Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Oma Sakit


__ADS_3

Asyik kabur juga tak bisa selesaikan masalah. Justru sikap Adeeva membuat Ezra mengira Adeeva takut padanya. Adeeva harus kumpulkan segala kekuatan melawan raja kaya raya itu.


"Iya eyang. Adeeva akan berusaha menjadi lebih baik. Berantas penyakit hati yang merusak tubuh dan pikiran."


Eyang acung jempol setuju dengan perkataan Adeeva.


"Sekarang kita makan! Nanti Adeeva bisa ikut eyang main di kebun eyang di belakang rumah. Kita petik sayur sawi yang masih segar. Nanti kita tumis dengan telor. Jamin enak."


"Percaya." Adeeva agak lega setelah mendapat pencerahan dari Eyang.


Supono dan Akbar tak banyak komentar karena ini adalah urusan Adeeva dengan Ezra. Mereka tak berhak ikut campur sampai Adeeva benaran pisah dengan Ezra. Mereka juga harus jaga nama baik Adeeva. Jangan sempat Ezra tuduh balik Adeeva yang main hati.


Adeeva dan Supono bantu eyang bereskan peralatan makan sekalian bantu cuci untuk ringan tugas eyang. Keduanya saling membahu meringankan pekerjaan eyang. Mereka datang saja sudah merepotkan orang tua itu. Harus pula urus semua keperluan mereka. Bukankah jiwa muda Adeeva sia-sia bila plonco orang tua.


Adeeva segera mandi seusai beres di dapur. Tubuh Adeeva sudah lengket-lengket akibat belum mandi dari tadi pagi. Kini gadis ini balas dendam pada air guyur seluruh tubuh dengan cairan bening cuci segala keruwetan di kepala.


Ponsel Adeeva berdering terusan di atas meja ruang tamu. Gadis ini meninggalkan ponselnya tanpa takut isi dalam ponselnya diobrak abrik kedua cowok peternakan. Adeeva percaya akhlak Akbar dan Supono tidak usil campuri urusan orang.


Akbar melirik layar ponsel yang asyik berdendang ikuti irama nada dering kesukaan Adeeva.


Siapa sih begitu urgen telepon Adeeva tak henti. Rasa ingin tahu membuat mata Akbar berkali-kali menatap ke arah layar ponsel. Akbar bergumam tak jelas karena di layar tertera nama Umi.


Tak usah ditebak Akbar bisa tahu kalau panggilan itu datang dari keluarga Adeeva. Umi itu kan panggilan untuk ibu ataupun mama buat umat Islam.


"Dari Umi Adeeva..."


"Kita tunggu dia datang. Tak enak angkat telepon orang." Supono tidak gatal tangan usilin ponsel Adeeva. Mereka harus hargai pribadi orang walaupun Adeeva teman mereka.


Ponsel berhenti sendiri setelah teriak sekian lama. Mungkin sudah kehausan saking lelah berteriak panggil pemilik. Pas ponsel berhenti Adeeva muncul dengan wajah lebih cerah. Gadis ini telah ganti pakaian dengan setelan pakaian santai ala remaja. Adeeva memang masih muda wakili anak muda energi. Celana jeans ketat dipadu kaos panjang tangan agak lebar. Pokoknya anak muda banget.


"Eva...ponselmu dari tadi bunyi!" lapor Supono sambil menunjuk benda pipih di meja.


Adeeva mendarat pantat tak jauh dari Akbar perhatikan ponselnya. Gadis ini membuka layar lihat siapa begitu semangat hubungi dia. Paling Nunik sudah balik ke peternakan.


Mata Adeeva menyipit lihat siapa yang panggil. Tumben Umi telepon? Uminya itu paling jarang gunakan ponsel kalau tidak urgen. Seminggu ponsel Umi belum tentu kena sentuhan pemilik. Kalau Umi sudah angkat telepon artinya ada yang urgen.


Perasaan Adeeva menjadi tak enak dapat telepon dari Umi. Cewek ini segera klik balik nomor kontak uminya. Sayang tidak tersambung akibat kendala signal. Jembatan menanjak lambang signal cuma ada satu garis. Itupun timbul tenggelam.


Akbar dan Supono ikut cemas lihat tampang cewek ini yang semula cerah kini mendadak mendung. Pasti ada yang tak beres baru Adeeva tampak gelisah.


"Coba lagi!" usul Akbar mulai ikut gelisah. Belum pikir yang baik muncul pikiran buruk.


Adeeva mengangguk ikuti usul Akbar. Sebagai seorang anak Adeeva wajar merasa kuatir umi mendadak telepon di pagi hari. Ada keanehan menyelinap di relung hati gadis ini.


Adeeva kembali klik nomor Umi dan Alhamdulillah masuk.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam nak! Kamu di mana?"


"Masih di Jawa Tengah. Apa Abah dan Umi sehat?"


Akbar dan Supono menarik nafas lega Adeeva telah tersambung dengan keluarganya. Bagi kedua laki ini keluarga adalah segalanya. Kedua gagal punya keluarga sempurna maka berharap tak ada orang sial macam mereka lagi.

__ADS_1


"Umi sehat tapi Oma kamu masuk rumah sakit karena jantungan. Kau bisa pulang?" suara Ini terdengar menahan tangis.


"Astaghfirullahaladzim. Gimana keadaan Oma sekarang?"


"Masih koma belum sadar. Kau pulang dulu ya nak! Apapun terjadi kita hadapi bersama."


"Baik Umi...hari ini juga Eva pulang! Bilangin Oma kalau Eva tak ijinkan dia kenapa-napa! Eva akan marah bila dia terjadi sesuatu." Adeeva berusaha tegar tidak cengeng di depan Akbar. Seorang Adeeva tak boleh tampak lemah walau segunung masalah menghadang.


"Baiklah! Umi tunggu di rumah. Kau berangkat dari mana?"


"Eva akan cari tiket tercepat. Umi dan Abah yang tabah ya! Allah pasti akan beri kesembuhan pada Oma. Eva bersiap segera berangkat ya! Assalamualaikum." Adeeva menutup ponsel dengan tergesa. Bola mata yang biasa bening berkilauan kini redup bagai bola lampu hilang daya.


Adeeva menatap Akbar dan Supono dengan hati gundah. Adeeva tak perlu buka mulut kedua cowok itu sudah ngerti keluarga Adeeva tertimpa musibah. Mereka wajib bantu Adeeva keluar dari kesusahan ini.


"Ayok bersiap aku antar kamu langsung ke bandara. Cuma ntah ada tiket atau tidak." Akbar bangkit bersiap antar Adeeva kembali ke kota. Dalam hati Akbar memang tak rela tapi ada yang lebih penting dari rasa tak rela itu. Kalau memang jodoh pasti akan jumpa lagi. Itu saja pedoman Akbar.


Adeeva pamitan pada eyang telah merepotkan perempuan tua itu. Adeeva janji akan datang lagi bila omanya telah sehat.


Eyang tentu dukung Adeeva pulang untuk tunjukkan baktinya pada orang tua. Eyang makin suka pada Adeeva yang sayang pada orang tua. Eyang ingin Adeeva berada di sampingnya namun sayang gadis juga punya kewajiban cukup penting. Eyang mesti relakan Adeeva pulang ke tempat dia lebih berhak berdiri.


Adeeva segera balik ke Blora untuk terbang ke rumahnya di kota J. Sayang pas mereka sampai tak ada tiket berangkat ke kota. Akbar dan Supono bingung harus bagaimana membantu Adeeva. Cewek ini sudah cukup terpuruk di tambah pula tak dapat tiket.


Ketiganya bingung harus bagaimana baru sampai di kota secepatnya. Lewat darat butuh waktu cukup lama.


"Krisna...ya Krisna! Telepon dia pinjam helikopternya." seru Supono teringat orang tajir yang baru saja berpesta. Krisna pasti masih di sekitar Jawa Tengah karena semalam baru berpesta. Tak mungkin dia langsung pulang ke kota.


"Cocok...biar kuteleponi dia!" Akbar segera angkat ponsel untuk cari langganan VIP nya. Laki itu pasti bersedia membantu Adeeva lagi kesusahan.


"Lalu gimana?" tanya Akbar bingung belum temukan solusi buat Adeeva.


Adeeva berusaha menenangkan diri sendiri tidak panik. Semua pasti ada jalannya.


Kebingungan sedang melanda ketika anak muda ini dan tiba-tiba seorang wanita berpakaian rapi bak seorang karyawan datang menghampiri mereka. Wanita ini membungkukkan badan memberi hormat kepada Akbar CS sebelum mengeluarkan suara halusnya.


"Nona Adeeva???" tanya wanita itu sopan.


Walau bingung Adeeva tidak menampik itu namanya. Cuma Adeeva heran mengapa wanita ini mengetahui nama Adeeva. Dari mana dia kenal Adeeva.


"Saya Adeeva...anda siapa?"


Wanita itu tersenyum manis menurunkan tangan beri jalan pada Adeeva untuk maju ke depan.


"Aku pramugari super jet milik Dilangit jemput nona pulang."


Plak jantung Adeeva kontan jatuh ke bawah. Ntah kena serangan jantung koroner tidak. Ikan paus telah menemukan persembunyiannya. Dari mana laki itu tahu Adeeva berada di mana. Siapa pengkhianat kurang ajar beberkan keberadaan Adeeva.


"Aku tak mau ikut!" tukas Adeeva jual mahal.


Akbar dan Supono kuatir Adeeva silap lewatkan kesempatan baik ini untuk pulang. Apa yang akan terjadi bila terjadi sesuatu pada omanya. Cewek ini pasti akan menyesal telah melewatkan hal yang sangat penting di dalam hidupnya.


"Eva...ikut pulang dulu! Setiap saat kami menerima kamu. Oma lebih penting dari rasa ego kita. Ingat kata eyang. Selesaikan masalahmu dengan hati tenang. Semua pasti ada jalan. Aku menunggu kamu di peternakan." Akbar beranikan diri meminta Adeeva ikut pesawat Ezra. Ini demi kebaikan Adeeva. Kalau bisa Akbar juga tak ingin Adeeva berhubungan dengan laki sombong itu lagi.


Adeeva menjadi dilema untuk pulang. Penting perasaan sendiri atau penting lihat kesembuhan Oma. Lama Adeeva mematung tak tahu harus bagaimana. Ikut pesawat Ezra berarti dia kembali hutang Budi pada laki itu. Langkah Adeeva akan makin pendek.

__ADS_1


"Akbar benar Eva ..kami senang kok kamu berada di sekitar kami tapi kita dahulukan Oma kamu. Kalau kau mau ke sini lagi tinggal telepon kami. Nanti kami jemput pakai becak." gurau Supono supaya Adeeva luluh.


Adeeva menarik bibir ke atas sedikit bentuk garis senyum. Gurauan jenaka Supono masuk ke hati Adeeva. Hati Adeeva menjadi agak dingin.


"Baiklah! Aku minta nomor ponsel kalian ya! Sesampai di rumah aku akan hubungi kalian."


"Mesti dong! Ini nomor aku!" Supono keluarkan ponsel ketik nomornya di layar ponsel.


Adeeva segera copy nomor Supono begitu juga nomor Akbar. Lalu Adeeva save nomor mereka. Pramugari pesawat Ezra bernafas lega Adeeva bersedia ikut pulang ke kota. Kalau dia gagal membawa Adeeva dia akan kena sambaran petir amarah bosnya yang sedang kurang baik. Untunglah Adeeva bersedia diajak pulang.


Pramugari itu menarik koper Adeeva tanpa berkata apapun lagi. Adeeva melambai pada Akbar dan Supono sebelum masuk ke dalam ruang khusus penumpang.


Akbar menatap kepergian Adeeva dengan hati kosong. Kenangan singkat bersama Adeeva terasa sangat manis. Singkat padat bawa hati Akbar melayang ke atas mencari Dewi asmara. Akbar merasa terpanah oleh Adeeva. Nunik tak ada artinya buat Akbar. Gadis itu terlalu tinggi untuk diraih. Pola hidup Akbar dan Nunik juga berbeda.


Sementara itu Adeeva digiring masuk ke dalam pesawat mewah milik Ezra. Baru kali ini Adeeva naik pesawat milik Ezra. Adeeva tak tahu seberapa kaya Ezra tapi dia sudah tunjukkan kekayaannya yang luar biasa.


Adeeva tertegun melihat sosok yang paling dia tak ingin ketemu duduk santai di salah satu kursi dalam pesawat. Adeeva merasa perutnya mual lihat pendosa itu.


Ingin sekali Adeeva keluar dari tubuh pesawat Ezra agar tak lihat tampang orang cabul itu. Cuma sayang pintu pesawat sudah ditutup pramugari pesawat.


Adeeva masih terpaku enggan dekati suaminya itu. Ezra menatap Adeeva cukup lama barulah bangkit hampiri Adeeva. Langkahnya tegap tak seperti orang kena aniaya. Ternyata hadiah dari Adeeva semalam tidak buat Ezra kapok mencari Adeeva.


"Selamat pulang sayang!" bisik Ezra sok perhatian.


Adeeva mundur berusaha tidak dekat dengan Ezra. Bau maskulin Ezra makin bikin Adeeva ilfil. Sudah berapa tahun bau itu nempel di tubuh Sonya.


"Mau apa kamu?" seru Adeeva berang.


"Mau apa? Mau tahu apa isteriku ada bau cowok lain?" tanya Ezra tajam seperti nuduh Adeeva selingkuh.


"Aku bukan orang cabul kayak kamu. Aku punya moral dan agama."


"Punya moral tapi kabur dengan laki lain. Aku akan hancurkan orang yang dekati kamu. Kau mau coba?" Ezra mengancam Adeeva dekatkan wajahnya ke wajah Adeeva menatap lurus ke bola mata cewek ini.


"Kau gila..."


"Aku memang tergila-gila padamu. Kau terlahir untukku." Ezra membelai sudut kuping Adeeva dengan ujung jari perlahan telusuri pinggiran kuping Adeeva.


Sumpah mati Adeeva geli dan jijik pada laki ini. Mengapa di dunia ini ada laki tak tahu malu model Ezra. Katanya orang hebat tapi akal seperti preman kampung.


"Siapa terlahir untukmu? Aku terlahir untuk Abah dan Umi."


"Oh gitu...kau terlahir untuk orang tua kamu berarti kau tercipta untukku. Ayok duduk biar pesawat bisa take off. Oma kamu sekarat karena kau kabur tak ada kabar. Kau penyebab Oma kamu sakit." Ezra menarik Adeeva untuk duduk agar bisa di pasang seat belt.


Ezra turun tangan pasang sabuk pengaman Adeeva agar tidak bergerak lagi. pesawat sudah mau tinggal landas menuju ke kota supaya Adeeva bisa jumpa omanya di rumah sakit.


Suara deru pesawat tanda pesawat akan take off cukup bising mengganggu kuping Adeeva. Cewek ini benar-benar dilanda dilema berat. Jumpa Ezra lagi di saat dia sedang berduka Oma sakit. Dua tekanan datang beruntun.


Ezra hanya tersenyum tipis bahagia jumpa isterinya lagi. Ezra harus punya cara ikat Adeeva agar tak kabur lagi. Ezra bersedia lakukan apapun asal Adeeva tidak tinggalkan dia. Ezra kapok main gila dengan perempuan nakal.


Ini akan jadi pelajaran berharga buat Ezra. Ezra harus tahu tak semua cewek itu matre. Pasti ada pengecualian. Ezra sudah ketemu batu jumpa Adeeva si keras kepala.


Perlahan pesawat Ezra terbang membelah langit. Suara mesin pesawat tidak begitu bising lagi setelah berada di atas. Burung besi itu terbang stabil di atas awan.

__ADS_1


__ADS_2