kamu lagi. Kita lupakan pernah bertemu." Rani coba tawarkan solusi berdamai.
Ezra menggertak gigi geram Rani tak pandang sebelah mata padanya. Rani pikir bisa utak-atik Ezra sesuka hati. Ezra tak lebih boneka cowok tak punya nyawa. Dikontrol oleh pemilik.
"Rani...jangan keterlaluan! Kau anggap aku ini apa? Aku sedikitpun tidak tertarik padamu! Aku hanya kasihan padamu." Ezra bangkit dari kursi tak bisa toleransi sikap Rani.
Adeeva melihat keadaan makin tak tentu. Semuanya terbalut emosi. Adeeva pencet nomor ponsel Satria agar ikut dengar keributan di ruang Ezra. Polisi itu pasti ngerti kalau Adeeva sedang kirim signal.
"Kau bohong...dulu sebelum ada Adeeva kau selalu hadir walaupun tengah malam. Kalau bukan cinta itu apa? Mana ada lelaki bersedia datang begitu dipanggil kalau tak ada niat lain." seru Rani sekeras mungkin.
"Rani...sudah beratus kali kubilang kalau aku hanya menjagamu karena Herman. Aku punya isteri cantik dan pintar. Untuk apa isteri orang?"
__ADS_1
"Kau bohong...Aku sudah korbankan segalanya untukmu! Tidakkah kau simpatik sedikit padaku? Aku hanya butuh kamu. Aku tak peduli berapa banyak uang harus kubuang asalkan dapatkan kamu Ezra. Aku sangat mencintaimu." ujar Rani mulai menangis. Air matanya meleleh dari mata tanpa maskara. Biasa mata itu dipoles dengan aneka warna. Kini tak ada warna malahan berkesan kelam.