
Adeeva sudah siap lawan Ezra habis-habisan agar jangan dipikir Adeeva tunduk pada harta kekayaan Ezra. Mentang banyak uang bisa seenak perut gauli perempuan sesuka hati.
Ezra berusaha memeluk Adeeva namun cewek ini menepis tangan Ezra. Adeeva merasa jijik disentuh tangan penuh maksiat. Adeeva juga bukan orang baik namun tidak terpikir jual diri pada harta dan ketenaran.
"Sampai kapan kau mau marah suamimu ini? Aku minta maaf bila kau merasa tak nyaman dengan situasi ini." ujar Ezra masih berusaha memeluk Adeeva.
Adeeva berkelit jauhi lelaki ini. Adeeva berusaha menenangkan diri agar tidak terpancing emosi bikin ribut di hotel orang. Kalau ikuti emosi Ezra sudah jadi kerupuk remuk.
"Apa bapak belum terima surat dari pengadilan?"
Ezra terdiam tahu ke mana arah bicara Adeeva. Ezra tak boleh terpancing ikuti keinginan Adeeva minta cerai.
"Gimana baru kau mau maafkan aku? Aku bersumpah takkan ulangi kesalahan sama."
"Mau aku maafkan?" tanya Adeeva menurunkan rasa ego. Ribut terus takkan ada hasil. Lebih baik ambil jalan tengah selesaikan secara baik-baik biar selanjutnya mereka tak usah berhubungan lagi.
Ezra mengangguk cepat berharap Adeeva berbaik hati memaafkannya.
"Aku maafkan bapak dengan satu syarat." Adeeva menunjukkan telunjuk ke atas minta satu saja permintaan memberi maaf pada Ezra.
"Aku kabulkan semua permintaanmu cuma ada satu tak bisa kuberi. Tak ada kata cerai." Tegas Ezra bikin Adeeva menghela nafas. Hal ini yang mau dia minta sebagai syarat memaafkan semua salah Ezra.
"Tak perlu dilanjutkan. Cukup sekian. Seumur hidup aku takkan maafkan bapak!" Adeeva melengos hendak tinggalkan kamar Ezra. Tak ada guna lebih lama di sini. Bincang tujuh kali purnama juga takkan temui titik temu.
Ezra bergerak cepat menahan Adeeva buka pintu kamar. Ezra seperti anak kecil halangi Adeeva melintangi pintu kamar hotel.
Adeeva mengepal tinju langsung arahkan ke dada Ezra. Adeeva sudah tak dapat menahan diri untuk berlaku seolah dirinya wanita feminim. Mau dibilang cewek bar-bar tak masalah lagi. Yang penting bisa lepaskan rasa jengkel di hati.
Ezra tidak sangka Adeeva berani turun tangan besi hajar lelaki pujaan para pemburu dolar. Ezra tak sempat menghindar tersungkur menahan rasa sakit di dada. Tinju Adeeva sangat pedas sambil ke ulu hati. Adeeva baru gunakan setengah kekuatan hajar Ezra. Coba kalau dia kerahkan seluruh tenaga mungkin saat ini Ezra harus dibawa ke rumah sakit.
"Masih ingin halangi aku?" tanya Adeeva angkuh tidak iba sedikitpun pada Ezra yang menahan rasa sakit. Sakit di daging tidak sesakit di hati. Ezra tak rasakan gimana ya sakitnya dibohongi pasangan.
"Hajar saja sesukamu! Aku takkan lawan asal kau tidak pergi." Ezra keras kepala tetap ingin pertahankan Adeeva di sampingnya.
"Dasar bandel...Dengar pak Ezra cabul. Aku tak ingin ada hubungan apapun denganmu! Aku muak pada kebejatan anda. Anda boleh bangga bisa main kuda-kudaan dengan selusin wanita tapi jangan sentuh aku! Ok? Sekarang minggir!" Adeeva menarik Ezra agar menepi dari pintu. Tak ada kesan lembut dari perlakuan Adeeva. Malah sangat kasar seperti preman.
"Poni...aku minta maaf!" Ezra bergerak memeluk Adeeva agar jangan pergi. Ezra tahu dia bukan lawan Adeeva kalau diajak berkelahi sungguhan. Dua kali Adeeva hajar dia mungkin akan nginap di rumah sakit.
"Tiada maaf bagimu! Kita jumpa di pengadilan." Adeeva keraskan hati tak ingin mengulang kisah bersama Ezra. Sudah tutup buku.
Ezra bersikeras tak ijinkan Adeeva pergi. Laki itu menahan langkah isterinya memeluk tungkai kaki Adeeva. Dalam sinetron cewek yang biasa memeluk kaki cowok agar jangan pergi. Ini terbalik. Justru maha jutawan memohon agar jangan ditinggal.
Adeeva mendesah geram Ezra belum menyerah ganggu dia. Dengan kasar Adeeva putar kaki lepaskan rangkulan Ezra di kaki. Lantas cewek ini hadiahkan tendangan ke perut Ezra membuat laki itu terguling. Rasa sakit di dada belum hilang kini kena lagi di perut. Ezra benar disiksa oleh Adeeva. Ezra sudah tak mampu bangun halangi Adeeva lagi. Laki itu meringkuk di lantai menahan rasa sakit di dada dan perut.
Kalau Ezra tidak ketahuan main gila mungkin Adeeva akan ibanya melihat kesakitan. Tapi berhubung rasa dendam di hati Adeeva belum pupus tak bisa muncul rasa iba.
__ADS_1
Adeeva buka pintu kamar lalu pergi tinggalkan kamar Ezra. Adeeva segera turun ke lantai bawah di mana dia menginap bersama Nunik. Adeeva segera packing untuk tinggalkan kota S agar tidak kena razia Ezra lagi.
Setelahnya Adeeva SMS Ruben agar lihat bosnya. Nanti mati pula di kamar hotel. Sudah jadi perkara baru bagi Adeeva. Tapi Adeeva yakin Ezra takkan mati cuma menderita rasa sakit untuk beberapa saat. Adeeva masih punya akal tidak bikin Ezra tinggalkan dunia ini. Dosa Ezra terlalu banyak, belum terbayar jadi belum boleh mati.
Adeeva teleponi Nunik agar segera balik ke hotel sebelum Ezra sadar Adeeva masih ada di sekitarnya. Sayang Nunik belum mau tinggalkan pesta Krisna.
Adeeva terpaksa hubungi Akbar minta tolong bawa dia pergi dari kota S sebelum Ruben mencarinya. Akbar cepat tanggap langsung iyakan permintaan Adeeva untuk tinggalkan kota S malam ini juga. Akbar minta Adeeva jangan keluar kamar sebelum dia datang. Akbar memang belum tahu duduk perkara tapi yang pasti Adeeva tak suka pada Ezra.
Akbar pamitan pada Krisna dan Nunik. Akbar yakin Krisna akan jaga Nunik dengan baik. Akbar percayakan Nunik kepada Krisna agar bisa segera menolong Adeeva.
Supono dan Akbar segera meninggalkan lokasi pesta menuju ke hotel di mana adanya Adeeva. Kalau memang ingin membantu Adeeva Akbar harus bergerak cepat karena tahu siapa si Ezra itu. kaki tangan si Ezra di mana-mana bak tentakel gurita bergerilya sana sini.
Krisna bukannya tak tahu ke mana perginya Akbar. Tentu saja buat melindungi Adeeva. Krisna bukannya tak ingin pergi membantu Adeeva tetapi dia sendiri mempunyai tugas melanjutkan pesta adiknya. Krisna sebagai tuan rumah tak mungkin meninggalkan pesta begitu saja.
Akbar dan Supono gunakan taksi online menuju ke hotel. Tujuan mereka adalah jemput Adeeva tinggalkan kota agar hindari Ezra. Akbar bukan orang bodoh tak tahu Ezra sedang memaksa Adeeva. Laki itu terangan umumkan Adeeva adalah nyonya Dilangit tentu ingin pamer siapa sesungguhnya wanita muda ini.
Anehnya Adeeva tidak senang dikaitkan dengan laki itu. Padahal Ezra itu orang kaya yang diharapkan oleh semua wanita. Adeeva justru menghindari lelaki itu maka Akbar harus menolongnya dari keganasan lelaki ini.
Akbar meminta Adeeva bersiap karena mobil sewaan sudah siap di depan hotel. Kali ini Akbar dan Supono jadi pahlawan penyelamat Adeeva. Ceritanya kayak kisah di film-film main petak umpet dengan penjahat.
Supono dan Akbar bereskan barang mereka lalu jemput Adeeva di kamarnya. Akbar minta Adeeva kenakan jaket tebal agar tidak mudah dikenali orang. Wajah Adeeva sudah tersiar di mana-mana sebagai isteri Ezra. Para wartawan pasti akan memburu Adeeva korek keterangan apa hubungan Adeeva dan Ezra.
Akbar sudah berusaha melindungi Adeeva dari segala kemungkinan buruk. Bukan gampang lawan orang kaya. Orang sekelas Krisna saja tak mampu lawan Ezra apalagi orang sekelas Akbar. Kuku belum cukup panjang lawan Ezra.
Supono duduk di depan bersama supir taksi online. Sedang Adeeva dan Akbar duduk di jok belakang. Semua berdiam diri merasa tegang dengan kekacauan ini. Akbar bersabar menunggu Adeeva bercerita mengapa dia bisa diklaim Ezra sebagai nyonya Dilangit sedangkan Adeeva menolak.
"Kau lapar? Tadi kulihat kau tak sempat makan!" tanya Akbar mulai percakapan dengan pertanyaan tak ada hubungan dengan Ezra.
Adeeva tak mengira Akbar perhatikan gerak gerik dia. Adeeva pikir Akbar lebih perhatian pada Nunik sang calon isteri.
"Nanti saja di rumah." sahut Adeeva singkat.
Akbar makin senang Adeeva anggap rumah Akbar sebagai rumah dia. Adeeva anggap Akbar bukan orang lain dalam hidupnya.
"Nanti kita beli makanan kalau ada warung. Kau lapar Pono?" tanya Akbar mencolek kepala Supono dari belakang.
"Lapar juga. Sudah ambil makanan tak sempat makan. Nanti kita cari warung dekat isi perut dulu. Pak supir lapar?" Supono bertanya pula pada supir paro baya yang fokus pada jalan raya.
"Sudah makan di rumah. Makan bersama anak isteri paling nikmat walau lauk sederhana." sang supir pamer hidup bahagia bersama keluarga walau tidak kaya raya.
Kebahagiaan bukan berpusat pada harta melainkan kebersamaan dengan orang yang kita cintai.
"Bapak benar. Kebahagiaan tak bisa dibeli dengan harta. Segunung harta itu tak ada arti bila hati kita terikat oleh bandulan kepedihan." Adeeva membenarkan omongan Sang supir arti bahagia sesungguhnya.
Di hotel Ruben kaget menemukan Ezra tersungkur di lantai menahan rasa sakit di dada dan perut. Ruben bisa tebak ini pasti perbuatan Adeeva. Cewek itu pasti beri hadiah pedas pada Ezra. Dalam hati Ruben bersyukur akhirnya ada orang berani lakukan kekerasan pada Ezra. Laki ini terlalu angkuh dengan kekayaan sampai lupa di atas gunung ada gunung lain.
__ADS_1
Ruben membantu Ezra bangkit memapahnya naik ke tempat tidur. Wajah laki itu menahan rasa sakit tak terhingga. Sakit di otot tidak seberapa bila dibanding rasa sakit hati. Ezra tak sangka Adeeva tega menyiksanya. Kini Ezra tahu bagaimana rasa sakit hati. Lebih sakit daripada dihajar Adeeva.
"Pak...kita ke rumah sakit?" Ruben kuatir terjadi sesuatu pada bosnya.
"Tidak perlu...mana dia?" Ezra menolak bantuan Ruben. Matanya jelalatan mencari sosok yang telah beri hadiah manis padanya. Hadiah yang tak pernah dia rasakan seumur hidup.
"Aku tak lihat siapa-siapa."
"Sialan...dia kabur lagi. Cari dia sampai dapat. Dia pasti belum jauh."
"Baik...aku akan kerahkan anak buah cari dia!"
"Cek Cctv hotel ke mana dia pergi. Secepatnya sebelum dia pergi jauh. Cek juga data Krisna dan temannya yang lain. Jika perlu tekan temannya yang sering ikut dengan Poni." kata Ezra sambil meringis tahan pedih di perutnya. Tangan Adeeva sungguh beracun, sekali kena kontan satu badan serasa mau rontok. Apa Ezra sanggup hidup dengan seorang gadis bar-bar macam Adeeva?
Ezra tak tahu Adeeva bar-bar pada tempatnya. Sehari-hari Adeeva termasuk gadis baik disukai sesama teman. Semua karyawan di kantor lama Adeeva suka padanya kecuali Celine yang selalu iri pada kecantikan Adeeva.
"Maksudmu Si Nunik? Baik...aku akan korek kabar dari Nunik di mana Adeeva. Tapi gimana bapak sekarang? Kita ke rumah sakit cek kondisi bapak." Ruben susah juga lihat Ezra menahan rasa sakit. Jika terjadi sesuatu dia juga yang bakal ketiban sial.
"Tak usah...kau cari Poni saja! Cari diam-diam jangan bikin heboh! Wartawan pasti sedang cari dia juga."
Ruben mencibiri Ezra yang mudah terbawa emosi. Sekarang baru sadar perbuatannya telah menyusahkan Adeeva. Semua orang pasti sedang berburu Adeeva termasuk penghuni istana Ezra. Selir-selir Ezra pasti tak terima hanya Adeeva diekspos sebagai isteri lalu mereka itu apa? Patung pajangan di istana Ezra?
"Tuhlah Abang! Sudah kubilang jangan gegabah sebar siapa Adeeva! Sekarang baru takut Adeeva dijahati orang kan? Aku kuatir mamamu akan kuliti Adeeva. Kau kan tahu sifat licik Bu Humaira."
"Apa aku punya pilihan lain?" Ezra menyesal gegabah ekspos Adeeva. Tapi untuk menahan Adeeva hanya itu satunya jalan pintas. Adeeva tak bisa lari bila semua tahu dialah nyonya Dilangit. Sayangnya Adeeva tak open status harapan semua cewek. Dia tetap lari tak peduli pada Ezra.
Belum sempat Ruben keluar ponsel laki itu berdering. Ruben lihat siapa yang telepon lantas menarik nafas panjang tahu masalah telah tiba di depan mata.
Ruben harus angkat karena yang telepon itu orang yang baru terlintas di pikiran. Kayak ada kontak batin gitu. Baru dipikir orangnya langsung muncul.
"Halo...ya Bu!"
"Mana Hakim?"
"Pak Ezra sedang kurang sehat. Ponsel di silent."
"Baru saja di pesta bersama isteri kurang ajarnya. Mana wanita itu? Berani sandiwara di depan kami. Asisten pribadi segala. Suruh dia pulang sini biar di data otaknya."
"Bu... Adeeva tak perlu dikejar lagi. Dia memang tak mau jadi isteri pak Ezra maka dia buat sandiwara ini. Dia sudah menuntut cerai."
"Apa?"
"Bu...dari awal Adeeva tak mau jadi isteri pak Ezra. Dia menikah karena dipaksa keluarganya. Dia sudah lama tinggalkan pak Ezra. Jadi bukan dia ganggu pak Ezra tapi pak Ezra yang kejar dia. Pak Ezra mencintai dia. Jadi jangan salahkan Adeeva!" Ruben terbuka soal Adeeva biar Bu Humaira tidak timbul pikiran kotor celakai Adeeva. Bu Humaira kan suka main kotor celakai orang. Kalau berantem di tempat terang jamin Adeeva yang memang tapi trik Bu Humaira kotor suka main belakang.
Ezra mendesis dengar Ruben masih bicara pelan pada mamanya. Tak ada guna basa basi pada orang-orang berakal pendek.
__ADS_1