Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Ayah Penjahat


__ADS_3

Kedua pekerja segera gabung dengan Akbar bantu beri cairan air kelapa ke dalam mulut sapi-sapi itu.


Adeeva dan Nunik keliling lihat apa ada bukti lain untuk jadi clue cari petunjuk bagi mereka untuk tangkap musuh dalam selimut.


Mata Adeeva melihat ada bekas tapak sepatu boots berdiri persis di depan kandang sapi sakit. Bekas tapak itu agak mendalam artinya orang itu berdiri cukup lama di situ baru bisa tinggalkan bekas.


Adeeva kontan timbul ide cemerlang untuk tangkap siapa dalang sakitnya sapi. Cari pemilik sepatu maka akan dapat petunjuk orang iseng itu.


Adeeva bersabar tunggu sampai sapi Akbar membaik baru akan selidiki pemilik sepatu boots yang dia curigai.


Mata detektif Adeeva menangkap salah satu pegawai seperti ogahan bantu malah seakan sengaja halangi pekerja lain bantu sapi-sapi sekarat. Disuruh belah kelapa malah belah sampai kelapa bocor tak tertampung airnya. Orang ini pantas dicurigai.


"Pak...bisakah antar aku ke kamar kecil?" Adeeva mencolek orang yang dia curigai.


Pegawai itu melirik Adeeva sekilas lalu manggut. Tanpa banyak bicara laki itu berjalan dahului Adeeva menuju ke salah satu bangunan mirip gudang. Nunik ikut karena tak mau ditinggal oleh Adeeva bersama para cowok.


"Woi tunggu.." Nunik mengejar Adeeva yang telah duluan berjalan menyusul pegawai yang dicurigai tadi.


Pegawai itu berjalan tanpa menoleh ke belakang. Lelaki itu tidak melihat Adeeva menyusul atau tidak dia berjalan terus sampai ke depan gudang.


Wajah cowok ini lebih keras di banding dengan pegawai lain. Tak ada kesan orang desa yang culun dan lugu. Beda dengan kedua pegawai yang kena interogasi. Kedua pegawai tadi berwajah lugu sahaya.


Adeeva dan Nunik sampai di depan gudang. Lelaki itu membuka pintu gudang beri jalan pada Adeeva untuk masuk ke dalam. Di dalam situ merupakan tempat tidur para pegawai Akbar yang kerja rawat sapi. Keadaan di dalam agak gelap tak ada cahaya penerangan memadai selain sedikit cahaya dari ventilasi udara.


"Pak...di mana kamar kecilnya?" tanya Adeeva memancing lelaki itu bicara.


"Paling ujung...masuk saja nona akan lihat kamar mandinya! Kalau tidak ada keperluan lain aku harus balik bantu pak Akbar." kata laki itu dingin seperti kurang suka pada Adeeva.


"Tunggu pak! Apa bapak tahu siapa yang kerjain sapi pak Akbar?"


"Aku tak tahu apa maksud nona. Sapi sakit itu sudah sering terjadi. Baru-baru ini banyak sapi terserang penyakit PMK. Banyak yang mati kok!"


"Bapak tahu sapi itu bukan sakit tapi keracunan. Jelas sapinya keracunan mengapa dibilang sakit? Bapak tahu sesuatu?"


Lelaki itu melontarkan pandangan tajam ke arah Adeeva. Cara Adeeva bertanya kepadanya seperti introgasi dan menuduh.


"Nona mau bilang aku tahu siapa pelakunya?"


"Apa aku ada bilang begitu? Aku hanya bertanya apa Bapak tahu siapa yang kerjain sapinya Pak Akbar? Mengapa bapak sangat sensitif? Jangan-jangan Bapak mengetahui sesuatu dari kejadian hari ini!" todong Adeeva makin curiga pada gelagat laki ini yang seperti agak ketakutan.


"Aku sudah lama ikut Pak Akbar dan tak mungkin aku akan berbuat curang membuat Pak Akbar merugi."


"Aku tidak menuduh Bapak tetapi hanya bertanya apakah Bapak mengetahui sesuatu? Mengapa bapak ngotot aku menuduh bapak? Kita di sini semua berbuat demi kebaikan semua pegawai. Kalau pak Akbar bangkrut kalian juga akan kehilangan mata pencaharian." ujar Adeeva tajam tak beri peluang pada pekerja itu bersilat lidah lagi.


Wajah lelaki itu melunak melihat Adeeva bukan wanita mudah digertak. Dalam diri Adeeva terpancar kewibawaan yang tak dapat dilukis dengan kata. Hanya orang berjiwa keras punya wibawa begitu.


"Lalu apa maksud nona ajak aku ke sini?"


"Aku bisa saja kumpulkan semua pekerja dan periksa sendiri karena aku telah menemukan petunjuk siapa yang menambah pestisida di rumput kedua sapi sakit itu. Bapak mau coba paling duluan?" tanya Adeeva sinis.


Lelaki itu mundur selangkah tatkala Adeeva tawarkan periksa lelaki itu paling duluan. Nunik sudah siaga di belakang laki ini takut dia kabur. Nunik acung jempol puji kehebatan Adeeva selidiki siapa penjahat ngumpet dalam selimut.


"Apa mau kalian? Aku bisa lapor polisi kalian main tuduh tanpa bukti."

__ADS_1


"Bagus...kita ke kantor polisi untuk cari tahu siapa pelaku sekaligus dalang utama. Ayok kita pergi!" Adeeva mendekat ingin menarik tangan laki itu namun lelaki itu secepat kilat menepis tangan Adeeva.


Lelaki itu berusaha memukul Adeeva agar terbebas dari cengkeraman Adeeva. Dengan mudah Adeeva patahkan serangan laki dan beri hadiah tendangan di ulu hati agar laki itu lumpuh.


Nunik tidak tinggal diam beri tendangan persis di tungkai kaki laki itu sehingga laki itu tak bisa berdiri.


Laki ini tak sangka jumpa dua jagoan cewek tukang berantem. Pikir gampang jatuhkan Adeeva hanya dengan pukulan kosong. Laki ini tak tahu tinju Adeeva ada gelarnya. Tinju ke rumah sakit atau ke kantor polisi.


Adeeva tersenyum penuh kemenangan berhasil lumpuhkan orang yang dia curigai.


"Sekarang katakan mengapa kau racuni sapi pak Akbar?" tanya Nunik memeluk tangan ke dada bak intel top sedang interogasi penjahat besar.


"Aku tak lakukan itu!" laki itu masih berusaha berdalih.


"Keluarkan semua isi kantongmu! Aku cium bau pestisida dari balik bajumu." Adeeva mengitari lelaki yang sudah tak berdaya. Nunik tetap berjaga jangan sampai laki itu kabur. Tak ada kata maaf untuk orang sejahat pegawai ini.


Laki itu buang muka tidak mau patuh. Laki ini masih angkuh tak mau tunduk pada dua cewek tampaknya lemah lembut ini. Tendangan tadi tak wakili apapun.


Adeeva memberi satu bogem manis di pipi laki itu sebagai salam kenal tinju Adeeva. Sekali kena kepalan tangan Adeeva kepala laki itu bergoyang ke belakang. Adeeva hanya mengerahkan sebagian tenaga.


Nunik menambah tendangan ke badan laki ini biar tak bisa bangkit beri kesempatan pada Adeeva cari barang bukti dalam kantong baju kerja laki ini.


Dari balik kantong Adeeva hanya mengeluarkan plastik putih tanpa isi. Kelihatannya isi dalam plastik telah dihilangkan. Adeeva mengendus plastik itu lalu tertawa kecil.


Pegawai itu berubah pucat pasi melihat barang bukti sudah berada di tangan Adeeva. Sedemikian mudah cewek ini lacak siapa penjahat. Belum satu jam Adeeva telah memecahkan siapa pelaku kejahatan. Sekarang tinggal tanya apa tujuan laki itu celakai Akbar. Dia bekerja untuk Akbar tapi mau celakai Akbar. Apa maksud orang ini?"


Laki itu bermaksud kabur tapi dengan cepat Adeeva lumpuhkan dia beri tendangan ganda di punggung dan Nunik menambah tendangan dari depan. Di serang bertubi-tubi membuat laki itu terkapar di atas rumput.


Laki ini sadar dia telah jumpa dua petarung hebat. Dia tak punya skill berantem mana sanggup lawan dua cewek pemegang sabuk hitam.


Dari jauh tampak Supono berlari kecil hampiri Adeeva dan Nunik. Laki gemulai itu terpana lihat pegawai Akbar terkapar di rumput dengan mulut berdarah. Kedua cewek itu berdiri menjaga pegawai Akbar dengan gaya petarung siap siaga.


"Hei ada apa ini? Parmin? Kenapa kamu?" Supono berjongkok memeriksa orang yang dipanggil Parmin. Laki itu dalam keadaan sangat tidak baik. Babak belur seperti dihajar orang.


"Jawab!" bentak Nunik garang.


Parmin menunduk tak berani jawab. Tak mungkin dia mengaku salah di hadapan Supono dan dua cewek sangar tersebut. Nilai kelakiannya sedang terluka disobek Adeeva.


"Panggil Mas Akbar!" pinta Adeeva datar. Tangan Adeeva gatal ingin hajar laki itu sampai patah-patah.


Supono mengeluarkan ponsel hubungi Akbar sesuai permintaan Adeeva. Supono belum tahu pangkal masalah cuma bisa iba pada Parmin yang babak belur. Supono heran mengapa Parmin bisa sebonyok gini. Siapa pelaku kekerasan pada Parmin.


Parmin pasrah tak tahu harus gimana hadapi bosnya yang cukup baik. Sungguh memalukan berbuat jahat di tempat kerja sendiri yang telah besarkan dia.


Akbar datang bersama seorang pegawai lain. Akbar dan pegawai lain itu juga terpana lihat Parmin terkapar di rumput dengan kondisi berantakan. Akbar sebagai bos bersedih lihat kondisi pegawainya.


"Ada apa ini?" tanya Akbar pada Parmin.


Parmin bukannya jawab malah menekuni rumput lihat siapa tahu ada serangga bertelur emas dalam rumput.


"Dia pelaku kejahatan di peternakan mas Akbar!" tuding Nunik to the point.


Akbar dan kedua laki lainnya terkejut tak sangka kedua cewek ini mampu tangkap penjahat dalam tempo singkat. Tapi ini belum tentu benar tanpa bukti akurat.

__ADS_1


"Parmin? Mereka benar? Lalu kenapa kamu hancur begini?" Akbar tak habis pikir Parmin babak belur seperti baru diterbangkan angin ****** beliung.


"Tadi ada sapi seruduk dia. Sapinya ilfil teman mereka diracuni bangsat ini!" ujar Adeeva mulai kesal pada Parmin sok terzolimi.


Akbar dan Supono melongo tak paham apa yang terjadi.


"Mas...Adeeva menemukan rekan jejak sepatu mas ini maka bawa dia ke sini. Yang sidang dia itu sapi betina yang marah pacar mereka diracuni. Tuh masih ada sisa racun di saku bajunya. Belum sempat dia buang." Nunik menunjuk plastik di tangan Adeeva.


Akbar bergerak mengambil plastik dari tangan Adeeva lalu mengendus bau plastik. Baunya sama dengan sisa rumput di kandang sapi. Pelakunya ternyata orang dalam. Bukti sudah lengkap membuat Parmin tak berkutik.


"Min...kenapa?" tanya Akbar sedih orang yang dia percaya tega jual dia.


Parmin menunduk malu menatap Akbar. Laki ini tak punya jawaban karena dia juga lakukan atas suruhan orang lain.


"Siapa yang suruh kamu racuni sapi Mas Akbar? Sapi betina garang bisa balik setiap saat hajar kamu sampai tak berbentuk." ancam Adeeva tak terbiasa melow terhadap penjahat.


"Maafkan aku pak! Adik aku sakit butuh uang untuk berobat. Aku disuruh racuni sapi Mas agar pembeli batal beli sapi mas. Sapinya takkan mati karena kuberi dosis rendah. Cuma sakit beberapa hari." sahut Parmin melemah.


"Alasan...cuma karena adik lu sakit lu tega khianati bos kamu? Kan bisa minta pinjam sama bos. Kurasa bos kalian bukan orang tak punya hati." tekan Adeeva makin geram pada Parmin.


"Sumpah cuma itu nona! Aku dijanjikan uang sepuluh juta bika bikin sapi bos sakit. Pembeli akan beralih ke sapi pak Siswoyo."


Akbar terdiam mendengar siapa yang beri perintah pada Parmin untuk merusak nama baik Akbar. Akbar tak percaya orang itu tega menghancurkan usaha Akbar.


"Siapa demit Siswoyo itu? Pingin dikuliti kali." ujar Nunik tak kalah geram.


"Dia ayahku..dia dan ibu sudah bercerai dua puluh tahun lalu. Dia sudah punya keluarga baru tapi masih usik aku dan ibu."


Adeeva dan Nunik terbengong dengar dongeng tak masuk akal ini. Ada ayah mau hancurkan hidup anak sendiri. Sudah bercerai dengan ibu Akbar tapi Akbar tetap anak Siswoyo.


"Dasar ayah koplak! Anak sendiri mau digiring ke jurang kehancuran. Dasar tua Bangka tak tak tahu diri." omel Nunik sambil meremas tangan.


"Begitulah aku hidup selama ini! Bukan sekali dua kali dia melakukan hal buruk tapi aku diam. Dan kau Parmin! Kejadian tahun lalu kau juga yang kerjakan?" Akbar menatap Parmin berharap ada masukkan.


"Bukan pak! Sumpah itu bukan kerjaku! Aku curiga pada penyuluh yang datang ke sini. Bukankah salah satu penyuluh adik dari Bu Siswoyo? Aku minta maaf pak! Aku akan lakukan apapun untuk menebus kesalahan aku! Kumohon jangan pecat aku! Ibu dan adikku siapa kasih makan bila aku tak kerja?"


"Kasih makan rumput. Atau minta kerja pada Siswoyo itu. Eh mas.. serahkan ke kantor polisi saja!" ujar Nunik mendelik pada Parmin. Kalau tak ada Akbar mungkin gadis ini akan beri hadiah lebih pedas.


"Sudahlah Nunik! Parmin juga hanya orang suruhan. Kalau dia sudah minta maaf kita maafkan saja! Semoga ke depan kau tidak terjebak dalam trik jahat lagi."


Adeeva dan Nunik saling berpandangan tak paham isi otak Akbar. Penjahat dipiara pasti akan bawa petaka lebih besar.


"Terimakasih pak! Aku bersumpah takkan berbuat gitu lagi. Aku akan kembalikan uang pak Siswoyo. Biarlah Tuhan yang tentukan nasib adikku!" Parmin memelas menciumi kaki Akbar.


"Adik lu sakit apa? Sakit ngebet kawin?"


"Dia kena kanker darah stadium empat. Uangku sudah habis obati dia tapi belum sembuh. Dia butuh banyak uang untuk kemoterapi."


"Mau bohong?"


"Sumpah mati nona. Sekarang dia ada di rumah karena tunggu jadwal kemoterapi dan transfusi darah. Hb darahnya turun terusan. Aku belum bisa bawa karena baru dapat uang semalam dari pak Siswoyo. Rencana siang ini mau bawa dia berobat."


Adeeva anggap Parmin tidak bohong lagi. Dia sudah katakan semestinya. Adeeva kasihan juga pada laki ini terbeban adik sakit. Maunya dia terus terang sehingga tak sampai kejadian hari ini.

__ADS_1


"Bawa kami ke tempat adikmu. Awas kalau bohong! Kujamin sapi gila akan seruduk kami hingga bonyok kwadrat." ancam Nunik belum percaya seratus persen. Enak banget lepasin orang sejahat ini. Tak ada sanksi hukum pasti akan terulang lagi.


"Baik...rumah aku tak jauh dari sini! Aku bersedia buktikan aku tidak bohong."


__ADS_2