Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Wanita Amanah


__ADS_3

Ezra memaksa Adeeva duduk di sofa untuk cari titik temu masalah mereka. Ezra mau omong apa takkan merubah pendirian Adeeva. Di dalam agama seorang lelaki hanya boleh punya empat isteri. Laki ini sudah kelebihan dua tapi masih cari jajanan di luar.


Adeeva malas buang tenaga dan pikiran di tubuh orang tak punya hati. Hatinya terbuat dari fiber maka tak punya perasaan.


"Pikir apa?" tegur Ezra. Laki ini duduk di depan Adeeva menyilang kaki tunggu mulut ganas ini merangkai kalimat bikin kuping panas.


"Pikir uang bus aku yang hangus!" jawab Adeeva tidak terpancing pertanyaan Ezra. Jangan harap Adeeva mau berkomentar tentang wanita bersama Ezra di restoran. Geer banget tuh cowok bila ditanggapin. Salah-salah kira Adeeva cemburu.


Ezra tergugu tak sangka Adeeva tak pikirin dia. Justru ingat uang yang tak seberapa. Kalau Adeeva mau dia bisa beri puluhan kali lipat dari uang yang hilang. Namun sayang Adeeva terlalu angkuh terima uang dari Ezra selain gaji sebagai karyawan.


"Poni...tak bisakah kita bicara serius sekali saja?"


"Emang sekarang kita tidak sedang bicara? Soal pemindahan dana sudah sebagian. Malam ini aku akan selesaikan semua. Lalu tugasku selesai. Sesuai janji aku boleh kembali ke kota B. Cuma aku tak mau kerja di perusahaan bapak lagi." kata Adeeva tak gunakan perasaan bicara dengan orang tak punya empati.


"Kau sudah teken kontrak kerja selama dua tahun. Kau sanggup bayar denda?" Ezra terpaksa gunakan cara kotor tekan Adeeva agar tetap dekat dengannya. Ezra tak punya cara lain untuk tahan gadis ini.


"Aku minta pindah ke Papua." tukas Adeeva cepat tanpa beri kesempatan pada Ezra pikir cara kotor lain. Dia memang telah teken kontrak kerja. Dendanya cukup berat bila resign melanggar kontrak kerja.


"Baik kalau itu mau kamu tapi selesaikan tugasmu perbaiki sistim perusahaan. Kau tak mau tahu siapa orang bersamaku di restoran?"


Adeeva sudah duga Ezra akan bela diri dengan sejuta dalil mengenai wanita dan anak tadi. Adeeva tak perlu ikut campur urusan laki itu. Cuma Adeeva terlanjur ilfil pada Ezra. Cerita apapun takkan perbaiki posisi Ezra di hati Adeeva.


"Apa itu penting bagiku?"


"Penting karena kamu isteri aku. Aku tak mau tutupi apapun dari kamu!" ujar Ezra tegas.


"Kita akan pisah sesuai janji bapak. Lebih bapak tinggalkan aku cari selir-selir bapak untuk menjernihkan pikiran. Tak baik berbohong pada wanita. Karma itu ada lho!"


"Untuk apa?"


"Ya untuk lepas rindu pada wanita. Ini lebih baik daripada cicipi jajanan murahan. Jajanan di luar banyak bibit penyakit karena tidak steril! Di istana bapak antrian tunggu kehadiran bapak. Mereka barang halal." ujar Adeeva sinis


"Maksudmu aku tak boleh hubungan dengan wanita di luar. Harus dengan salah satu isteri aku?"


"Aku tak bilang gitu! Cuma kuingatkan jangan menambah dosa!"


"Dengan isteri aku boleh?"


"Tentu saja. Sekarang bapak pergi pulang ke istana. Cari saja salah satu dari tangga nada bapak!"


"Apa maksudmu?"


"Lha? Bukankah nama isteri bapak Renata, Dorce, Michelle, Farah dan Soledad. Cuma nama Dorce maunya diletakkan di atas jadi do re mi fa sol."


Ezra tergelak di antara rasa tegang. Sejauh dia tak pernah terpikir nama selirnya berurutan tangga nada. Ternyata gadis ini sangat jeli bisa memapar hal tak pernah jadi perhatian.


"Dan kamu?"


"Berhubung aku takkan jadi bagian dari selir mu maka Tuhan tidak karuniakan namaku jadi urutan tangga nada. Adeeva...tak ada berada dalam tangga nada."


"Lalu gimana dengan Larasati. Bukankah berada di urutan la?"


Perut Adeeva kontan kram tak sangka namanya ada hubungan dengan nada ke enam. Demikian kejam kah takdir masukkan namanya dalam parade isteri Ezra. Kebetulan atau memang nasibnya harus berada di samping Ezra seumur hidup.


Melihat Adeeva tak berkutik Ezra merasa telah sukses jebloskan Adeeva dalam permainan nasib yang jerat dia tak bisa pergi dari Ezra.

__ADS_1


"Itu hanya nama pemanis. Bukan nama utama aku! Nggak usah mimpi aku mau masuk parade selir istana kamu. Najis..."


"Aku akan rubah namamu jadi Larasati Adeeva Dilangit. Kau bukan selir tapi ratu. Perlu bikin acara tumpengan?"


"Jangan kelewatan ya pak! Tinggalkan aku sendiri! Pergi pulang ke rumah selir-selir anda cari kehangatan biar tidak sembarangan jajan cemilan murahan. Rawan kena penyakit."


"Ok...aku setuju dengan saranmu kali ini! Cari kehangatan pada tempat resmi." Ezra bangkit mendekati Adeeva. Adeeva meringkuk melindungi diri sendiri dari kenakalan Ezra.


"Mau apa kamu?" Adeeva mendekap dada dengan kedua tangan. Ini salah satu cara melindungi diri secara naluriah.


Ezra menundukkan badan membopong Adeeva yang ketakutan. Mimpi apa kali ini terjebak lagi omongan sendiri. Kasih saran pada Ezra mencari kehangatan buat diri sendiri tapi lupa statusnya sebagai isteri laki ini.


"Woi... jangan sembarangan!" seru Adeeva melawan. Sekuat tenaga Adeeva berontak tak mau dibawa laki ini ke dalam kamar.


Sekuat apapun Adeeva tetap kalah kuat dari tenaga seorang lelaki bertubuh tegap macam Ezra. Adeeva tak bisa bergerak dalam gendongan Ezra. Cowok ini memegang Adeeva dengan kencang karena tahu anak ini punya kelebihan di bidang seni bela diri.


Ezra berhasil memasukkan Adeeva ke dalam kamarnya. Satu gerakan Adeeva telah terhempas di ranjang. Ezra melepaskan jas dan baju kemeja perlihatkan otot keras tanpa lemak.


Walau sudah berapa kali Adeeva saksikan tubuh laki ini tetap saja risih disuruh nodai netra dengan tubuh telanjang Ezra.


Adeeva meringsut ke ujung ranjang memeluk kaki untuk lindungi anggota tubuh dari sergapan laki gila ini. Apa maunya laki ini. Ada kelainan jiwa atau punya nafsu melebihi laki awam.


"Jangan mendekat! Atau aku akan hajar bapak sampai babak belur."


"Kau kasih saran dan aku hanya ikuti saran berguna. Apa aku salah melepaskan nafsu pada barang halal seperti kata kamu." ujar Ezra naik ke ranjang hendak mengunci Adeeva dalam rengkuhan.


Adeeva tak menyerah majukan tendangan ke tubuh Ezra yang telah berada di depannya. Ezra menangkap sebelah kaki Adeeva lalu menjepitnya gunakan ketiak. Adeeva menyerang lagi dengan sebelah kaki.


Kali ini Ezra tidak menangkap lagi melainkan menekan tubuh Adeeva di bawah tubuhnya. Adeeva tak berkutik di bawah tekanan Ezra. Wajah Ezra persis di depan wajah Adeeva. Kedua mata saling menatap dengan pancaran sinar mata berbeda ekspresi.


"Baik hati sedikit pak! Aku ini bukan wanita seperti yang ada di istana bapak. Aku tak peduli semua uang bapak. Aku hanya ingin hidup tenang dengan orang selevel aku!"


"Selevel kamu? Apa maksudmu? Aku bukan level kamu?"


"Bukan... level bapak terlalu tinggi untuk orang kecil macam aku. Aku tak sanggup berdiri di samping bapak! Mimpi aku sangat sederhana. Hidup damai bersama orang tepat. Bapak boleh bebaskan aku dan masukkan si dia dalam barisan parade selir. Kasihan anak bapak tidak dapat pengakuan secara umum. Dia lebih berhak dapat kehormatan jadi ratu karena telah punya anak." kata Adeeva diplomasi.


Lama Ezra menatap bola mata Adeeva tanpa bersuara. Ntah apa yang ada di benak laki ini. Termakan omongan Adeeva artinya otak Ezra telah berfungsi dengan baik.


"Anak itu bukan anakku. Wanita itu juga bukan simpanan aku. Dia itu isteri dari teman aku! Suaminya telah meninggal karena kecelakaan. Mobilnya menabrak tiang listrik. Sebelum meninggal dia pesan agar aku jaga anak dan isterinya maka aku menjaga mereka."


"Hebat.. menjaga sampai ke tempat tidur!" sinis Adeeva ketus.


"Jaga mulutmu nona! Aku hanya sebatas membantu bila dia dalam kesulitan. Hubungan kami murni hanya sahabat!"


"Lepaskan aku dulu! Tak baik kita begini di tempat tidur. Nanti ada setan' lewat lho!"


"Aku berharap setan lewat goda iman aku! Jika perlu datang satu kompi setan supaya iman aku runtuh."


Adeeva meruncingkan bibir cibir niat busuk Ezra. Ezra benar gemas pada bibir ranum yang selalu bikin jantungnya berdetak lebih kencang. Heran mengapa dia sangat menginginkan wanita ini. Biasa wanita yang ingin dia. Tapi yang satu ini selalu menolak dia. Apa daya pesonanya mulai luntur di makan usia?


Ezra tidak dapat menahan diri untuk biarkan bibir Adeeva menganggur sendiri. Dengan cepat dia sambar bibir menggoda itu. Kecepatan melebihi sambaran elang mencuri anak ayam.


Adeeva kaget diserang Ezra secara mendadak. Tak ada persiapan menolak ciuman kasar Ezra. Pertama Ezra sedikit kasar memaksa Adeeva buka mulut agar bisa saling tukar air ludah. Lidah Ezra memaksa masuk melilit lidah gadis ini.


Ini pengalaman Adeeva kesekian kalinya di bawah didikan Ezra. Lama kelamaan Adeeva mulai terbiasa menerima Ezra adu bibir. Adeeva naik kelas dalam hal ini. Belum pintar namun lumayan sebagai murid baru.

__ADS_1


Ezra melepaskan Adeeva sambil ukir bibir dengan senyum kemenangan. Ezra selangkah lebih maju menancapkan kuku ke tubuh Adeeva. Ezra yakin dia akan mendapatkan isteri original. Bukan wanita sejuta umat dicelup puluhan lelaki.


"Enak? Aku bisa ajar kamu yang lebih enak dan indah. Mau coba?" goda Ezra tanpa bebaskan Adeeva dari kungkungan.


"Dasar bos cabul! Mau melakukan pelecehan sexual pada anak buah? Aku akan lapor pada pihak berwajib."


"Lapor saja Ezra perkosa isteri sendiri! Aku dukung kok!" ujar Ezra kalem bikin Adeeva melongo seperti orang bodoh. Kenapa otaknya tak berfungsi dengan baik. Selaku lupa statusnya yang buat dia makin terperosok dalam dunia Ezra.


"Coba kalau berani berbuat cabul! Kusate sosis mu!" ancam Adeeva tak mau kalah gertak.


"Oya? Kau tak nyesal? Ini percintaan kita kedua kali lho! Jangan lupa kita pernah melakukan!" ejek Ezra membuat Adeeva makin galau.


Ezra kembali ingatkan hubungan mereka di kota B. Apa iya dia telah berhubungan intim dengan Ezra. Gimana rasanya Adeeva benar tidak ingat.


"Bohong...Aku tidak pernah tahu gimana rasanya! Aku merasa baik-baik saja! Tak usah perlakukan aku seperti orang bodoh."


"Gimana kalau kita ulangi lagi?"


"Sumpah aku akan balas kejahatan bapak padaku. Aku akan kacaukan sistim perusahaan bapak! Semua uang pengerat akan kukembalikan pada pemilik."


"Oya? Aku mau tahu gimana kejamnya isteri aku!" Ezra menundukkan kepalanya kembali melakukan aksi nakal mencuri ciuman Adeeva. Kali ini Ezra berbuat lebih nekat pretel pakaian Adeeva. Satu persatu kancing baju Adeeva terlepas dari lubang kancing.


Bibir Ezra bekerja memanjakan bibir Adeeva sementara tangan ikut bekerja mencopot pakaian Adeeva. Baju atasan Adeeva copot dari tubuh pemilik sisakan kain berenda tutupi dua bukit indah. Mata nakal Ezra terbelalak tak sangka di balik tubuh perkasa Adeeva tersimpan pemandangan indah.


Tangan Ezra bergerilya menjangkau apa yang bisa dijangkau. Tanpa sadar Adeeva mengerang menambah semangat Ezra berbuat lebih. Keduanya tenggelam dalam lautan asmara yang diciptakan Ezra. Adeeva tak berdaya dilimpahkan keindahan yang tak pernah dia rasakan. Sesuatu perasaan aneh bikin seluruh tubuh merinding.


Adeeva tak tahu sejak kapan pakaiannya lolos dari tubuhnya. Kini dia hampir telanjang bulat di hadapan Ezra. Ada rasa malu tapi dia juga penasaran kelanjutan aksi nakal Ezra.


"Kau sangat indah..." bisik Ezra lembut di kuping Adeeva.


Ezra tak rela biarkan wanita di depannya terlepas dari genggaman. Dia harus berbuat sesuatu agar Adeeva terikat padanya seumur hidup. Adeeva bukan mereka yang tak tahu moral. Sekali Ezra lakukan maka kaki Adeeva terikat pada Ezra selamanya.


Ezra melepaskan seluruh pakaiannya sampai polos untuk melakukan tugas sebagai suami sah Adeeva. Kalau tidak sekarang kesempatan kedua takkan datang lagi.


Adeeva seperti orang bingung menanti disembelih. Dia sudah tak berdaya Ezra menuntut hak sebagai suami. Kalau mereka sudah pernah lakukan sekali apa salah lakukan kedua kali. Tak ada bedanya lagi.


Pada detik-detik penting ini tiba-tiba ponsel Ezra berbunyi. Benda itu berada dalam saku celana Ezra. Ezra tidak peduli panggilan masuk yang mengganggu. Sungguh ponsel tidak peka. Di moments penting ini ada gangguan.


Bunyi terhenti karena Ezra tidak berniat angkat telepon dari siapapun. Adeeva jauh lebih penting dari siapa pun.


Ponsel itu kembali berbunyi dengan panggilan panjang. Ezra menghela nafas meraih benda itu dari saku celana. Mata laki itu berubah sayu sewaktu lihat siapa telepon.


"Halo...ada apa?"


"Ezra...di mana kamu? Aku butuh kamu. Aku tiba-tiba sakit kepala. Bawa aku ke rumah sakit ya!"


"Di mana asisten kamu? Minta tolong dia bawa kamu! Aku lagi ada urusan penting."


"Apa ada yang lebih penting dari aku? Aku cuma mau kamu yang bawa. Jangan lupa janjimu pada Herman! Aku akan jadi prioritas mu."


"Rani...aku sedang bersama istri aku! Aku tak enak tinggalkan dia. Dia juga kurang sehat. Mohon pengertian kamu."


"Kamu sedang bersama para rubah? Enak banget dapat kue cucur murahan! Kau jangan lupa kalau mereka itu telah berkhianat dari kamu. Mereka tak pantas dapat tubuhmu. Tubuhmu hanya untuk wanita berharga. Kau harus segera datang. Aku juga bisa kasih kamu kenikmatan itu. Aku juga wanita punya kue yang sama."


"Rani...hormati dirimu sendiri! Aku bukan lelaki bejat cari keuntungan. Aku hanya gauli yang milik aku."

__ADS_1


__ADS_2