
Adeeva dan Nunik bukan orang yang gampang percaya pada omongan kosong. Mereka berdua akan ikut dengan si Parmin untuk menjumpai adiknya yang konon katanya sedang sakit. Setelahnya Adeeva berjanji dalam hati akan membantu Akbar mengurus ayahnya yang seorang residivis. Mana ada ayah di dunia ini yang ingin mencelakai anak sendiri kalau bukan penjahat.
"Dek Nunik...adik Parmin memang sakit! Itu sudah lama. Penyakitnya sudah terlanjur berat dan hampir tidak ada obat yang bisa mengobati penyakit adik Parmin." Supono perkuat argumentasi Parmin. Satu kampung juga tahu kalau adik si Parmin sakit berat. Dan si Parmin sudah berusaha menyembuhkan adiknya dengan segala upaya namun sayang belum ada kemajuan selain bertahan dengan penyakit sekarang.
"Berhubung rumah si Parmin dekat dengan sini maka kami ingin melihat dengan mata kepala sendiri. Karena kami melihat sapi betina yang ganas tidak akan tinggal diam bila dibohongi." sahut Nunik tak mau kecolongan hanya dengan berdasarkan omongan Supono.
"Ok...kita pergi! Biar kukawani nona-nona cantik ini." Supono menawarkan diri ikut dengan Parmin ke rumahnya.
"Kita pergi dengan apa?" tanya Nunik sudah tak sanggup bila diajak berjalan kaki. Rumah Parmin dibilang dekat tapi tak ada bayangan ada rumah di sekitar peternakan. Paling dekat juga satu dua kilometer.
"Kita naik motor saja! Kalian bisa bawa motor?" kata Parmin menunjuk motor yang terparkir di dekat bangunan tempat sapi.
"Bisa dong! Jangan motor pesawat juga bisa!" jawab Nunik menyombongkan diri. Adeeva mengulum senyum dengar bualan Nunik. Bawa mobil saja suka hilang sasaran. Gimana mau bawa pesawat.
"Tapi gimana kondisi sapinya?" tanya Adeeva teringat sapi Akbar yang keracunan.
"Alhamdulillah tak apa lagi. Cuma masih butuh perawatan."
"Lalu gimana dengan pembeli?"
"Kita ganti dengan yang lebih baik lagi. Pelanggan itu raja maka harus kita layani sebaik mungkin." sahut Akbar kalem menenangkan Adeeva. Akbar merasa Adeeva lebih cocok jadi isteri orang desa daripada Nunik yang agak ceplas ceplos. Adeeva lebih tegas dan tidak pecicilan seperti Nunik. Jelas Adeeva lebih dewasa daripada Nunik.
Adeeva mengangguk suka pada cara Akbar berdagang. Tidak curang merugikan orang lain. Di jaman ini sudah ada berapa orang jujur. Semua andalkan kecurangan cari keuntungan sebanyak-banyaknya.
"Kami pergi menjenguknya adik Pak Parmin dulu ya!" Adeeva minta izin seolah Akbar memang orang sangat berarti. Satu kehormatan bagi Akbar dihargai gadis secantik Adeeva.
Dua laki dua cewek naik motor pinjaman pegawai kebun melaju ke rumah Parmin. Adeeva tak tahu seberapa dekat rumah Parmin. Yang pasti belum tampak di mata.
Di tempat lain Ezra dikejutkan oleh surat panggilan dari pengadilan agama. Ezra sudah duga apa isi surat dari pengadilan itu. Tak perlu dibaca Ezra bisa tebak isi surat akan merugikan Ezra. Ezra pantas mendapat surat panggilan itu.
Darah Ezra membeku memegang amplop warna coklat muda. Wajah laki itu berubah hitam karena surat itu susah berada di tangannya.
Ruben yang antar surat ini bisa baca gelagat kurang baik. Ezra pasti akan ngamuk bila kuda kecilnya benar ingin melalang jauh dari sisinya. Tapi bukan salah si Poni bila memilih kabur sejauh mungkin. Ezra memang keterlaluan. Adeeva pasti menang dalam perkara perceraian ini.
Ezra telah terbukti berselingkuh dengan seorang wanita yang bukan istrinya dan tersiar di seluruh tanah air. Wanita mana bersedia menerima suami yang punya sifat buruk. Terutama Si Adeeva yang akalnya tak bisa ditebak dan keras kepala.
"Siapkan pengacara terbaik!" perintah Ezra tanpa buka surat dari pengadilan itu.
"Pak...Poni pasti menang! Dia tak perlu menunjukkan bukti karena bukti telah beredar di seluruh tanah air."
Ezra menggebrak meja marah tak terima Ruben menyerah sebelum berperang. Ezra akan pertahankan Adeeva dengan cara apapun. Jika perlu mengancam orang tua Adeeva untuk cabut tuntutan cerai. Ezra tak rela kehilangan Poni si bayinya. Tidak mudah temukan bayi itu dan sekarang harus pergi lagi.
"Panggil saja pengacara! Aku harus temukan Poni secepatnya. Apa kerjamu selama ini? Cari seorang cewek saja tak becus! Kuberi kau waktu satu Minggu cari Poni. Kalau tak ketemu kau pindah ke Papua. Sekarang enyah dari hadapan aku!"
Ruben terpaksa angkat kaki dari ruang kerja Ezra. Dalam hati Ruben kesal pada Adeeva yang suka main ngumpet. Yang kena imbas tetap dia. Seminggu tidak menemukan Adeeva taruhan hidup di hutan Papua. Betapa nestapa hidup Ruben.
Ezra meremas rambut sendiri sampai acak-acakan. Baru kali ini raja tambang kaya raya hancur gara seorang cewek muda. Ternyata uang tak bisa beli semua wanita di dunia ini. Masih ada cewek tak tertarik pada pesona raja tambang tajir.
Ezra terlalu angkuh pada kekayaan pikir semua cewek mati sebelah badan berhubungan dengannya. Biasa Ezra yang memilih wanita mana bakal diajak bercinta. Kini Ezra Tercampakkan oleh seorang cewek sangar. Tamat sudah keangkuhan laki angkuh ini.
__ADS_1
Ezra tengah berduka dapat panggilan dari pengadilan agama. Sementara di tempat lain Adeeva dan Nunik telah tiba di rumah Parmin. Katanya dekat tapi hampir setengah jam baru tiba di rumah pegawai Akbar itu.
Rumah Parmin sangat sederhana semi permanen. Ada sebagian bangunan masih terbuat dari kayu papan. Di samping rumah ada kandang ayam dan bebek. Tak usah diceritakan jelas Parmin berasal dari keluarga sederhana.
Adeeva dan Nunik menelan air ludah menyesal telah vonis Parmin penjahat kelas kakap. Ternyata Parmin berbuat curang ada alasannya. Tapi berbuat jahat tetap tidak dibenarkan walaupun apa masalah. Jangan gunakan kemiskinan sebagai kambing hitam untuk berbuat curang.
"Ini rumahku! Ayo masuk!" Parmin persilahkan Adeeva dan Nunik masuk ke dalam rumah berlantai semen biasa. Tidak dipasang ubin keramik.
"Assalamualaikum. Bu...Bu.." Parmin berteriak panggil ibunya.
"Waalaikumsalam...eh Parmin! Kok cepat pulang nak? Jadi bawa Mina ke rumah sakit?" seorang perempuan bertubuh kurus muncul dari belakang.
Adeeva dan Nunik makin dirundung rasa sesal main hakim sendiri terhadap Parmin. Anak itu pasti kesakitan kena tendangan bertubi dari Adeeva dan Nunik.
"Jadi Bu...Oya kenalkan ini majikan dari kota!" Parmin perkenalkan Adeeva dan Nunik pada ibunya.
"Aku Adeeva Bu.."
"Aku Nunik..."
"Aduh nak! Rumahnya jelek. Ayo duduk!" Ibu Parmin cepat-cepat gelar tikar karena di rumah itu tak ada bangku maupun kursi.
Hati Adeeva makin tak nyaman karena dia yang sangat keras pada Parmin. Berapa kali dia hajar laki itu.
"Terima kasih Bu! Maaf kami telah merepotkan ibu." kata Adeeva merasa sangat bersalah.
"Siapa bilang merepotkan? Ibu malah senang ada orang mau datang ke gubuk kami. Kami sangat miskin tak ada tamu mau datang."
"Ada dalam kamar...dia agak lemah karena belum dapat tambahan darah. Mau lihat adik?" Ibu Parmin menyibak kain pintu salah satu kamar.
Adeeva dan Nunik segera bangkit ikut ibu Parmin masuk kamar.
Mata Adeeva dan Nunik langsung berembun lihat kondisi adik Parmin. Seorang gadis kecil kurus kering terbaring tak berdaya di atas kasur. Muka tirusnya pucat putih tak berdarah. Jelas sekali anak itu sangat menderita. Nafasnya pendek tersengal seperti tak mampu menarik nafas lagi.
"Hai Mina...aku ini teman mas kamu! Mau ke rumah sakit ya?" tegur Adeeva tawarkan keakraban.
Anak itu hanya angguk kecil nyaris tak terlihat. Nunik hampir menangis kencang tak sanggup lihat penderitaan anak kecil ini. Mengapa Tuhan sangat tega menurunkan penyakit mematikan ini pada seorang anak tak berdosa.
"Kita pergi sekarang! Ayo pak Parmin kita bawa Mina ke rumah sakit. Semua biaya biar aku yang tanggung. Rawat dia sampai sehat." Nunik tak mampu bendung kesedihan bersedia jadi donatur anak ini.
"Tapi biayanya sangat besar non! Sampai ratusan juta."
"Tenang...aku punya kok! Cari angkutan! Kita segera berangkat!" Nunik tak peduli keheranan Supono dan Parmin ada orang rela rogoh kocek sampai jebol untuk bantu orang baru dikenal.
Sama seperti Adeeva, Nunik juga bersalah telah keras pada Parmin. Laki itu tak berdaya lihat adiknya kesakitan maka tega khianati Akbar. Kali ini Nunik maafkan Parmin.
"Tunggu aku pinjam mobil pak RT dulu ya!" Parmin tersadar kalau adiknya butuh pertolongan. Laki ini berlari keluar pinjam mobil tetangga yang merupakan RT setempat. Kalau pak Rt nya tak mau pinjam artinya laki itu bukan manusia.
"Bu...ibu bersiap juga bawa adik ke rumah sakit. Bawa sedikit pakaian agar tak usah bolak balik. Ibu harus rawat adik di rumah sakit." Nunik menepuk ibu Parmin agar bergerak sediakan keperluan Mina dan ibu sendiri.
__ADS_1
"Tapi nak...ibu tak punya banyak duit bayar rumah sakit."
"Tenang Bu...kita kan ada BPJS! Nanti dicover oleh BPJS."
"BPJS hanya bantu transfusi darah tapi tak bisa rawat inap karena tidak bayar untuk penyakit kanker."
"Bisa...nanti kubilang pada pihak rumah sakit. Di sana adik akan dirawat lebih baik. Ayok!" Nunik beri semangat pada ibu Parmin untuk yakin pada mereka.
Ibu Parmin tidak berkata apa-apa lagi. Perempuan tua ini masuk kamar persiapkan semua bekal untuk nginap di rumah sakit.
Supono angkat topi pada kebaikan dua cewek ini. Selain cantik di rupa keduanya juga cantik di hati. Akbar beruntung dapat gadis cantik dan baik.
Mina dibawa juga ke rumah sakit terdekat yang biasa tangani gadis ini. Terdekat juga makan waktu hampir setengah jam lebih. Maklumlah Parmin tinggal agak pelosok jauh dari kota.
Adeeva dan Nunik tetap setia dampingi Parmin sampai ke rumah sakit. Mina sudah sering berobat di sini maka hampir seluruh dokter dan perawat kenal.anak ini. Mereka langsung tahu apa yang harus dilakukan tangani Mina yang sedang drop.
Kali ini Mina akan dirawat untuk mendapatkan perawatan lebih intensif. Nunik langsung kasih uang deposito untuk biaya perawatan Mina biar lebih maksimal. Pihak rumah sakit tentu senang Mina bisa mendapat perawatan lebih baik. Biasa siap transfusi darah Mina langsung dibawa pulang karena takut kena biaya mahal. Tak semua penyakit dibayar oleh BPJS salah satunya penyakit kanker.
Adeeva sangat terharu lihat Nunik bersedia bantu Parmin. Uang bukan masalah bagi Nunik. Anak itu punya orang tua super tajir. Seratus dua ratus juta bukan beban bagi keluarga Nunik apalagi ini untuk bantu orang sakit.
"Pak Parmin apa penyakit Mina bisa ditangani di sini?" tanya Adeeva meragukan kemampuan dokter spesialis rsu situ. Rumah sakit type C apa ada dokter khusus penyakit itu?
"Ngak bisa...cuma hanya bisa transfusi darah dan kasih obat anti nyeri."
"Jadi cuma transfusi darah lalu minum obat pereda nyeri? Pangkal penyakit tidak diobati?"
"Memang pernah disuruh rujuk ke rumah sakit di Semarang tapi dari mana biaya kami? Kami sudah pasrah pada nasib adikku. Asal dia bisa bernafas kami sudah bersyukur."
"Astaghfirullah..hei Nunik! Cari tahu tentang rumah sakit di Semarang dong! Masa hanya transfusi darah? Kapan sembuhnya?"
Nunik yang ikut nguping termenung. Begini terus Mina hanya menunggu waktu menghadap Yang Maha Kuasa. Akankah mereka menyerah biarkan seorang gadis kecil terbuang menunggu dijemput malaikat maut?
"Malam ini biar Mina dirawat dulu. Besok kita pikir cara rujuk ke rumah sakit khusus tangani pasien kanker. Kami akan usaha pak Parmin. Sekarang kita rawat Mina sampai punya tenaga jalan jauh. Ok?" Nunik belum punya solusi untuk rujuk Mina. Mereka tak bisa tergesa-gesa ambil keputusan. Mesti cari jalan paling tepat agar tepat sasaran.
"Baik nona...terima kasih budi baik kalian! Aku tak menyesal dapat pelajaran berharga dari nona." kata Parmin mengelus pipinya yang kena hajar Adeeva.
"Maafkan kekasaran kami! Kami ini memang orang kasar. Tapi percayalah kami ini orang baik!" Adeeva juga minta maaf telah menghajar Parmin sampai babak belur.
"Aku percaya nona orang baik tegakkan keadilan. Aku yang tak tahu diri curangi bos. Aku akan kembalikan uang pak Siswoyo."
"Itu bagus! Oya...ini ada sedikit uang berikan pada ibu untuk jadi pegangan." Adeeva beri beberapa lembar uang warna merah pada Parmin sebagai bekal mana tahu butuh sesuatu. Adeeva tidak sekaya Nunik maka hanya bisa ngasih ala kadar. ATM Ezra masih di tangan Adeeva namun Adeeva tidak tertarik gunakan uang lelaki bejat itu. Adeeva jijik dengan lelaki itu.
Parmin terharu banget pada kebaikan dua cewek ini. Mimpi apa dia jumpa dua gadis hebat terutama tinju dan tendangan keduanya. Seumur hidup Parmin takkan lupakan pelajaran berharga dari kedua cewek ini.
"Terima kasih ya nona! Semoga Allah balas jasa kalian!"
"Amin..."
Supono hanya bisa jadi saksi kehebatan dua cewek ini. Mereka adalah Kartini masih kini perjuangkan kaum lemah. Supono juga bukan orang kaya sekali belum bisa bicara banyak soal bantuan pada Parmin. Kalau sekedar sumbang ala kadar mungkin Supono tidak keberatan tapi bila harus tanggung biaya pengobatan jauh dari kemampuan.
__ADS_1
"Kamu temani ibu dulu ya! Kami balik ke peternakan dulu. Kalau ada apa-apa teleponi kami. Ini nomor kontak aku!" Nunik beri nomor ponselnya pada Parmin