Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Pemimpin Kecil


__ADS_3

Adeeva membungkuk badan sembilan puluh derajat kepada Kurawa sebagai tanda maaf telah lancang pada lelaki lebih tua itu.


Kurawa tak dapat berkata apapun selain agak malu dikalahkan seorang gadis muda. Dia yang duluan cari masalah dengan Adeeva. Anak ini sudah banyak mengalah namun Kurawa ngotot maka dia sendiri dapat rasa malu. Ini akibat terlalu angkuh pada kebodohan sendiri. Adeeva berani maju tentu dengan persiapan matang.


Ezra bukan orang bodoh tampilkan boneka dakocan tak berguna di ajang penting ini. Kurawa tak sangka Ezra beri kejutan pamer barang langka bikin orang takluk pada gebrakan pertama. Dari segi wibawa Adeeva sudah menonjol kini tinggal lihat isi kepala anak itu.


Tong kosong atau memang ada isinya.


"Aku Adeeva secara resmi minta maaf telah lancang pada Pak Kura! Aku yang muda tak seharusnya berbuat gegabah." Adeeva sengaja angkat Kurawa agar jangan malu total. Namun di balik itu Adeeva tetap panggil laki ini dengan nama Kura tanpa wa. Angkat lalu banting. Gitulah Adeeva.


Para peserta rapat puas pada tingkah Adeeva tidak lupa daratan walau sudah memang telak. Malah dengan rendah hati minta maaf selaku anak muda. Nilai Adeeva otomatis naik menjulang ke atas.


Gatot tepuk tangan hargai anak muda model Adeeva. Diberi peluang tetap rendah hati walau tersimpan kekuatan mumpuni.


"Ok.. sekarang kau sebagai pemimpin kita tunjukkan apa yang bisa membuat kita percaya padamu!" Gatot sengaja test sejauh mana isi otak Adeeva. Soal skill mulut dan kekuatan sudah terbukti sekarang asah otak pula.


Adeeva menatap Ezra minta pendapat walau mulut tak keluarkan kalimat. Ini bukan ajang asalan cari nama tapi menyangkut kredibilitas Dilangit dipimpin oleh siapa. Seorang gadis muda hanya jual tampang atau punya inner bisa dipamerkan.


"Keluarkan isi kepalamu! Kau pasti bisa." bisik Ezra serahkan semuanya pada Adeeva. Gadis secerdas Adeeva pasti punya sejuta konsep menarik perhatian orang.


"Aku tak punya persiapan. Manalagi mulutku suka terobos lampu merah. Takut kelepasan." Adeeva jujur sifatnya yang blak-blakan. Takutnya bikin malu Ezra pula.


"Kau bisa sayang!" Ezra menepuk punggung tangan Adeeva yang berubah dingin. Ciut juga nyali gadis ini disuruh bicara di forum ini. Pasalnya apa yang akan dia tampilkan tanpa persiapan.


Adeeva berpikir sejenak lalu menarik nafas dalam-dalam berusaha beri sumbangan untuk kesejahteraan setiap perusahaan.


"Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum bapak-bapak ibu-ibu yang terhormat. Aku Adeeva sangat berterima kasih di beri kesempatan bicara duluan di forum ini. Sebelumnya aku minta maaf kalau ada perkataan aku yang tak sesuai dengan pemikiran anda semua. Mohon dikoreksi dan beri masukkan di mana salah aku." Adeeva berdiri tanpa pindah dari tempat semula. Wajah Adeeva berubah serius tidak songong kayak tadi.


Ezra juga menanti kiprah Adeeva sebagai bos baru Dilangit. Baru diangkat sudah diberi tugas penting bicara di depan orang penting.


"Di sini aku akan ajak anda semua yang lebih senior protek perusahaan dengan perbaikan sistim perusahaan. Setiap perusahaan punya rahasia sendiri yang kadang tak bisa di bagi pada anak buah. Untuk melindungi rahasia perusahaan kita mesti pisahkan setiap bagian divisi agar setiap karyawan punya tanggung jawab sendiri serta tak bisa saling lempar kesalahan bila terjadi sesuatu. Khusus untuk umum hanya bagian program awal yang harus dikerjakan bersama."


"Maaf nak! Apa maksud khusus umum? Bukankah semua karyawan mesti tahu di kantor ada program baru? Contoh kami ini bagian otomotif bukankah semua anak buah harus tahu ada jenis kenderaan baru." tanya seorang lelaki botak mulai tertarik pada konsep Adeeva.


"Nah itu topiknya! Setiap ada peluncuran produk baru kita jadikan sistim terbuka artinya dari atasan hingga bawahan bisa lihat produk baru. Setelah itu kita bagi yang terima barang serta yang keluar barang. Bagian stok gudang serta pemasaran. Kita bagi setiap tugas. Jangan bagian pemasaran ikut campur soal penerimaan stok. Dia hanya pasarkan dan wajib cek stok pada bagian gudang. Jadi kalau terjadi adanya raib stok maka kita bisa tahu siapa yang paling bertanggung. Kalau pemasaran boleh sembarangan keluarkan barang maka akan saling lempar tanggung jawab." Adeeva jelaskan konsep tanpa campur adu seperti yang dia terapkan pada perusahaan Ezra. Sekarang perusahaan Ezra teratur tapi tak bisa sesuka hati buka yang bukan bidangnya.


"Artinya kita harus undang ahli IT dong!" ibu setengah baya termakan omongan Adeeva.

__ADS_1


"Kurasa setiap perusahaan pasti punya karyawan ngerti pembagian sistim. Ada hal yang mesti kita sembunyikan wajib kita sembunyikan. Kita bisa minta pakar IT susun data khusus yang hanya pemilik bisa buka. Itu sudah level terakhir. Aku bersedia beri konsep gimana susun data sistim beraturan asal ada data berapa bagian di perusahaan. Tapi yang harus kerjakan tetap pakar masing-masing. Aku hanya beri turunan saja. Ini juga untuk lindungi perusahaan dari tikus-tikus nakal."


"Wah...nyatanya kita sudah tertinggal sama anak muda. Teknologi kekinian mengubah pola pikir generasi muda. Aku angkat salut pada Dilangit lahirkan generasi muda berbakat." Wanita perlente ikut sumbang suara anggap Adeeva wakili generasi penerus yang bisa diandalkan.


Gatot mencubit pinggang Ezra dengan gemas karena rekannya mendapat berlian. Beda dengan wanita yang selama ini berada di sekeliling mereka. Yang ada hanya pamer aurat serta menguras kantong.


"Cariin aku satu yang model ini!" pinta Gatot tak berani lantang takut terdengar oleh orang lain. Ezra hanya cengar-cengir menanggapi permintaan temannya itu. Di mana dia akan mencari wanita seperti Adeeva yang mewakili semua generasi muda. Dia sendiri belum tentu akan mendapat kembali hati Adeeva.


"Di dunia ini hanya ada satu stok. Ini edisi unlimited." balas Ezra kontan tolak karena yakin takkan dapat stok yang persis lagi.


"Di mana kau pungut cewek model ini? Daki gunung harungi lautan? Aku mau cari satu. Aku siap berkorban untuk yang satu ini. Kapan kau bosan?"


"Kau pikir dia sampah dipungut sembarangan tempat? Nyelam ke dasar samudera baru ketemu mutiara ini. Kau rasa aku akan bosan?"


Gatot auto loyo mendapat kalimat memuja dari Ezra. Tampaknya laki ini telah insaf jadi penjahat kelamin gara jumpa cewek punya talenta.


"Kalau gitu aku doakan saja semoga kamu dan dia langgeng. Sudahi petualang di antara paha-paha pinggir jalan." Gatot hanya bisa doakan Ezra karena sudah temukan pelabuhan tepat untuk sandarkan biduk yang sudah lama berlayar di ombang ambing badai kehidupan.


"Terima kasih..." Ezra melirik Adeeva yang masih tanya jawab dengan para peserta rapat.


Saat sedang diskusi tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Satu sosok yang sangat dikenal Adeeva berjalan tegap ke arah meja bundar tempat rapat. Lelaki itu mengumbar senyum kepada Adeeva juga pada peserta rapat. Wajah ganteng itu makin ganteng diterpa cahaya lampu.


"Maaf aku datang terlambat! Silahkan lanjutkan diskusi! Aku dukung semua yang disampaikan nona Adeeva kita. Kita harus beri kesempatan pada kawula muda untuk tampil ke depan." Krisna mencari tempat duduk bisa menatap wajah Adeeva tanpa hambatan yakni seberang. Dari samping takkan puas pelototi wajah cantik itu.


"Pak Krisna tampaknya kenal baik dengan isteri aku?" tanya Ezra tajam.


"Cukup kenal." sahut Krisna kalem tetap tersenyum pada Adeeva. Panah cupido telah melesat susah ditarik kembali. Krisna terlanjur suka pada Adeeva sebelum tahu status cewek ini. Sewaktu di peternakan Akbar laki ini sudah lepaskan signal cinta. Cuma Krisna tak sangka akan jumpa lawan berat.


"Wah..nyatanya nona Adeeva banyak pengagumnya! Aku masuk jadi fans kamu nona Adeeva!" Gatot ikut nimbrung cari kesempatan menikung Ezra.


"Terima kasih penghargaan bapak ibu. Aku ada di sini berkat bantuan pak Ezra. Aku masih perlu bimbingan dari para senior. Dan aku mohon maaf atas kelancanganku tadi. Kami anak muda berdarah panas pantang ditantang. Aku akan perbaiki sikap." janji Adeeva makin tumbuhkan rasa salut di hati para senior. Berani ngaku salah adalah perbuatan orang gentle maka tak salah beri Adeeva kesempatan untuk menjadi pemimpin.


Ezra merasa hidung melebar satu meter. Untung bukan maju ke depan kontan mirip Pinokio boneka kayu pak Gepeto tua. Adeeva masih ada respek pada Ezra walau mereka dalam suasana perang. Mungkin sedang gencatan senjata untuk tampil Galant di depan semua orang.


"Sekarang kita lanjut bahas prospek perkembangan bisnis kita. Masing-masing boleh kemukakan pendapat sesuai bidang masing-masing." kata koordinator rapat seorang bapak-bapak.


Adeeva duduk kembali di samping Ezra. Cewek ini mulai tenang telah lalui masa tegang. Sekarang giliran Ezra maju karena Adeeva memang buta soal bisnis kelas kakap. Benar kata Ruben dia tetap harus minta tolong pada Ezra tangani masalah krusial.

__ADS_1


"Kau hebat!" bisik Ezra memuji Adeeva. Ezra puji tentu dengan tujuan dapat simpatik dari istri kecilnya ini.


"Aku lebih hebat lagi sikat pria hidung belang. Hidungnya akan kusikat sampai putih bersih pakai sikat kawat besi. Mau coba?"


Ezra meringis bayangkan hidung mancung di wajah berubah bolong-bolong kena sikat ajaib Adeeva. Anak ini tak ada manisnya bila bicara dengannya. Selalu melawan bikin Ezra ilfil. Ezra tak sadar mengapa Adeeva makin tak suka padanya. Itu semua karena dia tak punya hati utuh. Hatinya bolong-bolong menunggu belatung isi rongga kosong. Adeeva belum berniat jadi salah satu belatung di hati Ezra.


Adeeva tak open pada rapat selanjutnya karena memang kurang ngerti. Rasa ngantuk menyergap membuat anak ini pingin tidur di atas meja. Matanya mulai sayu dengan kepala makin turun ke bawah.


Ezra mendehem colek Adeeva dengan suara. Sementara Krisna yang duduk di depan makin gemas dengan kelucuan Adeeva. Tadi garang seperti jenderal pemimpin perang. Kini tak ubah kelinci imut minta dipeluk. Krisna ingin sekali gantiin posisi Ezra duduk di samping anak ini agar bisa berikan bahunya jadi sandaran Adeeva.


"Sudah selesai? Aku ngantuk pak!" penyakit Adeeva kumat kalau matahari sudah mulai tinggi. Dia memang doyan curi waktu tidur sebentar kalau bekerja di kantor. Baik di kota B maupun di kota J. Rasanya lebih nyaman di kota B.


"Tahan...sebentar lagi selesai. Kau mau jadi pemimpin atau mau serahkan pada yang lain? Jabatan ini tak penting tapi terserah kamu." tanya Ezra butuh ketegasan Adeeva setelah terjun jadi pebisnis.


"Terserah pak Ezra saja! Aku tidak tertarik. Kalau memang tak menguntungkan lepas saja. Jadi beban saja."


"Kau salah anak kecil. Kalau kau memimpin maka kamu bisa atur gerak roda perusahaan ke tempat lebih tinggi. Semua pebisnis akan cari kamu untuk buka peluang bisnis baru. Kalau kau di bawah cuma bisa manut." Ezra beri pengertian pada Adeeva untuk lebih maju berada di atas. Gadis muda macam Adeeva selalu puas dengan apa yang ada. Tak niat merangkak ke puncak lebih tinggi.


Adeeva terdiam. Adeeva tak punya ide karena dia juga takkan duduk lama di kursi Ezra. Setelah beri pelajaran pada Ezra beserta keluarganya Adeeva akan mengundurkan diri kembali jalani hidup tenang seperti dulu. Dia tak cocok jadi orang kaya. Adeeva tidak terlalu berambisi meraup harta melebihi batas kemampuan badan.


"Aku kembalikan pada bapak saja. Kalau bapak merasa itu menguntungkan silahkan! Cuma aku buta soal persaingan bisnis."


Ezra mengangguk setuju. Adeeva memang terlalu muda untuk masuk ke dunia persaingan bisnis. Apalagi Adeeva tidak punya trik licik macam pebisnis lain. Susah untuk maju jadi pemimpin.


Selanjutnya Adeeva pilih diam biarkan Ezra pula yang bicara dari A sampai ke Z. Soal resesi, krisis global serta pasaran yang menukik turun secara drastis. Adeeva pusing dengar sekian banyak ocehan yang tak masuk kamus dia.


Adeeva makin paham kalau Ezra merangkak naik sampai hari ini bukan pekerjaan mudah. Tentu dengan perjuangan penuh suka duka.


Untuk sementara posisi Dilangit masih aman. Kepintaran Adeeva serta kepiawaian Ezra menunjukkan Dilangit masih pantas berada di depan.


Krisna tak open semua ocehan, dia lebih tertarik pada gadis nakal bikin perhatiannya terpecah antara rasa sayang dan bisnis. Nunik sudah cerita hubungan rumit antara Ezra dan Adeeva. Krisna makin tahu Adeeva terjepit di antara rasa tak suka pada Ezra. Krisna akan bantu Adeeva keluar dari kerajaan Dilangit menuju hamparan bebas. Adeeva punya hak memilih siapa yang akan dampingi dia.


Krisna bukannya tak tahu skandal Ezra dan Sonya yang belum reda. Sonya menghilang untuk sementara waktu hindari hujatan di media. Ini cara paling aman hindari netizen yang kejam.


Adeeva mulai gelisah tak sanggup lagi dengar segudang debatan ringan. Kupingnya bagai diserang jutaan lebah berdenging tak henti.


"Kapan pause pak?" tanya Adeeva pingin segera angkat kaki.

__ADS_1


"Ini resiko jadi bos. Kau harus sabar sampai semua masalah selesai. Kenapa? Menyerah?" tanya Ezra tertawa kecil ejek Adeeva.


__ADS_2