
Adeeva dengan ogahan naik ke lantai atas untuk mulai debut jadi asisten pribadi Ezra. Langkah Adeeva berat dibawa berjalan menuju ke ruang bos yang full AC dingin. Ruang Ezra diberi bebauan mints menyegarkan otak di kala mumet mikirin kerja satu gunung.
Belum capai ruang Ezra langkah Adeeva dihentikan makhluk paling menyebalkan seantero bumi. Nona Celine si plagiat tugas.
Adeeva membungkukkan badan sembilan puluh derajat hormati Celine. Adeeva sengaja lakukan hal ini untuk halau kegalauan yang telah merajai hati.
"Selamat pagi Bu Ce Li Ne..."
Mata berbulu mata palsu itu mendelik. Tak bosan-bosan Adeeva menggodanya pakai cara panggilan norak. Celine sudah bosan ingatkan Adeeva untuk memanggilnya Selin.
"Kau mulai kerja?" tanya Celine angkuh angkat kepala mau menyaingi plafon.
"Tiap hari juga kerja Bu! Cuma pindah meja doang! Kalau ibu suka boleh gabung di ruang pak Ezra. Aku suka keramaian. Ngeri bersama pak Ezra berduaan. Takut ada pihak ketiga ikut campur tangan." kata Adeeva serius.
Celine ikutan serius anggap perkataan Adeeva mengandung kebenaran. Tidak baik seorang Aspri cewek berada satu ruang cuma berduaan.
"Lalu apa yang harus kulakukan bantu kamu?"
"Ibu gantiin aku jadi Aspri! Atau ibu minta pindah ke ruang pak Ezra juga. Ruangnya gede kok! Tambah dua orang lagi juga muat. Enak kita beramai-ramai"
"Ok..kita ijin pada pak Ezra! Ternyata kamu tidak menyebalkan. Masih ada akal sehat lihat siapa yang pantas duduk di samping pak Ezra." Celine mencolek dagu Adeeva yang jauh di atas Celine.
Adeeva terkekeh senang Celine mau bekerjasama masuk jadi Aspri Ezra. Ditolak sekali bukan masalah. Itu bukan jawaban buat seorang berpendirian gigih macam Celine. Ditolak Ezra sepuluh kali sebelas kali dia akan mencoba lagi. Pantang mundur demi bos Ezra.
Adeeva menggandeng Celine masuk ke ruang Ezra. Sebelumnya Adeeva ketok pintu ruang Ezra sebagai tanda dia manusia penganut nilai Pancasila. Adeeva ambil contoh sila kedua kemanusiaan yang adil dan beradab.
Tok tok bunyi ketokan pintu ruang Ezra.
"Masuk..." terdengar sahutan dari dalam.
Adeeva acung jempol tanda ok. Celine tersenyum senang Adeeva membantunya berjuang menjadi Aspri Ezra. Posisi impian para karyawan wanita. Hanya orang punya kelainan jiwa akan menolak posisi keren ini.
Celine duluan masuk disusul Adeeva yang menyembul dari belakang. Postur tubuh Celine tak dapat menutupi Adeeva yang jelas lebih tinggi dari Celine.
Mata Ezra menyipit tatkala dua wanita masuk ke ruangnya. Dia cuma perlu satu Aspri mengapa muncul dua. Satunya tidak masuk daftar keinginan Ezra. Ezra hanya ingin Adeeva jadi Aspri karena gadis itu misterius mengacaukan barisan isteri Ezra.
"Nona Celine? Ada laporan?" tanya Ezra seraya menutup laptop beri perhatian pada dua wanita di depannya.
"Begini pak! Aku harap bisa membantu bapak selama berada di kantor cabang ini. Adeeva juga minta bantuan aku agar menjadi Aspri bapak. Adeeva takkan sanggup kerjakan semua tugas. Adeeva itu kasar, kerja semrawut." kata Celine sok manis.
Adeeva merepet kesal pada Celine walau cuma bisa berdengung dalam hati. Tangan Adeeva sudah gatal pingin garuk wajah kinclong Celine. Celine disuruh kerja di ruang pak Ezra bukan untuk jelekkan Adeeva. Ini malah tega gambar Adeeva sebagai sosok buruk.
"Nona Celine, aku ajak Adeeva kerja di sini untuk selesaikan pekerjaan yang kau tinggalkan. Aku lebih cocok bekerjasama dengan anak tomboi yang urakan. Nakal, tak tahu adat suka melawan." ujar Ezra santai tanpa menjaga perasaan Adeeva.
Adeeva merasa kerongkongan tersedak biji kedondong. Sakit juga gatal. Baru saja dia dijelekkan oleh Celine kini Ezra menambah daftar buruk kelakuannya. Sudah tahu Adeeva punya catatan rekor jelek mengapa masih mau ajak dia jadi Aspri. Mau cari masalah atau sengaja hukum Adeeva pakai cara halus.
Adeeva mencatat kelancangan mulut dua makhluk ciptaan Tuhan di depannya. Suatu saat mereka akan dapat balasan setimpal. Adeeva pasti balas dengan caranya.
"Nah bapak tahu sifat buruk Adeeva. Satu kantor tahu anak ini pengacau. Tiap hari bikin kesal senior. Aku akan bekerja jauh lebih baik darinya pak!" janji Celine makin dekat ke meja Ezra.
__ADS_1
Adeeva berdoa semoga Tuhan itu maha pemurah buka hati Ezra terima manager genit si Celine jadi Aspri. Adeeva akan puasa sehari kalau Celine berhasil rayu Ezra.
"Baik...aku mau tanya kau bisa handle rangkai sistim pengamanan seluruh perusahaan pusat dan cabangnya? Kalau kau mampu boleh duduk di sini. Dan kuda poni ini boleh kembali ke divisinya."
Celine terdiam kena pukulan mental dari Ezra. Dia hanya seorang sarjana lulusan manajemen bagaimana bisa handle sistim keamanan kantor. Itu tugas sarjana lulusan IT.
"Begini pak! Aku akan kerjakan semua sistim dan Bu Celine yang duduk sini jadi Aspri. Aku akan handle sistim pengamanan. Apa bapak tidak malu punya Aspri burik macam aku! Dibawa ke tempat umum bapak akan malu." Adeeva gencar promosi keburukannya. Apa saja Adeeva lakoni untuk terbebas dari jeratan sebagai Aspri.
"Aku hanya perlu kamu untuk pekerjaan bukan mau nikahi kamu. Isteriku sepuluh lebih cantik dari kamu. Aku malah takut kamu nggak laku. Siapa mau cewek tomboi macam kamu!" ujar Ezra jatuhkan mental Adeeva agar jangan sok penting.
Celine senang banget Ezra mengecilkan nilai Adeeva. Ternyata bosnya memang tak suka pada Adeeva. Ajak Adeeva kerja hanya karena perlu kepintaran gadis itu.
"Yaelah pak! Nggak nyumpahi aku nggak laku! Banyak kok yang mau sama aku! Akunya belum mau pacaran. Yang ngantri mau jadi pacarku dari pintu gerbang sampai tempat rak sepatu." Adeeva tak mau harga dirinya di banting Ezra. Dasar bos songong. Urusan pacar orang dibawa ke kantor.
"Kok sampai rak sepatu?" giliran Ezra bingung dengar antrian cowok Adeeva. Ezra percaya pasti banyak yang naksir gadis ini. Selain cantik otaknya juga licin.
"Aduh pak! Rak sepatu aku di luar kontrakan. Cukup berhenti di luar. Kalau lewat pintu artinya sudah kuterima dong!"
Lagi-lagi Adeeva kasih jawaban konyol bikin kepala Ezra puyeng. Mengapa di dunia ini gadis secuek Adeeva. Bandel tak bisa diatur. Bagaimana lah nasib pernikahan mereka. Sanggupkah Ezra mengatur kuda poni liar ini jadi kuda poni manis.
"Pusing aku! Nona Celine silahkan kembali tugas. Aku akan panggil bila dibutuhkan. Dan kau mulai pelajari sistim lama Perusahaanku. Dari mana kau mau mulai?" Ezra tak peduli pada Celine lagi. Dia harus perbaiki seluruh pengamanan data di perusahaan agar tidak terjadi kebocoran.
"Aku lihat dulu skema sistim lama. Kalau sudah bagus tinggal kita perkuat saja. Bolehkah aku minta datanya?"
Ezra sudah hafal sifat Adeeva. Bila sudah masuk ke topik kerja dia akan serius. Ezra sudah siapkan data tanpa bawa nama perusahaan. Kalau dia buka nama perusahaan otomatis Adeeva akan tahu itu perusahaan Dilangit. Rahasianya sebagai suami Adeeva akan terbongkar. Ezra masih perlu menyelidiki tujuan Adeeva menikah dengannya lalu kabur.
Foto pacar dijadikan penyemangat kerja, di tempat lain sang pacar sedang asyik selingkuh. Foto orang demikian bagusnya disimpan di tong sampah. Tempat sesuai bagi pengkhianat.
Dalam ruangan Ezra dan Adeeva tidak saling berkomunikasi. Adeeva serius pelajari sistim satu perusahaan tanpa kop nama perusahaan. Adeeva heran mengapa perusahaan Ezra tidak ada nama namun Adeeva bukan orang usil mau tahu semuanya. Peduli amat apa nama perusahaan Ezra. Mau nama Bangkrut Melulu atau Untung Melulu bukan urusan Adeeva. Tugas Adeeva hanya masuk di keamanan perusahaan.
Sekali-kali Ezra melempar pandangan ke arah Adeeva lihat apa yang dikerjakan anak itu. Tak ada yang aneh, anak itu serius pelajari semua data yang diberi Ezra. Kadang kening licinnya berkerut mirip jeruk purut. Pulpen di tangan jadi barang mainan paling aktif. Sekali benda itu disangkutkan ke daun telinga, sekali dijepit bibir di bawah hidung. Ada saja ulah Adeeva pancing senyum Ezra.
"Gila .." seru Adeeva tiba-tiba membuat Ezra kaget. Tiada badai tiada angin gadis ini mengeluarkan kata gila. Siapa yang gila. Ezra yang gila pekerjakan gadis urakan yang notabene isteri ke enamnya?
"Jaga mulut gadis muda! Ini kantor bukan tempat preman."
"Mulut kok dijaga! Nggak kabur dia! Yang edan sistem keamanan di perusahaan bapak. Siapa sih yang merancang sistem keamanan ini?"
Ezra tertarik pada ocehan Adeeva kali ini. Sudah dia duga ada yang tak beres pada sistim perusahaan. Semuanya dirancang oleh adik mamanya yang bekerja sebagai direktur di perusahaan.
"Apa maksudmu?"
"Bapak ini betul pemilik perusahaan? Ini ada satu akun terkunci rapat. Kayaknya dia pemilik asli perusahaan. Keamanannya berlapis dan rumit. Ayok bapak sini! Mungkin bapak kenal akun ini." seenak perut Adeeva memerintah Ezra datang padanya. Bukan dia yang datang pada bos.
Ezra terpaksa ringankan kaki berjalan ke tempat Adeeva yang tak jauh dari tempat duduknya. Dua langkah saja Ezra sudah berada di samping gadis urakan ini. Di layar monitor memang terpapang satu akun tapi tanpa pasword.
Di situ tercantum tulisan Ginanjar@.....com. Ezra segera tahu itu nama adik mamanya. Mengapa ada akun pribadi di dalam sistim perusahaan. Padahal di semua sistim tercantum divisi masing-masing sesuai dengan bidang perusahaan.
"Kau bisa jebol akun ini?" tanya Ezra dekatkan wajah ke kuping Adeeva. Ezra sengaja hembuskan nafas panas untuk pancing reaksi gadis ini. Kalau Adeeva tidak open artinya dia sudah sering dekatan dengan cowok. Gimanapun Ezra tak suka wanitanya punya kelakuan minus. Tidak cinta namun harus menjaga.
__ADS_1
Adeeva menutup sebelah wajahnya gunakan sebelah tangan. Satu tangan masih sibuk dengan mouse klik part penting dari akun bermasalah ini.
"Pak...biarkan aku cari kuncinya! Bapak duduk sana deh! Aku tak suka bau rokok!"
Ezra tersenyum Adeeva peka terhadap pancingan Ezra. Adeeva bukan orang tolol tak tahu bosnya sedang menggoda dia. Dasar bos mesum. Dia pikir semua cewek bakal suka pada pria tajir. Adeeva paling benci pria gatal suka obral nafsu.
"Oh... silahkan! Usahakan kerja maksimal!" Ezra membebaskan Adeeva dari suasana canggung. Gadis ini tampak jelas sekali tidak nyaman berada dekat dengan Ezra.
"Emang balap motor GP pake maksimal segala." ngedumel Adeeva pelan takut di dengar Ezra. Bosnya ini punya telinga super bionik. Suara Adeeva halus saja tertangkap kupingnya.
"Ngomel dalam hati. Jangan diperdengarkan!"
Adeeva terbelalak kaget suara sekecil ini masih terdengar oleh bos mesumnya. Hobi nyeletuk spontan harus dihilangkan dari kebiasaan Adeeva. Punya bos punya telinga super bionik menyusahkan gadis ini membuang rasa kesal.
"Kuping kalong..."
"Masih terdengar.." seru Ezra dari mejanya. Adeeva memilin bibir erat agar keluarkan suara lagi. Kebiasaan nyeletuk menyusahkan gadis ini. Padahal Adeeva lebih senang ngomel sendiri agar tak tersimpan amarah dalam dada. Sudah dikeluarin plong tak tersimpan ganjalan.
"Siapa sih nih orang?" Adeeva mengerjit alis lihat notifikasi akun ini. Tiap Minggu ada transaksi dalam jumlah besar.
"Apa?" Ezra menyahuti gumaman Adeeva.
"Aku curiga orang ini yang punya perusahaan. Bukan bapak. Lihat ini! Setiap hari Senin dia ada masuk fulus sampai ratusan juta. Malam Minggu ada pengeluaran puluhan juta. Tajir amat nih makhluk."
Ezra tinggalkan kursinya berpindah pada meja Adeeva. Mata Ezra tertancap pada layar monitor komputer Adeeva. Deretan panjang transaksi dari pemberitahuan layanan bank tertera jelas di layar. Ezra merasa tubuhnya lemas mendapatkan kenyataan menyakitkan. Om yang selama ini dia anggap lelaki baik membantunya di perusahaan ternyata hanyalah lintah pengisap darah.
"Kau bisa masuk lebih jauh? Misalnya saldo duitnya?"
"Bisa tapi harus ada nomor ponsel yang dia daftar di bank. Bapak kenapa? Ada yang salah dengan akun yang satu ini?"
"Menurutmu?"
"Cuma ada dua kemungkinan. Satu dialah CEO asli dan kedua dia itu tikus pengerat."
"Analisa kamu?"
Adeeva bangkit dari kursi berdiri menaksir Ezra dari atas hingga bawah. Adeeva sedang analisa siapa yang lebih pantas jadi pemilik perusahaan. Orang bernama Ginanjar atau bos mesum.
"Dia tikus..." Adeeva beri jawaban melegakan Ezra. Artinya Adeeva punya mata cukup jeli untuk menilai seseorang.
"Dari mana kau ambil kesimpulan ini?"
"Pertama bapak ingin aku ganti semua sistim pengamanan artinya bapak sudah menangkap ada kecurangan. Kedua tidak mungkin uang masuk tepat waktu secara rutin. Pemasukan dan pengeluaran perusahaan tak bisa dijadwalkan."
"Bagus...tak kusangka otakmu masih waras. Kupikir otakmu hanya diisi bagaimana melawan bos? Aku akan berikan nomor ponsel orang ini. Kuberi waktu satu hari untuk bobol akun orang ini."
"Satu hari cuma untuk ini? Ok.. siap pak! Kalau sampai sekian belum ada kerja aku kembali ke divisi aku ya! Di sana banyak tugas pak! Kasihan teman aku banting otak untuk pekerjaan ini."
"Banting otak? Apa nggak remuk? Omong asalan! Kau kerjakan di sini saja! Aspri kok ngelayapan."
__ADS_1