Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Cari Kebenaran


__ADS_3

Ketiga penjahat itu bersyukur bisa keluar dari masalah. Kadang bersikap jujur mendatangkan ketenangan jiwa. Mereka bersedia dihukum asal tak ganggu keluarga mereka.


Sifat ego seorang penjahat cukup bikin orang sebel. Ganggu orang lain oleh, giliran kejuaraan mereka dapat musibah ketakutan.


Ezra meminta penjahat itu berbicara dengan isterinya melalui rekaman video. Ini untuk menyakinkan isteri penjahat agar bersedia kerja sama.


Ezra tak mau panjang cerita dengan para begundal itu. ngomong apapun tidak ada gunanya selain mendapatkan bukti dari tangan mereka untuk menjerat Rani ke dalam hukum.


Ezra dan Ruben langsung pamitan setelah mendapat alamat salah satu penjahat yang menyimpan bukti rekaman pembicaraan dengan Rani. Ezra harus tuntaskan semua permasalahan dengan Rani agar hidup Adeeva jauh dari bencana.


Ruben yang menemui penjahat itu. Ezra tak mungkin turun tangan sendiri menemui keluarga para penjahat. Wibawa Ezra akan turun bila menemui keluarga yang ingin mencelakai istrinya.


Ruben adalah orang yang paling tepat untuk menangani masalah rekaman yang ada di tangan istri penjahat. Ruben harus memberikan bukti bahwa mereka pernah bertemu dengan si penjahat agar istrinya bersedia menyerahkan rekaman itu. Hasil rekaman diperlihatkan pada isteri penjahat agar tak ada rintangan memberikan bukti kuat kejahatan Rani.


Ruben dan Ezra segera pergi setelah mengantongi bukti. Ruben meninggalkan sedikit uang untuk biaya hidup istri penjahat itu. Ruben masih memiliki hati nurani mengingat anak penjahat itu masih kecil. Ayahnya yang bersalah janganlah anak yang kecil itu menanggung dosa ayahnya.


Ezra sendiri melupakan janji pada bumil muda untuk bawa es cendol sarat gula aren. Pikiran Ezra fokus pada kejahatan Rani. Ezra harus bertindak cepat sebelum Rani makin nekat.


Ezra dan Ruben balik ke kantor untuk copy semua rekaman Rani dan penjahat sebelum diserahkan pada pihak kepolisian.


Ezra serius tangani kasus berat ini karena akan mengungkit kecelakaan sahabat baiknya. Kali ini Rani akan kena batu. Membunuh dia orang sekaligus. Ezra tak tahu hukuman apa pantas untuk wanita culas itu.


Ezra mengabari Don apa yang telah dia temukan. Don juga sahabat Herman jadi harus tahu kejadian yang menimpa sahabat mereka. Selama ini semua orang mengira Herman meninggal karena kecelakaan tunggal. Ternyata ada dalang di balik semua ini.


"Halo...masih tidur?" tanya Ezra begitu tersambung pada Don.


"Masih...terpenting masih bernafas. Aku baru mau lacak para penculik itu. Kau sudah tak sabar."


"Kau bisa datang ke kantor aku? Aku ada kabar untukmu. Bukankah dulu kamu bilang Herman kecelakaan karena dipanggil Rani anaknya sakit?"


"Iya sekitar pukul sembilan malam."


"Aku dapat berita Herman meninggal karena kecelakaan hendak keluar kota. Yang mana yang benar? Kecelakaan pagi hari."


"Aku langsung ke rumah sakit lihat jenazah Herman. Dia sudah meninggal akibat tabrak tiang."


"Pada malam hari?"


"Iya...aku jadi ingat katanya kamu mendapat amanah dari Herman untuk jaga Rani dan anaknya. Emang kamu jumpa langsung dengan Herman?"


"Tidak.. dia menelepon memintaku menjaga Rani dan anaknya karena waktunya tak banyak lagi. Aku tiba di rumah sakit dia sudah meninggal. Hanya ada Rani dan anaknya. Kamu juga tak ada. Aku langsung kuburkan dia sesuai keinginan Rani."


"Kok aneh ya? Malam itu aku yang jaga jasad Herman lalu Rani datang dan aku pulang untuk tidur. Setelah itu kita jumpa di pemakaman. Ya habis cerita!"


"Ya Allah...aku memang diteleponi Herman dengan nomor biasa. Waktu itu aku pikir hanya luka biasa karena dia masih sanggup bicara."

__ADS_1


"Caile...sudah pandai menyebut nama Allah. Ada kemajuan deh! Pengaruh Poni kamu ya?"


Ezra baru tersadar menyebut nama Allah. Dulu-dulu mana teringat pada sekata itu. Ezra asli Islam KTP.


"Ngejek terus! Apa pendapatmu tentang hal ini?"


"Menurut analisa aku Rani meminta seseorang menyamar jadi Herman teleponi kamu cari keuntungan pribadi. Tanpa amanah Herman kau tentu tak mau menjaga Rani. Selama tiga tahun ini kamu menjaga seekor rubah licik. Kau harus pancing rubah itu perlihatkan ekornya. Sekarang kau tak boleh kasar padanya. Kau harus lebih baik lagi tapi jangan sampai ke jebak. Jumpa harus di tempat umum. Minta Ruben atau Poni kawal kamu."


"Poni? Bisa jadi perkedel si Rani. Dia pas lagi ilfil sama Rani. Habislah Rani!"


"Betul juga ya! Poni kamu itu berdarah panas. Aku pikir dia itu cewek jadian. Hajar penjahat kayak hajar anak TK. Nanti kita pergi lihat dia? Aku rindu padanya."


"Astaghfirullah... aku janji mau makan siang bersamanya. Janji mau bawa es cendol lagi. Ini sudah jam dua.." Ezra melirik jam mahal melingkar di pergelangan tangan. Sudah lewat jam makan siang. Adeeva pasti akan manyun dirinya tak tepat janji.


"Alamat kena PHK! Aku dukung Poni hajar kamu sampai bonyok. Asal kau tahu. Ibu hamil itu sensitif. Kentut lhu saja bisa jadi bencana bila dia tak suka. Selamat menderita bro!"


Jantung Ezra berdetak lebih kencang mengingat janjinya kepada Adeeva. baru pertama kali membuat janji selama Adeeva hamil langsung dia ingkari.


"Aku ke rumah sakit dulu! Nanti kita bahas soal Rani. Ada yang lebih penting dari Rani. Jumpa nanti bro!" Ezra mematikan ponsel bergegas keluar dari kantor mencari pesanan Adeeva. Ibu hamil kadang suka nyusahin suami. Sengaja minta di luar akal sehat.


Permintaan adeeva masih termasuk logika. Masih bisa dipenuhi secara gampang. Mumpung permintaan Adeeva sangat sederhana maka Ezra wajib memenuhinya.


Ezra mencari Ruben agar cari alamat penjual es cendol yang lezat. Permintaan ibu negara tidak dipenuhi bisa terjadi perang dunia ketiga. Bukan cuma Rusia dan Ukraina yang perang. Ezra juga bakal kena imbas perang.


Ruben terpaksa cari tahu minuman paling di cari pada bulan puasa. Penyegar tenggorokan yang manis.


Ruben menggeleng tak percaya melihat Ezra begitu bucin kepada Adeeva. Siapa sangka lelaki yang biasa dikejar oleh wanita akan mendapatkan ganjaran mengejar seorang wanita muda. Namun Ruben sangat senang Ezra bisa terlepas dari belenggu yang diikat oleh Bu Humaira. Ezra juga berhak bahagia. Biarlah Ezra mencari kata bahagia itu dari seorang wanita muda berdarah panas.


Ezra berpacu menuju ke rumah sakit bawa permintaan Adeeva. Ezra harus pintar bersilat lidah agar wanitanya tidak sembur hawa naga. Sebelum hamil masih kuda Poni. Setelah hamil berubah menjadi naga api. Ezra bisa terpanggang kapan saja.


Ezra bergegas menuju ke ruang VIP di mana Adeeva dirawat. Dalam hati Ezra komat kamit semoga suasana hati Adeeva sedang stabil. Ezra bukan takut Adeeva melainkan takut terjadi sesuatu pada janin di perut wanita itu.


Begitu Ezra tiba pas pula Abah keluar dari ruangan. Kedua laki itu hampir tabrak akibat Ezra tergesa-gesa ingin masuk bawa orderan Adeeva.


"Oh maaf Abah! Abah mau ke mana?" Ezra mundur beri jalan pada mertuanya untuk keluar.


"Abah bosan di kamar. Eva ngomel terus sampai kuping Abah penuh. Abah sarankan kamu jangan banyak bicara supaya jangan kena semprot oleh mulut tajam Eva!"


Nyali Ezra menciut dapat nasehat putus asa dari Abah. Ternyata hawa naga sudah terjadi sebelum Ezra datang.


"Ngomel apa Abah?"


"Aneka varian. Dari bulat hingga gepeng. Abah sarankan kamu hati-hati ya!" bisik Abah bikin jantung Ezra makin tak karuan. Tampaknya Ezra perlu EKG cek jantung apa sudah siap kena serbuan ribuan kalimat Adeeva.


Ezra meraba bulu kuduknya agak merinding. Kok lebih seram daripada ketemu setan?

__ADS_1


Abah tersenyum tipis menepuk bahu menantunya agar tabah. Begitulah resiko jadi calon bapak. Jangan enak-enak ingin menyandang gelar seorang bapak tetapi tidak mau melalui proses alami jadi tumbal amarah ibu hamil.


Abah pergi tinggalkan Ezra nelangsa. Apapun terjadi Ezra harus kuat dan tabah menemui Adeeva.


Perlahan Ezra menggeser pintu untuk intip apa yang sedang dilakukan Adeeva. Ezra tak ubah seperti maling hendak intai apa penghuni rumah ada di dalam. Kalau tak ada siap operasi.


Mata jeli Adeeva menangkap bayangan Ezra walau badan laki itu belum pindah ke dalam. Adeeva memeluk tangan buang muka tak mau tatap Ezra.


Ezra tak punya banyak pilihan selain masuk ke dalam sambil pura-pura tidak tahu kalau istrinya sedang ngambek. Ezra meletakkan pesanan Adeeva di atas meja lantas mendekati istrinya itu. Adeeva tetap tak mau menatap wajah lakinya karena kesal Ezra ingkar janji.


"Sayang...kok ngambek? Ini aku datang bawa cendol banyak gula aren. Jalanan macet tadi maka terlambat." bujuk Ezra melirik Umi yang senyam senyum. Umi sudah hafal sifat panas anaknya bila kurang senang. Tapi kali ini memang salah Ezra. Terlambat hampir dua jam.


"Beli cendol sampai ke kota B ya? Janji dari pagi tadi sekarang baru datang. Tak pingin cendol lagi." sungut Adeeva seenak perut ganti selera. Ezra sudah matian cari cendol pesanan. Namun sudah sampai Adeeva merubah selera.


"Sayang pingin apa biar aku cari?"


"Pingin durian musang King."


Ezra terpana karena selera Adeeva jauh banget dari pikirannya. Pikir pingin roti atau buahan segar impor. Ini malah buah berbau menyengat.


"Eva tak boleh makan durian dulu. Durian itu mengandung alkohol dan panas. Sangat tidak baik untuk perkembangan janin kalian." tugas Umi cepat karena takut Ezra akan segera memenuhi permintaan Adeeva. di masa rentan begini Adeeva dilarang mengkonsumsi makanan yang bisa meningkatkan kadar gula dan darah dan tensi darah ikut naik. Itu tidak baik untuk kesehatan bumil.


"Sayang kau dengar kata Umi? Ganti yang lain saja! Atau kita minum cendolnya dulu. Bukankah ibu hamil suka yang manis-manis supaya anaknya ganteng dan cantik." rayu Ezra supaya rasa kesal Adeeva menurun. Sedikit saja boleh asal wajah cantiknya tidak tambah jelek.


"Ogah.." Adeeva jual mahal. Ntah berapa harganya apa Ezra sanggup membelinya.


"Eva... suami kamu susah payah mengantar pesanan kamu! Kamu harus tahu kalau sepanjang jalan selalu macet. Umi sarankan kamu tidak menyusahkan suami kamu." Umi turun tangan membujuk Adeeva agar memaafkan Ezra yang ingkar janji.


Adeeva memutar kepala menghadap Ezra sedang kaji apa laki ini pantas dapat maaf darinya. Adeeva bukannya tak tahu kalau jalanan selalu dipenuhi oleh kemacetan. Persoalannya macet mengapa bisa sampai 2 jam lebih.


"Betul kena macet?"


Ezra cepat angguk biar rasa kesal Adeeva menurun. Makin cepat makin bagus biar wajah cantik itu tidak kusut lagi.


"Ya sudah...kemari kan cendolnya! Awas kalau besok bohong lagi!" ancam Adeeva lontarkan tatapan tajam pada Ezra.


Ezra bergerak mengambil cendol yang telah terisi dalam gelas plastik warna bening. Dari luar tampak campuran beberapa macam bahan. Ada cendol warna hijau serta santan dan gula aren warna coklat. Kelihatannya sangat lezat menggoda selera.


Ezra mengambil satu gelas lalu serahkan pada Ini barulah bawa segelas lagi buat Adeeva. Kalau yang ini Adeeva ngambek berarti anak itu egois.


Ezra sudah tunjukkan sopan santun seorang mantu tapi dipatahkan Adeeva. Ini bukan salah Ezra lagi.


Justru sebaliknya Adeeva sangat bangga pada Ezra yang memperhatikan Uminya. Ezra tahu mana yang harus didahulukan walaupun yang pesan Adeeva.


Ezra dengan telaten menyuapi Adeeva gunakan sendok plastik bawaan dari penjual es cendol. Di zaman canggih ini es cendol saja sudah diwadahi oleh gelas plastik. Bukan dibungkus dalam plastik gula diikat karet.

__ADS_1


Gunakan gelas plastik lebih efisien karena pembeli tidak harus mencari mangkok untuk mewadahi cendol. Tinggal buka penutup lantas menyantapnya.


Adeeva tersenyum senang diperlakukan seperti ratu oleh Ezra. Senang juga jadi ibu hamil bisa memerintah suami seenak dengkul. Adeeva sangat menikmati moments jadi ibu hamil.


__ADS_2