
Ika sedikit syok dengar peraturan baru di perusahaan. Sejak muncul Adeeva kebijakan perusahaan berubah total. Anak bawang itu telah ubah semua strategi keluarga pak Jul jadi nol. Tak ada ruang bagi mereka lakukan korupsi seperti dulu.
"Dasar apa dia yang perintah kita! Kami ini keluarga inti kamu. Dia itu hanya seorang perempuan murahan yang di berikan Tante untuk hangatkan ranjang kamu." serang Ika garang semua rencana gagal total. Ika putus asa semua akses perusahaan telah ditutup Adeeva. Mereka tak bisa pantau berapa dana perusahaan lagi.
"Hati-hati jaga mulutmu Ika! Dia itu pemilik sah Dilangit. Kalau kau asyik berseteru dengannya mungkin tempatmu di perusahaan akan segera tamat. Satu lagi harus kamu tahu. Adeeva sah isteri aku dalam hukum."
Ika mendengus marah tak tahu Adeeva telah hitung langkah Ika. Detik-detik dia di perusahaan akan segera tamat. Tinggal tunggu tanggal main saja.
Ezra berusaha tahan amarah di tempat umum. Coba kalau di kantor Ika hina Adeeva, mungkin detik itu juga Ezra lumatkan Ika. Di tambah kondisi pak Jul kurang baik. Ezra masih punya rasa kemanusiaan namun dari pihak sana tak ada tunjukkan sifat manusia layaknya.
"Ika...jaga mulutmu! Ini rumah sakit bukan rumah kamu!" bentak Ilham mulai sadar Ezra sedang tahan emosi.
Kalau Ika masih sok berkuasa keluarga mereka akan makin cepat diusir dari perusahaan.
"Ika...abangmu benar! Papa kamu sedang sekarat kamu malah ribut soal lain." timpal Bu Jul susah hati lihat kekacauan di keluarganya. Mereka baru saja tertimpa musibah hilang dana besar kini pak Jul sekarat pula. Musibah beruntun bikin nyali keluarga pak Jul menciut. Inikah karma dari kecurangan mereka.
"Aku pergi dulu! Segala biaya perawatan akan ditanggung perusahaan." Ezra hendak pergi tak tahan umbar emosi. Ezra harus pergi sebelum amarahnya capai ubun kepala. Salah-salah dia bisa tampar mulut Ika. Ezra tak mau wibawanya jatuh karena lakukan tindakan kekerasan pada wanita. Ini bukan sikap pria sejati aniaya wanita.
"Cuma biaya perawatan? Kompensasi mana? Berapa trilliun kau harus bayar papa aku?"
Ezra yang sudah hendak pergi membalik badan dengar pernyataan Ika. Otak anak ini terendam air comberan sampai timbulkan bau busuk.
"Kompensasi? Apa om Jul sakit karena kecelakaan? Dia sakit karena kelewat banyak makan uang haram. Jangan paksa aku bongkar semua kelicikan kalian! Aku sudah cukup sabar. Jangan pancing batas kesabaran aku ya! Punya mulut dibawa kuliah lagi biar tahu cara keluarkan kalimat baik." selesai berkata Ezra dan Ruben angkat kaki dari rumah sakit. Segunung amarah bercokol di hati Ezra. Sebagai seorang lelaki berakal sehat Ezra tidak akan berbuat kasar. Ezra punya cara lain kenalkan hidup sederhana pada Ika dan keluarganya.
"Ika...kau pikir kita bisa seenak dulu? Ezra telah dapat dukungan dari Adeeva yang pasti pintar. Kau pikir Ezra bodoh alihkan seluruh aset pada Adeeva? Doa lakukan itu tentu ada tujuan. Sekarang kau ambil uangmu sedikit untuk pegangan kita. Uangku raib tanpa bekas." kata Ilham sambil mengeluh. Sekarang dia tak punya pegangan uang walau masih banyak aset lain. Kasnya kosong melompong.
"Kok uang aku? Bukankah Ezra bilang akan tanggung semua biaya perawatan?"
"Kamu ini..dia hanya bayar biaya rumah sakit. Apa kita tak perlu pegangan untuk bayar yang lain. Kamu banyak uang, ambil sedikit takkan miskin kamu." kata Ilham kesal.
Ika menghentak kaki ke lantai persis anak TK kena hukuman guru. Mulutnya manyun mirip mulut ikan mujair cari oksigen. Ilham dan Bu Jul urut dada tak tahu harus bagaimana hadapi sifat keras Ika. Ika terlalu nyaman hidup dalam gelimang harta sampai lupa siapa yang punya perusahaan. Pikir perusahaan punya papanya boleh berbuat semena-mena di sana termasuk tekan Ezra.
Tak lama berselang Ika balik dengan tampang linglung seperti kesambet roh gentayangan di rumah sakit. Anak itu seperti kerasukan setan idiot sehingga tambah bodoh. Langkah Ika terseok-seok hampiri Ilham dan ibunya.
Bu Jul kaget lihat kondisi Ika hilang cahaya kehidupan. Seluruh aura kehidupan Ika sirna menjadi kelam kelabu. Bu Jul langsung mengguncang bahu Ika agar sadar. Jangan-jangan Ika jumpa makhluk halus penghuni rumah sakit.
"Ika...Ika..." panggil Bu Jul menyadarkan Ika.
"Mama..." tangis Ika meledak membahana di seluruh ruangan. Kalau orang lihat pasti berpikir anak ini sedang tangisi keluarga yang sedang sekarat. Kondisinya memang memprihatinkan.
"Ada apa sayang? Sadar nak!!!"
"Mama...uangku raib semua." jerit Ika menggila. Uang capai setengah trilliun raib tanpa bekas. Satu keajaiban di alam nyata.
__ADS_1
Ilham kontan lemas adiknya tak luput dari korban maling banking. Mereka tak bisa melapor karena dana di situ hasil menipu Ezra. Dilapor mereka pasti masuk penjara.
"Lapor polisi!" kata Ika lemas.
"Kau gila ya? Mau masuk penjara? Coba cek punya mama! Kurasa punya mama akan aman. Mama kan tidak masuk daftar perusahaan mungkin lolos dari maling itu."
Bu Jul angguk setuju. Wanita mengeluarkan satu kartu petak kecil kepada Ilham. Di saat genting begini uang simpanan menjadi berharga walau tidak banyak.
Ilham segera ambil kartu ATM mamanya ke mesin ATM terdekat. Sekarang di setiap rumah sakit tersedia mesin ATM permudah nasabah tarik tunai bila keperluan mendadak.
Bu Jul dan Ika menunggu Ilham kembali bawa kabar bagus. Ika merasa separuh nyawanya terbang ke neraka pesan tempat ternyaman untuk beristirahat kelak. Dia telah jatuh miskin tak punya apa-apa lagi.
Telepon Ika berbunyi memaksa wanita ini mengeluarkan benda tipis itu dari tas mahal seharga ratusan juta. Kalau Adeeva tahu Ika koleksi benda mahal ini pasti akan makin naik darah. Bisa disate wanita ini.
"Halo sayang ada apa?"
"Ika cantik...aku butuh uang buat beli motor baru. Tidak mahal kok. Cuma empat ratus juta. Kau transfer ya!"
"Kenzo...keuangan perusahaan sedang kacau. Aku tak bisa tarik dana segar sekarang. Bukankah bulan kemarin kau baru beli mobil sport? Kok minta motor lagi?"
"OMG...sama pacar main hitungan! Anggap saja aku pinjam. Aku sudah terlanjur janji pada sahabat aku beli motor itu. Impor dari luar lho! Cuma ada satu di negara kita. Apa kau tak bangga naik motor bersama aku? Kita pasangan paling top saat ini."
"Kenzo sayang! Papa aku masuk rumah sakit. Kami masih di rumah sakit. Punya hati dikit dong!"
"Oh maaf sayang...aku sungguh tak tahu! Aku akan ke sana. Tunggu aku di situ ya sayang. Sekalian aku ambil ATM ataupun kartu kredit ya!" ujar suara di seberang sok perhatian namun ujungnya menyakiti.
Ika pasrah saja tunggu kehadiran pacarnya. Setelah jumpa baru mereka bisa diskusi dengan kepala dingin. Kenzo harus tahu sekarang mereka sedang lalui masa sulit. Cobaan sedang memayungi mereka. Payung porsi besar pula.
Ilham datang dengan lesu. Langkah Ilham sangat berat baru tiba di depan Ika dan Bu Jul. Cahaya redup di wajah Ilham sudah katakan apa yang telah terjadi pada ATM mamanya.
Ilham angsurkan kartu itu pada mamanya dengan lesu. Bu Jul menggigit bibir tahan kesedihan. Wanita ini sangat sedih uangnya ikut raib tanpa tahu siapa begitu kejam kuras uangnya.
"Kosong ma...orang ini sengaja jatuhkan kita! Aku jadi curiga pada Ezra dan Adeeva." ungkap Ilham mulai curiga pada Ezra. Banyak sekali keanehan muncul sejak kehadiran Adeeva. Sistim berubah dan lagi uang keluarga inti pak Jul dikuras habis-habisan.
"Mama rasa bukan. Papa ada bilang dana segar perusahaan juga raib maka Ezra ngamuk. Kurasa Ezra curiga pada kita maka dia rombak semua sistim." Bu Jul hapus kecurigaan Ilham pada Ezra dan Adeeva.
"Siapa begitu canggih bisa kuras semua uang kita. Adeeva memang belum sepintar itu. Ini kerja orang profesional. Sekarang kita harus rendah diri supaya bisa kuasai perusahaan lagi. Biarkan Ezra pulihkan keuangan perusahaan barulah kita cari sela raup keuntungan. Sekarang gimana? Kita tak punya cadangan uang cash."
"Papamu ada simpanan emas. Kita jual dulu untuk tutupi biaya hidup. Kita tak mungkin kasih tahu Ezra kalau uang kita raib. Dia akan makin curiga gerakan kita selama ini. Mama akan pulang ambil emas dulu. Nanti kita cairkan jadi uang kontan." Bu Jul terpaksa keluarkan uang cadangan untuk menyambung hidup.
Ika berubah ceria dengar masih ada uang cadangan dari mamanya. Dia bisa beri sedikit pada Kenzo beli motor idaman pacar tercinta itu.
"Ma...kasih Ika sekilo ya! Kenzo mau beli motor baru." kata Ika semangat.
__ADS_1
"Eh kau punya otak tidak? Di saat kita sedang susah kau masih pikir laki tak berguna itu. Laki itu hanya manfaatkan kekayaan kita hidup foya-foya. Kau pikir dia cinta padamu? Dia cinta yang kamu. Jangan bodoh kamu!"
Ika merajuk dimarahi oleh Ilham. Apa yang dikatakan Ilham ada kebenaran. Kenzo tak lebih benalu bertampang ganteng isap darah Ika. Ika yang bodoh dimanfaatkan oleh paras ganteng lelaki itu. Berapa banyak uang Ika pindah ke kantong laki itu. Ika sendiri sudah tak bisa hitung.
"Cuma uang segitu hitungan sekali. Bukankah simpanan papa cukup banyak?"
"Simpan kepalamu! Ini untuk darurat. Kau pikir setelah bencana yang kau lakukan apa Ezra tinggal diam? Dia pasti akan usut semua stok di gudang. Kita harus secepatnya keluarkan barang sampah yang kau pesan sebelum Ezra temukan kecurangan kamu." Ilham gemas pada Ika tak tahu bahaya sedang amv hidup mereka.
Apa setelah kejadian ini Ezra tidak akan usut semua barang impor bermasalah tersimpan di gudang. Laki itu pasti akan kejar semua kesalahan yang telah diciptakan oleh Ika. Pesan barang impor namun tak bisa dipasarkan.
"Aku takkan biarkan mereka temukan kesalahan aku! Aku akan atur orang keluarkan semua barang di gudang. Mas Ilham tenang saja. Tak ada yang lebih pintar dari aku. Sekarang mama pulang dan ambil hak aku. Ok mama sayang?" Ika memeluk Bu Jul dengan manja supaya Bu Jul luluh padanya.
Ilham menggeleng larang mamanya turuti hasrat gila Ika. Mereka sedang terpuruk bila Ika ikuti pola hidup foya-foya maka niscaya kolong jembatan sedang menanti mereka.
"Ika...kuingatkan kamu jangan hambur uang lagi! Apa kau tak ngerti bahasa Indonesia? Harus pakai bahasa Alien baru ngerti bahwa kita sedang dilanda krisis dana?"
"Ini bukan uangmu melainkan uang papa. Aku sebagai anak berhak minta uang papa aku. Kau urus saja keluarga kamu. Isterimu yang genit dan anakmu yang sok kaya. Ayo ma! Ika antar mama pulang! Biar mas Ilham urus papa." Ika menarik tangan Bu Jul untuk pulang ke rumah ambil jangkrik yang disembunyikan pak Jul sebagai dana krisis.
Ilham tak paham apa yang ada di otak adiknya. Bapak mereka sedang sekarat dia masih sempat ingat pacarnya. Dasar perempuan tak punya hati nurani.
Kita tinggalkan keluarga licik ini. Kita beralih pada Adeeva yang sudah bersama Umi di rumah. Abah kebetulan sedang mengurus pekerjaan dengan konsumen.
Ibu anak ini saling tukar rasa kangen tanpa hambatan. Adeeva lega telah kembali ke pangkuan orang tuanya. Untuk sementara tempat ternyaman di dunia adalah di samping Uminya.
Umi temani Adeeva dalam kamar. Wanita muda ini rebahan di ranjang bermalasan rilex kan badan setelah bekerja di kota B.
Umi duduk di pinggir ranjang temani Adeeva rebahan. Wanita ini belum yakin sekali anak tomboinya telah punya anak walau belum lahir. Tak terpikir oleh Umi dia akan cepat menjadi seorang nenek.
"Eva...lihat kamu Umi ingat waktu pertama kau lahir! Dalam sekejap mata kau sudah dewasa dan punya suami. Apa kau sudah sayang pada suami kamu?"
Adeeva belum pasti perasaan pada Ezra. Hati Adeeva masih abu-abu belum punya pendirian terhadap
cinta.
"Cinta??? Eva lebih cinta pada Abah dan Umi. Eva masih belum percaya pada Ezra. Sekelilingnya banyak sekali wanita. Eva takut bakal hidup dalam tekanan batin."
"Umi ngerti perasaan kamu. Tapi semua orang berhak punya kesempatan kedua. Mengapa tak coba pahami Ezra. Dia memang bersalah tapi pernahkah kau cari tahu penyebab dia jadi mesum?"
"Aduh Umi...mesum kok dicari! Diberantas. Tak usah bahas laki itu. Pusing kepala anak Umi."
Umi tak memaksa Adeeva mesti terima Ezra detik ini. Masih banyak waktu beri nasehat pada Adeeva. Sekarang adalah bagaimana beri pengertian pada Adeeva tentang bayi di perutnya.
Umi mengelus rambut Adeeva perlahan beri rasa damai di hati anak ini. Good feeling akan membuat Adeeva gampang terima kenyataan bahwa dia segera jadi umi juga.
__ADS_1
"Waktu dulu Umi hamil kamu bahagianya bukan main. Rasanya dunia ini milik Umi. Umi deg-degan begitu tahu hamil. Antara bahagia dan kuatir."
Adeeva dengar dengan seksama belum ngeh ke mana larinya kisah kenangan Umi. Adeeva senang saja flash back kisah lama. Ini tentang dirinya pasti akan jadi kenangan indah bagi mereka berdua.