
Adeeva bawa masuk tas kresek dan laptop ke dalam ruang Ezra. Adeeva berubah jadi merpati jinak. Masuk ke ruang kerja Ezra seperti penjara. Kebebasan Adeeva tergadaikan.
Ezra menatap Adeeva yang meringsut kayak kucing kecil kena air hujan. Ekor mata Adeeva lirik Ezra kurang senang harus duduk satu ruang dengan bos. Pegawai lain punya ruang sendiri mengapa dia ditempatkan di samping ikan paus raksasa.
"Ntar mata kamu berubah juling baru tahu!" ejek Ezra tahu lirikan tak bersahabat Adeeva.
"Itu aja jadi masalah! Ntar aku beli kacamata Ray-Ban biar bapak tak usah lihat mataku! Ini mata karunia Tuhan buat baca chatting."
"Kamu duduk di situ. Mulai detik ini di situ kamu." Ezra menunjuk meja dan kursi yang masih kosong. Jaraknya sangat dekat dengan meja Ezra. Hanya berjarak sekitar dua meter tanpa penyekat ruang. Ini akan jadi siksaan bagi Adeeva. Kadang dia suka curi tidur siang kalau lembur terlalu malam.
Bekerja satu ruang dengan Ezra mengekang ruang gerak Adeeva. Sekarang Adeeva tak bisa seenak perut tidur. Makan Snack dengan leluasa. Kebiasaan buruk Adeeva segera berakhir.
Adeeva mengeluarkan barang ya dari kantong kresek menimbulkan suara bising di ruang yang tenang itu. Kenyamanan Ezra terusik oleh pegawai reseh tak tahu diuntung itu. Orang berlomba naik pangkat dia malah seenak dengkul menolak.
"Kamu kok miskin amat sampai sanggup beli tas?" ujar Ezra buka suara tak sabar dengar bunyi tas kresek Adeeva.
"Aduh pak! Mutasinya kan dadakan! Mana sempat cari kardus. Toh barangku tidak banyak! Hanya buku memo dan pulpen." Adeeva perlihatkan beberapa barang biasa untuk pegawai. Buku catatan dan peralatan tulis.
Tak ada alat kosmetik di antara barang di meja. Itu tak gambarkan sosok seorang gadis. Di mana saja seorang gadis akan bawa alat make up, paling tidak lipstik untuk cat bibir agar jangan pucat.
"Kamu ini cewek atau cowok? Jangan-jangan kamu ini laki menyamar jadi cewek."
"Astaghfirullahaladzim...kalau Abah aku dengar bisa digencet mulut bapak. Anaknya segitu cantik dibilang lady boy."
"Apa bukti kamu itu cewek tulen?" pancing Ezra ingin goda Adeeva.
"Bukti? Enak aja! Bapak bukan muhrim aku! Tidak berhak proses body gitar Spanyol aku! Terserah bapak anggap aku cewek atau cowok. Kelak kalau aku punya hamil punya anak baru bisa buktikan." ujar Adeeva tidak mudah terpancing hal berbau tujuh belas tahun ke atas.
"Emang kamu punya suami?"
"Sekarang belum. Nanti tunggu aku jatuh cinta dulu."
"Oh..artinya jomblo sejati."
"Sejati dan setia. Bapak gaji aku untuk bahas hal pribadi aku?"
"Tak boleh ya? Aku kan harus kenal siapa asisten aku! Siapa tahu lady boy. Nanti malah jatuh cinta padaku!"
"Heh??? Amit-amit deh pak! Dari umur bapak pasti sudah punya anak bini. Satu bini selusin gundik."
"Pinter...kalau kau mau boleh ikut jadi salah satu gundik aku!" tawar Ezra santai bikin Adeeva tersedak ludah sendiri.
Enak saja tawar orang jadi gundik. Kayak nawarin makan nasi Padang. Nikmat tapi pedas.
"Amit-amit..." Adeeva mengetok meja menolak bala agar tidak dimasukkan daftar wanita simpanan. Adeeva berusaha kabur dari kerajaan Dilangit. Kini ada tawaran sejenis. Bukankah sama saja ceburkan diri dalam sumur lebih dalam.
Ezra tersenyum lihat kelucuan Adeeva. Sungguh di luar dugaan dia mendapat istri muda stok jenis limited edition. Di rumah menutup diri dengan busana muslim tertutup. Di luar kayak preman pasar. Dia pribadi berbeda.
"Sekarang katakan apa kerjaku! Masa hanya duduk ngobrol tentang aku!"
"Baiklah! Gara sifat tomboi kamu bikin aku lupa pekerjaan."
Adeeva mendecak makin tak suka pada bosnya yang sok cakep. Eit, emang cakep kok! Adeeva tak bisa pungkiri bosnya memang ganteng. Cuma sayang bukan type Adeeva. Terlalu pesolek menurut Adeeva.
Adeeva senang model guru taekwondo nya. Macho berkeringat lelaki sejati.
"Woi...simpan rasa kagum mu padaku! Tuh Ileran!"
__ADS_1
Adeeva yang lugu tanpa sadar menyentuh sudut bibir periksa omongan Ezra. Tak ada ileran.
Sialan kejebak ngedumel Adeeva dalam hati. Kata orang bosnya sangar dan dingin. Yang ini kok usil. Jangan-jangan bos ini kw dua. Yang asli masih di pusat.
"Cis...Ge Er amat!" desis Adeeva.
"Aku punya kuping ya! Jangan ngomel! Sini kamu! Aku mau kamu bangun sistim baru untuk keamanan di kantor pusat. Pisahkan seperti yang bau terapkan di sini!"
Adeeva hampiri Ezra lihat skema yang dibuat bosnya. Sungguh skema amburadul. Tidak jelas ada berapa divisi dan diisi dengan kegiatan apa. Adeeva mana bisa bekerja tanpa keterangan jelas.
"Nilai menggambar bapak pasti jelek!" Adeeva meraih kertas buram hasil gambar Ezra. Gambar coretan tanpa dasar keterangan riil.
"Aku tidak akan pecat kamu. Tapi akan kupindahkan kamu ke Atambua NTT. Di sana masih kekurangan karyawan." Ezra menatap tajam ke pegawai yang mulutnya kurang didikan.
"Main ngancam kayak anak SD!" lirih Adeeva halus agar tak terdengar Ezra lagi.
"Adeeva...kupingku masih berfungsi! Cacing di perutmu lagi ngomel aku tahu! Apalagi mulutmu yang cerewet."
"Maaf...aku hanya omong untuk diriku! Tidak ada sangkut paut sama bapak. Tuan bapak di-Pertuan agung yang mulia pak Ezra.... kertas buram ini tak wakili apapun. Seharusnya bapak rincikan setiap departemen di kantor. Termasuk apa pekerjaan di divisi masing-masing. Kalau jaringan bapak luas maka butuh waktu panjang." Adeeva jelaskan dengan sabar. Kalau sudah masuk dalam tugas Adeeva hilangkan sikap konyol. Konyol ada tempatnya.
Ezra mengerut kening tak sangka gadis urakan ini bisa juga diajak serius. Ezra bukan pakar IT maka tidak begitu paham maksud Adeeva pisahkan setiap bagian divisi. Perusahaan Ezra yang utama bergerak di bidang tambang namun ada investasi di beberapa sektor bergabung dengan perusahaan lain. Contoh seperti tempat Adeeva bekerja. Perusahaan ini bergerak di bidang komputer dan segala jenis komponen.
"Perusahaanku bergerak di banyak bidang. Apa harus pisahkan satu persatu?"
"Iya dong agar masing-masing divisi pegang data tersendiri. Emang selama ini campur aduk? Siapa sih otak dari perancang sistim di perusahaan bapak? Mau korupsi apa?"
Ezra kembali dibuat termenung oleh Adeeva. Pengamanan perusahaan dipegang oleh adik mamanya dibantu oleh anaknya. Mereka yang kontrol semua data perusahaan. Apakah sedang terjadi manipulasi data?
"Kau bisa kalau kuberi seluruh data?"
"Bisa dong! Seperti tujuanku bapak yang handel kunci terakhir."
"Ok...kerja jam lima artinya lembur pak! Ingat uang lembur! Di dunia ini tak ada yang gratis."
"Tampaknya kau sangat miskin. Makanya kutawarkan jadi istriku. Hidup layak dan mewah. Tidak perlu kerja berat."
Adeeva memilin bibir lagi pikir cara halus menolak keinginan gila Ezra. Baru satu hari kenal sudah menawarkan anak gadis orang jadi istri muda. Bosnya ini termasuk manusia produk tahun berapa? Apa tidak sadar Ibu Kartini sudah galakkan emansipasi wanita. Tidak perlu jadi budak lelaki lagi.
"Pak...makanan itu akan nikmat bila hasil kerja keras. Sebutir beras terasa berharga karena kita yang beli dari hasil kerja keras. Bukan hasil goyang pantat. Dan perlu bapak ketahui aku belum selapar itu mesti jual diri sendiri untuk kemewahan." Adeeva berkata serius tak ingat siapa yang dia ajak bicara. Adeeva tersinggung bila dianggap bisa dibeli.
Ezra manggut-manggut salut pada kepribadian Adeeva tak mudah tergiur oleh kemewahan. Lalu apa tujuan Adeeva masuk daftar isterinya? Sekedar cari sensasi punya suami kaya raya atau paksaan orang tua. Perlahan Ezra harus buka tabir Adeeva bergabung dalam parade isteri Ezra Hakim Dilangit.
"Ok...aku hormati prinsipmu! Kita akan bekerja secara profesional. Mulai hari ini kau akan tinggal di tempatku. Kau boleh pulang untuk berberes."
Adeeva tertegun bingung. Permintaan Ezra terlalu mendadak membuatnya tak punya persiapan hidup serumah dengan lelaki. Soal keselamatan Adeeva tidak kuatir. Adeeva bukan gadis lemah bisa dibodohi sesuka hati oleh lelaki. Adeeva jago taekwondo.
"Pak...gimana kalau besok saja? Aku kan harus bilang sama pemilik kontrakan juga menyusun barang yang perlu kubawa."
"Boleh...apa barangmu banyak?"
"Untuk sementara aku cuma bawa pakaian! Barang lain biar di kontrakan karena aku kan tidak lama tinggal di tempat bapak. Katanya Minggu depan bapak balik ke kantor pusat." Kali ini Adeeva ciptakan suasana resmi agar Ezra tidak pikir macam-macam padanya.
"Kalau aku balik ke pusat kau masih boleh tinggal di rumahku! Anggap kau jaga rumah. Kau tak perlu bayar kontrakan. Kan irit lagi."
"Tidak usah pak! Aku lebih senang tinggal di tempat sekarang. Dekat tempat kerja." Adeeva makin gencar tolak segala bentuk fasilitas dari Ezra. Adeeva masih waras tak mau berhutang budi pada bosnya. Takut kelak bos minta balasan yang tak sanggup dia penuhi.
"Terserah kamu! Sekarang kamu boleh pulang! Besok bekerja seperti biasa. Tempatmu di sini!"
__ADS_1
Adeeva mengangguk, "Dasar cerewet.."
"Jaga mulutmu nona! Kuping aku masih sehat."
"Sekecil gitu masih terdengar? Kuping kalong!"
"Bukan kupingku awas tapi suaramu mirip orang lagi mengadu. Cewek kok kayak laki!"
Adeeva mengerling gemas pada Ezra. Andai di dunia benaran ada sihir Adeeva akan belajar untuk sihir bosnya pulang ke kantor pusat. Datang ke sini hanya kacaukan pekerjaan Adeeva.
Adeeva angkat kaki dari kantornya pulang lebih awal. Adeeva anggap ini bonus untuk bayar rasa kesal pada bosnya.
Dalam perjalanan pulang Adeeva jumpa lagi dengan Celine si wanita bebal. Wanita cantik dengan otak segede biji kacang ijo. Itu masih untung ada walau kecil. Coba kalau otak kosong! Makin parah tingkahnya.
Celine berpangku tangan mengejek Adeeva yang cepat pulang. Apa Adeeva berbuat salah hingga dipecat atau diskor oleh bos.
"Tumben cepat keluar? Ditendang?"
Adeeva tersenyum menyenggol pantat Celine yang goyang kiri kanan mirip orang-orangan di sawah kena tiup angin.
"Aku diijinkan pulang untuk bersiap diajak makan malam. Aku harus pulang mandi kembang setaman biar wangi. Biar bos jatuh cinta." olok Adeeva sengaja bikin Celine gondokan.
"Kau...halu ya? Diusir kali!"
"Diusir? Apa aku ada bawa pulang barang aku? Ini cuma laptop untuk catat laporan. Kusarankan ibu pergi ke dukun pelet pak Ezra. Cari dukun pelet jitu. Aku ini punya dukun melet lidah!" ujar Adeeva dibarengi tawa lepas. Celine hentakkan kaki ke lantai dikerjain Adeeva. Mana ada dukun melet lidah, yang ada dukun pelet.
Celine anggap guyonan Adeeva cukup masuk akal. Tundukkan bos pakai dukun boleh dicoba. Satu alternatif cukup bagus.
"Pulang sana! Awas kalau kau macam-macam! Kusantet kamu!" ancam Celine. Adeeva bukannya takut malah perkeras tawa garing.
"Tenang Bu! Aku punya saudara di Bali. Dukun leak.. kita main santet-santetan."
"Dasar anak edan .." rutuk Celine meninggalkan Adeeva yang masih tertawa lucu. Salah sendiri ajak perang duluan.
Adeeva segera meninggalkan kantor menuju ke tempat latihan taekwondo. Ada waktu senggang begini tempat paling tepat dikunjungi tentu saja klub tempat dia berlatih. Dari sini Adeeva bisa dapatkan sedikit uang saku. Melatih anak-anak yang serius ingin belajar seni bela diri dari negeri ginseng itu.
Adeeva tiba di klub pas ada keramaian. Adeeva penasaran mengapa klub tiba-tiba ramai. Biasa hanya dipenuhi anak-anak yang berlatih bela diri yang mengandalkan tendangan maut.
Adeeva segera masuk ke dalam lihat apa yang terjadi. Ternyata bukan keributan melainkan acara ramah tamah sesama pencinta bela diri dari klub lain. Adeeva menyaksikan acara ramah tamah dari pinggir dojang alias tempat latihan.
Kehadiran Adeeva menarik perhatian grandmaster klub pelatih utama di klub ini. Bang Juan melambai pada Adeeva agar ikut bergabung bersama mereka duduk di atas lantai dojang.
Adeeva tidak sungkan masuk ke arena tempat para pencinta seni bela diri cukup populer ini. Beberapa anggota klub lain tersenyum ramah pada Adeeva yang punya postur tubuh seorang atlet taekwondo sejati. Di dalam diri Adeeva tersimpan potensi cukup besar sebagai pencinta taekwondo.
"Oya .. perkenalkan ini mantan muridku juga pelatih sini." bang Juan perkenalkan Adeeva secara terbuka pada sesama atlet taekwondo.
Adeeva membungkukkan badan layak pengiat taekwondo lain. Adeeva membungkuk ke empat penjuru untuk hormati semua yang hadir.
"Hai.. namaku Adeeva. Aku Hubae (Junior ) di sini."
"Seonbae (senior) atau Hubae?" seru salah satu murid di situ. Adeeva sudah termasuk pelatih mana mungkin masuk jajaran junior. Sabuknya juga sudah hitam.
"Wah...semuda ini sudah pegang dan 9. Sudah lama berlatih?" tanya tamu yang hadir?
"Sudah dari sekolah SD." sahut Adeeva sopan.
"Pantas ..ayok duduk! Kita berembuk tentang acara tanding persahabatan kita. Hanya tanding persahabatan. Kalah menang tak boleh ambil hati."
__ADS_1
Adeeva menduga yang sedang bicara pasti master dari klub lain. Gaya bicara tenang tanda memang berisi. Dulu waktu kuliah Adeeva sering ikut tanding tapi sekarang waktunya tersita oleh pekerjaan. Sudah dipastikan Adeeva tak bisa ambil bagian dari pertandingan ini.
Apalagi Adeeva harus jadi dompet bos untuk sementara. Mana ada waktu latihan. Paling jadi tim pemberi semangat.