
Satria menemukan gadis perkasa yang menarik. Sebelumnya Adeeva pernah membantu Satria lawan berandalan. Kini Adeeva dalam kesulitan, saatnya Satria balas budi pada gadis ini.
"Boleh kulihat mobilmu sakit apa? Jika perlu bantu cari ambulance!" Satria imbangi kekonyolan Adeeva.
"Oh silahkan! Bapak ini dokter mobil demam?" Adeeva kembali putar badan ke arah mobil. Rencana berteduh buyar karena ada malaikat penolong datang menyambangi.
"Bukan cuma ngerti dikit."
Adeeva memberi kunci mobil pada Satria tanpa berniat ikutan masuk ke mobil. Biarlah orang lebih ngerti mobil utak Atik. Kali aja menemukan sumber penyakit mobilnya.
Dari luar Adeeva melihat Satria mencoba hidupkan mesin. Laki itu tertawa lepas seakan sedang bercanda dengan mobilnya. Apa mobilnya seorang pelawak bisa diajak bercanda?
Hebat juga di tiang listrik ngerti bahasa kaleng bermesin. Orang kesusahan dia malah tertawa renyah. Adeeva perhatikan mungkin renyah kayak kerupuk melinjo.
"Kapan kamu isi bahan bakar? Waktu berangkat ada isi?" tanya Satria tanpa turun dari mobil.
Adeeva menepuk jidat baru ingat dia isi bahan bakar Minggu lalu. Tadi pagi mana ingat saking semangat hendak pulang cari kemerdekaan.
"Hehehe...lupa isi!" Adeeva meringis malu ketahuan teledor.
"Artinya mobil kamu sehat cuma kehausan. Sekarang gimana? Pom minyak sekitar satu kilo dari sini. Kau mau dorong ke sana?"
Adeeva tampak bingung harus gimana. Dorong mobil sejauh satu kilo bisa rontok seluruh badan. Belum lagi dia kejar waktu harus tiba di rumah Dilangit hari ini. Benar-benar apes. Adeeva ingat tadi pagi dia ada mandi sambil berdoa agar selamat tiba di tempat. Nyatanya doanya tidak ampuh.
"Mas mau bantu?" tanya Adeeva segan tapi butuh.
"Bantu apa? Dorong mobil?"
"Ya nggak dong! Bantu beli bahan bakar minyak. Aku akan bayar ongkos pulang pergi. Jamin kontan."
"Ooo gitu! Ok...tapi kayaknya mobil kamu tetap harus masuk bengkel."
"Bukankah mas bilang mobilku sehat? Kok harus ke bengkel juga. Bukankah tinggal diisi bahan bakar?"
"Nona cantik...bahan bakar kamu kandas total. Biasanya akan berangin susah dihidupkan. Kita tetap perlu montir bengkel. Gini saja! Kamu ikut aku ke kota dan mobil kamu tinggal saja. Nanti ada yang urus. Besok kuantar ke rumahmu!"
"Nggak hilang? Itu kenderaan aku satu-satunya. Besok aku sudah harus balik ke kota B untuk kerja. Jadi kurasa biarlah kucari bengkel!"
"Itu ada rekan aku akan urus mobil kamu. Besok pagi aku akan antar mobilmu! Takut aku culik?" Satria menangkap keraguan di wajah Adeeva.
Wajar kalau Adeeva waspada padanya. mereka baru kenalan tak mungkin lah bisa langsung akrab. Apalagi Adeeva seorang gadis muda tiba-tiba berpergian dengan lelaki lain, ini pasti akan menjadi satu beban pikiran.
"Aku bukannya takut sama mas dan lagi kalau Mas culik aku siapa lagi yang mau tebus aku. Keluargaku orang miskin tak punya apa-apa. Mobil itu mobil perusahaan jadi aku harus bertanggung jawab."
Satria maklum keresahan Adeeva. Kalau Satria memaksa terusan nanti Adeeva mengira dia mempunyai maksud terselubung.
"Begini saja! Rekan aku pergi cari bahan bakar dan montir. Kita tunggu sini sampai mereka datang. Ok?" Satria ambil jalan tengah untuk menenangkan Adeeva.
kali ini adeva setuju dengan usul Satria. dari sini dapat dilihat kalau Satria memang benar-benar ingin membantu adeeva.
Satria berjalan meninggalkan Adeeva menuju ke arah mobil terparkir di pinggir jalan. Entah apa yang dikatakan oleh Satria kepada orang yang berada di dalam mobil. Tak lama kemudian mobil itu melaju meninggalkan tempat menuju ke arah jalan raya.
Satria kembali bergabung dengan Adeeva setelah mobil rekannya meninggalkan lokasi.
"Ayo kita berteduh ke tempat sana!" Satria menunjuk ke emperan toko orang yang lebih adem. Berada di pinggir jalan langsung kena terpaan sinar ultraviolet membuat kulit terasa pedih. Satria merasa sayang kulit yang halus milik Adeeva harus jadi korban keganasan sinar matahari.
Adeeva mengikuti langkah Satria menuju ke tempat yang dimaksud. Ini jauh lebih baik daripada harus berdiri di pinggir jalan menantang keangkuhan sinar mentari.
__ADS_1
Tak ada tempat duduk memadai untuk mereka berdua. Satria mengitari sekeliling mencari tempat untuk ngobrol sambil menunggu rekan Satria datang. Pilihan Satria jatuh pada kedai kopi sangat sederhana tak jauh dari tempat mereka berteduh.
"Kita cari minuman di sana! Daripada berdiri di sini mending cari tempat santai." Satria menunjuk kedai tak jauh dari situ.
Adeeva manggut setuju. Lama berdiri kaki bisa kram. Bagaimana melanjutkan perjalanan bila kakinya kebas.
Keduanya bergerak ke arah kedai kopi yang dimaksud. Penunggu kedai berupa seorang gadis berambut panjang terurai. Bentuk tubuh montok tercetak dari baju kaos warna hitam dengan rok kembang. Mengenakan pakaian tidak tepat membuat gadis tampak lebih gendut.
Satria mengajak Adeeva duduk di salah satu meja untuk nikmati kopi sambil dengar musik dangdut koplo. Beberapa pelanggan ikutan goyang iringi musik rakyat.
Mata Adeeva liar melihat sekeliling kurang nyaman pada lingkungan rada sedikit nakal. Kehadiran Adeeva dan Satria menarik perhatian pelanggan situ. Mungkin mereka pelanggan tetap sehingga ada orang asing masuk mereka langsung tahu.
Gadis penjaga kedai kopi datang menghampiri Satria dan Adeeva. mata adeeva silau melihat ke depan dada gadis itu. Dari balik kaos itu tercetak dua pemandangan menggoda iman lelaki. Mungkin itulah daya tarik gadis itu sehingga warungnya sangat ramai.
"Mau minum apa kang?" tanya gadis itu dengan nada sangat manja. Suaranya sangat tidak selaras dengan bentuk tubuhnya yang bengkak. Suaranya kecil nyaring mendesah. Suara yang mampu merontokkan iman para lelaki hidung belang.
"Dua gelas kopi." kata Satria datar.
"Aku teh saja mas! Tadi pagi sudah minum kopi jadi nggak usah lagi. Takut nanti malam tak bisa tidur." Adeeva menolak tawaran kopi dari Satria.
"Tidak mau jamu atau sesuatu yang bikin hangat?" tawar gadis itu lagi.
"Teh dan kopi sudah cukup hangat. Cukup itu." sahut Adeeva cepat. Gadis ini mulai risih karena gadis gendut itu berpikir Adeeva adalah wanita yang dibawa oleh Satria. wanita dalam kutip besar.
"Cuma itu ya?"
"Iya..." Adeeva mulai tidak sabar melihat gaya centil perempuan itu. Adeeva paling tidak suka dengan gaya-gaya genit seorang wanita.
Gadis itu pergi karena suara Adeeva mulai tak bersahabat. Buang jauh-jauh pikiran buruk terhadap Adeeva sebelum gadis ini terpancing emosi.
"Aku bukan mereka." ketus Adeeva kesal dianggap ayam Satria. Gara-gara kebodohan sendiri dia terjebak masalah. Ini akan jadi pelajaran berharga bagi Adeeva agar kelak kalau mau berpergian harus betul-betul menyiapkan segalanya.
Adeeva teringat pada Deswita yang pasti sedang repot mencari montir untuk menghubungi Adeeva. Dengan cepat Adeeva mengeluarkan ponsel untuk menghubungi kakak iparnya.
"Halo... assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam... Eva? Kata Deswita mobilmu mogok. Dia sedang cari montir untuk jemput kamu di sana. Kau baik saja?"
"Baik kak! Sebelumnya Eva minta maaf! Ternyata mobil Eva tidak mogok melainkan kehabisan bahan bakar. Ini pas ada kawan menolong Eva untuk membeli bahan bakar jadi bilang sama Kak Deswita tidak usah datang ke sini lagi."
"Ya Tuhan... kapan kamu akan dewasa Eva? Betapa teledornya kamu sampai lupa mengisi bahan bakar. Mungkin cuma kamu satu-satunya orang di dunia ini yang melakukan perjalanan jauh tanpa memikirkan bahan bakar."
"Maaf kak! Lupa mau gimana lagi? Eva janji cuma kali ini saja. Lain kali Eva akan hati-hati. Oh ya Kak jangan kasih tahu Abah dan Umi dulu kalau Eva sudah pulang. Besok siang Eva akan pulang ke rumah. Ya kak ya?"
"Kamu memang anak keterlaluan. Abah dan Umi kamu cemas memikirkan kamu yang menghilang selama 2 bulan. Sudah pulang masih tidak mau menjumpai orang tua."
"Bukan gitu kak! Eva pasti pulang kok cuma Eva ingin menyelesaikan masalah Eva tanpa campur tangan Abah dan Umi termasuk Kak Farhan. Eva sudah dewasa bisa menentukan jalan hidup Eva."
"Adikku yang cantik! Kamu ini memang selalu merepotkan orang. Apa yang kamu cari di dalam hidup ini?"
"Eva tentu saja mencari yang terbaik untuk Eva. Pokoknya Kak Farhan tidak perlu kuatir tentang Eva. Eva kan sering kirim sms kepada Umi bahwa Eva sehat-sehat saja. Pokoknya kalian tunggu Eva besok siang."
"Baiklah! Semoga kamu tidak melakukan hal konyol yang bisa membuat Abah kamu naik hipertensi."
"Sebenarnya penyakit Abah apa sih jantung atau hipertensi? Sebentar jantung sebentar hipertensi. Eva jadi bingung deh!"
"Duanya. Abah kamu sangat sial memiliki seorang anak perempuan yang tidak punya rasa empati pada keluarga."
__ADS_1
"Aduh kak Farhan nggak usah dramatis deh! Kemarin Eva dengar Abah berangkat ke negeri Jiran dengan Umi."
"Kamu kok tahu?"
"Apa yang tidak diketahui oleh Eva? Eva sudah memasang CCTV dan mata-mata di rumah. Pokoknya Kak Farhan tidak perlu khawatir tentang Eva. Besok siang Eva sudah ada di rumah. Bilang sama Kak Deswita Eva minta maaf telah merepotkan. Eva tutup dulu ya Kak! Assalamualaikum..." Adeeva Eva menyimpan ponsel dengan wajah muram. Sebenarnya adeeva juga sangat rindu pada kedua orang tuanya. Berhubung dia telah terjebak dalam satu ikatan merah yang tak dapat dihindari maka Adeeva memilih menghindar. Malam ini semuanya akan segera berakhir dan Adeeva akan menjadi orang merdeka.
Satria yang ikut menguping pembicaraan Adeeva merasa takjub dengan kehidupan gadis ini. Dari obrolan singkat Adeeva dengan Farhan dapat disimpulkan bahwa Adeeva melarikan diri dari keluarga. Sungguh gadis yang sangat menarik hati.
"Kau kabur dari rumah?" tanya Satria hati-hati.
Adeeva tersenyum menunjuk hidung sendiri lalu menggeleng.
"Mereka tahu di mana aku kok. Aku tidak pernah pindah dari tempat kontrakan yang mereka cari untuk aku. Kalau mereka ingin mencari aku gampang saja. Aku bekerja di salah satu perusahaan sebagai perancang sistem perusahaan. Mereka saja yang tidak mau menemui aku."
"Kau bertengkar dengan keluarga kamu?"
"Ya nggaklah! Kalau bertengkar tak mungkinlah aku berani menelepon nih Abangku. Aku cuma menghindari sesuatu yang sangat pribadi. Tapi tidak melanggar hukum loh!"
"Seorang anak gadis seharusnya tinggal bersama keluarga di rumah. Sebaiknya kamu pulang ke rumah orang tuamu dan minta maaf kalau kau memang bersalah!"
"Besok aku akan pulang kok! Tetapi aku masih tetap bekerja di perusahaan aku sekarang. Besok siang setelah jumpa orang tua aku akan langsung balik ke kota B untuk bekerja seperti biasa."
"Kau pulang pergi sendirian?"
"Ya.."
"Ingat isi bahan bakar jangan sampai terjadi kejadian hari ini! Atau begini saja besok sekitar jam 04.00 sore aku juga akan balik ke kota B. Bagaimana kalau kita berangkat bareng-bareng?"
Mata Adeeva kontan berbinar dapat teman seperjalanan. Tentu saja dengan cepat Adeeva mengangguk setuju. Ini lebih baik ketimbang jalan sendirian.
"Ini nomor kontak aku mas! Besok aku yang akan menghubungi Mas kalau sudah selesai dengan keluarga. Mas harus percaya kalau aku dan keluarga tidak bertengkar ataupun bermusuhan. Cuma kadang orang tua terlalu memaksa kehendak sehingga membuat kita merasa ilfil. Daripada tiap hari kita harus berdebat mulut lebih baik kita menghindar." Adeeva memberi nomor kontak pada Satria dan sebaliknya.
Gadis bertubuh subur pemilik warung mengantar dua gelas minuman. Asap mengempul dari dua cangkir minuman yang berbeda itu. Satu berwarna hitam pekat dan satunya lagi berwarna coklat muda. Bau haruman kopi mengalahkan bau harum teh yang hanya tercium samar-samar.
"Terima kasih..." kata Adeeva pada gadis bertubuh subur itu.
"Kalian mau cari penginapan?" tanya gadis subur itu.
"Tidak...mobil kami mogok! Tunggu montir. Emang kedai ini ada penginapan?" Adeeva balik tanya karena kedai ini kecil.
Gadis itu tertawa perlihatkan barisan gigi rapi. Daya tarik alami.
"Ada di belakang. Cukup lah untuk nginap semalam. Murah kok! Ranjang kuat untuk dua orang."
"Nggak usah nona...rumah kami sudah dekat kok! Dan lagi aku tidak bisa sembarangan tidur di kasur bekas orang. Alergi." Satria mematahkan tawaran yang menjurus ke hal negatif. Mungkin gadis itu pikir Satria dan Adeeva pasangan cari hiburan sesaat. Mata Satria memancarkan sinar tajam tak usah cara wanita itu memandang Adeeva.
"Oh gitu ya! Silahkan minum kopinya!" gadis itu ngeloyor pergi.
"Ayo cepat minum! Mungkin rekan aku sudah balik. Aku tak nyaman di sini."
"Idem...aku pingin buang air jadi batal."
"Jangan di sini! Nanti di pom bahan bakar saja. Tahan sebentar."
"Iya mas..." Adeeva menyeruput minuman panas itu seteguk demi seteguk karena masih panas.
Satria lakukan hal sama terhadap kopi hidangan pemilik warung. Dari kiri kanan terdengar bisikan memuji keindahan tubuh Adeeva yang sangat ideal. Tinggi tanpa lemak bergelambir. Ditambah wajah cantik bikin Adeeva makin menarik. Sayang gadis ini sudah ada pengawal pribadi. Coba kalau Adeeva sendirian kumbang-kumbang jantan pasti sudah berdengung di sekitar Adeeva.
__ADS_1