Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Persaingan


__ADS_3

Ezra dan Ruben salut pada Adeeva tak peduli pada blokiran kartu. Selama ini dia juga tak pernah sentuh kartu-kartu pemberian Ezra. Adeeva takut tenggelam makin dalam dalam kisruh keluarga yang kurang waras ini. Tahta, wanita dan harta jadi topik dalam hidup Ezra.


Adeeva heran mengapa laki ini sanggup bertahan hidup dalam kekacauan ini sampai bertahun-tahun. Belum lagi parasit model Rani numpang hidup di kulit Ezra.


"Aku tak peduli pada semua kartu kalian. Aku hanya tuntut gaji aku saja. Uang halal lebih nikmat. Cepat habiskan makanan biar cepat istirahat! Orang berkebutuhan khusus tak boleh bergadang." Adeeva bangkit dari kursi bawa piring kotor bekas makan dia.


Kalau Ruben punya topi pasti akan diangkat untuk utarakan betapa dia salut pada gadis ini. Tidak termakan oleh rayuan materi. Wanita begini cocok dijadikan teman hidup. Tahu susah cari uang.


"Kau pulanglah! Kau urus segala yang menyangkut para wanita di istana. Jangan biarkan mereka bikin onar! Kepala aku sudah cukup pusing. Mungkin tak perlu ditambah tingkah laku memuakkan daripada wanita di istana." kata Ezra dengan pandangan mata kosong.


Ruben iba juga lihat kondisi abangnya namun dia juga tak punya hak usir wanita di istana. Mereka adalah wanita yang ambil sumpah atas nama agama. Ezra juga tak mungkin lepas tangan biarkan mereka hidup sengsara.


"Bang.. apa rencana selanjutnya? Siapa yang akan pimpin perusahaan?"


"Aku akan pimpin sendiri. Semua dokumen harus disaring oleh Poni baru ke aku. Kalau kau masih ingat aku ini abangmu hindari main kotor. Aku tak segan cincang orang yang bohongi aku!" ancam Ezra tak perasaan. Ezra harus tegas tanpa pilih bulu. Dengan demikian dia baru bisa basmi para pengerat.


"Baik bang! Aku ingat itu! Kita cuma tinggal berdua di dunia ini. Kalau tidak saling menjaga apa kita masih termasuk saudara?"


"Semoga kau ingat kata-kata kamu sendiri! Satu lagi! Jangan bocorkan status Poni untuk keselamatan dia!"


"Sudah beres itu! Setelah abang sehat biarkan dia bebas memilih pasangan hidupnya. Dia itu terlalu muda untuk Abang."


"Nampaknya sudah pingin berlibur ke Raja Ampat ya!"


Kata-kata Ezra buat Ruben meringis. Raja Ampat tempat wisata idaman bagi pencinta traveler. Tapi bukan untuk Ruben. Ruben belum mau dipindahkan ke ujung Indonesia.


"Sedikit-sedikit main ancam! Besok aku jemput ke kantor atau pergi dengan Poni?"


"Jemput...mobil masih di bengkel! Atau kau ambil mobil di rumah bawa sini. Poni juga perlu transportasi."


"Siap pak! Aku permisi dulu! Ingat! Jangan kau tipu si Poni! Dia itu anak baik belum kena radiasi."


"Cerewet dipiara! Besok cepat datang sekalian bawa sarapan."


"Iya...syukur dihajar Poni!" omel Ruben pelan namun ditangkap kuping Ezra. Ezra mencari sesuatu hendak dilempar kepada Ruben namun yang ada hanya piring dan gelas. Ditimpuk ke arah Ruben hanya merusak aset dapurnya. Ezra urungkan niat membalas omelan Ruben dengan berbuat kasar.


Ruben ambil langkah seribu sebelum Ezra makin marah. Mood orang buta tak bisa diperkirakan. Tak ada bagusnya selain kesal panjang.


Sepeninggalan Ruben gadis Ezra datang. Di ruang makan tinggal Ezra masih setia duduk di kursi tanpa ada gerakan berarti. Laki ini tak bisa ke mana-mana tanpa dituntun.


Ezra belum terbiasa dengan kondisi buta maka perlu beradaptasi dengan situasi rumah agar tidak tersandung perabotan. Adeeva sudah pikir akan beli tongkat untuk Ezra agar bisa deteksi benda di depan sebelum melangkah.


"Ruben sudah kabur?" tanya Adeeva seraya mengumpulkan piring kotor untuk dipindahkan ke dapur.


"Kok ngomongnya tak enak? Kenapa dia mesti kabur? Dia kusuruh pulang."


"Oh...sekarang bapak mau kemana? Duduk di ruang tamu atau masuk kamar?"


"Duduk sebentar. Baru siap makan masak langsung tidur. Mau tumpuk penyakit?"


"Nggak ditumpuk sudah ada setumpuk penyakit gerogoti bapak. Apa bapak tak takut penyakit menular yang berbahaya? Sudahi main celupan! Pilih satu dan hidup aman sentosa!" Adeeva sok tua nasehat orang yang lebih banyak makan asam garam dunia.


"Pasti...antar aku pindah dari sini."

__ADS_1


Adeeva meletakkan piring yang sudah dia pegang. Bantu Ezra jadi prioritas agar cepat terbebas dari hidup laki ini. Adeeva tak mau jadi piala pajangan yang akan dipakai kapan perlu.


Ezra sudah duduk rilex di sofa nyaman sedang Adeeva lanjutkan bersihkan dapur agar tampak rapi seperti semula. Meja makan juga dibersihkan tanpa tinggalkan setitik noda. Cara kerja Adeeva tak ubah art profesional. Gadis cantik terdidik baik. Dari segi manapun Adeeva baik.


"Poni...ada yang ketok pintu!" teriak Ezra memanggil Adeeva di dapur.


Adeeva muncul masih dengan tangan penuh busa sabun. Adeeva tak jelas Ezra omong apa. Yang jelas hanya panggilan Poni. Nama panggilan jelek itu selalu bikin Adeeva ilfil. Tapi dia bisa apa. Mulut punyaan Ezra, sesuka hatilah dia panggil


"Ada apa pak?"


"Ada orang ketok pintu. Mungkin itu Don."


"Bagus juga dia datang. Aku bisa keluar cari angin segar. Dia kan bisa jaga bapak!" Adeeva buka pintu dengan riang bayangkan pergi jalan ke bawah cari angin segar. Syukur-syukur kalau Nunik mau datang temani dia ngobrol.


Satu pemandangan tak diharapkan Adeeva terpapang jelas di mata. Sosok berbusana merah cabe datang lagi. Warnanya sama tapi modelnya sudah beda. Yang ini sejenis kain karet ketat tanpa lengan. Di mata Adeeva mirip baju renang.


"Kau...belum kapok juga ya!" bentak Adeeva tidak ramah.


Mata Rani sudah menangkap bayangan Ezra duduk di ruang tamu. Tak ada alasan buat Adeeva singkirkan Rani seketika. Wanita itu sudah melihat keberadaan Ezra.


"Ezra....lihat nih art kamu! Sok belagu larang aku temui kamu!" teriak Rani praktek gaya Tarzan cewek di kota besar.


Adeeva melirik ke arah Ezra menanti reaksi laki itu. Di sini Adeeva tak berani ambil keputusan usir Rani saat itu juga. Salah-salah kena semprot Ezra karena tahu laki itu tidak akan abaikan amanah sahabatnya.


"Biarkan dia masuk!" terdengar suara Ezra bernada datar. Tidak mungkin juga Ezra permalukan Rani di depan Adeeva. Harga diri Rani akan terbanting berkeping.


Rani mendapat angin segera mendorong Adeeva menepi. Adeeva hanya bisa pasrah ijinkan orang yang nyaris bunuh mereka masuk ke dalam bak jenderal menang melawan musuh abadi.


Semua bukan urusan dia tapi dalam lubuk hati Adeeva janji akan beri pelajaran berharga buat Rani atas kebusukan hati mau lenyapkan dia.


Adeeva segera masuk kamar begitu dapur kembali kinclong. Adeeva tak mau jadi cicak di dinding pelototi orang bermesraan. Siapa tahu menjurus ke adegan 30 tahun ke atas. Ezra dan Rani sudah tiga puluhan jadi wajar Adeeva umpamakan kemesraan Rani dan Ezra kisah cinta kalangan orang puber kedua.


Baru saja Adeeva rebahkan diri di atas kasur suara bas Ezra bergema lagi. Panggilan terjelek sedunia mengganggu kuping Adeeva.


"Poni..."


Adeeva menghela nafas sedih akibat kesenangannya terganggu oleh suara berisik Ezra. Anak ini segera jalankan kedua kaki keluar kamar.


"Ada apa pak?"


"Ada ketok pintu lagi!" jawab Ezra dingin. Ingin sekali Adeeva cekik laki itu biar putus pita suara. Di depan Rani dia bicara seakan dia raja atas Adeeva. Main perintah dengan nada tak sedap.


"Ya pak!" Adeeva menyeret sandal jepitnya menuju ke pintu. Maunya di depan pintu pasang tag tak terima tamu.


Pintu terkuak. Lima wajah membosankan nongol lagi. Kali ini Adeeva bertindak ramah sengaja mau panaskan Rani. Adeeva yakin hubungan Rani dengan kelima selir Ezra pasti tidak akur. Saatnya bikin kasus heboh.


"Silahkan masuk ibu-ibu cantik?" kata Adeeva manis.


"Terima kasih nona manis! Tumben ramah?" Dorce mencolek dagu Adeeva senang dapat sambutan ramah dari Aspri Ezra yang luar biasa.


"Siang Rambo, malam hello Kitty! Ayok masuk! Ibu-ibu mau minum apa?" Adeeva berbuat seakan dia telah jinak tidak menggigit lagi.


"Apa saja asal jangan racun!" canda Dorce mulai suka pada Aspri yang dia anggap lucu.

__ADS_1


"Belum terpikir bertapa di penjara! Tunggu ya! Kuambilkan minuman!" Adeeva tinggalkan para selir Ezra dengan Rani dan Ezra.


Ezra membeku tak sangka semua wanita-wanita dekat dengan dirinya berkumpul jadi satu malam ini. Gelagat bakal perang mulut antara mereka. Si nakal Adeeva pasti sedang ngakak lihat kekacauan ini.


"Wow ada Rani si merah! Apa tidak dingin pakai baju kekurangan bahan?" sindir Renata gerah lihat Rani duduk dekat sekali dengan Ezra.


"Kekurangan bahan? Ini model terbaru rancangan designer ternama. Bilang saja iri tak mampu beli baju model ini." sahut Rani melengos lihat reaksi Ezra. Ezra makin muram kesal waktu istirahatnya terganggu. Tadi dia pikir ingin cepat tidur agar besok punya tenaga lawan pengerat di kantor. Tak tahunya muncul nyamuk-nyamuk bising.


Adeeva datang bawa lima gelas sirup warna kekuningan. Tak usah dicicipi susah tahu itu jus jeruk. Gadis ini cuma suguhkan lima gelas khusus untuk selir bosnya. Rani tak dianggap biar tahu diri tak diterima.


"Hei...kok.cuma lima? Punyaan aku mana?" seru Rani menunjuk gelas-gelas di letakkan di depan masing-masing tamu. Tempat Rani dan Ezra kosong.


"Oh maaf bude...aku ini cuma melayani yang menyangkut bos. Dan ibu-ibu ini isteri pak Ezra jadi aku cuma kewajiban layani mereka. Kalau bude mau beli sendiri di mini market di seberang sono." sahut Adeeva ngeloyor pergi tak peduli Rani mengepal tinju ke arahnya.


Kelima selir Ezra tertawa cekikan Rani dikerjain Aspri songong Ezra. Ternyata Adeeva bukan musuh harus ditakuti. Gadis itu cuma lakukan tugas sesuai prosedur.


"Untuk apa kalian datang malam gini?" tanya Ezra flat tanpa ada jiwa.


"Kami datang untuk lihat kondisimu! Kami ingin merawatmu." ujar Michelle penuh perhatian.


"Aku baik saja. Sudah ada Poni rawat aku! Dia bekerja dengan baik. Kalian tak perlu kuatir. Oya...besok aku mau istirahat di villa! Kalian boleh ke sana. Ingat jangan bikin keramaian karena bukan pesta. Aku ingin ketenangan untuk pulihkan kesehatan." ucap Ezra tetap datar.


"Benarkah? Iya...kami pasti datang. Kami jemput kamu mas?" tanya Farah dipenuhi semangat juang 45.


"Tak usah! Poni akan antar aku ke sana! Kalian hati-hati nyetir ke sana. Jika perlu gunakan supir saja."


Kelima wanita ini bak ketiban durian runtuh diperhatikan Ezra. Selama ini jangankan ingatkan, ngomong saja edisi terbatas.


"Ok...kamu akan hati-hati. Tak perlu supir! Kami bisa kok! Aku kan sering bawa mobil rute jauh. Mas tunggu kami di sana. Atau kami duluan pergi bereskan segalanya untuk mas biar nyaman." ucap Soledad bergairah.


"Terserah kalian!"


Kelima wanita ini tentu saja susun rencana masing-masing ingin habiskan malam dingin dalam pelukan Ezra. Mata buta tapi perabotan lain kan tak buta. Tak perlu dituntun bisa cari sasaran tepat.


Rani merasa ruangan rumah Ezra jadi pengap gara diabaikan oleh Ezra. Ezra tentu tak tawarkan liburan padanya karena memang tak ada hak dia ikut liburan keluarga. Dia hanya berstatus sahabat. Bukan siapa-siapa Ezra.


"Ezra...aku datang ya!" pinta Rani sok manja. Tangan Rani melingkar di lengan kokoh Ezra. Ezra diam saja tidak menepis tangan genit yang mulai bergerilya. Kelima selir Ezra menatap iri pada Rani yang berani sentuh Ezra. Mereka paling hanya gandengan tangan tak lebih dari itu. Rani seenak perut sentuh laki mereka. Apa hubungan kedua orang ini?


"Tidak...ini hanya untuk keluarga aku!" tegas Ezra membuat senyum di wajah kelima selir Ezra merekah. Musim semi telah datang hampiri mereka. Bunga di hati Ezra berkembang tebar harum ademkan hati para selir.


Rani merengut tak senang ditolak mentah-mentah di depan para wanita Ezra. Rencana mau memanasi selir-selir Ezra ambyar. Malah dia kena serangan mental.


"Tuh si Poni kok boleh ikut! Dia kan bukan anggota keluarga kamu!"


"Poni itu pengganti mata aku! Di mana ada aku di situ ada dia. Aku yang berhak tentukan siapa boleh berada di samping aku!"


Kelima selir Ezra mulai paham di mana posisi Adeeva. Tangan kanan Ezra yang handal. Dari mana laki itu pungut gadis segagah Adeeva. Mental sekeras baja. Mereka harus baik-baik pada Adeeva kalau mau tahu segala sesuatu tentang Ezra.


"Pecat dia! Aku siap gantiin dia urus kamu. Gadis kecil model dia bisa apa?" usul Rani ingin singkirkan Adeeva. Kini Adeeva dianggap parasit oleh Rani.


"Dia bisa apa? Lebih banyak dari kalian. Dia bisa masak, menyapu dan bisa bantu aku baca dokumen di kantor. Kalian bisa masak?" tukas Ezra angkat derajat Adeeva yang dihempas oleh Rani.


"Ya ampun Ezra...hari gini masih sibuk masak? Yang punya gerai online food bakal gulung tikar. Mau makan apa tinggal pesan. Aku bisa bantu kamu di perusahaan. Dan aku juga bisa hangatkan kamu."

__ADS_1


__ADS_2