
Adeeva mengurut dada lihat betapa tidak bijaknya Ezra minta para gundik tidur di ruang tamu yang pastinya dingin. Adeeva ingin sekali membantah tetapi tidak memiliki akses untuk bicara saat ini. Cara Ezra sangat tidak masuk akal karena bisa menyebabkan pneumonia pada gundik-gundik itu.
Ezra bak maharaja dikelilingi selir-selir cantik siap layani sang raja dalam tugas apapun. Terutama yang menyangkut masalah tempat tidur. Itu memang keinginan mereka menjadi ibu dari anak Ezra. Seumur hidup takkan kekurangan uang.
Adeeva tarik kursi membalikkan kursi duduk dengan cara menopang dagu pada sandaran kursi untuk menyaksikan acara ini lebih lanjut.
Adeeva sengaja tak mau bersuara biar tahu akalan selir-selir Ezra mencari perhatian suami mereka.
"Mas...apa tidak dingin tidur di sini? Ada tempat hangat mengapa harus tidur di sofa tak nyaman." rengek Soledad mengguncang lengan Ezra karena dia paling dekat dengan Ezra. Di sebelahnya ada Farah lengket bak lintah kehausan darah.
"Baik...kalian bisa tidur tenang di kamar masing-masing. Aku ada di sini kalau kalian butuh teman ngobrol." ujar Ezra dingin tak beri peluang pada selir-selir untuk bantah omongan dia.
Semua merengut kecuali Adeeva tersenyum geli cara Ezra siksa wanita-wanita itu. Salah sendiri terobsesi pada pria tak punya hati.
Ponsel Adeeva berbunyi tanda panggilan masuk. Adeeva segera menyingkir keluar lihat siapa telepon. Adeeva buka pintu disambut rangkuman angin dingin menerpa wajah. Rasa segar gerayangi seluruh tubuh Adeeva yang terbalut baju training.
Di layar ponsel tertera nama Nunik teman konyolnya. Adeeva tentu tak menolak panggilan dari sobat kental kayak bubur lezat itu.
"Halo say... assalamualaikum! Tumben ingat aku?"
"Bukan tumben tapi takut lhu raib tak ada kabar! Lhu di mana kakak ipar?"
"Lagi antar bos ketemu gundik-gundik. Rame deh sudah kumpul semua. Kayak arisan rebut hadiah utama." Adeeva melempar pandangan ke dalam padahal tidak lihat apapun karena terhalang tembok.
"Lhu lupa ya status lhu! Tidak ikut arisan cabut giliran nomor berapa ambil jatah?"
"Emoh..biar mereka saja! Lhu gimana? Udah damai atau masih gencatan senjata ama bokap lhu?"
"Perang dingin. Heran kok doyan amat jadi mertua juragan sapi. Gue sempat ngancam mau bunuh diri bila disuruh kawin sama juragan itu. Nyokap suruh jumpa dulu baru ambil keputusan. Ya gue terpaksa akan bertemu juragan itu Minggu ini."
"Betul kata nyokap lhu coba dulu. Kali aja ada klik. Lhu telepon cuma kasih kabar ini!"
"Iya...kalau dipaksa kawin maka fix gue akan kabur ke Afganistan jadi relawan di sana."
"Yang bener? Ntar rindu ma gue minta pulang. Gini aja! Coba lhu daftar menjadi selir ketujuh bos gue! Kali aja diterima!"
"Gila dipiara! Lhu gimana? Sudah ada cela kabur?"
"Pasti ada cuma sekarang gue fokus bekerja untuk perusahaan. Bos gue kan buta! Gue tak tega ninggalin dia sekarang. Tunggu matanya sembuh baru gue pikir jalan berpisah darinya. Gue masih punya sedikit hati nurani sis!"
"Murni rasa iba atau lhu udah jatuh cinta pada suami lhu!"
"Cinta???? Cis.. mending gue jomblo seumur hidup! Udahan dulu ya! Gue doain lhu bisa pilih yang terbaik! Juragan sapi juga tak apa. Paling bau sangit!"
"Lhu aja Kawini gue!"
"Ogah...gue masih waras doyan si kulit kasar! Salam untuk Abang lhu ya!"
"Salam apa? Cinta? Rindu? Atau sayang?"
"Salaman..."
"Kampret! Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam." sahut Adeeva akhiri panggilan dari sahabat paling dekat. Adeeva tersenyum ingat betapa putus asa Nunik harus kawin paksa dengan cowok tidak dia kenal. Orang tua produk tahun berapa sebelum Masehi tega paksa anak nikah dengan orang tidak dia kenal. Adeeva juga korban kawin paksa. Beginilah hasilnya! Kacau balau.
Adeeva berpikir sejenak lalu panjatkan doa semoga Nunik dapat yang terbaik.
Gadis ini masuk ke dalam villa lihat sampai di mana ajang perebutan suami sesama selir istana. Apa sudah ada gelagat siapa jadi juara?
Nyatanya persaingan masih berjalan alot. Belum ada keputusan Ezra ajak siapa tidur bersama. Semuanya ingin jadi guling Ezra malam ini. Mungkin ini malam bersejarah bagi mereka karena selama ini Ezra tak pernah ajak mereka nginap bareng.
Adeeva masih berdiri dekat pintu masuk villa jadi penonton tanpa mau masuk jadi pemain.
Tiba-tiba ada yang ketok pintu mau masuk. Adeeva yang pas berdiri di pintu ringankan tangan buka pintu. Di bawah penerangan lampu teras yang terang benderang Adeeva melihat cabe merah telah datang dengan dua buah koper di tangan. Asli pencinta warna merah. Di mana saja berada tetap menyala dengan merah terang.
"Kau..." seru Adeeva kaget telah tambah pengacau baru.
"Iya...aku! Aku datang untuk urus Ezra. Bawa koper aku ke kamar Ezra!" Rani mengibas rambut melewati Adeeva tanpa permisi.
Adeeva melirik dua koper yang tergeletak di teras tanpa ada niat sentuh barang bawaan Rani. Dia bukan jongos Rani untuk apa layani wanita mengerikan itu. Sudah ditolak Ezra masih tebalkan muka datang.
Adeeva masuk ke dalam lewati semuanya yang duduk di ruang keluarga. Rani langsung ikut nimbrung di antara selir Ezra. Mau ambil tempat di samping Ezra sudah ada Soledad dan Farah. Kedua wanita itu mana mau mengalah pada Rani.
Rani harus puas duduk agak jauhan dari Ezra. Belum sampai giliran dia bermesraan dengan bos raja tambang itu. Yang ngantri masih panjang.
"Hei kau.. koper aku masih di luar. Itu barang branded semua! Awas kalau hilang!" seru Rani marah karena Adeeva jalan santai tanpa bawa kopernya.
"Emang gue pikirin?" jawab Adeeva terus maju tak peduli amarah Rani.
Para selir Ezra tertawa geli lihat Rani menggeram pada asisten pribadi Ezra itu. Gila lawan songong siapa lebih kuat? Jelas Adeeva lebih kuat karena ada dukungan langsung dari bos.
"Ezra lihat orang kerja kamu! Sudah berani bantah aku!" kata Rani pada Ezra yang dingin membeku. Rani tak tahu Ezra makin tak nyaman kehadiran Rani. Rencananya ingin selidiki permainan para selir agak melebar karena kehadiran Rani.
Soledad bergerak cepat gandeng Ezra menuju ke ruang makan. Wanita lain ngekor berharap Ezra berubah pikiran ajak mereka nginap di tempat tidur.
Di atas meja cuma tersedia enam peralatan makan. Tentu saja untuk para selir Ezra dan Ezra sendiri. Meja makan memang berkapasitas enam orang tak bisa lebih. Adeeva tidak kecil hati karena memang tak mau dianggap masuk jajaran parade para selir.
Ezra duduk di ujung meja sebelah kanan dan ujung kiri ditempati Renata sebagai selir utama selanjutnya Dorce duduk di samping Michelle sedang depannya Farah dan Soledad. Penataan sempurna.
Rani merasa tersisih tak dapat bangku. Alamat makan di dapur bersama Adeeva. Adeeva sih tidak open makan di mana yang penting perut kenyang.
"Tempat aku mana?" teriak Rani histeris tak terima tersisih.
"Dasar apa kau duduk di sini? Tunggu kami selesai makan baru kamu makan!" semprot Renata geram pada gaya sok penting Rani.
"Ezra..." rengek Rani melirik kepada Ezra.
Sumpah Adeeva ingin ketawa terbahak-bahak lihat raut wajah Ezra berubah hitam. Adeeva tahu laki ini sedang menahan diri untuk tidak marah.
Kang Apoy dan teh Yuni mulai hidangkan makanan masih panas. Ada beberapa macam menu masih tersisa asap mengepul dari piring. Fresh from oven.
"Kang...antar makanan aku ke kamar! Aku makan di kamar." Ezra bangkit tanpa peduli pada semua wanita di depan hidungnya. Dari pada buang energi mendingan Ezra tenangkan diri makan sendiri di kamar.
Adeeva tahu baca kondisi segera hampiri bosnya membawa laki itu tinggalkan arena perang. Lenyap sudah selera makan Ezra akibat pertengkaran wanita-wanita saling ingin menjatuhkan.
Renata cs kesal bukan main pada Rani yang telah merusak malam indah mereka. Sudah terbuka peluang mereka meraih cinta Ezra muncul pula nek lampir kacaukan keadaan.
__ADS_1
Adeeva antar Ezra masuk ke kamar untuk hindari wanita bikin kepala puyeng.
Adeeva dudukkan Ezra di kursi santai menanti Omelan lelaki itu. Marahnya ke orang imbasnya pasti ke Adeeva.
"Pak...maaf aku tidak sengaja masukkan Rani ke villa. Sumpah aku tak tahu itu dia." Adeeva mengaku salah sebelum disalahkan Ezra.
"Bukan salahmu! Aku juga tak sangka dia datang. Kita makan di sini saja! Nanti baru kita turun lagi." ujar Ezra apatis.
"Iya pak! Aku lihat kang Apoy dulu. Duduk saja jangan ngelayap! Ntar jatuh merepotkan semua orang."
Adeeva keluar dari kamar Ezra turun ke lantai bawah. Adeeva lihat Rani sudah duduk di tempat Ezra tadi. Asli pemandangan indah kumpulan wanita Ezra. Maunya diabadikan supaya seluruh tahu kalau Ezra sang raja tambang punya segudang wanita.
Adeeva tidak punya banyak waktu urus para wanita Ezra. Sekarang dia mesti urus bosnya agar jangan mati kelaparan. Lama di villa bersama segudang wanita bikin umur Ezra makin pendek. Pikir enak punya segudang wanita. Rambut di kepala lebih cepat kabur sisakan kepala mirip balonku ada lima.
Kang Apoy dan Adeeva bawa makanan ke atas untuk dihidangkan pada bos yang berubah mood.
Rani jadi sasaran amarah kelima selir Ezra. Gara kehadiran cabe merah rencana yang indah jadi bencana yang indah. Rani tak mau tahu bagaimana kelima wanita Ezra berpikir. Tujuannya hanyalah tidur dengan Ezra cetak generasi baru buat Dilangit. Masa bodoh dengan omelan kelima selir Ezra. Plan tetap harus berputar.
Tepat jam sembilan Ezra turun ke lantai bawah ditemani Adeeva. Rencana awal waktunya dilaksanakan. Bikin kelima wanita itu tidur nyenyak untuk pasangkan software sadap di ponsel mereka.
Sesuai perintah Ezra minta kang Apoy sediakan wedang jahe untuk usir hawa dingin. Adeeva disuruh bantu Kang Apoy di dapur karena isteri kang Apoy telah pulang ke rumahnya berhubung di rumah masih ada bocah harus diayomi. Tinggallah Adeeva dan kang Apoy di dapur urus minuman pengusir hawa dingin.
Adeeva harus punya alasan singkirkan kang Apoy sejenak agar dia punya kesempatan kerjain minuman para selir. Tak baik beri contoh buruk pada orang kerja maka Adeeva tak ajak kang Apoy kerja sama kali ini. Cukup dia dan Ezra tahu semua kejadian malam ini.
"Kang...beli gorengan dong!" pinta Adeeva cari alasan agar ada kesempatan teteskan obat tidur ke minuman untuk para tamu.
"Neng mau makan apa?"
"Apa saja asal cemilan. Yang hangat ya kang! Jangan yang gorengnya setahun lalu!" gurau Adeeva bikin kang Apoy tertawa geli.
"Ada saja kamu ini! Akang beli di ujung jalan sana!"
"Ok...nih duitnya!" Adeeva menyodorkan selembar duit warna merah. Duit ini akan Adeeva tagih lagi pada Ezra. Dia yang punya misi kenapa harus uang Adeeva jadi korban. Adeeva tak rela uang halalnya terpakai untuk misi Ezra.
"Ok...tunggu ya!"
"Siip..."
Kang Apoy keluar dari pintu belakang karena tak enak lewat pintu depan yang ada Ezra dan keenam wanitanya. Tidak sopan lalu lalang di hadapan bos maka kang Apoy keluar lewat pintu belakang.
Yakin kang Apoy tak tampak di mata Adeeva segera kerjakan rencana Ezra. Setiap cangkir Adeeva tetesi obat dari Ezra. Semua ada tujuh cangkir. Adeeva tetesi enam cangkir sekalian punyaan Rani agar wanita itu tidak merepotkan orang tengah malam nanti.
Diaduk rata barulah Adeeva antar ke depan. Cangkir untuk Ezra telah Adeeva beri tanda khusus agar jangan ketukar dengan cangkir yang lain. Dalam hal ini Adeeva mesti super hati-hati supaya tidak salah laksanakan perintah Ezra.
Setelah merasa aman Adeeva bawa ke tujuh cangkir minuman ke depan gunakan nampan dari stainless. Bau jahe dan gula merah tercium ke seluruh Indra penciuman para selir Ezra. Mereka anggap Adeeva asisten multifungsi. Bela mereka dan peka pada kondisi mereka.
"Ayok diminum penghangat badan!" Adeeva meletakkan cangkir satu persatu ke hadapan setiap orang lagak seorang pembantu setia. Rani mendengus marah pada Adeeva sewaktu gadis ini letakkan cangkir di depannya. Kali ini Rani berhasil rebut tempat di samping Ezra dengan Michelle. Sudah ganti posisi. Soledad dan Farah tersingkir di ronde kedua ini.
"Terima ya Poni!" Michelle ringankan mulut coba hargai Adeeva.
Adeeva mengangguk beri senyum manis. Dalam hati Adeeva merasa berdosa kerjain orang-orang ini demi cari kebenaran. Apa boleh buat. Walau dosa tetap harus jalan.
"Ayok minum! Kang Apoy sedang pergi beli cemilan. Sebentar lagi juga tiba." Adeeva melangkah mundur menunggu hasil reaksi obat. Tak lupa Adeeva selipkan doa semoga tidak ada kejadian tragis.
__ADS_1
Semua angkat cangkir. Rani bantu Ezra ambil cangkir untuk diminum. Ezra melihat ada gerakan cepat Rani memasukkan sesuatu dalam minuman cangkirnya. Rani pikir Ezra tak lihat apa yang dia lakukan. Ezra kan buta tak bisa lihat kejadian di depan mata.
Untuk hindari kecurigaan Ezra terima cangkir dari Rani pura-pura hendak minum tapi batal akibat terlalu panas. Ezra meletakkan cangkir itu lagi ke meja kali ini dibantu oleh Michelle.