
Ezra tak bisa berbuat apa bila Adeeva sudah ungkit kesalahannya. Sekali berbuat salah seumur hidup akan melekat di otak wanita. Bukan terjadi pada Adeeva saja tapi semua wanita yang ada di muka bumi. Asal ribut pasti putar kaset usang sampai kuping pedas.
Ezra per sempit ruang debat mereka pagi ini karena mereka masih harus ikuti rapat penting. Ezra mengalah turun dari mobil dengan gagahnya bikin semua pengunjung warung terkesima terutama para emak dan cewek. Mulut mereka rata-rata terbuka lebar lihat sosok yang temani Adeeva sarapan di sana.
Ezra bukan tak tahu dikagumi para wanita di situ. Pesona Ezra terlalu kuat memeluk hati setiap wanita.
"Ya Allah... pagi-pagi sudah disuguhi pemandangan adem. Warung aku laris manis dah!" keluh ibu warung tak bisa bergerak lagi karena terpesona oleh Ezra.
Adeeva cuek bebek minta Ezra duduk di salah satu bangku yang agak reyot dimakan usia. Ezra ragu duduk di situ takut pantatnya kejepit bangku papannya tidak rata.
"Jangan bikin malu aku ya! Ini daerah jajahan aku!" bisik Adeeva membuat Ezra ciut. Ezra bukan takut pada Adeeva melainkan cara Adeeva bikin malu orang.
"Hei Eva kenalin dong Aak kasep ini!" seru seorang emak memakai baju training super ketat berhubung tubuhnya terikat banyak lemak tak jenuh.
"Betul... betul... siapa tahu kami jodoh!" timpal yang lain.
"Ok...ini Aak Ezra. Aak ini paman Uyut dari kakeknya Abah aku." Adeeva mulai aksi konyolnya.
"Woi bohong...mana kakeknya kakek semuda ini. Tak mau berbagi ya,?" seru emak tadi riuh.
"Nah kalian salah! Ini emang kakek jompo tapi dia sudah operasi plastik di klinik bersalin di kota J." sahut Adeeva lucu disambut tawa riuh para emak. Gurauan Adeeva sudah akrab di kuping mereka. Kapan Adeeva akan bicara serius hanya Tuhan yang tahu.
Ezra mendelik dipermalukan Adeeva. Sejak kapan klinik bersalin ada operasi plastik. Hanya anak ini yang punya akalan bikin malu Ezra.
"Tinggalin buat aku saja ya!"
"Wuih jangan...ini maskot perusahaan kami. Siang dia ganteng sudah malam dia akan kisut tak ubah kakek renta. Aku makan dulu ya! Ada tugas dikit hitung beras dalam gono ada berapa butir."
Adeeva segera makan makanan yang sering dia santap dulu. Sejak pindah ke kota lain kesenangan Adeeva berhenti. Tak urung dia rindu pada kegiatan berada di kota B. Semua serba riang tanpa beban.
Ezra melihat Adeeva makan dengan lahap ikut coba santap nasi pagi sarat dengan sayuran serta telor. Tidak ada daging maupun ayam yang kedengarannya jadi makanan mewah bagi mereka yang hidup sederhana.
Makanannya cukup lezat walau tanpa daging. Sayuran rebus serta sambal sudah cukup menggoyang lidah.
Adeeva melirik Ezra gunakan ekor mata lihat lelaki itu sanggup tidak hidup merakyat. Ezra belum mendapat nilai sempurna karena nasinya tidak habis.
Adeeva tidak berkomentar karena sadar taraf hidup mereka berbeda. Ezra terbiasa hidup di atas tiba-tiba harus mengecap kehidupan kalangan biasa bukan hal gampang.
"Cepat makan! Kita masih harus buru waktu." Ezra ingatkan Adeeva jadwal rapat akan dimulai satu jam mendatang.
Adeeva mengangguk ingat betapa penting pertemuan ini. Ezra takkan mungkin sibuk bila tidak penting. Adeeva tak tahu apa tujuan Ezra suruh dia tampil wakili dia sebagai CEO. Yang penting Adeeva tak boleh bikin malu Dilangit.
Adeeva tuntaskan makan dengan segelas air teh panas. Ezra juga minum teh hangat tanpa tambahan gula itu. Teh pahit untuk melangsingkan tubuh.
"Bu... berapa?" seru Adeeva seperti dulu. Bicara ala tarzan kota pakai nada tertinggi.
"Dua puluh lima ribu." balas Bu warung dengan gaya sama.
"Kok naik Bu? Sepuluh saja ya?" tawar Adeeva seenak dengkul bikin Ezra tersedak. Di mana sih otak gadis ini. Dia piring masih ditawar sepuluh ribu. Ini bukan mau beli nasi tapi rampok pemilik warung.
"Ya boleh..." sahut ibu warung tidak marah malah tertawa.
Ezra ingin sekali garuk kepala tapi takut rambutnya berantakan. Dari rumah sisir bagus dan rapi sampai di warung malah kusut Masai dibuat oleh tingkah laku Adeeva.
__ADS_1
Adeeva bangkit dari kursi reyot ibu warung lalu mengeluarkan beberapa lembar uang warna merah selipkan ke tangan ibu warung.
Ibu warung tersenyum tahu Adeeva beri uang lebih padanya. Mulut tawar sepuluh ribu tapi secara diam-diam berikan puluhan kali lipat dari sepuluh ribu.
"Eva...ini!" ibu warung terharu pada kebaikan Adeeva.
"Simpan Bu...perbaiki bangku ya! Oya kenalkan ini bos aku! Dia bos tempat aku kerja sekarang." Adeeva memperkenalkan Ezra pada ibu warung tanpa merendahkan nilai Ezra.
"Lebih tepatnya suami Adeeva." Ezra melarat omongan Adeeva biar ibu warung tahu Adeeva sudah punya suami.
"Suami? Kau sudah menikah Eva?" seru Ibu warung memancing lirikan pengunjung lain.
Adeeva mati gaya tak berkutik menampik Ezra sebagai suami. Dalam hati Adeeva memaki mulut lancang Ezra bongkar hubungan mereka. Ezra menikmati kekesalan Adeeva dibuka status mereka. Ada selanya juga balas keisengan cewek ini merendahkan dirinya. Masa dibilang oplas sama bidan. Merusak pasaran Ezra sebagai cowok digilai para cewek.
"Lain kali aku datang lagi Bu! Aku harus kerja dulu ya. Ok... every body...aku cabut dulu! Jumpa nanti." Adeeva cepat-cepat angkat kaki sebelum ibu warung dan para emak todong dia dengan sejuta pertanyaan tak mampu dia jawab.
"Sering datang ya Eva! Buat kami cuci mata." teriak emak berdaster disambut tawa derai yang lain.
Adeeva acungkan jari ke atas ladeni teriakan para emak. Adeeva tak buang waktu segera larikan mobil ke tempat pertemuan para investor. Adeeva tak sabar mau tahu bagaimana tampang para pengusaha kaya. Apa semua seganteng Ezra?
Mereka berdua langsung menuju ke tempat pertemuan sesama pemegang saham perusahaan. Baru kali ini Adeeva terjun langsung di ajang cukup besar ini. Adeeva meragukan kemampuan diri sendiri hadapi rekanan Ezra. Semoga saja Ezra berbaik hati membantunya lalui hari berat ini.
Adeeva melangkah penuh keraguan lewati koridor menuju ke tempat rapat berupa aula kecil terdapat meja bundar besar.
Tampaknya memang khusus disewakan untuk para pengusaha adakan rapat di tempat itu. Di atas meja ada minuman botol dan ancam ringan berada dalam piring cantik. Beberapa rekan sudah duluan hadir ngobrol santai menanti yang lain datang.
Kehadiran Ezra cukup mengundang lirikan mata. Ezra kan masih bahan pembicaraan akibat skandal dengan Sonya. Mulut berbisa masih bincangkan hal ini sebagai berita aktual.
"Kita ada pemimpin dari semua rekanan. Jangan takut diserang! Ada yang ingin duduk di posisi kamu sekarang jadi waspada dalam bicara!" bisik Ezra sebelum Adeeva duduk di salah satu kursi tersedia.
"Aku mundur saja jadi CEO?" balas Adeeva juga dengan bisikan. Keduanya sangat dekat saling bertukar nafas saking dekatnya.
"Gitu saja takut! Di mana Poni yang gagah perkasa?"
"Sejak kapan ada poni gagah perkasa? Kasih naik pangkat jadi kuda saja."
"Terserah kamu dah! Mau kuda atau poni kamu harus tegar."
"Kamu harus tetap di samping aku ya! Aku tak kenal siapapun di sini selain kamu."
"Tak kusangka ada juga kata takut dalam hidupmu. Kukira jagoan taekwondo tak ada kata takut dalam kamus." ejek Ezra puas telah balas dendam atas perlakuan Adeeva anggap remeh dia.
"Cerewet..." Adeeva tak mau bicara dengan Ezra yang bikin mood bad saja.
Ezra menyuruh Adeeva duduk di salah satu kursi kelilingi meja bundar. Melihat ini Adeeva teringat sejarah konferensi meja bundar jaman penjajahan Belanda dulu. Mungkin beginilah gambaran pertemuan saat itu. Andai Adeeva terlahir di saat itu apa yang bisa dia sumbangkan pada negara ikut angkat bicara. Perjuangkan nama negara di forum internasional?
Sayang Adeeva lahir di jaman negara sudah merdeka tinggal nikmati hasil perjuangan para pahlawan bangsa. Tugas generasi muda hanyalah meneruskan perjuangan para pahlawan dengan menyumbang tenaga dan pikiran untuk kemakmuran rakyat. Menjadi seorang pemimpin baik juga termasuk memberi sumbangan karena telah mengangkat taraf hidup rakyat.
Adeeva duduk diam menanti selanjutnya apa yang akan jadi topik pembahasan. Adeeva lihat Ezra terlibat obrolan dengan seorang lelaki seumuran dengan Ezra. Dari penampilan pasti dari kalangan the have jug. Adeeva merasa tak perlu terlalu banyak bicara dengan orang belum kenal. Nanti malah jadi bumerang karena dia belum tahu seluk beluk pertemuan ini.
Adeeva agak lega karena Ezra tidak tinggalkan dia bertarung sendirian di tempat asing.
Ezra dan rekan bisnis dari bidang otomotif sedang bahas masalah kerja dibumbui gosip seputar masalah Ezra.
__ADS_1
Ezra berdiri rilex bersandar pada dinding dekat jendela kaca bisa memandang keluar cuci mata lalu lalang kenderaan di jalan.
"Gimana Rani? Apa masih ganggu kamu dengan tingkahnya?" tanya lelaki yang diketahui bernama Gatot.
"Sudah cukup lama tak hubungi aku sejak dikuliti Adeeva." sahut Ezra mengarah mata pada Adeeva. Gadis itu duduk mainkan hp tanpa menoleh kiri kanan.
"Adeeva...gadis itukah?" Gatot menunjuk ke Adeeva yang cuek bebek.
"Nyonya Dilangit yang sah. Sekarang dia pemilik Dilangit. Kuharap kau jaga mulut darinya kalau tak mau dipermalukan. Dia ahli telanjangi orang."
"Wah..takluk juga kamu sama anak bau ingusan. Cewek model boneka itu bisa apa? Kau jadikan dia pemilik untuk hindari ulat bulu?"
"Terserah kamu mau bilang apa! Aku sudah ingatkan kamu untuk tidak cari masalah dengannya. Selanjutnya terserah kamu!"
"Dia takluk padamu atau kamu yang takluk padanya?"
"Menurutmu?" Ezra balik bertanya sisakan teka teki buat Gatot. Gatot berpikir keras apa yang terjadi pada sahabatnya ini. Mengapa bisa takut pada seorang gadis muda yang memang sangat cantik. Berkilauan tanpa perlu bantuan cahaya lain. Dia punya pesona tersendiri.
Gatot hanya tertawa meraba-raba maksud pertanyaan Ezra. Sementara ruangan makin penuh oleh para pemegang saham. Ternyata ada dua wanita ikut dalam pertemuan ini. Satu agak berumur dan satunya lagi masih muda sekitar tiga puluhan. Keduanya tampil elegan dengan kelas berbeda. Cincin bertatah berlian serta kalung berkilauan sudah tunjukkan kelas mereka.
Adeeva masih sibuk dengan ponselnya tak peduli seberapa banyak orang datang. Adeeva sibuk pantau pergerakan pak Ginanjar alias pak Jul. Pak tua itu ternyata sedang hubungan dengan Renata dan Bu Humaira untuk jatuhkan dirinya. Mereka mau jebak Ezra supaya menyerah dan angkat Renata sebagai ratu. Adeeva tersenyum licik menyusun rencana lebih bagus untuk bantu komplotan itu masuk perangkap. Tunggu tanggal main saja.
"Saudara sekalian.. sangat berbahagia kita bisa berkumpul untuk acara tahunan kita ini. Sebagaimana biasa kita akan bahas mengenai pemimpin yang kompeten untuk tahun ini."
Adeeva mendongak angkat kepala lihat siapa yang bicara. Ternyata seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh atau empat puluhan sedang bicara sebagai koordinator rapat.
Adeeva menyimpan ponsel menyimak apa yang akan dibahas. Adeeva harus nyimak karena belum ngerti semuanya. Ezra sudah ambil tempat di samping Adeeva ikut dengarkan pengarahan pemimpin rapat.
"Seperti kita ketahui kalau kursi pimpinan berada di tangan Pak Ezra selaku pemilik Dilangit. Berhubung adanya pergeseran kursi kekuasaan Dilangit maka kita harus kaji kursi pimpinan kita ini." kata lelaki itu melirik Ezra yang masih santai tidak terpengaruh oleh pidato menjurus diskriminasi.
"Apa maksudmu?" tanya wanita muda bertampang bintang film itu.
"Kita ini kumpulan orang punya Taji tajam apa mungkin dipimpin seorang wanita muda tanpa pengalaman?" kali ini lelaki ini mengarahkan mata kepada Adeeva. Serangan yang sangat telak. Kontan tanpa hambatan.
Adeeva menduga orang ini telah tahu kondisi Perusahaan Ezra dengan jelas maka dia berani to the point. Adeeva diam saja beri kesempatan orang itu selesaikan unek-unek biar dia lebih gampang rebus orang itu.
"Bukankah pak Ezra masih ada di antara kita? Kurasa tahun ini masih mengacu pada pimpinan lama karena selama di bawah pimpinan pak Ezra semua lancar." tukas wanita itu bijak tidak mengecilkan nilai pimpinan baru Dilangit.
"Sejak kapan kita dipimpin seorang wanita? Masih muda lagi. Pak Ezra bisa beri komentar?"
Ezra mau jawab namun ditahan oleh Adeeva. Darah Adeeva langsung naik ke ubun karena adanya diskriminasi terhadap kaum tertentu. Kalau katakan dia masih hijau belum pengalaman itu masih bisa diterima namun bila kucilkan kaum hawa Adeeva tidak terima.
"Maaf pak siapa ya?" Adeeva mulai unjuk gigi tak mau kaumnya dianggap tidak punya kemampuan.
"Kurawa..." sahut lelaki itu masih berdiri di antara peserta yang duduk tenang.
"Oh pak kura-kura.. aku mau tanya apa kenapa dengan wanita? Apa wanita bukan makhluk ciptaan Tuhan?"
"Maaf nona...Aku Kurawa bukan kura-kura! Jaga sopan santun!"
"Oh maaf ya! Kuping aku tersumbat ocehan lalat busuk maka tak jelas dengar. Kadang mulut ini memang suka nyaplak kalau ada lalat busuk terbangan. aku cuma mau tanya kenapa dengan wanita? Emang wanita itu tidak mampu saingi laki?":
Banyak yang tersenyum dengar ocehan Adeeva yang agak menghina lelaki bernama Kurawa. Ezra sudah tidak heran dengan mulut nakal Adeeva. Laki ini sudah duga Kurawa akan ke sandung batu.
__ADS_1