Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Tragedi Sosis


__ADS_3

"Ambil duit ini! Jangan sekali-kali kalian datang ganggu ibu lagi. Aku siap ganti tugas dokter gigi cabut gigi kalian." Adeeva melempar uang itu ke arah preman ceking.


Si ceking dengan sigap menangkap duit dari Adeeva. Tidak seberapa tapi lumayan untuk beli rokok. Sambil nyengir kuda keempat preman itu ngacir sebelum tensi darah Adeeva naik ke otak.


Sepeninggalan preman Adeeva mencari Nunik dan Bu Sulis. Kedua wanita itu berada dalam kontrakan Nunik. Adeeva menyesali kebodohan Nunik tak bisa lindungi orang tua. Nunik juga petarung seperti dirinya tapi nyali Nunik cuma sampai di arena pertarungan.


Adeeva mengetok pintu rumah Nunik. Tak perlu tunggu lama wajah kuyu Nunik dan Bu Sulis menyembul keluar.


"Sudah kabur?" tanya Nunik lirik kiri kanan cari bayangan begundal itu.


"Sudah...katanya mau lawan aku di dojang. Sama preman papan gilasan lhu takut!" sindir Adeeva memandang remeh pada Nunik. Bu Sulis tersenyum sudah hafal sifat blak-blakan Adeeva. Bu Sulis tahu kedua anak gadis ini anak baik. Tak pernah buat ulah merusak nama baik kontrakan beliau.


"Bukan takut tapi geli harus hajar tubuh kerempeng gitu! Takutnya patah lima." Nunik membela diri tak mau dipandang rendah oleh Adeeva.


"Ngeles...aku balik dulu! Besok masih ada setumpuk tugas di kantor. Oya Bu...Eva titip rumah ya? Minggu depan sudah pulang kok! Kalau preman itu datang lagi telepon saja!"


"Tidak singgah lagi?"


"Tidak usah...sudah malam! Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." sahut Nunik dan Bu Sulis barengan.


Adeeva melangkah dengan gagah menembus dinginnya udara malam hari. Bu Sulis dan Nunik salut pada kesetiaan Adeeva pada mereka. Tidak menolak datang begitu dengar teman dalam kesulitan.


Adeeva arahkan mobil kembali ke apartemen Ezra. Semoga saja bosnya belum balik dari kumpul teman. Semoga bukan kumpul kebo.


Dengan langkah ringan Adeeva naik ke lantai enam tempat Ezra. Suasana sekitar apartemen sudah sepi. Tak ada suara orang melakukan kegiatan.


Adeeva menekan kode pasword pintu kamar Ezra. Pintu terbuka, Adeeva disambut ruang gelap gulita. Tak ada seberkas cahaya pun di apartemen milik bosnya itu.


Adeeva merutuk dalam hati tidak hafal di mana saklar lampu. Baru keluar sebentar ketiban nasib apes. Ini akibat kabur dari rumah bos tanpa permisi.


"Sialan...mana saklar lampu? Kaya tapi pelit. Listrik saja tak mau bayar." desis Adeeva pada diri sendiri.


Adeeva teringat ponselnya ada lampu senter segera meraba saku cari benda sakti mandraguna itu. Benda itu tidak berada di badan Adeeva. Pasti tertinggal di kamar gara-gara ingin cepat bantu Nunik.


Adeeva terpaksa gunakan insting kelelawar meraba dalam kegelapan. Tangan Adeeva maju ke depan meraba-raba mencari dinding cari di mana saklar lampu berada. Di depan teraba benda hangat sedikit kenyal.


Adeeva penasaran benda apa halangi dia. Tangan Adeeva meraba berulang kali dari atas sampai ke bawah. Pas agak ke tengah teraba sesuatu benda kenyal memanjang agak lunak.


Adeeva makin penasaran meremas benda itu. Rasanya aneh dilapisi kain tebal. Berulang kali Adeeva menyentuh benda itu berharap itu bukan benda berharga di rumah Ezra. Takutnya kesandung dan rusak. Pakai apa dia bayar.


Tangan Adeeva masih berada di benda itu tiba-tiba lampu menyala. Adeeva menjerit kaget karena di depannya ada Ezra dan tangan Adeeva berada di antara paha laki itu.


Secara otomatis Adeeva menarik tangannya dari benda aneh di antara paha Ezra. Adeeva ingin mati saja detik itu. Kalau ada algojo Adeeva bersedia dipancung untuk tutupi rasa malu.


"Yaaa...sosis ...." teriak Adeeva kabur dari hadapan Ezra berlari masuk ke kamar.


Ezra tersenyum simpul lihat reaksi Adeeva telah menyentuh benda pusakanya. Kalau lebih lama lagi Adeeva bergerilya di daerah vital itu Ezra tak jamin gadis itu selamat dari sergapan nafsunya.


Di dalam kamar Adeeva komat kamit baca doa agar dimaafkan dari dosa menyentuh punyaan lelaki. Sumpah mati Adeeva tidak tahu Ezra berada di depannya. Peristiwa paling memalukan seumur hidup. Apa Adeeva masih punya muka jumpa Ezra esok hari?


Ezra pasti berpikir Adeeva cewek mesum cari kesempatan merayu bos. Kalau bumi bisa dibelah rasanya Adeeva ingin masuk ke dalam biar hilang dari peredaran mata bosnya.

__ADS_1


Adeeva memicingkan mata berusaha melupakan kejadian memalukan ini. Besok Adeeva ingin minta maaf pada Ezra bahkan siap dipecat bila bosnya tak senang dilecehkan gadis muda macam dia. Ezra pasti terhina benda pusakanya digerayangi oleh Adeeva.


Adeeva tak tahu jam berapa dia baru tertidur. Tahu-tahu sinar matahari menerobos masuk kamar lewat dinding kaca. Adeeva terduduk di kasur mengingat tragedi memalukan tadi malam. Adeeva harus berani bertanggung jawab telah melecehkan harga diri bosnya. Apa pun resiko Adeeva telah siap.


Adeeva mengambil handuk dan peralatan mandi menuju ke kamar mandi yang berada di luar kamar. Kepala Adeeva duluan keluar intip di mana bosnya berada. Ternyata aman. Tak ada bayangan bosnya.


Secepatnya kilat Adeeva masuk ke kamar mandi untuk mandi pagi. Badan terasa segar dan pikiran plong kena siraman air dingin. Adeeva sudah terbiasa mandi pagi tidak merasa dingin lagi udara pagi hari lumayan dingin.


Adeeva mengeluarkan sepasang pakaian untuk ke kantor. Pagi ini Adeeva kenakan celana panjang berbahan kain katun warna hijau tosca beserta kemeja lengan panjang bermotif kotak kecil berpadu aneka warna. Pakaian Adeeva memang sederhana tidak banyak model. Adeeva bukan gadis pencinta model-model gaun. Itu hanya menghambat gerakan Adeeva.


Rambut Adeeva dikuncir ekor kuda tanpa hiasan apapun. Adeeva sederhana namun cantik. Wajah cantik itu hanya dipolesi cream Sunblock dan bedak tabur. Tanpa sentuhan mascara maupun eye shadow Adeeva tampil cantik pagi ini.


Adeeva meraih tas kerjanya berisi laptop dan beberapa berkas dari Ezra. Adeeva harus berani jumpai Ezra walau telah terjadi tragedi sosis yang memalukan.


Dengan langkah perlahan Adeeva mencari tubuh tinggi bosnya. Adeeva seperti maling intip tuan rumah apa masih berada dalam rumah atau sudah pergi.


Orang yang dicari sedang duduk di meja makan sarapan pagi. Bau kopi tercium sampai ke hidung Adeeva. Saat begini Adeeva mana berani minta numpang sarapan apa lagi ikut cicipi gurihnya kopi robusta milik bos.


"Selamat pagi pak! Aku berangkat duluan. Permisi..." Adeeva melewati Ezra tanpa berani menatap wajah bos.


"Duduk sarapan dulu!" ujar Ezra dengan suara berat.


"Sarapan di kantor pak!" Adeeva terus berjalan sampai ke pintu.


"Kubilang duduk! Jelaskan ke mana kau pergi! Bukankah aku suruh kamu di rumah? Kau ngelayapan di malam hari." bentak Ezra dengan suara keras.


Nyali Adeeva langsung menciut kena bentakan Ezra. Yang ini Adeeva tak bisa mengelak karena ini memang salahnya melanggar perintah bos.


"Maaf pak! Semalam ibu kontrakan aku diganggu preman. Teman aku telepon maka bergegas pergi tak sempat pamitan."


"Mau jadi pahlawan lagi? Apa kau tak tahu betapa bahaya mencari masalah dengan orang tak punya akal sehat? Apa selama ini begini kamu hidup?" Ezra menyandarkan tubuh ke sandaran bangku menatap Adeeva dalam-dalam.


"Nggak pernah berantem pak! ini cuma kebetulan saja."


"Ooo...banyak benar kebetulan kamu. Mulai detik ini di mana aku di situ kamu. Jangan membantah!"


"Iya pak! Kan selama bapak di sini kan?" tanya Adeeva belum berani menatap langsung tampang gusar Ezra.


Adeeva tak menyangka Ezra akan sangat marah dia kabur tanpa ijin. Adeeva bukan takut soal dia pergi tanpa pamit tapi takut Ezra ungkit tragedi memalukan dia gerayangi benda pusaka Ezra.


"Aku akan selidiki apa kau bohong atau pergi ngelayap ke tempat tak benar. Kalau kau ketahuan mampir di tempat tak pantas maka aku akan hukum kau tak boleh keluar ari rumah ini."


Adeeva melongo. Bos model apa mencampuri urusan pribadi pegawai sendiri. Adeeva memang kerja pada Ezra bukan berati harus jual kebebasan pada Ezra.


"Pak selepas kantor bapak tak berhak campuri urusan pribadi aku. Aku jamin apa yang kulakukan takkan pengaruhi kinerja kerja aku. Aku akan profesional dalam bertugas." protes Adeeva mulai tak nyaman Ezra masuk terlalu dalam ke kehidupan Adeeva.


Ezra tersadar dia memang telah melampaui batasan seorang bos. Mana ada bos ikut campur urusan pribadi anak buah. Ezra makin gundah mendapatkan Adeeva jalani hidup tanpa pengarahan. Sejelek apapun Adeeva dia masih tanggung jawab Ezra.


"Baik...kau bebas lakukan apapun. Tapi ingat selama kau bekerja jadi aspri aku jangan harap bisa keluyuran malam. Ini terakhir kali aku lihat kamu berada diluar pada malam hari."


"Iya pak!"


" Makan sarapan kamu dan sebentar lagi kita ke kantor!"

__ADS_1


"Iya pak...sebelumnya aku mau minta maaf soal semalam. Sumpah pak! Aku tak bermaksud melecehkan bapak. Cuma semalam terlalu gelap jadi aku tak tampak apapun."


Ezra mengangkat cangkir kopi sejajar dengan matanya. Laki ini memandangi lukisan yang terdapat di cangkir. Lukisan bunga peony warna ungu campur kuning. Sekilas hanyalah bunga mati tidak menarik.


"Kau mau bertanggung jawab?" tanya Ezra datar.


Giliran Adeeva bingung gimana bertanggung jawab pada bosnya. Bosnya bukan anak lajang tanpa isteri. Masa disentuh sedikit tuntut tanggung jawab Adeeva. Yang benar tangan Adeeva tercemar oleh sosis mentah Ezra.


"Gimana tanggung jawab? Apa aku harus nikahi bapak?"


"Lebih kurang gitu. Apa kata orang bila tahu stupa kebanggaan aku dilecehkan anak kecil?"


Adeeva meremas tangan tak sangka hanya gerakan kecil bawa masalah sangat panjang. Selera sarapan pagi pupus sudah. Adeeva belum selesai dengan suami bangkotan kini muncul orang lebih gila tuntut dinikahi.


"Pertama aku minta maaf pak! Ini benar di luar dugaan. Kedua aku tak percaya bapak belum isteri. Aku tak mau merusak rumah tangga orang lain dan ketiga aku sudah menikah."


Ezra menyipitkan mata dengar pengakuan Adeeva. Sebelumnya ngaku belum punya pasangan kini bilang sudah menikah.


"Di CV kamu tertera kamu belum berkeluarga. Kau mau main petak umpet lari dari tanggung jawab."


Adeeva tak punya pilihan lain selain jujur pada Ezra kalau dia sudah punya suami. Harus bertanggung jawab pada suami orang bukan satu keputusan bagus.


Adeeva menelan air ludah sebanyak mungkin baru lega menjawab pertanyaan Ezra.


"Sebenarnya aku sudah menikah siri dengan seorang lelaki yang tak kukenal rupa wajahnya. Aku kabur setelah menikah karena ogah menjadi istri laki bangkotan."


"Menikah tapi tak tahu rupa suami. Kau bercanda?"


"Betul aku tak tahu bentuk wajah suami aku karena waktu itu aku salah pakai kacamata. Aku pakai kacamata oma jadi semua jadi rabun."


Ezra ingin tertawa terbahak-bahak merasakan kekonyolan Adeeva. Ternyata ini penyebab Adeeva tidak mengenalnya sebagai suami. Sungguh kacamata pembawa berkah.


"Kalau kau tidak suka pada laki itu mengapa mau terima lamarannya? Dia kaya atau ada hal lain?' Ezra terus mengorek keterangan selagi ada kesempatan dengar mengapa Adeeva mau jadi isterinya.


"Ini akibat ulah keluarga aku! Katanya aku ini sudah dijodohkan pada suami aku sejak aku lahir. Nazar orang jaman baheula harus ditepati kalau tidak umur aku takkan lewat dari dua puluh empat tahun. Aku bisa lahir selamat berkat bantuan suami tua aku. Makanya aku terima demi menyenangkan hati orang tua. Aku sudah susun rencana bercerai maka aku minta nikah siri dan tak minta mahar kawin mahal biar gampang urus proses cerai. Cukup kata talak."


Ezra bergetar mendengar pengakuan Adeeva. Ternyata anak gadis di depannya adalah anak yang dia rindukan pagi siang malam. Anak bayi yang dia anggap bayi tercantik sedunia. Pantas Ezra merasa bau badan Adeeva sangat familiar dengan penciumannya.


Kini Ezra mulai tahu mengapa Adeeva tidak mengenalnya dan semua kejujuran Adeeva membangkitkan semangat Ezra untuk pertahankan isteri yang satu ini. Gadis inilah yang ditunggu Ezra untuk jadi pendamping hidupnya. Jangan harap Ezra akan bebaskan Adeeva dari ikatan pernikahan ini.


"Lalu apa rencanamu?" tanya Ezra setelah berhasil menguasai diri.


"Aku mau minta tolong pada bapak. Itu kalau bapak mau baik hati menolong aku."


"Caranya?"


"Terdengar konyol tapi mungkin ini cara satu-satunya terbebas dari ikatan tak sehat ini. Aku mau kita berfoto mesra lalu kukirim ke laki tua itu. Dia pasti akan ceraikan aku!" ujar Adeeva pede rencananya akan berjalan sukses asal Ezra mau bantu dia.


"Kenapa kau tak minta tolong pada sahabatmu yang lain?"


"Aduh pak! Aku tak punya pacar dan lagi aku tak mungkin cerita pada teman kalau aku ini isteri orang yang tak punya wajah. Rusak deh pasaran aku!"


Ezra manggut-manggut memahami kesulitan Adeeva. Ezra mau saja bantu Adeeva melakukan hal bodoh ini. Tapi semuanya tak ngaruh pada status Adeeva sebagai isteri Ezra. Ezra akan biarkan Adeeva mainkan peran konyol sampai semua terungkap.

__ADS_1


__ADS_2