
"Bawa sini hp kamu!" pinta Ezra pada Ruben biar Bu Humaira tidak kejar soal Adeeva lagi. Ezra sudah menyesal main api, andai terjadi sesuatu pada Adeeva penyesalan Ezra akan berlipat ganda. Ezra harus cegah niat buruk Bu Humaira sebelum ada pikiran kotor muncul di otak perempuan itu.
Ruben menyerah hpnya pada Ezra. Ruben sangat berharap Ezra mampu redam niat Bu Humaira yang sulit ditebak.
"Halo...mama dengar ya! Kalau Adeeva hilang satu lembar rambut pun akan kukejar sampai ke akhirat. Mama yang berikan dia kepadaku jadi jangan coba punya niat lain. Aku mencintainya. Dia lakukan semua sandiwara ini atas permintaan aku. Aku tak mau dia ikutan seperti wanita-wanita bodoh di rumah. Tahunya foya-foya dan piara lelaki di belakang aku. Aku sengaja bawa Adeeva di sisiku supaya dia tidak ikutan nakal seperti wanita di rumah. Mama tahu betapa jijik aku pada wanita di rumah. Jadi Kuingatkan jangan coba-coba sentuh Adeeva. Dia juga korban keegoisan aku." kata Ezra dingin agar Bu Humaira tahu dia tidak main-main.
"Ya ampun Ezra... gadis seperti tak pantas berada di sisimu. Pilih satu diantara isterimu! Yang lain mama akan atur mereka pergi jauh. Jangan Adeeva!"
"Aku pilih Adeeva dan aku telah menikah secara resmi dengannya. Kalaupun mau cerai aku akan berikan seluruh harta aku padanya. Jadi mama hati-hati jika ingin main kotor. Aku bisa hancur semuanya dalam sekejap." ancam Ezra keras tak mau Bu Humaira duluan sakiti Adeeva. Adeeva sudah cukup sengsara dibuatnya tak mungkin Ezra ijinkan orang sakiti Adeeva lagi.
"Sayang ..apa pantas kau korban segalanya buat seorang anak tak tahu untung. Sudah diberi segala fasilitas tapi banyak tingkah. Mama jamin isterimu nanti akan jadi isteri setia."
"Mama dengar ya! Adeeva belum pernah pakai uang aku satu senpun selain uang gajinya. Dan dia gadis suci murni dan aku orang pertama buatnya. Buat perempuan di rumah sudah terlambat untuk masuk dalam hidupku. Mereka murahan tak tahu malu. Gunakan uang aku piara para laki untuk puaskan nafsu mereka. Apa aku mau gauli perempuan model gitu? Lebih baik mama atur mereka keluar istana sebelum aku turun tangan sendiri."
"Lalu Sonya? Bukankah dia jauh lebih murahan dari para isterimu?"
Ezra tertawa sinis dengar kalimat pembelaan untuk para selir di istana. Sonya memang perempuan dibayar untuk layani nafsu para hidung belang. Pendek kata Sonya itu wanita panggilan kelas elite. Sedang para wanita di istana adalah isteri orang walau isteri siri.
"Sonya itu memang perempuan dibayar untuk puaskan nafsu. Dan perempuan di rumah itu statusnya apa? Pantaskah seorang isteri berzina? Mereka semua sampah seperti Sonya. Bahkan lebih parah dari Sonya. Ngaku isteri aku tapi berzina sedangkan Sonya sudah ngaku dia memang barang. Siapa lebih hancur? Pokoknya siapapun berani sentuh Adeeva akan kucabut nyawanya. Aku tak ajak kalian bercanda."
Bu Humaira terdiam diancam Ezra. Kelihatannya dia telah salah langkah berikan Adeeva pada Ezra. Bu Humaira pikir Adeeva bisa diajak kerja sama per kokoh kedudukannya sebagai ibu suri si rumah istana Ezra. Ternyata Adeeva tidak seperti isteri Ezra yang lain gila harta. Anak itu sulit didekati.
"Sayang...kalau kau memang suka pada Adeeva mama akan usahakan dia jadi anak manis di rumah. Kau sabar tunggu mama bujuk dia." Bu Humaira pilih ikuti selera Ezra sebelum ditendang keluar dari istana. Ezra itu kejam kalau ada yang usik wilayah nyamannya.
"Tidak perlu...biar aku yang urus dia. Cuma bilang pada semuanya jangan coba-coba main kotor. Aku akan bunuh satu persatu."
"Iya mama tahu. Kau juga cepat pulang! Kau kan baru sembuh dari kebutaan jadi jangan banyak pikiran! Pulang ke rumah biar mama urus kamu."
"Iya..aku akan segera pulang bawa Adeeva!"
"Ok...mama tunggu di rumah."
"Oya...usahakan perempuan-perempuan itu pindah dari rumah. Aku sudah muak pada mereka. Sampai kapan mereka akan bertahan jadi tikus pengerat. Suruh mereka keluar hidup layak sebagai manusia normal. Aku akan cari uang beri kompensasi pada mereka."
"Mama akan coba bicara dengan mereka. Kau tenang saja." Bu Humaira tak punya pilihan lain selain tunduk pada Ezra. Semua kekuasaan berada di tangan laki ini. Hidup mati saudaranya ada dal genggaman Ezra. Apalagi kini Ezra telah ganti semua sistim di kantor. Mau buka data penting tidak segampang dulu. Mesti ada ijin Ezra langsung.
"Baik...aku tak sabar tunggu waktu itu tiba." Ezra mengembalikan ponsel pada Ruben. Ezra tidak peduli apa yang diinginkan oleh mamanya. Dia sudah pegang semua kendali perusahaan berkat bantuan Adeeva. Adik mamanya sekarang dalam posisi terjepit tak bisa berkutik karena tak punya akses buka rahasia perusahaan. Ezra pegang sendiri kemudi perusahaan.
"Pak...apa kita tak perlu ke dokter?" Ruben ulang pertanyaan kuatir lihat kondisi Ezra yang kelihatan masih menahan rasa sakit.
"Aku tak apa...kau cari tahu ke mana Poni. Kau balik ke pesta Krisna cari berita dari sahabat Poni. Segera kabari aku bila sudah ada kabar."
"Tapi..." Ruben masih ragu tinggalkan Ezra. Bosnya itu tampak tidak dalam keadaan baik-baik. Ruben tidak tega biarkan Ezra menderita akibat pelajaran diberi oleh Adeeva.
"Aku tak apa...kamu cepat kejar Poni. Jangan biarkan dia lari makin jauh!"
__ADS_1
Ruben segera laksanakan perintah Ezra cari isteri kecilnya yang nakal. Kerjanya kabur melulu.
"Baiklah pak! Kalau ada apa-apa segera kabari aku."
Ezra mendongak menatap ke arah Ruben dengan tajam. Ezra tak open dengan dirinya lagi. Yang penting adalah Adeeva. Makin diingat Ezra makin kangen pada Adeeva. Kebahagiaan yang baru dia reguk pupus sudah. Ini hanya karena nafsu dunia. Ini akibat anggap uang adalah dewa bisa sulap hitam jadi putih. Bukan dapat putih malah hitam semua.
Lewat tengah malam Akbar dan Adeeva tiba di peternakan. Supono terpaksa nginap di rumah Akbar berhubung sudah sangat larut untuk pulang ke rumah sendiri.
Supono juga tak tega tinggalkan Adeeva di saat wanita ini butuh dorongan semangat.
Ketiga makhluk Tuhan ini beristirahat di rumah Akbar begitu taksi online menjauh. Akbar beri uang lebih pada bapak itu karena telah susah payah antar mereka sampai ke tujuan dengan selamat.
Akbar bikin teh hangat untuk usir rasa suntuk di tengah malam ini. Adeeva kini baru merasa malu pada Akbar karena melibatkan laki ini dalam masalah ini. Untung Akbar orangnya pengertian mau bantu Adeeva keluar dari keadaan genting.
"Ayo minum Eva!" Akbar menunjuk cangkir putih berisi cairan cair warna coklat muda.
"Terima kasih." Adeeva meraih cangkir di depannya. Detik ini dia memang butuh penenang jiwa. Kondisi kejiwaan Adeeva kurang stabil karena berbagai hal. Marah benci dendam terselip rasa kasihan pada keadaan Ezra. Laki itu pasti babak belur.
"Maaf dek Eva...kalau boleh aku tanya apa iya Ezra Dilangit itu suami kamu?" Supono buka suara kali ini. Supono penasaran pada pengakuan lelaki tajir itu. Jarak usia mereka cukup jauh apa iya Adeeva yang jelita isteri Ezra yang dikabarkan disembunyikan agar tidak jadi sasaran lawan.
Akbar berharap Adeeva menggeleng. Akbar tak rela gadis sebaik Adeeva dipermainkan oleh oknum kaya hanya sebagai pelampiasan.
"Iya...aku ini memang isteri sah Ezra. Tapi itu bukan kemauan aku. Aku telah tunangannya dengannya sejak lahir. Puluhan tahun berlalu tanpa ada kelanjutan namun tiba-tiba keluarga aku memaksaku menikah dengannya. Demi jaga perasaan orang tua aku jalani." Adeeva tak malu lagi buka cerita siapa dia dan di mana posisinya di rumah tangga Ezra.
"Sekarang kalian pasti merasa aku ini perempuan tak ada harga. Jadi isteri orang kaya yang ke enam." kata Adeeva lemas. Mukanya mau dikemanakan jadi isteri di urutan bungsu.
"Tidak...aku justru respek padamu jaga perasaan orang tua. Kau hanya korban dari janji jaman jadul. Selama kau di sini aku akan lindungi kamu. Kau jangan takut pada ancaman Ezra. Bukankah kau sudah layangkan gugatan cerai?" Akbar bertekad lawan Ezra bila Adeeva memang tak ingin kembali pada laki itu.
"Aku harus pergi dari sini. Ezra bukan laki gampang dilawan. Orang dia di mana-mana. Aku rencana kabur ke Singapura tempat nenek aku. Untuk sementara aku sembunyi di situ dulu."
"Apa Ezra tahu kamu punya keluarga di sana?" tanya Supono bantu Adeeva cari jalan keluar. Supono kasihan juga lihat Adeeva takut pada Ezra. Bukan takut dalam arti diancam keselamatan tapi takut dipaksa lanjut jadi isteri.
Adeeva mengangguk. Bisa jadi Ezra akan lacak sampai ke sana. Singapura tidak sebesar Indonesia. Di sana dia lebih muda kena razia oleh Ezra tapi Adeeva tak punya pilihan lain. Berada di sini hanya melibatkan Akbar dan Supono dalam keadaan tak kondusif. Ezra pasti tekan Akbar serahkan Adeeva.
"Kau tak boleh ke sana. Kurasa kau lebih aman di sini. Kau bisa tinggal bersamaku. Tempat aku jarang dikunjungi tamu. Tak ada orang bakal tahu kau di rumahku." Supono menawarkan jasa lindungi Adeeva.
"Tinggal bersama kamu bukan solusi. Orang akan pikir yang bukan-bukan tentang aku."
"Di rumah ada ibuku juga! Bukan cuma bersama aku. Gimana sih?" Supono tertawa lihat Adeeva pikir di rumah tak ada orang lain.
Adeeva tersipu malu telah salah sangka pada Supono. Laki jadian itu cuma beri solusi hindari pantauan Ezra.
"Kurasa bagus juga untuk sementara kau tinggal bersama Supono. Supono akan di sini bersama aku jadi orang takkan terpikir kau berada di sana. Besok subuh kau segera pindah. Kurasa besok utusan Ezra pasti sudah datang cari kamu." Akbar setuju usulan Supono bawa Adeeva tinggal di rumah Supono. Ini akan berlangsung sampai keadaan kondusif.
"Kalian yakin?"
__ADS_1
Adeeva masih ragu laksanakan tawaran Supono. Apa mungkin Ezra begitu bodoh lewatkan tempat terdekat dengan rumah Akbar.
"Kurasa Ezra bukan orang bodoh gampang kita kelabui. Kurasa kita harus cari tempat yang lebih terpencil dari sini."
Akbar dan Supono terdiam memikirkan jalan lain. Kata Adeeva masuk otak juga. Ezra sudah tahu Adeeva kenal Supono. Tempat Supono pasti tak luput dari incaran orang tajir itu.
"Ach...aku tahu ke mana Adeeva harus pergi! Jamin tidak terlacak." seru Supono tiba-tiba. Adeeva dan Akbar sampai kaget dengan seruan di tengah malam. Suasana hening membuat suara Supono terdengar sangat kencang padahal tidak terlalu besar.
"Untung tak penyakit jantung. Emang ke mana?" omel Akbar sedikit sewot.
"Ke rumah eyang aku. Beliau kan tinggal sendiri di balik bukit sana. Di sana penduduknya kan sedikit. Jamin aman."
Akbar agak ragu karena rumah eyang Supono agak ke pelosok desa. Desanya kecil jauh dari keramaian. Mobil masuk ke sana pun jarang. Paling seminggu sekali ada angkutan masuk ke situ. Penduduk desa gunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi berhubung jalan kurang bagus.
"Sana sepi Eva. Signal ponsel saja kadang hilang sendiri. Kau mau coba?" Akbar dipenuhi keraguan namun tetap tawarkan ide Supono. Adeeva pasti aman di sana. Orang Ezra tak mungkin lacak sampai sana.
"Boleh juga kalau memang tak ada jalan lain. Anggap saja sebagai refreshing ke desa terpencil.
"Kita berangkat sekarang? Takutnya besok mata-mata Ezra sudah duluan tiba." usul Supono antusias sukses beri ide pada Adeeva cari tempat persembunyian.
"Baiklah! Aku bersiap dulu. Oya dari sini berapa jam lagi?"
"Dua jam. Jalannya agak becek karena sebagian belum diaspal pemerintah." Supono menjelaskan Medan lokasi yang jauh dari kata bersahabat.
"Kita ke sana naik apa?"
"Dengan mobil Akbar dong! Mobilnya kan siap di segala medan parah. Cepat kau bersiap! Ntar keburu pagi." usir Supono tak sabar mau ungsikan Adeeva ke tempat aman. Adeeva pantas disukai karena baik dan ramah.Tidak sombong walau cantik.
Akbar, Adeeva dan Supono segera berangkat tinggalkan peternakan Akbar. Mereka gunakan mobil Akbar yang punya gardan ganda siap menaklukkan semua medan lumpur.
Mereka bertiga menembus kegelapan menuju ke rumah eyang Supono. Sepanjang jalan hanya ada kegelapan tanpa lampu jalan. Makin jauh terasa makin mencekam. Rumah penduduk sepanjang jalan makin jarang. Lebih banyak lahan kosong ketimbang diisi oleh penduduk kampung.
Atau mungkin lahan kosong itu tempat orang kampung bercocok tanam mengais rezeki.
Dalam perjalanan Adeeva teringat pada Nunik. Dia harus kasih tahu Nunik kalau dia telah tinggalkan peternakan. Nanti takutnya Nunik mencarinya. Bisa histeris tuh anak ditinggal jauh.
Untunglah signal masih ada di perjalanan walau turun naik. Adeeva tak oleh buang waktu hubungi Nunik.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam...ya Allah kamu di mana sekarang? Gue cari lhu!"
"Kan sudah kubilang mau langsung ke peternakan. Apa orang gila itu ada balik cari aku?"
"Ada...bukan ikan paus yang datang tapi Bendi. Dia ngancam gue."
__ADS_1