Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Kecurangan


__ADS_3

Adeeva menemukan Ezra sedang bicara dengan pak Dirwan. Adeeva tak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh kedua lelaki itu. Intinya tentu tak jauh dari masalah perusahaan.


Pak Dirwan agak kaget melihat kehadiran Adeeva di antara mereka. Karyawan yang paling sering dibully telah hadir dengan kedudukan sudah berbeda. Pak Dirwan harus menyebut Adeeva dengan panggilan apa dalam suasana resmi begini.


Adeeva tersenyum melihat Pak Dirwan agak sungkan kepadanya padahal Adeeva tidak ingin ungkit yang sudah berlalu.


"Lanjutkan obrolan! Jangan peduli aku!" Adeeva memilih duduk santai di sofa biarkan kedua lelaki itu lanjut diskusi.


"Kau harus tahu sayang! Ini mengenai produk yang kita jual. Banyak stok ketinggalan model akibat ada orderan ganda." ucap Ezra sengaja gunakan kata sayang agar Dirwan tahu Adeeva orang penting.


Adeeva tertegun dapat laporan Ezra. Mengapa bisa ada kasus ini? Barang komputer terusan ada inovasi baru. Pesan barang tak boleh dalam partai besar. Akibatnya akan menumpuk stok lama takkan laku di pasaran lagi.


"Siapa yang order?" tanya Adeeva mulai tertarik.


"Dari pusat. Dua hari lalu dikirim satu kontainer ke sini. Kami bingung pasarkan." jawab Pak Dirwan spontan. Pak Dirwan rasakan aura Adeeva sangat berbeda dari yang dulu. Anak ini lebih matang tidak grasa grusu seperti dulu.


"Aku akan cek seberapa banyak stok! Sekarang terpenting kita up grade ke windows tertinggi dulu. Orang-orang pasti akan melirik bila kita telah naikkan ke windows 11. Kita tarik modal saja asal jangan rugi. Aku akan tangani hal ini. Di sini kupercayakan pada tim pada Judika. Di pusat aku akan handel sendiri. Dan aku akan pecat orang yang order barang ini melebihi target. Tak ada pengecualian." tegas Adeeva memulai kiprah dalam perusahaan.


Ezra mengangguk setuju rencana Adeeva. Soal perangkat Ezra percaya kemampuan Adeeva. Gadis pasti punya cara salurkan barang yang sangat dia dalami.


"Aku percaya. Aku akan laksanakan sesuai permintaan Bu Adeeva. Aku menanti kebijaksanaan Bu Adeeva."


Adeeva mau ketawa di depan namanya muncul satu panggilan Bu. Panggilan yang bikin rambut cepat memutih. Adeeva belum mau dianggap orang tua agak jengah dipanggil ibu.


"Pak Dirwan tak usah panggil aku ibu. Aku merasa umurku seabad. Tetap Adeeva saja. Untuk hal ini kita tangani bersama. Aku akan beri link pada pak Judika untuk up grade semua perangkat kita. Untuk yang lain tetap ikuti jalur awal."


"Iya Adeeva..."


Ezra salut pada Adeeva tangani masalah. Santun optimis. Dia tidak salah angkat Adeeva untuk gantiin dia jadi pemimpin. Gadis ini mampu.


"Kalau gitu aku permisi." Pak Dirwan mengundurkan diri dari ruang kerja Ezra.


Tinggal Ezra dan Adeeva saling menatap. Masih ada tersimpan sisa bara kesal di mata Adeeva namun dia harus turunkan rasa ego demi seluruh karyawan perusahaan.


"Ada pergerakan pak Jul." kata Adeeva tiba-tiba.


"Apa maunya?"


"Renata hamil anak pak Jul. Renata akan jebak kamu untuk tidur dengannya agar anak itu diakui anak kamu. Pak Jul mau anaknya jadi penguasa Dilangit kelak."


Ezra tidak terlalu kaget dengar berita ini. Dari dulu memang itu rencana para selir di rumah. Jebak Ezra agar punya anak. Sayang Ezra sangat hati-hati tidak mau terjebak.


"Kamu tak boleh pulang ke rumah. Dan lagi mama kamu ikutan dalam hal ini. Mereka kekurangan dana sekarang karena duit mereka telah kamu sita. Mereka pasti akan gunakan segala cara kotor cairkan uang dari perusahaan. Aku akan putuskan kontrak kerja yang ditangani pak Jul. Soalnya semua uang masuk ke rekening pribadi dia. Dia ada rekening baru cuma belum bisa kubuka karena dia tak gunakan nomor biasa lakukan transaksi. Kita harus lacak nomor rekening barunya." ujar Adeeva serius.


Ezra benar salut pada Adeeva. Dalam kondisi sedang perang dia masih memikirkan nasib perusahaan. Ezra hilang semua kesombongan bila bersama anak ini. Adeeva masih muda tapi otaknya benar-benar bisa diandalkan.


"Kau pemimpin terserah kamu ambil kebijakan apa! Sekarang kita pulang ya! Aku agak kurang sehat. Badanku agak meriang." Ezra gerakan tangan tunjukkan dia sedang pegel. Laki ini putar badan kiri kanan cari posisi nyaman untuk melegakan tubuh kaku.


"Di martil saja janin lurus. Tunggu sini saja! Aku mau beri pengarahan pada pak Judika handel masalah perangkat."


"Bukan lurus Miss melainkan tewas! Baru kali ini ada istri ngasih usul supaya suami cepat mati."


"Masih untung cuma usul. Belum pelaksanaan." omel Adeeva melangkah keluar cari Judika cs. Katanya kurang kerjaan sekarang Adeeva ngasih pekerjaan segunung biar puas.

__ADS_1


Ezra merasa telah tua dibanding dengan gadis energik model Adeeva. Cepat tanggap dan langsung punya solusi. Ezra mau tahu cara Adeeva pasarkan perangkat model lama ini. Semoga gadis ini punya jurus jitu bantu lempar barang ini ke pasaran.


Ezra bisa berbuat apa-apa selain menunggu kehadiran Adeeva. Laki ini bayangkan betapa sepi hidupnya tanpa suara Adeeva. Berpisah beberapa saat saja menutup cahaya di kepala Ezra. Maka itulah Ezra memilih ngalah asal Adeeva mau di sampingnya.


Ponsel Ezra berbunyi. Laki ini melirik layar ponsel cari tahu siapa lakukan panggilan. Ezra menghela nafas. Panggilan dari mamanya. Ezra mau tahu apa yang akan dibahas mamanya.


"Halo...ada apa?"


"Ya ampun Hakim...kau masih waras tidak nak?"


"Maksud mama?"


"Bagaimana mungkin perusahaan segitu besar kau serahkan pada seorang wanita muda. Adeeva bisa apa? Jual tampang atau jual diri? Mama tak mau tahu. Kau harus ambil kembali perusahaan papa kamu. Dan lagi seenak perut dia mau mutasi om dan saudara kamu. Kau pikir om kamu tidak sumbang pikiran untuk perusahaan? Dia bekerja keras untuk perusahaan. Dia sedih tahu akan dimutasi."


"Ma... Adeeva telah sah jadi pemilik perusahaan karena aku yang salah telah berkhianat darinya. Aku berikan semua untuk tebus rasa bersalah aku! Dia anak pintar tahu bagaimana atur perusahaan. Dia bukan sembarangan mutasi tapi berdasarkan kemampuan. Bukankah aku sudah pernah bilang pada mama kalau aku rela miskin asal ada Adeeva di sisi aku. Adeeva orang bijak pasti akan atur posisi baru untuk setiap pegawai. Dia generasi muda penuh ide kreatif."


"Hakim...om Jul malu diturunkan jabatan! Dia Pilih resign bila kau tidak pertahankan dia di posisi wakil kamu."


"Bukan wakil aku tapi wakil Adeeva. Dia bos baru sekarang. Asal mama tahu ya! Om Jul cukup banyak merugikan perusahaan. Teken kerjasama dengan orang tanpa sepengetahuan saya dan uangnya semua mengalir ke kantongnya. Hasil tambang semua dia tilep. Maka itu perusahaan agak goyah akibat korupsi berjemaah. Aku punya bukti kecurangan om Jul. Adeeva akan hentikan semua bentuk kerjasama tanpa sepengetahuan kami."


"Itu sama saja kau antar om kamu ke penjara."


"Lalu bagaimana nasib perusahaan? Apa mama pernah pikir bagaimana macetnya perusahaan akibat ulah adikmu itu? Semua saudara mama korupsi. Asal mama tahu kas perusahaan kosong. Ezra tak tahu ke mana om Jul bawa uang itu? Ezra akan selidiki ke mana raibnya sana segar perusahaan. Yang mesti masuk penjara ya harus masuk."


Bu Humaira terdiam belang keluarganya mulai terbongkar oleh Ezra. Bu Humaira pikir hilang uang seratus dua ratus milyar takkan pengaruhi keuangan perusahaan. Siapa sangka bawa dampak negatif.


"Hakim...tambang kamu begitu besar masak tak hasilkan uang?"


"Ada hasilkan uang tapi uang itu masuk ke kantong saudara mama. Mereka teken kontrak kerja tanpa sepengetahuan saya. Uangnya ya milik saudara mama. Apa aku harus lanjutkan kerja sama merugikan ini? Biaya operasional dari perusahaan tapi hasilnya masuk ke saku om Jul. Apa perusahaan tidak akan mati?" bentak Ezra dengan nada tinggi mulai hilang kesabaran terhadap wanita yang dia anggap mama.


"Maaf...itu hak Adeeva! Aku tak berhak ikut campur kebijakan dia."


"Kamu di mana nak? Pulanglah! Kita bicara di rumah. Mama tunggu kamu! Tak usah ajak Adeeva dulu. Dia orang luar tak boleh campur urusan keluarga kita."


"Adeeva bukan orang luar! Dia itu isteri aku. Sekarang aku di luar kota tangani masalah perangkat yang diimpor terlalu banyak. Ini akan jadi ramai. Aku mau tahu apa motif impor perangkat model lama segitu banyak. Kalau ketahuan ada trik aku akan bunuh orang itu."


"Jangan gegabah Hakim!"


"Ini pasti ulah keponakan mama mau cari fee banyak maka impor perangkat murah. Kita tunggu saja gebrakan Adeeva."


Bu Humaira makin terpojok. Segitu banyak masalah ditimbulkan oleh keluarganya pada Ezra. Pantesan Ezra bisa marah karena sudah kelewat batas.


"Apa perusahaan banyak rugi?" tanya Bu Humaira pelan.


"Yang pasti puluhan milyar. Mama diam saja di rumah tak usah ikut campur. Aku tak bisa berbuat apa-apa bila Adeeva lakukan pembersihan perusahaan. Dan lagi kuharap mama bujuk para wanita di istana untuk keluar cari kebebasan. Di sini aku punya sedikit uang untuk kompensasi. Aku bisa jual beberapa mobil dan apartemen untuk mereka."


"Baiklah! Tapi kamu pulang ya! Pulang sendiri."


"Akan kuusahakan. Soal perusahaan mama tak usah ikut campur. Kita lihat saja kebijakan Adeeva selamatkan perusahaan."


"Tapi jangan abaikan om kamu! Dia kan sudah lama di perusahaan."


"Lama di perusahaan untuk mencuri uang perusahaan? Berapa tahun dia hidup gelimang harta hasil korupsi. Semua orang harus bayar kesalahannya."

__ADS_1


"Hakim... lihat wajah mama ya! Mama mohon jangan keras pada om dan saudara kamu!"


"Maaf ma! Sekarang bukan aku yang bicara tapi Adeeva." tegas Ezra tak beri harapan indah pada Bu Humaira. Lebih baik dia telan pil pahit duluan ketimbang dapat janji manis. Takutnya kelewat manis jadi diabetes.


"Ya sudah. Mama tunggu kamu."


"Aku akan usaha." Ezra menutup ponsel tanpa rasa iba.


Ezra yakin Bu Humaira bukan tak tahu semua permainan saudaranya. Mereka sudah terlalu nyaman kuras perusahaan sampai lupa daratan suatu saat semua akan terbongkar. Tuhan maha adil kirim seorang malaikat tanpa sayap bantu Ezra. Sayang Ezra tidak pandai ambil hati sang malaikat.


Tak lama Ezra memutuskan hubungan telepon dengan Bu Humaira Adeeva muncul dengan wajah serius. Tampaknya gadis ini telah menemukan sesuatu dalam masalah perangkat ini.


Adeeva menghempas badan ke sofa dengan wajah penuh tekanan. Ezra menangkap angin tak baik dari tingkah Adeeva. Ezra mulai hafal kelakuan anak ini bila ada masalah. Dia takkan bisa tenang.


"Ada apa?"


"Kamu ini gimana sih? Impor barang tak periksa barang gimana? Spek perangkat cukup mumpuni tapi semua terserang virus. Kita bukan hanya sekedar up grade windows tapi harus singkirkan virus di perangkat. Kurasa barang ini dibeli dengan harga miring tapi di situ tercatat harga normal. Ini artinya pemalsuan data. Kita harus tangani hal ini secepatnya. Sekarang juga kita pulang biar aku bisa cari virus jenis apa. Aku akan usahakan singkirkan virus tersebut cuma kita butuh tenaga ekstra."


"Demikian parah kah?"


"Ya ampun tuan Takur! Perangkat tak bisa berfungsi normal apa tidak parah? Kalau sudah bersih kita bisa Raup Untung. Kita sale sesuai harga jadi kita takkan rugi. Yang di gudang sini sudah kuserahkan pada pak Judika."


"Besok saja kita pulang. Aku benar tak enak badan."


"Yakin kurang sehat? Apa bukan kangen pada rubah merah atau ular mahal."


Itulah wanita! Sekali berbuat salah seumur hidup akan bawa cerita itu di bawah bibir. Sedikit-sedikit ingatkan kesalahan Ezra.


"Pulang juga boleh! Tapi aku memang kurang sehat. Kamu yang nyetir." Ezra malas berdebat yakin takkan menang lawan lidah tajam Adeeva.


Giliran Adeeva termangu. Ezra sudah perlihatkan bendera putih tanda takluk. Ezra tak ubah singa tanpa taring. Tak garang seperti dulu lagi. Adeeva kok merasa kehilangan sesuatu dari diri Ezra. Pamor wibawa laki itu seolah luntur akibat kena skandal Sonya.


"Iya kita nginap!" Adeeva mengalah takut laki ini terjadi sesuatu. Tewas nanti dibilang pembunuhan berencana. Adeeva baru diangkat jadi CEO Ezra sudah tewas.


"Terima kasih Miss. Kita pulang ya!"


Adeeva jadi tak tega lihat Ezra kuyu. Kasihan juga lihat laki ini makin tak berdaya sejak timbul skandal besar.


"Kita ke dokter?"


"Tak usah. Cari obat pereda demam saja!"


"Mana boleh gitu! Kita periksa dulu. Siapa tahu demam malarindu."


"Itu kata kamu! Ada saja ocehan tak jelas." gumam Ezra tak jelas.


Adeeva mengajak Ezra keluar dari kantor menuju ke rumah sakit. Suka tidak suka laki ini harus diperiksa. Adeeva tak mau ambil resiko rawat laki ini kalau terlanjur parah.


Adeeva sudah pernah rawat Ezra sewaktu dia buta. Cukup bikin repot maka Adeeva tak mau terjadi sekali lagi.


"Tidak perlu ke rumah sakit Ade...cukup istirahat saja!" Ezra bersikeras tak mau dirawat di rumah sakit. Ezra hanya merasa butuh istirahat agar pulihkan stamina. Akhir-akhir ini dia kurang istirahat karena pikirkan Adeeva serta cari cewek ini. Sudah ketemu malah merasa sangat lelah.


"Bapak yakin?"

__ADS_1


Ezra mengangguk pingin tidur sebentar di rumah. Adeeva terpaksa ikuti keinginan Ezra walau dalam hati menentang.


__ADS_2