Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Kecelakaan


__ADS_3

Adeeva mencolek Nunik dengan gaya menggemaskan. Nunik melengos tak mau ditowel oleh Adeeva.


"Eh bokap lhu setan ya?"


"Sembarangan...bokap gue pria terganteng sedunia. Bokap lhu kan pria palin alim sedunia jadi kita bukan keturunan setan. Eh bude...dari mana berita kami anak setan? Itu hoax.."


"Kalian ini..." Rani menunjuk kedua gadis di depannya tak bisa melanjutkan kalimat karena kedua anak itu tak bisa diprovokasi.


"Ya kami anak cantik jelita keturunan orang baik! Kalau gitu kami permisi..." Adeeva melambai tak peduli pada Rani yang kesakitan kena high five dua kali dari preman piaraan sendiri.


Adeeva beri kode pada Nunik untuk naik ke mobilnya duluan. Adeeva mau pastikan temannya telah aman baru dia masuk ke dalam mobil Ezra.


Rani tidak tinggal diam beri kode pada kedua preman kejar Adeeva dan Nunik. Don tersentak melihat Rani tetap ngotot cari masalah dengan kedua gadis itu. Don takut Rani berbuat curang keroyok kedua dara manis itu. Dua lawan dua Don tidak kuatir cuma takut Rani gunakan banyak preman. Sehebat apapun Adeeva tetaplah gadis muda. Dia mana mungkin lawan bila premannya lebih dari dua orang.


Don tidak berpangku tangan segera ikuti ketiga kenderaan yang sudah duluan melaju kencang. Bukan Ezra saja tertarik pada keangkuhan Adeeva. Don juga suka lihat gaya slebor Adeeva. Kokoh tak mudah digertak.


Mobil Ezra berlari kencang disusul mobil Nunik yang kelasnya bisa ikut bicara di antara mobil orang Borjuis. Bokap Nunik orang kaya dari Jawa Tengah yang menetap di kota J. Nunik yang buang orang tua tak mau hidup mewah bersama keluarga. Gadis ini pilih hidup sederhana bersama di kota B dengan pekerjaan jauh di bawah standar uang jajan dari orang tua. Walau gitu Nunik senang bisa jadi diri sendiri.


Adeeva mendesah tatkala lihat mobil Rani menyalip mobil Nunik. Adeeva takut terjadi sesuatu pada temannya injak gas pancing mobil Rani jauhi mobil Nunik. Tujuan Rani bukan Nunik melainkan Ezra. Dia pasti kejar Adeeva hingga ujung dunia.


Don ikut dari belakang melewati Nunik. Nunik mana berani bawa mobil kencang. Mentalnya tidak sekeras Adeeva yang kondang dengan tinju dua pilihan. Rumah sakit atau kantor polisi.


Nunik tak berdaya mengikuti permainan mereka yang punya kelas level tinggi. Gadis ini memilih bawa mobil sesuai standar kemampuan sendiri saja.


Di depan mobil Ezra melaju makin jauhi mobil Rani dan mobil Don. Gadis ini terbiasa bawa mobil bolak balik kota J ke kota B sehingga pegang stiur bukanlah hal baru baginya. Jarak ke rumah Ezra juga tidak terlalu jauh lagi. Sebentar lagi mereka akan segera aman.


Rasa lega Adeeva tidak berlangsung lama karena dari arah depan kenderaan lain melaju dengan kencang. Cahaya lampu mobil itu menyoroti kaca mobil Adeeva sehingga Adeeva silau.


Adeeva banting stiur ke pinggir jalan membuat mobil menabrak pembatas jalan yang ditanami pohon. Ezra berada di sebelah kiri auto jadi korban terantuk ke dashboard mobil.


Masih untung Ezra dilindungi safety belt sehingga tidak terbanting ke kolong mobil. Adeeva cukup kaget terjadi tabrakan tunggal gara cahaya lampu. Adeeva melihat mobil yang menyoroti mobilnya telah kabur ntah ke mana. Jalanan juga sepi karena malam telah merangkak makin jauh.


Adeeva segera memeriksa Ezra yang belum sadar. Nasib apes tak hanya milik Adeeva, kini kesialan telah dibagi pada lelaki kaya ini. Salah sendiri mau Adeeva berada di sekitarnya.


"Pak..." Adeeva menarik tubuh Ezra agar bersandar kembali ke jok mobil. Di tengah keremangan Adeeva melihat ada luka di pelipis Ezra.


Gadis ini mencari sesuatu untuk menutupi luka di pelipis Ezra. Bos besar ini mabuk badak atau mabuk menuju alam baka. Tabrakan ini tidak membuatnya tersadar. Untunglah tidak ada luka berarti selain luks di pelipis. Adeeva sendiri hanya terkilir tangan akibat menahan stiur agar tidak terlalu ambil kiri.


Adeeva mencoba hidupkan mobil lagi. Semoga ada sedikit keberuntungan berpihak padanya mobil bisa dihidupkan. Berkali Adeeva stater namun tak ada reaksi.


Adeeva terpaksa turun dari mobil cari bala bantuan. Semoga saja Nunik peka ikuti dia sampai ke tempat ini. Angin nakal menambah penderitaan Adeeva mencubit kulit gadis ini walau terbalut pakaian.


Adeeva meneleponi Nunik minta bantuan bawa Ezra ke rumah sakit. Kalau terjadi hal tak diinginkan pada Ezra ntah bagaimana Adeeva harus menjawab pertanyaan keluarga laki itu. Mereka akan senang atau menuntut Adeeva dengan pasal pembunuhan berencana.


Sebelum ponsel tersambung ke Nunik satu mobil berhenti di belakang mobil Ezra. Adeeva was-was kalau itu komplotan Rani lagi. Mobil Rani tak tampak bayangan begitu mereka alami kecelakaan. Rani ketakutan atau sedang susun rencana lain.


"Om..???" seru Adeeva girang melihat siapa yang datang.


"Ya Tuhan...apa yang sedang terjadi?" teriak Don kaget melihat mobil Ezra ringsek bagian kiri. Don segera periksa kondisi Ezra yang duduk di sebelah kiri.


"Maaf om..tadi aku dikejar maka aku sedikit kencang. Dari arah berlawanan muncul mobil hendak tabrak aku maka aku banting stiur. Tolong bawa pak Ezra ke rumah sakit! Aku takut terjadi sesuatu padanya. Please.." Adeeva memohon merapatkan tangan ke dada.


Tanpa diminta Adeeva pun Don akan bawa Ezra ke rumah sakit. Don bukan buta tak lihat ada luka di pelipis Ezra. Kalau tidak segera ditangani bisa bawa akibat lebih ngeri.


"Kau tak apa?" Don meneliti Adeeva takut gadis itu terluka.


"Tidak apa...antar pak Ezra dulu! Aku akan jaga mobil ini sampai pagi!"

__ADS_1


"Tidak usah...aku akan minta teman derek mobil ini ke bengkel. Kamu ikut aku ke rumah sakit. Soal mobil kau tak perlu kuatir. Itu urusan aku! Ayok kita pindahkan Ezra ke mobil aku!"


"Iya om!"


Adeeva dan Don bergerak memindahkan Ezra ke mobil Don. Sebenarnya tangan Adeeva sakit karena terkilir namun gadis ini mengeluarkan sepatah kata aduh. Gadis ini sangat kuat menahan derita. Don mengira Adeeva baik-baik saja maka tidak bertanya lebih detail.


Don meneleponi seseorang urus mobil Ezra malam ini juga. Keselamatan Ezra jauh lebih penting dari sebuah mobil. Masih ada puluhan mobil terparkir di istana Ezra.


Don dan Adeeva segera larikan Ezra ke rumah sakit. Don sangat menyesal biarkan Adeeva pergi tanpa pengawalan anak buahnya. Rani memang gila mengejar Ezra sampai lupa daratan. Apa wanita itu tidak paham arti keselamatan nyawa orang lain.


Adeeva dan Ezra duduk di jok belakang karena Ezra butuh sandaran. Kepala Ezra bersandar pada dada Adeeva agar tidak terbanting lagi. Adeeva tak mau ambil resiko terjadi kecelakaan ganda. Gimana kalau Ezra nyungsep ke kolong mobil. Cerita pasti akan lebih panjang.


Sesampai di rumah sakit Ezra langsung ditangani oleh dokter piket. Luka si pelipis tidak terlalu parah cuma laki itu belum sadar. Semoga saja bukan pingsan ganda. Pingsan mabuk dan pingsan akibat benturan.


Adeeva menanti di luar dengan galau. Walau Ezra suka kerjain Adeeva namun Adeeva tak harap laki itu celaka. Sedikitpun Adeeva tidak ada niat buruk pada Ezra. Adeeva hanya mau bebas dari jeratan laki itu. Tak ada permintaan lain.


Don dampingi Ezra selama pemeriksaan. Dokter yang memeriksa belum bisa pastikan benturan Ezra ada efek samping atau tidak. Masih butuh pemeriksaan lanjutan. Berhubung sudah tengah malam tak ada dokter spesialis maka pemeriksaan akan dilakukan esok pagi. Malam ini Ezra di rawat di ruang VIP sesuai standar kemampuan laki itu.


Di luar sana Adeeva berhasil hubungi Nunik. Berkali dihubungi baru tersambung. Nunik tentu belum tahu Adeeva baru saja alami mimpi buruk. Niat mau bantu Ezra eh malah tertimpa musibah.


"Halo... assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam...ya ampun sis! Kamu di mana?"


"Apes dah! Aku di rumah sakit. Kami tabrakan. Lhu di mana?"


"Dalam perjalanan pulang! Aku balik deh! Kirim alamat lhu sekarang! Kau tak apa?"


"Tak apa cuma terkilir! Jemput aku ya!"


"Nggak usah. Lhu saja sudah cukup. Tangan gue sakit sis! Mulai memerah!"


"Ok...ok...gue datang!"


"Trim's sayang! Lope you!"


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.." sahut Adeeva lesu.


Adeeva mengedarkan mata ke setiap sudut rumah sakit yang sangat bersih. Pasti rumah sakit mahal tak terima kartu sehat. Ezra tentu tak keberatan bayar mahal untuk dapat perawatan lebih baik.


Adeeva menggerakkan tangan perlahan cari tahu sampai di mana tingkat rasa sakit. Ternyata lumayan perih. Tanpa sadar Adeeva meringis menahan rasa perih.


"Nona...tangan kamu kenapa?" tegur seseorang memaksa Adeeva angkat kepala.


Seorang dokter muda berkacamata meneliti ekspresi wajah Adeeva menahan rasa sakit. Dokter ini menduga gadis ini juga terluka tapi sok kuat.


"Oh tak apa dok! Hanya sedikit terkilir! Tarok balsem juga sembuh." Adeeva menyembunyikan tangan ke belakang tak ijinkan dokter lihat tangannya.


"Bagusnya diperiksa! Siapa tahu ada tulang retak. Sering tulang retak dianggap terkilir. Sudah busuk di dalam baru ketahuan."


"Lalu?"


"Diamputasi...daging di dalam sudah membusuk. Tak ada yang bisa kami lakukan selain buang tangannya agar tidak terkena jaringan otot lain." ujar dokter itu kalem.


"What? Amputasi? Segitu parah? Aku sering terkilir toh sembuh sendiri! Dokter ini tukang dongeng ya? Nakuti anak kecil."

__ADS_1


"Aku cuma kasih tahu. Mau periksa atau tidak terserah nona! Diamputasi juga tangan nona." Dokter memasukkan tangan ke baju snelli kedokteran. Gayanya santuy acuh pada mulut tajam Adeeva.


Adeeva jadi bimbang termakan omongan sang dokter. Dulu dia sering terkilir akibat latihan taekwondo dan Muay Thai. Paling diurut sebentar lalu di beri balsem panas. Satu dua hati juga sembuh. Nggak mungkin gara kecelakaan ini dia harus kehilangan tangan.


"Maaf dok! Apa periksa di sini sangat mahal? Aku tak punya uang." kata Adeeva jujur tak mau sok kaya.


"Kalau sekedar periksa kugratiskan tapi kalau operasi ya harus bayar mahal."


"Gratis? Alhamdulillah.. Kudoakan semoga pak dokter punya jodoh sepanjang gerbong kereta api!" ujar Adeeva mulai konyol lagi.


Dokter itu melongo sesaat namun akhirnya tertawa geli. Doa yang cukup aneh. Mana ada orang jodoh sampai gitu panjang. Satu saja ntah kapan selesainya?


"Keluarkan tanganmu!" perintah dokter itu wibawa. Adeeva seakan kena hipnotis ulurkan tangannya untuk diperiksa dokter itu.


Sang dokter mengernyit alis lihat ada tangan cewek ada kapalan di ruas jari. Tak usah ditebak gadis ini pegiat olahraga bela diri. Hanya orang sering tinju samsak baru ada kapalan model gituan di ruas jari.


"Petinju ya?" tanya dokter sambil periksa pergelangan tangan Adeeva yang mulai memerah. Dokter itu memutar pergelangan tangan Adeeva lihat bagaimana reaksi gadis itu.


Adeeva hanya meringis tanpa keluarkan sepatah katapun. Dokter mengangguk mendapat gambaran tentang tangan Adeeva.


"Syukur tidak patah. Nanti pulang oles obat biar tidak bengkak makin merah. Minum obat anti nyeri bila muncul rasa sakit tak tertahankan."


"Terima kasih dok! Oya pasien tabrakan tadi gimana? Sudah sadar?"


"Maksudmu pak Ezra?"


"Iya...aku yang bawa mobil tabrak pagar jalan."


"Kau apanya pak Ezra? Kok bisa bersamanya tengah malam buta gini?" dokter itu curigai Adeeva termasuk wanita nakal piaraan Ezra. Siapa tak kenal Ezra yang punya segudang wanita.


"Aku? Buang pikiran kotor pak dokter ya! Aku ini Aspri pak Ezra. Murni bos dan karyawan. Tak embel-embel ayam loncat, kutu kupret atau pot pajangan." Adeeva duluan cuci otak dokter itu agar tidak mengembara liar.


Dokter itu tertawa. Adeeva kok merasa dokter itu tak percaya pada ceritanya. Sungguh naas jumpa cowok bermata keranjang. Berdiri di sampingnya saja bisa dapat reputasi buruk.


"Terserah mau pikir apa! Yang penting aku jalan di jalan aku. Mana resep obat aku? Biar aku tebus di apotik luar."


Dokter itu meneliti Adeeva dengan heran. Aspri seorang Ezra kok miskin sekali sampai tebus obat di apotik rumah sakit tak punya uang. Pura-pura miskin biar dikasihani.


"Kau tak digaji?"


"Ya digaji tapi apa aku tak makan? Bayar uang kost? Bayar uang bahan bakar? Habis bukan habis gaji." sungut Adeeva ingat nasibnya yang makin hari makin suram.


"Aku tak percaya Aspri seorang bos besar kekurangan uang."


"Yang kaya bos aku bukan aku. Aku harus segera pulang. Jemputan aku segera datang."


"Wah...Aspri merakyat.." puji Dokter itu. Ntah kenapa Adeeva merasa itu bukan pujian melainkan sindiran.


Adeeva kesal juga dianggap salah satu tikus pengerat uang Ezra. Wanita yang dekat laki itu selalu dapat image buruk. Apa lagi kalau bukan jadi gula-gula laki itu.


Adeeva bangkit tinggalkan dokter usik itu. Dari pada makan hati mendingan Adeeva keluar tunggu dijemput Nunik. Dokter itu kaget pada gaya brutal Adeeva. Cepat amat baik darah. Dicurigai sedikit kontan naik tensi.


"Nona...resep kamu."


"Tidak perlu...digosok pakai air ludah juga sembuh." Adeeva melengos angkuh tinggalkan dokter bermulut ember itu. Dokter bukannya urus orang sakit malah bergosip cewek Ezra. Dokter apa emak-emak arisan.


Dokter itu tertawa geli lihat ada orang keberatan dihubungkan dengan Ezra.

__ADS_1


__ADS_2