Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Poni Liar


__ADS_3

"Jadi kami harus pura-pura tak kenal Adeeva walau jumpa?" tanya Umi dengan bahasa Indonesia kurang fasih.


"Iya...aku ganti identitas Adeeva. Nanti semua data Adeeva di perusahaan akan kuhilangkan agar dia bisa hidup tenang. Sekarang namanya Poni Liaran!"


Adeeva ingin sekali tancap kuku di leher Ezra. Dia buat rencana sendiri tanpa tanya pada Adeeva. Ganti nama orang juga sesuka dengkul. Nama Poni Liaran nama paling jelek pernah Adeeva dengar. Adeeva tahu Ezra sengaja ciptakan nama itu untuk ejek Adeeva tolol kayak keledai. Itu belum seberapa ditambah Liar di belakang Poni.


"Nama aneh! Apa tak ada nama lebih bagus sedikit? Kok kesannya seperti kuda mini liar?" gumam Abah kurang suka nama pilihan Ezra.


Dalam hati Ezra ketawa. Abah mungkin belum tahu betapa liarnya anak gadis ini. Sok jagoan berantem sana sini. Ezra sengaja karang nama itu agar Adeeva ingat betapa buruknya dia.


"Itu data kuambil dari bekas anak buah yang sudah pindah kerja di luar negeri. Jadi data orang itu kugunakan masukkan data Adeeva. Suatu saat Abah akan ngerti mengapa aku menyembunyikan Adeeva dari keluarga besar aku. Aku cuma bisa bilang aku tak ada hubungan apapun dengan para wanita di istana aku. Aku butuh waktu untuk keluarkan mereka dari tempat tinggal aku. Nanti hanya ada Adeeva."


Abah dan Umi senang pada janji Ezra. Berarti mereka tidak salah serahkan masa depan Adeeva pada Ezra.


Abah dan Umi kesenangan sedang Adeeva nelangsa ingat nasib buruknya telah tiba. Hidup bersama ikan paus kapan ada bahagianya? Tiap hari jadi korban pelecehan Ezra.


"Baiklah! Abah dan Umi ikuti skenario kalian. Silahkan pergi kalau memang begitu!"


"Terima kasih Abah! Aku akan bantu Abah pasarkan Kuningan ke Kamboja dan Myanmar. Abah buat patung persembahan mereka. Cukup buat contoh agar aku bisa kirim ke kolega."


"Oya...nanti Abah kirim ke kantormu. Hati-hati jaga anak Abah ya! Dia anak kami satu-satunya."


Adeeva menjerit dalam hati. Nyawa anak Abah dalam bahaya bila lebih lama tinggal dengan orang songong. Gila bisa kumat kapan saja.


"Aku janji...permisi! Assalamualaikum..." Ezra sopan sekali pamitan pada orang tua Adeeva.


Adeeva mau nangis meraung minta tolong agar tidak usah diijinkan tinggal bersama Ezra tapi suara tercekat di leher. Tak ada suara terbit karena melihat orang tuanya sangat bahagia pada janji Ezra. Apa lagi Ezra janji bantu pasarkan Kuningan Abah. Makin sempurna derita Adeeva.


Ezra sok mesra gandeng Adeeva keluar dari rumah Abah. Gayanya sudah sempurna sebagai suami idola para mertua. Perhatian pada isteri juga perhatian pada bisnis keluarga isteri. Adeeva muak pada kemunafikan Ezra.


Di sini sok baik nanti dia mulai lagi kerjain Adeeva sampai babak belur.


Mobil mewah Ezra perlahan meninggalkan rumah Adeeva. Mereka akan menuju ke Medan perang sesungguhnya melawan tikus pengerat curi makan uang perusahaan. Adeeva harus bantu Ezra agar perusahaan tidak gulung tikar. Nasib ribuan karyawan jadi taruhan termasuk dirinya. Adeeva takkan biarkan satu batang kayu menghantam satu kapal hingga karam. Batang kayu pengganggu ini harus disingkirkan.


Kantor Ezra jauh beda dengan kantor di kota B. Kantor ini gedung pencakar langit memiliki lantai lebih dari dua puluh. Berapa kali lipat lebih gede dari kantor Adeeva kerja. Gedungnya angkuh berdiri kokoh seolah menantang para karyawan menaklukkan semua isi kantor.


Ezra memarkir mobil di tempat tersedia khusus untuk big bos. Adeeva mendapat kehormatan dampingi bos masuk ke kantor. Adeeva tegakkan badan tak mau dipandang remeh walau status hanya asisten pribadi. Asisten pribadi juga manusia.


Ezra melangkah dengan angkuh lewati meja resepsionis menuju ke lift khusus big bos. Setiap orang yang melihat Ezra langsung menunduk hormat beri salam. Begitulah enaknya jadi bos. Di mana-mana dihormati. Beda dengan anak buah jadi perisai penahan amarah bos.


Mata karyawan tidak hanya tertuju pada Ezra tapi juga menatap heran pada Adeeva. Baru kali ini big bos bawa karyawan wanita di sampingnya. Biasa ada Ruben berdiri sejajar dengan Ezra. Kini ada gadis cantik berkulit bersih dampingi Ezra.


Adeeva cuek bebek dipelototi satu kantor. Ini bukan daerah jajahannya untuk apa terlalu ambil peduli. Begitu tugasnya kelar dia akan hengkang dari kantor ini. Hidup damai di kota B lagi.


Adeeva tak peduli mendarat di lantai berapa. Naik lift setinggi gini serasa naik pesawat terbang tinggi menuju ke langit. Gimana kalau liftnya melesat keluar dari gedung menembus ke langit bebas. Jadi manusia pertama terbang ke langit naik lift. Adeeva akan ukir sejarah pertama terbang naik lift. Tanpa sadar Adeeva tertawa sendiri berangan konyol.


Ezra perhatikan Aspri merangkap bini tertawa sendiri. Apa gerangan bikin gadis urakan ini tertawa geli sendiri. Untung dalam lift cuma ada mereka berdua. Coba kalau ada orang lain! Pasti mengira Adeeva sedang mengejek orang.


"Mau diantar ke RSJ?" tegur Ezra.


"Ngapain? Mau jumpa simpanan bapak yang stress akibat ditinggal bapak?" balas Adeeva tak mau kalah.

__ADS_1


"Kamu yang stress...ketawa sendiri! Ingat siapa?"


"Ingat seseorang yang ganteng! Yang pasti bukan bapak." sahut Adeeva sesuka hati.


"Kalau berselingkuh ingat nasib perusahaan abah mu! Banyak yang dipertaruhkan! Nasib Abah dan puluhan karyawan Abah. Aku tak main-main."


Adeeva memanjangkan bibir tidak terlalu takut ancaman Ezra. Tanpa Ezra bisnis Abah juga tetap lancar walau pemasaran tidak menjangkau luas.


"Emang hanya laki boleh selingkuh? Cewek juga bisa asal tidak ketahuan kan?"


"Awas kalau punya pikiran berselingkuh! Kupatahkan kaki kuda poni." ancam Ezra geram pada kekokohan Adeeva tidak mudah kena provokasi.


Adeeva tertawa kecil, "Aku sudah biasa hadapi kekerasan. Ancaman bapak seperti ancaman preman di kontrakan Bu Sulis. Ancam mau patahkan tangan aku! Yang patah tangan dia pak tua! Aku malas berdebat hari ini! Sariawan aku kumat! Kita kerja dulu ya! Aku tak sabar mau balik ke kontrakan tercinta."


Ezra habis akal hadapi sifat keras Adeeva. Heran kok ada gadis tak mempan dirayu pakai materi! Ezra jadi curiga jangan-jangan Adeeva ini transgender menyamar jadi cewek.


Lift terhenti di lantai tertinggi dari gedung. Pintu lift terbuka secara otomatis mempersilahkan penghuni keluar. Adeeva pasang mata detektif selidiki lantai tempat Ezra bekerja. Satu lantai sangat luas dengan udara sangat sejuk. Full AC. Tak ada suara hiruk pikuk karyawan bekerja seperti kantornya di kota B. Di sini sepi cocok buat tempat menyepi.


Ntah dari mana muncul Ruben dengan pakaian resmi. Laki ini kenakan jas warna biru navy dengan celana senada. Kalau dilihat ganteng juga cuma masih kalah dengan biangnya. Ezra ganteng habis.


Ruben tersenyum melihat gadis bengal ini muncul juga di kantor pusat. Pakai cara apa Ezra boyong gadis ini keluar dari zona aman Adeeva.


"Selamat datang nona Adeeva!" Ruben goda Adeeva bungkukkan badan sembilan puluh derajat.


"Namanya bukan Adeeva lagi tapi Poni Liaran. Kamu hapus semua data Adeeva dari perusahaan. Jangan ada sisa!"


Ruben terbahak-bahak dengar nama baru Adeeva yang sangat aneh di kuping. Adeeva meringis malu diejek Ruben gara nama paling jelek sedunia. Adeeva yakin Abah pasti nangis darah anaknya dianugerahi nama super aneh.


"Wah nona Poni yang cantik! Selamat bergabung di lantai ternyaman! Mau ditempatkan di ruang mana pak?" Ruben memutar kepala cari tempat kosong untuk jadi ruang kerja Adeeva.


Lantai itu tak ada penghuni selain mereka. Ada beberapa ruang bersekat kaca dalam kondisi gelap artinya tak ada pegawai berkantor di situ.


Adeeva berharap dapat ruang sejauh mungkin dari Ezra. Kalau bisa dapat tempat di Antartika.


"Tidak perlu...dia berkantor dalam ruang aku! Atur mejanya!" ujar Ezra angkuh meninggalkan Adeeva dan Ruben.


"Habis kamu Poni! Dia mau awasi kamu secara langsung!" Ruben menakuti Adeeva.


"Emang aku takut? Aku toh bukan kriminal takut pada polisi! Biar saja dia pelototi aku sampai bosan! Keluar tuh biji mata!" Adeeva melengos tak mau buang waktu ladeni asisten Ezra yang sifatnya tak jauh beda dengan bos.


Ruben senang ada hiburan di lantai ini. Akhirnya Padang tandus mulai ditumbuhi tanaman hias. Selama ini gersang tanpa warna cerah. Kehadiran Adeeva akan mengubah lantai sepi menjadi lantai penuh warna.


Adeeva cukup cerdas cari ruang Ezra. Ruang kantor maha luas. Ruang Ezra hampir makan setengah lantai terakhir ini. Dekorasinya super mewah lebih mirip tempat istirahat bisa ketimbang kantor. Buku-buku tersusun rapi pada rak yang bersatu dengan dinding. Ada koleksi barang antik berupa guci kecil ntah produk jaman apa. Mungkin produk jaman kini dijadikan pajangan. Adeeva tidak paham soal koleksi orang kaya.


Meja kerja Ezra cukup gede bisa tampung satu orang untuk tidur bila capek kerja. Cocok untuk Adeeva si tukang tidur. Capek kerja bisa rebahan di atas meja.


Satu perangkat komputer dengan layar monitor cukup lega duduk angkuh di tengah meja. Sampingnya ada jam pasir serta bandul dari nikel bergoyang tak berhenti. Dasar bandul kurang kerjaan. Goyang terus sampai tua.


Beberapa map tersusun rapi di atas meja. Adeeva menduga itu dokumen kantor. Itu bukan ranah Adeeva. Dia cukup urus bagian sistim.


Seperangkat sofa besar melingkari sebagian ruang. Di tengah terduduk manis sebuah meja dari motif kayu jati.

__ADS_1


Di depan meja Ezra tak ada kursi seperti kantor lain. Lelaki sombong ini tampaknya tak suka ada orang duduk di depannya. Adeeva pikir itu terserah Ezra. Yang punya ruang dia. Terserah dia dekor gimana.


"Aku duduk di mana?" tanya Adeeva setelah puas cuci mata seluruh ruang Ezra.


"Duduk sini!" Ezra menepuk paha goda Adeeva duduk di pahanya. Adeeva mencibir tak open usulan gila.


"Najis..."


"Najis tapi kau suka kan? Semalam kau memeluk tubuh aku! Hangat kan? Kita coba lagi gimana?" olok Ezra dapat kesempatan goda Adeeva mumpung Ruben belum muncul.


"Tunggu kiamat dulu! Yang serius pak! Aku harus kejar waktu balik ke kota B. Di sana masih banyak pekerjaan aku belum selesai. Bapak punya rekening pribadi yang tak diketahui keluarga maupun pejabat sini?"


Mata Ezra menyipit dengar Adeeva mulai selidiki kekayaan dia.


"Kau tak yakin suami kamu kaya?"


"Yaelah om bangkotan! Aku dalam tugas ini! Apa urusan kekayaan bapak dengan aku?"


"Lalu untuk apa rekening pribadi?"


"Makanya waktu Tuhan bagi otak hadir! Jangan asyik tenggelam dalam pelukan wanita. Aku akan memindahkan seluruh dana perusahaan ke rekening pribadi bapak baru kupindahkan uang rekening pengerat. Kita buat seolah perusahaan sedang diretas hacker. Bukan cuma uang tikus diretas tapi juga uang perusahaan. Maka itu mereka tidak curiga."


"Gimana kalau ada inisiatif lapor polisi?"


"Aduh pak! Mereka mana berani lapor polisi. Sama saja menyerahkan diri masuk penjara. Mereka tilep uang perusahaan dalam jumlah besar resikonya nginap di hotel gratis."


Ezra akui kepintaran Adeeva mainkan peran sebagai korban. Saudara dari mamanya pasti tak berkutik bila seluruh duit mereka amblas. Mau lapor pada siapa? Mau buka kartu dari mana uang segitu banyak?


"Baiklah! Aku percaya padamu!"


"Ok...aku minta nomor ponsel orang yang bapak curiga beserta akun email mereka. Maaf pak! Termasuk kedua mama bapak dan kelima selir bapak. Aku akan kerjakan sampai tuntas. Aku akan sapu duit mereka hingga kosong dan transfer kembali ke perusahaan barulah kita pindah ke rekening bapak." kata Adeeva serius ingin cepat tuntaskan tugas dari Ezra.


Ezra puji plan Adeeva yang cukup cerdik. Ezra mau lihat sampai di mana kepintaran Adeeva hari ini. Hanya bermulut besar atau memang berotak encer.


Ezra tak ragu serahkan data sesuai permintaan Adeeva. Ada sepuluh orang masuk daftar orang dicurigai Ezra. Semua data Ezra berikan secara komplit pada Adeeva.


Pertama Adeeva harus bobol akun bank orang-orang dicurigai menjadi tikus pengerat. Adeeva tidak serta Merta langsung pindah uang orang itu. Adeeva harus yakin dulu kalau memang itu akun pemilik orang dicurigai Ezra.


Satu persatu data bank Adeeva perlihatkan pada Ezra apa betul itu orang di kenal Ezra. Rata-rata orang itu rekeningnya gendut tak sesuai hasil gaji. Yang paling mengerikan adalah adik dari mama Ezra yang bernama Julianto. Rekeningnya capai lima ratus milyar di susul mama Ezra empat ratus milyar dan yang lain menyusul dengan nominal terbilang cukup besar.


Ezra menggeram melihat kelicikan keluarga mamanya. Menguras uang perusahaan sampai ke tulang. Darah Ezra mendidih tatkala lihat hasil kerja Adeeva yang memang aduhai. Gampang saja dia retas akun orang. Apa bisa simpan rahasia dari gadis ini?


"Pak...aku curiga antara pak Jul dan Renata ada hubungan! Coba bapak lihat uang keluar dari rekening pak Jul dan uang masuk di rekening Renata seirama. Apa uang Renata harus kita kuras juga? Ada ratusan milyar juga." Adeeva menunjukkan data dana keluar dari rekening pak Jul ke rekening Renata.


"Yang lain gimana?"


"Rata-rata ratusan juta. Yang milyaran cuma Renata."


"Kuras. Yang ratusan juta biarkan saja."


"Siap bos!"

__ADS_1


__ADS_2