Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Terbongkar Sedikit


__ADS_3

Ezra tidak mandi cuma ganti pakaian agar tak bau keringat. Badannya belum seratus persen fit maka Ezra coba hindari air. Tidak mandi juga takkan kurangi kegantengan dia. Ezra tetap rupawan tanpa kena air dan sabun wangi.


Adeeva akui pesona Ezra akhir-akhir ini. Rasanya lelaki ini makin ganteng setelah jatuh miskin. Pancaran matanya tidak seangkuh dulu.


"Berangkat kita?" Ezra membuyarkan lamunan Adeeva terhadap pesona seorang Ezra.


Ezra tentu tak tahu Adeeva sedang kagumi dirinya. Kepalanya tambah besar lima centi bila tahu Adeeva terpesona oleh data tarik lelaki ini.


"Eh iya...aku supir! Bapak masih sakit." Adeeva duluan ambil kunci di atas meja.


"Mana ada bos jadi supir anak buah? Bisa jatuh dasi seorang CEO. Sudah biar aku yang supir!" Ezra merebut kunci kontak mobil tanpa peduli delikan mata Adeeva.


Dalam hati Ezra bersyukur Adeeva tidak ngotot mau sok pahlawan buatnya. Ezra takkan biarkan Adeeva bahayakan diri nyetir walau harus bertengkar dulu. Tapi untung anak itu patuh tidak melawan.


"Apa pak Ezra tidak malu jadi supir aku?"


"Kita bukan di kantor. Kita di rumah artinya aku supiri isteri aku. Apa ada yang salah?" Ezra melangkah duluan tinggalkan Adeeva. Cewek ini bergerak menyusul laki itu keluar dari pintu apartemen.


Ezra sengaja duluan jalan supaya Adeeva tak punya alasan rebut kunci mobil lagi. Anak ini keras kepala susah diatur. Lebih baik menghindar daripada adu mulut dengan bumil. Kalau adu bibir dengan senang hati Ezra laksanakan. Itu memang harapan dia.


Keduanya meluncur ke restoran tempat yang dijanjikan Ezra. Satu restoran mewah di hotel besar. Petik bintang di langit langsung tempelkan lima bintang.


Di depan hotel rekanan Adeeva sudah hadir dengan keluarga masing-masing. Judika. bawa tunangan sedang Imron bawa anak isteri. Desi si jomblo puas bawa diri sendiri. Tak ada pasangan bisa diajak gabung di restoran ini maka terima nasib jadi single fighter.


Adeeva tersenyum senang lihat undangannya hadir secara lengkap. Satu penghargaan buat Adeeva.


Ezra parkir mobil di tempat parkiran barulah buka pintu mobil untuk Adeeva. Dari jauh para pegawai Adeeva nonton pertunjukkan live dua orang berpangkat tinggi saling menyayangi. Di mata mereka pasangan ini cukup serasi agak dipaksakan. Adeeva terbilang muda untuk Ezra. Berhubung Ezra ganteng bisalah dianggap serasi.


Ezra pamer kemesraan gandeng Adeeva sampai di pintu hotel. Di sini tak ada yang mau pamer pangkat. Kini mereka setara hanya teman akrab.


Ezra bawa Adeeva sampai di hadapan temannya tanpa lepaskan gandengan. Laki ini mau pamer kalau Adeeva ini mutlak miliknya. Jangan coba-coba punya pikiran buruk mau rebut cewek ini. Kira-kira demikianlah yang ingin disampaikan oleh Ezra.


"Selamat malam pak!" sapa Judika paling duluan.


"Malam..." sahut Ezra wibawa. Posisi asisten tapi kharisma tetap bos. Adeeva bukan apa-apa bila dibanding kharisma Ezra sebagai pemilik perusahaan. Masih kalah jauh pamornya.


"Kenapa berdiri di sini? Ayo masuk! Tempat kita sudah dipesan sama pak Ezra." Adeeva beri kode pada semua rekannya untuk segera masuk ke dalam.


Ezra dan Adeeva berjalan paling depan kawal para bawahan menuju ke tempat yang sudah dipesan Ezra.


Seorang pelayan cepat tanggap kalau pelanggan besar sudah sampai tiba. Dari gaya Ezra saja sudah cantumkan siapa lelaki berbadan besar itu.


Rombongan Ezra diantar ke satu meja yang sudah tertata rapi. Mejanya bisa muat sepuluh orang namun yang hadir tak sampai sepuluh orang.


Imron kagum pada selera Adeeva kali ini. Laki Sunda ini tak tahu kalau yang atur Ezra. Harap Adeeva tetap saja tak jauh dari warteg maupun cafe sederhana.


"Hidangkan makanan terbaik!" kata Ezra pada pelayan restoran.


"Semua sudah diatur oleh manager kami. Segera datang! Permisi." pelayan itu undur diri untuk hidangkan pesanan Ezra.


Adeeva cengar cengir bayangkan rupiah akan berkurang dari ATM yang diberi Ezra. Adeeva mulai berani gunakan uang Ezra walaupun bukan untuk pribadi. Adeeva merasa berhak mendapatkan bayaran setimpal atas apa yang dia lakukan untuk perusahaan.


Beberapa jenis makanan dihidangkan oleh pelayan secara serentak. Setiap makanan yang dihidangkan tunjukkan kelas makanan orang berkantong tebal.


Imron merasa tidak rugi Adeeva menjadi seorang pemimpin karena sifat pelitnya berkurang sedikit.

__ADS_1


"Ayok dimakan!" Adeeva memulai meminta rekannya segera menyantap hidangan yang telah disediakan.


Ezra perhatikan Adeeva seperti kurang berselera makan. Wanita muda ini hanya menatapi setiap hidangan tanpa gerakan sendok.


"Kenapa sayang? Tak cocok selera?" tegur Ezra.


"Ach tidak...rasanya aku kurang selera malam ini. Perutku sedikit manja. Agak mual cium bau seafood."


"Oh...aku pesan yang lain ya!" kata Ezra lembut.


"Tak usah...sayang pesan banyak tak habis dimakan. Mubazir... aku ke kamar kecil sebentar ya!"


"Kuantar?"


"Ngak usah...pikir aku orang jompo!" ketus Adeeva sengit.


Wanita muda ini segera tinggalkan meja makan mencari toilet. Adeeva tak ngerti mengapa dia mendadak muak lihat segitu banyak makanan. Biasa dia seperti traktor Gilas semua asal bisa dimakan. Apa gara-gara naik pangkat jadi bos selera ikut berubah?


Ezra tak mau berdebat di depan orang ramai pilih ngalah. Imron juga heran mengapa Adeeva tiba-tiba seleranya jadi buruk. Setahu Imron selama makanan itu bisa dicerna lambung tak ada istilah menolak dalam kamus Adeeva.


"Kayaknya Eva itu sedang hamil ya?" celetuk isteri Imron si Uci.


Judika dan Desi tersentak tak terpikir analisa Uci. Dari segi tubuh Adeeva memang tampak melar kini ditambah mual-mual menambah kuat dugaan anak itu sedang mengandung Ezra junior.


"Apakah wanita hamil memang gitu?" tanya Ezra tolol.


"Rata-rata wanita hamil begitu. Malas, selera makan buruk, suka muntah pagi hari dan suka marah. Apa Eva ada gejala gitu?" tanya Imron sok tahu.


Ezra mengangguk. Ezra tidak punya pengalaman hadapi wanita hamil. Beda dengan Imron yang sudah punya buntut. Dia tentu sudah lalui tahapan jadi bapak.


"Adeeva memang hamil tapi dia sendiri belum sadar. Aku belum kasih tahu takut dia tak bisa terima. Kalian tahu sendiri seberapa keras dia." kata Ezra jujur.


"Iya.. rencananya biar Uminya yang kasih tahu. Kalian kan tahu sifatnya tak bisa dikekang. Kalian pura-pura tak tahu apa-apa ya! Besok kami segera pulang. Dan terimakasih sudah jaga Adeeva untuk aku!"


Semuanya surprise CEO mereka minta terima kasih. Nyatanya ada sisi lembut Ezra saat dinyatakan menjadi seorang bapak. Impian semua lelaki berkeluarga adalah punya keturunan. Ezra telah mendapatkan semua itu.


Acara makan berlangsung ceria walau dalam hati menyimpan rahasia besar Adeeva. Sebagai teman semua berharap Adeeva dapatkan kebahagiaan. Adeeva pasti akan memimpin dengan baik berdasarkan sifat Budi luhur dia. Sepak terjang keras tapi isi dalam tetap salju meleleh.


Ezra dan Adeeva pulang setelah antar Desi. Desi datang sendirian maka Adeeva tidak tega biarkan teteh kesayangan pulang sendiri hadapi resiko bahaya berjalan sendiri di malam hari. Kalau orang itu Adeeva mungkin bisa kecilkan kemungkinan kena masalah. Ini Desi si lembut tak punya daya.


Sesampai di rumah Ezra memaksa Adeeva minum obat dari dokter untuk jaga kesehatan janin. Kalau langsung terima itu bukan Adeeva. Anak ini selalu saja ingin jadi lawan Ezra dalam segala hal.


Ezra sediakan obat serta air minum supaya anak ini tak punya alasan menolak obat itu. Ezra sekarang punya tugas lebih penting dari perusahaan. Menjaga Ezra junior dalam perut Adeeva.


Adeeva menatap tiga butir obat dari tangan Ezra. Ada kapsul dan dia buah pil lain. Satu baunya mengandung bau buahan membuat Adeeva sedikit yakin itu vitamin kesehatan.


"Ini racun bukan?" Adeeva julukan tangan ke muka Ezra buat laki ini gemas. Susah payah jaga dia malah dikira mau ngasih racun.


"Iya racun supaya poni makin patuh. Tidak liar kayak dulu." sahut Ezra asalan imbangi kekonyolan Adeeva.


"Pake mantra pelet ngak?"


"Pake...tambah saos cabe dan mayonaise."


Adeeva tertawa geli dengar Ezra bicara seperti orang sableng seperti dirinya.

__ADS_1


"Ok...resiko tanggung sendiri bila aku jatuh cinta. Aku kuras seluruh hartamu lalu kucampakkan bapak ke pantai jompo."


"Sekarang kamu sudah kuasai harta aku! Jangan cepat buang aku sebelum Ezra junior lahir! Kasihan kamu tak ada penerus."


Adeeva majukan bibir cibiri niat Ezra buat dia hamil. Rencana yang sangat buruk. Adeeva masih banyak tugas belum bisa persembahkan penerus. Itu hanya angan Adeeva. Dalam kenyataan dia sedang hamil anak Ezra. Tunggal tunggu waktu lahiran.


Adeeva masukkan butiran obat ke dalam mulutnya lantas menegak air putih yang telah disediakan Ezra.


Adeeva yang minum obat tapi yang lega Ezra. Ada kemajuan sebagai suami siaga. Ezra sedikitpun tidak ragu keberadaan anak dalam perut Adeeva adalah anak orang lain. Ezra kenal sifat keras Adeeva tak mudah menyerah diri pada lelaki. Dia yang ganteng dan kaya raya tak masuk dalam kamus Adeeva. Gimana cowok lain mau terobos hati cewek nakal itu?


"Well...sekarang kita bahas kerja!" Adeeva menyingkirkan gelas dari meja membuka laptop di atas meja.


Ezra ingin sekali larang Adeeva bahas kerja di saat ini. Maunya sekarang Adeeva berada di pelukan sang suami bermanja nikmati masa kehamilan wanita muda. Namun siapa bisa larang anak ini.


"Waktunya istirahat Ade! Besok kita bahas di kantor." Ezra bergeser duduk lebih dekat. Adeeva melirik sekilas namun tak larang Ezra mendekat. Ntah kenapa Adeeva merasa lebih adem dekat dengan Ezra. Apa ini pengaruh janin di perut? Janin nyaman bersama bokap tersayang namun cabul.


"Kita hanya bahas kulit saja! Aku akan rekrut teman-teman di klub untuk jaga gudang dan satpam. Aku mau tempatkan orang-orang kepercayaan aku di bagian keamanan. Anak buah pak Jul akan ku singkirkan di tempat lain. Kita tak boleh pecat orang tanpa salah. Aku mau atur ulang semua kedudukan pegawai. Ada sarjana malah jadi cs. Permainan apa ini?"


"Aku percaya pada kemampuan kamu tapi jangan ekstrim. Dari dewan direksi kau mau campak ke OB?"


Adeeva berpikir keras apa maksud Ezra omong gitu. Apa laki ini takut dia geser semua kroni pak Jul? Mengapa Ezra takut pada kroni yang gerogoti uang perusahaan.


"Bapak takut aku sapu bersih konco om kesayangan? Atau bapak punya blacknote di tangan mereka?" Adeeva menyipitkan mata menghakimi Ezra yang tampak ragu eksekusi kroni-kroni Pak Jul.


"Ade... aku tidak takut sama sekali pada siapapun karena perusahaan itu ada peninggalan Bapak aku. Cuma Aku tak mau kamu salah melangkah memancing kebencian orang. Itu akan berbahaya bagi kamu."


Adeeva mendengus hanya karena takut maka selamanya perusahaan takkan mampu terbebas daripada tikus-tikus pengerat dolar.


"Aku tak peduli. Aku hanya akan mengatur pegawai sesuai dengan keahlian masing-masing. Kurasa semua pegawai akan senang bila mereka ditempatkan di tempat yang benar."


"Aku tahu tujuan mu baik tapi om Jul mau kamu kirim ke mana?"


"Ke pantai jompo.. dia biang dari semua masalah di kantor. Sekarang aku pemimpin. Kebijakan aku yang harus dipatuhi. Itu si Ika pasti kupecat. Tak ada toleransi. Aku sudah dapat jadwal dia di kantor. Masuk jam sepuluh siang lalu istirahat jam sebelas sampai sore kadang tidak balik kantor. Datang makan gaji buta. Aku akan urus perempuan ini sampai kere."


Ezra tak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Adeeva. Anak perempuan Pak Jul itu memang begitu kelakuannya di kantor. Datang dan pergi sesuka hati.


"Itu aku tidak bantah tapi om Jul sudah tua. Apa pantas kita geser terjun ke bawah?"


"Tidak ke bawah. Aku akan atur dia jadi pemimpin di bagian produser film dan sinetron. Kalau bilang tua kurasa tidak. Buktinya dia bisa bunting selir bapak. Bapak mah kalah total sama pak Jul."


Mulut nakal Adeeva mulai keluar. Tak ada manisnya katakan kata bunting. Ubah dikit hamil kan terdengar lebih manusiawi.


"Sayang... biar aku yang atur semuanya. Kamu terima beres saja! Aku dan Ruben akan tuntaskan kerjamu." rayu Ezra tak ingin Adeeva terlalu lelah di perusahaan.


"No..kalau bapak mampu perusahaan takkan sekacau ini. Biar aku yang jalankan! Malam ini juga aku susun struktur baru perusahaan."


Ezra bingung hadapi kekerasan sifat Adeeva. Kalau bukan wanita itu sedang hamil mungkin Ezra akan keras paksa dia lupakan soal tugas. Tapi dari mana daya Ezra lakukan pemaksaan. Dia telah K O sebelum perang.


"Terserah kamu tapi ingat tak boleh capek!"


"Siap pak...bapak istirahat dulu! Bapak kan kurang sehat."


Ezra ingin sekali katakan kamu yang harus banyak istirahat. Tapi bibir Ezra kelu luncurkan kalimat ini. Dia harus bersabar untuk capai hasil terbaik.


"Aku temani kamu! Siapa tahu ada yang tak kau mengerti."

__ADS_1


"Okay tapi jangan bising! Aku butuh konsentrasi penuh. Aku mulai dari Ika saja."


Adeeva kutak katik keyboard di laptop cari sesuatu tak diketahui Ezra.


__ADS_2