
Ezra menggeleng kurang suka Rani kecilkan nilai orang pintar masak. Bukan dinilai dari efisiensi tapi kemampuan orang itu hasilkan satu karya walaupun itu cuma makanan.
"Aku lebih hargai orang punya skill dari pada tukang perintah. Ini sudah malam. Waktunya istirahat. Kalian pulang saja." kata Ezra tidak ditujukan khusus pada siapapun. Tampaknya Ezra ingin usir semua tamunya. Orang sakit bukannya dikasih tempo untuk istirahat tapi direcoki. Bukan tambah sehat malah cepat tewas.
"Kalian sudah disuruh pulang! Aku akan di sini jaga Ezra." ujar Rani merasa di atas angin tidak ditegur Ezra.
"Kau juga pulang Ran! Aku mau tidur." Ezra tidak berbelas kasihan pada Rani.
Kelima selir Ezra tertawa ngakak lihat Rani kontan bermuka masam. Orang kepedean tingkat dewa akhirnya terbanting dari langit. Betapa sakit jatuh dari angan kelewat tinggi.
"Ezra... aku akan jaga kamu seperti kamu jaga aku dan Miko. Aku ini orang tahu balas budi."
Muka Rani di dempul terlalu tebal sampai tak punya rasa malu. Masih ada wanita tak hargai diri sendiri memurahkan diri pada lelaki. Naasnya ditolak pula.
"Sudah kubilang aku sudah punya asisten pribadi. Dia akan layani aku! Beri aku waktu untuk istirahat. Kalian terusan ganggu aku apa tidak capek? Aku capek.."
Keenam wanita itu terdiam bisa rasa Ezra mulai hilang rasa sabar. Kelima selir Ezra sudah baca gelagat suami mereka sedang pupuk amarah. Jangan sempat subur tumbuh tanduk merah seruduk orang.
"Baiklah mas! Kami pulang. Kami akan langsung ke villa. Semua keperluan akan kami siapkan. Ini acara khusus untuk keluarga jadi harus lebih spesifik persiapan. Orang asing tak boleh ikut ya!" sindir Renata puas Rani ditolak Ezra. Baru kali ini Ezra berbuat sebagai seorang suami hargai isteri daripada lintah menjijikkan.
Rani hanya bisa mengutuk dalam hati tak bisa liburan dengan Ezra. Laki itu jarang liburan apa lagi ngajak semua wanitanya. Selama ini Rani merasa di nomor satukan oleh Ezra maka muncul sisi angkuh. Malam ini Ezra menghempas keangkuhan Rani hingga berkeping-keping.
Rasa sesal dan kesal berkecamuk di dalam hati Rani namun wanita ini tidak bisa berbuat apa-apa karena Ezra telah mengeluarkan kalimat yang menolak dia.
"Poni..." teriak Ezra lepas memanggil kuda Poninya yang pasti sedang bermalasan dalam kamar.
Kelima selir Ezra geli mendengar nama panggilan asisten pribadi Ezra. Apa tidak ada nama yang lebih baik daripada nama Poni. Tapi ada satu hal yang membuat kelima selir itu bernafas lega karena si Poni ini tidak ada hubungan mesra dengan Ezra. Gadis itu tidak peduli pada Ezra termasuk pada wanita-wanita Ezra. Dia Santuy saja nikmati kehadiran para pencari cinta.
Suasana jadi hening setelah semua lintah Ezra pergi satu persatu. Keadaan jadi tenteram tanpa ada konflik perebutan cinta dari lelaki buta ini.
Adeeva kini harus urus bosnya masuk ke kamar untuk istirahat. Adeeva sendiri cukup lelah urus Ezra dan soal retas rekening. Meretas tidak capek di tubuh namun capek di pikiran.
Adeeva menghela nafas ntah harus kasihan pada laki ini atau bersyukur laki ini dikerubuti semut-semut intai gula dolar Ezra. Harus dia apakan laki ini supaya dia cepat terbebas dari bencana besar ini.
"Pak..." panggil Adeeva lembut setelah puas hakimi Ezra dalam hati.
"Aku mau bersih-bersih dan tidur."
"Baiklah!" sahut Adeeva gusar ingat harus berduaan lagi di kamar mandi. Gadis ini trauma mesti berduaan dengan Ezra di tempat super intim.
Adeeva tak punya pilihan lain kalau mau cepat istirahat. Secepatnya buat Ezra menyongsong mimpi ntah bermimpi dengan selir yang mana. Mau piknik ke planet mars atau ke bulan terserah dia. Semua tak ada hubungan dengan Adeeva.
Tanpa banyak mulut Adeeva antar suaminya ke kamar mandi lalu tinggalkan laki itu di dalam. Tak mungkin Adeeva menanti laki itu laksanakan buang hajat. Adeeva tak mau terjebak dua kali dalam suasana canggung bersama Ezra.
Adeeva duduk di atas kasur Ezra menanti laki itu memanggil. Andai Ezra sudah naik ke tempat tidur maka tugasnya kelar malam ini. Dia sudah bisa tenang lewati malam ini hingga fajar menjelang.
"Poni..."
Kuping Adeeva menangkap suara Ezra memanggilnya dengan suara kecil. Tidak teriak-teriak seperti biasa. Apa pula ini.
Adeeva tinggalkan kasur Ezra berjalan ke arah suara Ezra memanggilnya. Semoga laki itu tidak tewas tenggelam dalam bak mandi.
Adeeva mendorong pintu kamar mandi yang tidak terkunci. Adeeva sengaja tidak kunci agar cepat beri bantuan bila terjadi sesuatu tidak diinginkan.
__ADS_1
"Sudah selesai pak?"
"Kepalaku agak pusing. Maukah kamu ambil air minum. Yang hangat ya!" kata Ezra meraba mencari keberadaan Adeeva.
"Oh iya...ayok duduk dulu! Kok mendadak pening? Bukankah tadi masih baik-baik?" Adeeva bantu Ezra pindah ke atas kasur. Dengan telaten gadis ini dudukkan Ezra di tempat tidur.
Setelah yakin bosnya telah aman di kasur gadis ini segera ambil permintaan Ezra segelas air hangat. Adeeva galau juga tiba-tiba Ezra pening. Apa pengaruh benturan di kepala yang menyebabkan dia kehilangan penglihatan? Sudah begini Adeeva menjadi susah hati.
Adeeva memberikan cairan bening hangat pada Ezra. Tangan Adeeva genggam tangan Ezra erat-erat takut laki ini jatuhkan gelas. Perlahan Adeeva bimbing Ezra bawa gelas ke mulut.
Ezra dapat melihat jelas raut wajah cemas Adeeva padanya. Ini awal yang baik Adeeva ada rasa simpatik padanya.
Adeeva pindahkan gelas ke meja kecil samping tempat tidur Ezra. Adeeva belum pernah merawat orang sakit jadi kuatir lihat Ezra kurang sehat. Berbagai pikiran buruk terlintas di benak anak ini. Gimana kalau tiba-tiba Ezra pingsan akibat kelewat pusing.
"Pak...kita ke rumah sakit ya?"
"Tak usah..tidur saja! Kau jangan pergi ya! Tidurlah di samping aku!"
Kalau Ezra dalam kondisi fit omong gitu pasti Adeeva akan beri pelajaran pada laki cabul ini. Tapi laki ini sedang sakit apa dia tega lakukan kdrt pada bos?
"Aku akan tidur di lantai. Bapak tidur saja!"
"Tapi lantai dingin. Nanti kamu pula sakit. Kita berdua sakit siapa akan rawat kita? Kamu masih mending bisa lihat sedang aku? Semua gelap."
"Bapak tenang saja! Aku ini poni bernyawa rangkap. Lantai dingin tak bisa bunuh aku!" Adeeva berkata seraya bantu Ezra berbaring di kasur.
Ezra patuh tak mau kacaukan apa yang sudah dilakukan gadis ini. Tidak seranjang juga tak apa asal Adeeva berada satu kamar dengannya.
"Iya..."
Ezra menutup mata hilangkan rasa pusing yang datang tiba-tiba. Ezra pusing bukan sandiwara. Ntah kenapa kepalanya terasa sangat pening. Apa ini efek dari benturan? Tapi sudah di cek tak ada luka berarti.
Adeeva kembali bawa selimut dan bantal. Gadis bekerja cepat bentang selimut di bawah tempat tidur Ezra. Sudah pasti tidak nyaman tidur di lantai keras. Tulang-tulang pada protes kena ubin dingin. Adeeva tak punya pilihan lain karena Ezra memang tampak kurang ok.
Keduanya baringkan tubuh di tempat masing-masing tanpa berkomunikasi lagi. Adeeva sudah tak sabar ingin cepat tidur. Tadi malam kurang tidur gara kejadian Ezra. Sekarang waktunya bayar tidur tertunda.
Belum sepuluh menit Adeeva sudah keluarkan suara dengkur halus. Ezra tersenyum lalu turun dari kasur perlahan. Ezra berjalan ke arah jendela nikmati hembusan angin malam yang sangat dingin. Apartemen Ezra berada di puncak bangunan maka wajar udara dingin berlomba masuk ke dalam. Tanpa perlu AC kamar sudah cukup dingin.
Puas nikmati ketenangan malam laki ini memutar langkah melihat isterinya tertidur pulas di atas selimut. Gadis ini tak peduli rasa tak nyaman karena ngantuk lebih berkuasa atas diri Adeeva.
"Kapan kau akan menyerah sayang?" gumam Ezra pada diri sendiri.
Ezra menunduk mencium bibir ranum sekilas lalu angkat tubuh Adeeva pindahkan ke ranjang. Tubuh Adeeva cukup berat karena posturnya lumayan tinggi. Walau sedikit kepayahan Ezra berhasil pindahkan Adeeva tidur di sampingnya.
Besok pagi mau perang dunia ketiga tak jadi soal. Yang penting malam ini Ezra tidur nyaman memeluk miliknya. Adeeva akan jadi obat penenang bagi Ezra. Gadis panas yang baik hati.
Ezra tutup kembali jendela dan bersiap merasakan kehangatan tubuh isteri bungsu yang cantik. Masih gres merangsang gairah. Untuk sementara Ezra masih harus tahan diri untuk dapatkan Adeeva yang pasrah.
Ezra tidur nyenyak bersama Adeeva. Gadis ini menyusup ke dalam pelukan Ezra cari kehangatan karena AC disetel paling dingin. Ezra sengaja setel paling dingin agar gadis ini meraba-raba di mana adanya hawa panas. Tentu saja di dada bidang suaminya.
Kya...suara Adeeva memekakkan kuping Ezra. Di luar jendela belum tampak cahaya matahari bersinar artinya belum datang fajar pagi. Mengapa gadis ini cepat bangun hebohkan satu apartemen.
Ezra cepat-cepat mendekap mulut Adeeva agar jangan bersuara ganggu penghuni ruang lain. Bukan cuma mereka yang tinggal di apartemen. Masih ada tetangga yang rata-rata orang berdasi.
__ADS_1
"Kau gila ya?" bentak Ezra tak berani keras. "Aku akan lepaskan kamu tapi jangan bersuara!"
Adeeva mengangguk sambil melawan tak mau dipegang Ezra lebih lama. Ezra lepaskan tangan dari mulut Adeeva biar gadis itu bernafas lega.
Adeeva menarik selimut tutup tubuhnya yang masih utuh tak kekurangan apapun. Adeeva memeriksa kalau-kalau terjadi pelecehan oleh Ezra. Untung pakaiannya masih utuh tak kurang apapun. Pakaian Ezra juga utuh artinya tidak terjadi skandal antara mereka.
"Kenapa aku di sini?"
Ezra tertawa mendapatkan pertanyaan aneh.
"Kamu waras ngak sih? Harusnya aku yang tanya kenapa kau naik ke ranjang aku? Tak sabar mau goda aku?"
Adeeva terdiam merasa bingung. Dia tidur dan terbangun sudah ada di ranjang Ezra. Apa dia ngelindur naik ke ranjang laki itu?
"Aku tidur di bawah. Mana mungkin naik ke ranjang kamu?"
"Nona ..kamu yang naik sendiri kok nyalahin aku? Kau kedinginan cari kehangatan pada suamimu kali. Aku tak keberatan kok! Untuk apa sok tak butuh akhirnya butuh juga."
"Butuh apa?"
"Pelukan hangat suami. Sini kita lanjut tidur. Masih dini hari kok!"
"Siapa lagi doyan laki cabul? Aku mau sholat. Ini waktunya sholat subuh."
Ezra terkesima mendengar kata sholat anak ini. Kapan terakhir dia sholat Ezra sudah lupa. Dunianya hanya ada cari duit serta dipusingkan oleh setengah lusin wanita. Kapan terpikir jalani kewajiban sebagai seorang umat muslim. Lagi-lagi Adeeva perkenalkan sesuatu yang baru baginya.
"Aku harus sholat juga?" tanya Ezra seperti orang bodoh.
Adeeva tertawa sinis melirik wajah tolol Ezra. Ini orang hanya Islam di KTP doang. Prakteknya orang kafir.
"Bapak ngaku orang beragama ya harus laksanakan ibadah sesuai agama kita! Bisa baca ayat sholat?" ejek Adeeva puas bisa pojokan Ezra. Punya otak hebat di bisnis tapi tumpul di iman.
"Aku..."
Adeeva menyibak selimut turun dari ranjang tak menunggu jawaban Ezra. Adeeva malas dengar jawaban orang tak punya pendirian. Mendingan dia kerjakan apa yang bisa dia kerjakan.
Adeeva bereskan selimut dan bantal lalu bawa pindah ke kamarnya. Adeeva tak jamin tak ada orang masuk ke kamar Ezra. Melihat ada selimut di lantai pasti akan beti dugaan liar di benak orang yang lihat peralatan tidur tergeletak di lantai.
Adeeva laksanakan sholat dua rakaat lantas ke dapur siapkan sarapan untuk Ezra. Gadis ini hanya bikin sarapan ringan mengingat kondisi Ezra masih belum fit seratus persen. Seperti kemarin Adeeva godok bubur putih tanpa sayuran. Cuma bubur putih disiram sama bawang goreng. Makanan sehat untuk orang sakit.
Dari dalam kamar belum bersuara artinya bosnya itu lanjutkan mimpi terindah akibat teriakan Adeeva. Ingat ke situ Adeeva menepuk jidat malu pada Ezra dan juga pada diri sendiri. Betapa teledor bisa naik ke ranjang cowok. Di mana harga Adeeva yang mahal?
Adeeva berjanji tidak akan lengah lagi jaga kehormatan sendiri. Enak saja menyerah pada ikan paus. Sudah cukup paus punya enam pengikut. Lima selir dan satu gundik. Adeeva akan segera mundur dari arena perang tak sehat ini.
Adeeva segera mandi dan bersihkan diri dari bau asap dapur. Dapur Ezra ada mesin pengisap asap jadi bau masakan tidak menyengat hidung. Namun bau masakan tetap melekat di badan. Jalan terbaik adalah mandi di pagi hari segar pikiran dan buang semua kotoran kemarin.
Adeeva menjenguk Ezra setelah wangi menggoda hidung lelaki. Bau cologne bayi tercium segar di hidung.
Ruang kamar Ezra tersebar wewangian dari tubuh Adeeva yang selalu dirindukan Ezra. Bau yang hantui dia selama puluhan tahun. Ezra takkan pernah lupakan bau bayi yang jadi tunangannya sejak kecil.
Hidung Ezra menangkap bau Adeeva langsung buka mata. Ezra masih harus berakting pagi ini untuk lihat bagaimana perkembangan kantor setelah tahu dia buta. Siapa akan bersedih dan bersorak atas musibah Ezra.
Ezra tak sabar menanti waktu itu tiba-tiba. Di balik kebutaan dia akan melihat wajah asli orang sekelilingnya. Siapa pakai topeng dan siapa berwajah asli.
__ADS_1