
Desi mendekati Adeeva menepuk bahu gadis muda itu. Pergi bawa seikat bunga segar pulang bawa serumpun ilalang layu. Gitulah perumpamaan buat Adeeva. Apa yang telah terjadi menyebabkan gadis periang ini berubah kuyu.
"Ada apa neng geulis? Di kejar vampir ompong?"
Adeeva mencuri tatap Desi pakai sebelah mata tanpa angkat kepala dari meja.
"Bukan vampir kak! Tapi dracula dari jaman Romawi. Sudah tua keriput cuma sayang dia hidup. Kenapa nggak modar saja." gerutu Adeeva di balas senyum Desi.
"Kamu mau cerita asal mula dracula tua mu?"
"Nggak...hari ini tak ada kisah horor. Yang ada sakit hati! Sakitnya tuh di sini!" Adeeva menunjuk dada sambil berdendang lagu yang pernah top di masanya.
Desi tertawa lega lihat Adeeva mulai bisa bercanda. Bersama Adeeva dunia tak ada kesedihan. Ketawalah sepuasnya sebelum ketawa itu dilarang. Itulah motto hidup Adeeva.
"Va...kang Imron akan bantu kamu cari pasak dari besi putih untuk tancapkan ke jantung dracula nakal yang ganggu kamu." timpal Imron ikutan usir mendung di wajah Adeeva.
"Hatur nuhun kang! Dracula terlalu banyak pengikut. Gue takut jadi korban. Mendingan hindar pakai jurus cicak-cicak di dinding, kabur hindari laba gede."
"Ada saja istilah kamu! Kalau sudah waras kita bahas hasil pengembangan skema kemarin."
"Emang adonan roti pakai dikembangkan segala!" gerutu Adeeva hampiri Imron yang masih berkutat dengan hasil karya Adeeva. Sejujurnya mereka masih kurang ngerti cara Adeeva blok semua part inti. Setiap part ada kode pasword tersendiri. Ntah apa tujuan Adeeva buat sekat setiap divisi. Apa gadis ini hendak pisahkan setiap divisi agar tidak bisa dibuka secara umum?
"Sini nak! Coba terangkan isi otakmu tidak buat kepala akang pusing tujuh keliling!" Imron melambai agar Adeeva makin mendekat.
"Puyer kali...pake tujuh keliling!" omel Adeeva mengundang senyum Desi dan Judika. Ada saja sahutan lucu Adeeva halau stress di ruang mereka yang gersang.
Adeeva perlihatkan kerja sama solid. Imron mengajukan ide sedangkan Adeeva perluas sesuai imajinasi Adeeva. Adeeva kembangkan sesuai dengan koridor tujuan utama agar tidak melebar tanpa arah pasti.
Sementara di ruang lain. Ruben telah kembali menemui bosnya setelah mengintai Adeeva di cafe. Ruben ingin melapor semua kegiatan Adeeva selama menanti Ezra di cafe. Ruben merekam semua kegiatan Adeeva selama berada di cafe. Ternyata Adeeva memang istri Ezra Hakim yang ke-6. Adeeva sama sekali tidak mengetahui kalau bosnya sekarang adalah suaminya sendiri. Dalam pemikiran adeeva suaminya itu seorang kakek jompo yang tua renta. Tidak terlintas sedikitpun di kepala Adeeva kalau suaminya seorang lelaki jentel berkarisma tinggi.
"Ini pak semua rekaman nona Adeeva. Memang dia orangnya!" Ruben mengeluarkan ponsel memberi rekaman kegiatan Adeeva di cafe.
Ezra mengangguk-angguk kesal juga heran mengapa Adeeva tidak mengenalnya. Bukankah mereka telah bertemu sewaktu ijab kabul. Ezra sama sekali tidak tahu ada kesalahan teknis di bagian part soal kacamata. Adeeva tak dapat melihat dengan jelas gara-gara pakai kacamata rabun dekat Oma Uyutnya.
"Selidiki anak ini! Tinggal di mana dan apa kegiatannya selama di sini. Dua bulan kabur tanpa kabar."
"Pak...dia masih muda! Wajar keberatan jadi yang ke enam. Cantik lagi...kalau bapak tidak mau lagi saya siap menerima." ujar Ruben tidak malu. Kapan lagi dapat cewek cantik bertubuh langsing. Bisa perbaiki keturunan. Ruben tingginya pas-pasan sedikit di bawah Adeeva. Kawini Adeeva mungkin bisa dapat anak tinggi langsing kayak emaknya.
"Bosan kerja ya! Atau mau kukirim ke Papua?" ancam Ezra masih memikirkan isteri mudanya yang luar biasa. Dari enam isterinya hanya Adeeva yang cuek bebek jadi istri dari raja tambang.
"Bapak ini...Adeeva itu beda sama yang di istana bapak! Kudengar dia menolak tinggal di rumah yang sudah disediakan. Dia pilih tinggal jauh dari induk di belakang sekali."
"Rumah Cendana?" Ezra kaget ada istrinya pilih tinggal di rumah sepi tanpa fasilitas mewah. Mau apa sih anak itu bikin sensasi asingkan diri dari kumpulan isterinya.
"Yup...dia semangat sewaktu dengar kata talak! Tampaknya dia menikah dengan bapak karena paksaan. Bukan kemauan sendiri!"
Kepala Ezra kembali mengangguk-angguk mirip ayam ngantuk. Isteri luar biasa yang harus dipertahankan.
"Usahakan dia kerja di pusat! Di sini dia juga dapat tekanan dari senior. Jangan kau bongkar siapa aku! Kita lihat dia sedang bersandiwara atau memang tak mengenal aku!"
"Siap bos!"
__ADS_1
"Sekarang panggil dia! Ajak dia jadi Aspri selama aku di sini! Aku harus lebih mengenalnya."
"Jangan bos! Kasihan dia kalau terlalu dekat dengan bos! Ntar bos silap lagi!"
Ezra melempar pulpen ke tubuh Ruben saking geram asistennya intervensi hubungannya dengan Adeeva. Dia suami Adeeva walau hanya dalam agama. Ezra berhak melakukan apapun pada Adeeva termasuk hubungan suami isteri.
"Dia itu isteri kamu atau isteri aku? Siapa berani larang aku dekati istri sendiri?"
"Bukankah dia tidak tahu bapak suaminya. Setiap kata keluar dari mulutnya bapak ini bangkotan. Tua Bangka bau tanah. Dia mana mau sama bapak? Sama aku masih cocok! Muda...tampan...dan hangat!" Ruben menyisir rambut sok cool.
"Adeeva belum katarak! Matanya masih awas lihat batu dan berlian. Sekarang kau pindahkan dia tugas di samping aku! Aku mau lihat apa yang bisa dia lakukan untuk berbohong terusan."
"Ya bapak! Aku baru kali ini lihat cewek secantik dia. Alami, langsing dan gagah. Bapak ngalah sekali ini kenapa? Di istana bapak kan masih ada lima burung perkutut indah." Ruben masih berusaha perjuangkan Adeeva jadi milik pribadinya.
"Kuberi semua burung indah itu padamu. Gratis..." sahut Ezra enteng tak open cibiran Ruben terhadap burung piaraan Ezra yang berada dalam istana.
"Ogah...bulu pada rontok semua. Sudah tua...dagingnya alot tak enak dimakan. Kasih yang fresh kenapa? Hilang satu tumbuh seribu. Bapak biarkan aku kejar Adeeva dan Kudoain bapak dapat pengganti lebih muda."
"Banyak bacot.. panggil Adeeva ke sini! Mulai hari ini dia tinggal di rumahku selama aku di sini!"
"Mana dia mau...bapak pikir dia cewek seribu tiga? Dia itu pelatih taekwondo ban hitam. Suka keluyuran di klub pertandingan muaythai. Aku butuh isteri yang kuat!" Ruben masih mengiba minta Adeeva dibebaskan dari pernikahan aneh ini. Sudah menikah tapi tak kenal siapa suami.
Nggak ikhlas amat menikah. Nikah satu hari langsung kabur hingga sekarang. Pernikahan model apa itu?
"Wah dapat mainan baru. Aku tertantang untuk taklukkan gadis ini! Sekarang panggil dia ke sini!"
"Iya pak! Tapi jangan dibawa pulang ya! Bapak kan sudah lama tidak lihat si kulit licin! Takutnya keceplosan."
"Yup...aku pergi sekarang! Tenang pak! Tenang..." Ruben ngacir cari Adeeva.
Masih terbayang di mata Ruben sosok langsing bertubuh tegap milik Adeeva. Gadis itu terlalu cantik hanya jadi isteri simpanan. Mengapa Adeeva bisa terjebak dalam pernikahan tak sehat ini? Dinilai dari karakter Adeeva bukanlah pemburu dolar. Adeeva cuek pada kartu kredit yang diberi Ezra pada setiap isterinya. Tak ada transaksi satu senpun dari kartu khusus untuk Adeeva. Lantas apa tujuan Adeeva antri jadi bini ke enam.
Pusing kepala Ruben ingat motif Adeeva masuk ke keluarga Dilangit. Tapi perlahan Ezra pasti akan temukan jawabannya. Ezra sanggup pimpin beberapa tambang besar serta perusahaan lain, tentu sanggup urus seorang gadis muda.
Ruben segera mencari keberadaan Adeeva di tempat dia bekerja. Adeeva cukup kaget tiba-tiba dapat panggilan dari bos pusat. Kesalahan apa telah dia lakukan hingga kena panggilan lagi.
Sebagai bawahan Adeeva tak punya hak menolak selama masih ingin melanjutkan karier di tempat dia bekerja saat ini. Adeeva dengan berat memenuhi panggilan bos besar mereka.
Ruben mengiringi Adeeva jumpai bos di lantai paling tinggi. Lantai itu hanya dikhususkan pada dewan direktur dan wakil. Ezra selaku bos dari kantor pusat tentu saja berhak tempati salah satu ruang mewah di lantai paling utama.
Adeeva sudah pernah datang ke ruang Ezra merasa tak asing. Santai saja gadis ini lewati para petinggi yang mendelik tak senang. Mentang diperhatikan bos pusat Adeeva makin songong. Padahal Adeeva bukan songong tapi balas kenakalan para petinggi yang jual nama demi capai kedudukan. Hasil karya orang klaim hasil rancangan sendiri.
Adeeva diiring masuk ke dalam untuk di interogasi langsung oleh Ezra. Ezra makin tertarik pada istri songong nya. Kabur dua bulan tidak pulang. Punya suami dicaci habisan. Tidak punya etika sama sekali.
Adeeva berdiri persis di depan Ezra menanti orderan perintah. Mau disuruh apa lagi? Kerja rangkap lagi atau buat rencana baru untuk majukan hasil produksi.
"Duduk...kamu tinggi merusak pemandangan! Gadis biasanya imut kamu kok kayak tiang listrik!" ujar Ezra risih berhadapan dengan gadis yang tingginya hampir setara dia.
"Sudah dari pabrik Sono mau gimana lagi pak? Maunya sih kecil mungil biar irit. Beli baju bisa nomor kecil. Abah dan Umi salah bikin mal cetak." sungut Adeeva memancing senyum Ezra. Kalau bukan ingin tampil wibawa di depan Adeeva ingin sekali Ezra keluarkan tawa ngakak. Ternyata istri mudanya lucu bisa hilangkan stress.
Ruben ikut tersenyum tak berani keluarkan tawa renyah. Sungguh anak ajaib. Baru kali ini ada orang bisa pancing senyum Ezra yang terkenal irit senyum. Senyum saja irit apa lagi ketawa.
__ADS_1
"Jadi kamu tinggi salah orang tuamu?"
"Nggak juga pak! Orang tua itu hanya perantara, yang ciptakan itu Yang Maha Kuasa. Aku ini kayaknya produk salah konsep. Rencananya dibuat cowok eh ada yang silap di Tarok di bagian cewek. Ya inilah aku!" Adeeva meringis bikin Ezra tak dapat tahan tawa. Laki ini pura-pura batuk menutup mulut dengan map. Padahal di belakang map Ezra tertawa pelan takut image seorang CEO dilecehkan Adeeva.
"Baik...sudahi nasibmu yang apes? Kini kita bincang soal kerja!"
"Tunggu pak! Bapak ini peramal ya? Kok tahu nasibku apes?" Wajah Adeeva berubah serius dibahas nasibnya yang jelek. Semuda gini jadi bini kakek tua di urutan paling buncit.
"Peramal apa? Wajah kamu sudah tunjukkan nasibmu selalu dirundung sial!"
"Ya pak! Rencana pulang nanti mandi kembang setaman. Mau buang nasib sial. Ok deh! Kita mulai topik kita!" Adeeva perbaiki gaya duduk biar lebih serius.
Ruben dan Ezra di buat ingin ketawa terpingkal oleh Adeeva. Adeeva hanyalah seorang gadis muda dikaruniakan otak cerdas. Selebihnya masih lugu bikin hati orang gembira. Ezra menyesal mengapa tidak dari dulu beri perhatian pada istri pemberontak ini. Kabur tanpa berita tak anggap suami sebagai imam.
Ezra akan ikuti permainan Adeeva sampai status mereka terbongkar secara alami. Ezra untung mengenali Adeeva sebagai isteri sedang Adeeva apes tidak kenal Ezra sebagai suami.
"Dengar ya nona!"
"Dengar pak! Namaku Adeeva.. biasa dipanggil Eva. Bapak boleh panggil apa saja asal jangan panggil ibu Adeeva! Ubanku langsung nyembul pak"
"Oh Adeeva ya! Asalmu dari mana?"
"Interview kerja pak? Aku sudah karyawan tetap sini! CV aku sudah lengkap." Adeeva keberatan di nyinyirin Ezra.
"Aku hanya ingin dengar secara pribadi. Sudah punya pacar atau sudah berkeluarga?"
Adeeva meraba jantungnya apa masih berdetak dengar pertanyaan Ezra. Berbohong itu dosa tapi demi keselamatan pekerjaan Adeeva harus bersiap menambah satu dosa. Malaikat akan siap mencatat dosa Adeeva yang sengaja.
"Belum pak!" satu jawaban untuk dua pertanyaan.
"Yakin?" pancing Ezra senang bisa permainkan emosi Adeeva.
"Yakin...yakinkan deh!" sahut Adeeva ambigu.
"Boleh gitu? Yakin tak yakin?"
"Aduh pak! Kita kerja dong! Kok bahas pribadi aku!"
"Ini berkaitan dengan tugas barumu. Aku harus mengenalmu baik baru bisa rekrut kamu untuk posisi lebih baik."
Adeeva termenung sejenak memikirkan posisi baru apa bakal jadi tumpuan karier dia selanjutnya. Syukur jadi kepala divisi di bagian lain. Adeeva tak mungkin rebut posisi Judika yang sangat baik padanya. Tidak terpikir oleh Adeeva duduk di tempat Judika. Maunya di tempat Celine agar wanita itu kena tendangan bebas.
"Aku belum berkeluarga pak! Pacar juga belum ada." keluar juga pengakuan Adeeva. Satu perkataan bohong dan satunya jujur. Adeeva emang tak punya pacar sedangkan belum berkeluarga jelas pembohongan nyata.
"Bagus...jadi kamu bebas tanpa ikatan! Mulai hari ini kamu kuangkat jadi Aspri aku!"
Adeeva melongo sampai buka mulut mengundang lalat masuk ke dalam. Adeeva merasa kupingnya penuh kotoran salah dengar berita aktual ini.
Ezra biarkan Adeeva bengong sampai puas. Gadis ini syok diangkat jadi Aspri bos. Adeeva bukannya senang tapi berduka. Adeeva mencintai posisinya sebagai ahli IT walau kerjanya merangkap-rangkap. Jadi Aspri bos hanya jadi pajangan. Di mana ada bos di situ ada dia. Kerjanya apa juga tak jelas.
"Pak...aku ini orang kasar tak cocok jadi Aspri bapak! Mulutku ini tak pernah sekolah! Suka Nyaplak bikin kesal orang. Nanti bikin bapak ilfil. Sumpah pak! Aku bukan pilihan tepat jadi Aspri."
__ADS_1