
Ezra mengangguk. Wajahnya kusut tak bersemangat layani kekonyolan Adeeva malam ini. Ezra ingin segera tidur agar bisa pulih lagi. Besok dia masih harus dampingi Adeeva jumpa rekanan pemegang saham. Ezra pilih istirahat lebih cepat.
"Makan dikit dulu lalu minum obat demam." Adeeva auto panik Ezra kurang sehat.
Adeeva tak sangka fisik Ezra tidak sekuat yang dia bayangkan. Rencananya mau permainkan Ezra berubah iba. Adeeva harus singkirkan rasa ego dalam hati mengingat Ezra bukan sedang bersandiwara. Dia memang tampak kurang fit.
"Aku tidur saja! Tak ada selera makan."
"Minum obat ya! Aku ada bawa obat penurun demam."
"Terserah!" sahut Ezra pasrah.
Adeeva masih punya sisi kemanusiaan tidak abaikan Ezra walau kurang suka pada laki itu. Adeeva tak mungkin toh biarkan Ezra menderita tanpa diobati.
Adeeva tetap bawa telor dadar untuk isi perut Ezra sebelum dicekoki obat. Minum obat dengan perut kosong gampang merusak lambung. Lambung mudah iritasi akibat obat.
Adeeva telah kembali dengan piring dan segelas air. Wangi telor tak menaikkan selera makan Ezra. Mulutnya terlanjur pahit.
"Makan ini dikit ya!" bujuk Adeeva penuh kelembutan. Di sini serasa mereka bukan musuh bebuyutan melainkan sepasang kekasih sedang merayu.
Ezra agak terhibur dapat perhatian Adeeva. Apa dia mesti sakit baru bisa rebut perhatian Adeeva?
Adeeva menyuap potongan telor ke mulut Ezra dengan pelan takut lukai bibir sensual Ezra. Ezra senang bukan main Adeeva telah kembali baik seperti dulu.
Dengan telaten Adeeva suapi Ezra hingga telor dadar kandas ke dalam perut Ezra. Selanjutnya Adeeva berikan sebutir pil warna putih pada Ezra yang disinyalir adalah obat penurun demam. Ezra minum sambil menatap Adeeva dalam-dalam makin tak rela kehilangan cewek sebaik Adeeva. Mulut boleh galak tapi hati tetap selembut salju.
"Buka baju!" perintah Adeeva pada laki itu.
"Dengan senang hati Miss. Aku siap kok!" Ezra bersemangat diminta lepaskan pakaian. Tampaknya Adeeva mulai rindu padanya. Sakit-sakit diajak juga lepas rasa kangen.
Ezra buka habis semua sampai telanjang dada. Adeeva terbengong terpesona oleh dada kekar lakinya itu. Mata Adeeva kembali ternoda oleh roti sobek laki mesum itu.
"Stop...mau kena tinju bebas?"
"Bukankah kamu suruh buka baju?" tanya Ezra dengan tampang tanpa dosa.
"Hei pe ak..aku suruh buka pakaian luar. Bukan semua pakaian. Kau pikir mau diajak mesum ya? Ayok pakai lagi bajunya! Nanti tewas pula masuk angin." Adeeva melempar baju dalam Ezra ke arah laki itu. Jantung Adeeva berdegup kencang efek lihat roti sobek bernyawa di depan mata. Ternyata Ezra memang punya pesona luar biasa. Pantas para cewek matian ingin rebahkan kepala di sana. Sayang sekali roti sobek milik umum. Tak ada harga sama sekali.
Ezra merengut pikir akan dapat jatah. Sakit kepala juga tak apa asal bisa akhiri pertikaian mereka. Kadang orang bilang pertengkaran suami isteri akan damai di tempat tidur. Apa ini akan jadi solusi buat Ezra meraih perhatian Adeeva lagi.
"Sekarang tidur. Jangan berharap banyak! Tinju aku masih nikmat." Adeeva mengambil piring bekas makan Ezra berlalu dari kamar laki itu.
Di sini Adeeva sudah benar laksanakan kewajiban sebagai isteri dari mantan raja tambang itu. Sekejam Adeeva pada Ezra tentu ada toleransi buat orang sakit. Untung saat ini Adeeva lupakan dendam dalam dada. Biar setelah tenaga Ezra pulih baru akan hajar lelaki itu dengan trik nakal dia.
Adeeva isi perut dengan hasil olahan sendiri. Tadinya semangat tak sabar ingin cicipi masakan sendiri. Cuma sayang selera makan menurun akibat Ezra mendadak kurang sehat.
Adeeva bereskan peralatan makan lalu masuk ke kamar mandi bersihkan badan. Sebelum istirahat Adeeva wajib bersihkan wajah dan badan agar tidur pulas.
Cewek ini tak lupa pantau kondisi Ezra sebelum naik ke tempat tidur. Untunglah laki itu susah tertidur dengan kening berkeringat. Itu tanda panas mulai turun.
Adeeva ambil tisu lap keringat laki itu seraya meletakkan mata ke wajah laki itu. Laki itu damai bila telah tutup mata. Kesangaran laki itu raib berganti wajah culun tanpa dosa.
__ADS_1
"Istirahatlah pak! Hari buruk mu masih panjang. Selamat malam!" Adeeva menyelimuti Ezra lalu tinggalkan laki dalam tidurnya.
Adeeva hanya berdoa semoga Ezra diberi kesembuhan lanjut menanggung dosa yang dia perbuat.
Malam di kota penuh kenangan manis berlalu tanpa kesan karena Ezra kurang sehat. Adeeva tidak turun tangan kerjain Ezra karena tak tega bully orang sekarat. Kesempatannya masih cukup panjang beri pelajaran pada Ezra. Biarlah laki itu kumpul tenaga dulu.
Udara pagi yang sangat dingin bangunkan Adeeva dari tidur nyenyak. Adeeva sudah lama merindukan udara sejuk di kota B. Bertahun hidup di daerah sejuk ini rasanya sudah akrab dengan udara sini. Pindah ke kota J malah kurang betah tapi Adeeva tak punya pilihan lain karena terlanjur masuk perangkap Ezra.
Adeeva tidak mau ketinggalan laksanakan sholat pertama di pagi ini. Cewek ini memohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa agar diberi arahan lanjutkan hidup di bawah tekanan tugas menyelamatkan perusahaan Ezra dari komplotan pengerat.
Di saat senggang begini Adeeva buka hasil sadapan ponsel para pengerat yang sudah lama tidak dia ikuti. Adeeva tenggelam dalam masalah sendiri sehingga lupa pantau isi hp para pengerat uang Ezra.
Adeeva mulai dari Bu Humaira lihat dia chatting dan ngobrol dengan siapa. Lalu Pak Jul Ginanjar alias om Jul Ezra. Selanjutnya baru para selir Ezra. Ternyata para selir putus asa Ezra telah lepas kekuasaan pada Adeeva. Rata-rata ingin minta sejumlah aset untuk pisah dari Ezra. Sekarang Adeeva tak peduli para selir mau ngapain. Adeeva tak mau ikut campur urusan pribadi Ezra dengan wanita-wanita itu. Biarlah Ezra yang selesaikan kemelut dia sendiri.
Adeeva memantau kondisi Ezra apa demamnya masih tersisa. Adeeva ulurkan tangan menyentuh kening laki itu. Tangan Adeeva berubah jadi termometer manual cek suhu tubuh lakinya itu. Di mana mau cari alat cek suhu tubuh saat ini. Sakitnya mendadak tidak pakai janjian.
Coba kalau janjian mungkin Adeeva akan bikin persiapan sambut si demam menyusahkan orang itu.
Adeeva menghembus nafas lega karena panas di kening Ezra telah turun. Malahan sekarang dingin akibat udara pagi sangat dingin. Tanpa AC sudah dingin. Ini AC alam pemberian Tuhan.
Ezra seperti tahu ada wanita kesayangan berada di sisi segera buka mata. Insting Ezra tidak salah, orang tercinta telah wangi di pagi buta.
"Gimana perasaanmu?" tanya Adeeva pelan karena hari masih subuh. Tak baik ikutan berkokok kayak ayam jantan berkokok di pagi hari.
"Sudah enakan. Terima kasih sudah perhatian. Cepat sekali bangun?"
"Sudah subuh pak! Mau ke kamar mandi?" Adeeva bergeser dari tepi kasur beri kesempatan pada Ezra untuk turun dari ranjang menuju ke kamar mandi.
"Ade...aku tak tahu harus bagaimana untuk dapat maaf kamu? Aku merasa hidupku sangat kosong karena kau menjauh." Ezra belum beranjak dari kasur malah ajak Adeeva ngobrol topik mereka.
"Maaf kamu hanya di bibir bukan dari hati."
Adeeva tak mau bahas masalah mereka di pagi buta. Ini akan merusak mood Adeeva untuk bekerja maksimal hari ini. Adeeva sudah persiapkan diri jawab tantangan global sebagai salah satu pemilik saham.
"Pergilah ke kamar mandi! Tak usah mandi pagi karena bapak belum fit seratus persen." Adeeva sengaja belokkan arah pembicaraan. Tak ada guna ungkit kesalahan Ezra bila laki itu belum tahu kesalahan sendiri. Masih anggap lelaki punya hak berbuat sesuka hati terhadap wanita.
Ezra makin paham Adeeva belum mau sumbang kata maaf dari lubuk hati padanya. Kata maaf sekarang hanya kata kiasan pemanis mulut.
"Aku tunggu di luar. Nanti kita sarapan di tempat favourite aku." Adeeva pilih hindari perbincangan tentang mereka. Sekarang Adeeva tak punya jawaban untuk hal ini. Tujuan Adeeva hanya satu bantu Ezra singkir benalu agar hidup laki ini damai bersama pasangannya kelak.
Pagi ini Adeeva tunjukkan kelasnya sebagai seorang CEO. Cewek ini kenakan setelan blazer ngepas badan warna abu rokok dengan dalaman warna putih. Adeeva tampak elegan berwibawa dalam balutan busana sopan tanpa pamer aurat. Celana senada ngepas di kaki jenjangnya bikin cewek ini tampak makin menarik. Adeeva sengaja uraikan rambut indahnya agar tampak lebih dewasa supaya tidak dilecehkan sebagai anak baru.
Ezra sendiri kagum pada penampilan Adeeva pagi ini. Wanita itu tampak beda dari biasa. Pagi ini dia full pesona memikat sukma para cowok. Jangan salahkan cowok bila jatuh cinta pada cewek ini.
Jam tujuh Adeeva ajak Ezra tinggalkan apartemen mencari sarapan pagi di tempat biasa dia makan. Pagi ini Adeeva yang nyetir karena Adeeva takut Ezra belum fit seratus persen. Toleransi penuh dari bos.
Adeeva bawa Ezra makan dekat tempat dia kontrak rumah di daerah rumah Bu Sulis. Adeeva sudah sangat kangen pada suasana akrab dari pemilik warung langganan Adeeva.
Makanan sana sederhana namun sedap di lidah. Cocok untuk mereka yang kantongnya tidak besar.
Di dalam mobil Ezra tak putus kagum pada kecantikan Adeeva. Gadis ini seperti gadis remaja umum penuh vitalitas. Di mana akal sehatnya berkhianat dari cewek semenarik Adeeva. Ezra sendiri pecahkan kepingan hati yang baru terbentuk.
__ADS_1
"Kita ke mana?" tanya Ezra asing dengan suasana jalan raya yang dilalui Adeeva.
"Ke daerah aku pernah merajut hari."
"Kau sangat kenal daerah ini?"
"Kenal dong! Ini daerah jajahan aku. Kita cari makan di sini. Makanan sini enak dan sehat." Adeeva hentikan mobil di depan warung kecil sarat dengan pembeli. Orang sudah ramai antri beli sarapan di sana. Sekilas mata bisa tahu pembeli berasal dari para pelajar dan orang kantoran kelas menengah ke bawah.
Ezra merasa tempat itu bukan tempat makan level CEO macam dia dan Adeeva. Tapi Adeeva bersikeras ingin makan di situ Ezra tak bisa melarang. Sekarang Adeeva yang bisa berkotek karena dia bos.
Kehadiran Adeeva dan Ezra cukup menarik perhatian. Jarang ada mobil mewah singgah makan di situ. Biasa paling motor serta pejalan kaki. Pelanggan hanya orang-orang sekitar situ.
Namun pagi ini spesial ada orang luar datang beli makanan sederhana. Tak urung puluhan pasang mata menatap ke arah pemilik mobil. Mereka menanti siapa pemilik mobil mewah.
Adeeva duluan turun dengan langkah tegap seakan dia bos paling kaya sedunia. Adeeva angkat kepala sok angkuh padahal hanya untuk menggoda ibu pemilik warung.
Adeeva berjalan sampai ke depan warung sambil tertawa besar karena ibu warung melongo tak percaya yang datang manusia paling songong sedunia.
"Eva...ya Allah...kok berubah? Ibu jadi pangling." seru ibu warung kaget setelah tahu yang datang Adeeva.
"Apa kabar Bu?" Adeeva masuk ke dalam warung menyalami Ibu warung dengan sopan.
Tak ada yang berubah selain sikap dan penampilan Adeeva yang agak melenceng dari biasanya. Biasa gadis ini suka berpakaian santai suarakan dia remaja.
"Ya Allah...benarkah kamu Eva si anak nakal?" Ibu warung mengucek mata masih belum yakin itu Adeeva.
Adeeva tertawa ngakak menunjuk kedua jari telunjuk ke pipi bikin gaya imut. Kepala dimiringkan ke samping seperti biasa yang dia lakukan asal makan di warung ibu.
Kini ibu warung percaya itu adalah Adeeva. Tidak diragukan lagi itu pelanggan yang suka melawak di warungnya.
"Benar kau Eva...ke mana saja kamu ini? Pasti kabur karena tak bayar kontrakan Bu Sulis ya?"
"Yaelah ibu ini.. kasihan aku dituduh kabur! Aku ini sudah kaya! Dapat bintang jatuh. Cling.. emas tumpah dari langit." Adeeva tidak marah karena tahu itu hanya candaan.
"Oh iya..itu mobilmu?" ibu warung menunjukkan mobil mewah Ezra.
"Iya...ibu layani pembeli dulu! Aku bisa bikin nasi sendiri. Dua piring ya!"
"Eh iya.." ibu warung terpesona sampai lupa masih ramai pelanggan menanti nasi ini warung.
Adeeva menyiapkan nasi sendiri untuk dia dan Ezra. Adeeva tak sempat pikir Ezra suka makan situ atau tidak. Kalau sok elite ya biar kelaparan.
Adeeva meletakkan dua piring nasi di meja barulah berjalan ke arah mobil untuk ajak Ezra ikut sarapan ala kaki lima.
Adeeva mengetok pintu kaca mobil sebelah kiri. Ketokan Adeeva mendapat respon dari lelaki sok kaya itu. Padahal memang kaya cuma haknya telah dirampas oleh begal cantik.
Ezra buka pintu melototi Adeeva kurang senang diajak makan di warung pinggir jalan. Seumur hidup Ezra baru kali ini ada orang berani ajak dia cicipi makanan yang menurutnya kurang higienis.
"Apa ini makanan untuk manusia?" tanya Ezra tak berniat turun dari mobil.
"Ini tempat makan orang beradab. Hanya manusia bermental tipis takut mati keracunan. Diracuni penyakit kelamin tak takut, ini malah takut sama nasi. Ckckck..." Adeeva menyandar tangan ke pintu dengan tatapan meremehkan Ezra.
__ADS_1
"Sehari kamu tidak mengejek aku apa kau akan mati?"
Adeeva tertawa kecil suka lihat Ezra mati kutu bila diungkit kesalahannya. Ini belum seberapa sobat batin Adeeva.