
Adeeva menepuk bahu Ezra agar segera bangun. Waktunya tinggalkan tempat tidur jalankan rencana cari tahu siapa pengkhianat terbesar di perusahaan. Adeeva tak luput dari tanggung jawab kawal Ezra dari segala kemungkinan buruk.
"Pak...bangun! Kita harus ke kantor!" Adeeva berkata pelan segan bangunkan lelaki dewasa berada di tempat tidur. Tempat dan kamar mandi merupakan dia tempat paling rawan bagi Adeeva. Godaan dari dua tempat bisa meruntuhkan tembok yang di bangun Adeeva.
"Jam berapa?"
"Jam tujuh... kusiapkan air mandi ya! Sikat gigi dan cuci ileran semalam." Adeeva menyibak selimut Ezra agar laki itu tak menunda waktu ke kamar mandi. Sebentar lagi waktu ke kantor. Tak mungkin bersantai lagi tunggu matahari lelah bersinar. Jangan-jangan hari telah senja baru mulai aktifitas.
"Sejak kapan aku ileran?" Ezra menyentuh sudut bibir cari tuduhan Adeeva. Seharusnya Ezra tahu itu hanya akalan Adeeva jatuhkan harga dirinya. Orang tajir ketahuan ileran.
"Sejak bos tak bisa lihat. Ileran juga salah arah mengalir seperti lahar keluar dari gunung berapi."
Ezra mendengus malas ladeni kekonyolan Adeeva di pagi hari. Takutnya merusak mood pagi-pagi. Hari ini dia harus bersiap melihat semua kebusukkan dari keluarga sendiri.
Ezra mencoba berjalan gunakan insting ke arah kamar mandi. Untuk menyakinkan Adeeva dia buta Ezra hayati akting orang buta. Kedua tangan dijulurkan ke depan cari sasaran bisa dijadikan pedoman ke dalam kamar mandi.
Adeeva biarkan saja Ezra melatih kepekaan agar tidak terlalu mengandalkan Adeeva ke kamar mandi.
"Lurus ke depan. Maju tak ada rambu stop kok!" Adeeva mengarahkan Ezra berjalan.
"Kau pikir aku ini mobil truk disetir sesuka hati." omel Ezra.
"Kok disetir? Mau masuk bengkel diinfus oli kotor?"
"Dasar isteri kualat! Kusumpahi kamu hamil anak aku selusin!"
Adeeva terbelalak takjub. Baru kali ini dengar sumpah aneh bin ajaib.
"Apa tak ada sumpah lebih manis? Sumpahi aku cepat jadi janda kek! Naik pangkat jadi manager gantiin Celine di kota B." tawar Adeeva sangat keberatan disuruh hamil anak Ezra.
"Nggak usah mimpi jadi janda! Kau selamanya jadi isteri Ezra." Ezra hilangkan tubuh di balik pintu kamar mandi.
Adeeva bersyukur Ezra sudah ada kemajuan bisa ke kamar mandi sendiri. Ini meringankan beban mental harus interaksi dengan laki dalam kondisi tak kondusif.
Adeeva tidak berpangku tangan segera bergerak pilih baju ke kantor Ezra. Laki ini harus berpakaian rapi sebagai seorang CEO. Jangan karena buta merampas wibawa Ezra.
Adeeva takkan biarkan orang hina Ezra kendatipun dia kurang suka pada bosnya. Bukan tak suka dalam arti tak mau kerja sama. Adeeva hanya tak suka laki itu mesum kumpul banyak wanita di sekeliling hidupnya. Semoga saja cukup ini wanita Ezra dikenal Adeeva. Kalau muncul yang baru lagi jamin akan Adeeva butakan seluruh aset Ezra.
Jadi laki tak boleh rakus menyimpan segudang wanita. Ezra sudah kebangetan gunakan kekuasaan beli wanita. Adeeva tak Sudi jadi wanita hasil pembelian Ezra.
"Poni.." panggil Ezra buyarkan lamunan Adeeva tentang Ezra. Gadis ini coba cari tahu apa keinginan Ezra tanpa masuk ke kamar mandi. Gadis ini berdiri di depan kamar mandi yang pintunya tidak tertutup rapat. Ezra sengaja tak kunci pintu untuk bisa panggil Adeeva bila dibutuhkan.
"Ya pak?"
"Kok tak ada handuk?"
"Ada kok! Di sudut bathtub. Sudah kusediakan dari semalam. Hati-hati jangan menambah luka! Aku yang capek!"
"Nggak ikhlas amat rawat suami!"
"Bukan nggak ikhlas tapi bapak sudah banyak perawat. Mereka siap kok merawat bapak dari atas kepala hingga ujung kaki."
"Nggak butuh...Ayok masuk tolong pilih parfum aku!"
"Nggak ah... tontonan 30 tahun ke atas sedang ditayangkan!"
__ADS_1
"Nih bocah! Sudah pakai handuk! Nggak bakalan jadi tontonan gratis lagi."
"Awas kalau bohong! Kubabat pakai mesin rumput biar rata!" Adeeva mendorong pintu berusaha percaya pada Ezra.
Pemandangan tak diharapkan untunglah tidak menodai mata gadis ini. Ezra memang terbalut handuk di bagian pinggang. Perabotan super ajaib Ezra tertutup aman di balik handuk. Adeeva lega segera mencari keinginan Ezra.
"Parfumnya di mana?"
"Di balik kaca besar ada lemari! Buka saja!" Ezra menunjuk ke kaca cermin cukup besar. Kalau Ezra tak bilang di belakangnya merupakan lemari Adeeva sama sekali tidak tahu. Sungguh dekor kelabui mata. Tapi sangat cocok untuk orang yang tak suka barang terlihat berantakan. Kamar mandi tampak asri tak banyak peralatan mandi.
Adeeva membuka pintu menyerupai kaca. Di dalamnya berisi peralatan untuk cowok. Dari alat cukuran, parfum, sisir dan beberapa macam botol ntah berisi apa. Itu tak penting bagi Adeeva. Dia hanya perlu cari barang yang diinginkan Ezra.
"Parfum model apa pak? Ini ada beberapa jenis merek!"
"Yang tutupnya model mahkota."
"Dolce&Gabbana...merek aneh!" gumam Adeeva memang ketinggalan soal fashion. Gadis mana ingat dandan dengan kesibukan sehari-hari. Adeeva suka yang merakyat tanpa harus rogoh kocek dalam-dalam. Bisa makan tiga kali sehari sudah puji Tuhan. Apa pula ikut trend model. Buang uang dan pikiran.
Otak asyik pikir model kapan pikir pekerjaan. Mendingan cari yang bermanfaat lanjutkan hidup tanpa ribet.
Tangan Adeeva mengambil parfum pesanan Ezra. Lalu dengan hati-hati gadis ini menutup lagi pintu kaca di kamar mandi Ezra.
"Ini pak!" Adeeva bermaksud berikan parfum itu pada Ezra tapi laki itu goyang tangan menolak.
"Bawa keluar saja! Kugunakan setelah berpakaian. Kau ambil setelan yang warna apa?"
"Biru bergaris putih. Hari ini tak usah gunakan setelan hitam. Awali hari baik ini dengan warna sedikit semangat. Kita keluar pak! Asyik ngobrol kapan ke kantor."
Ezra manggut melangkah pelan takut terpeleset. Adeeva perhatikan gerak gerik Ezra menjaga agar bosnya tidak jatuh. Perkara bosnya jatuh bukan perkara kecil. Bangunkan ikan paus berbobot berat bukan hal gampang. Kuras tenaga bukan sedikit. Mana lagi belum sarapan pagi. Makin tak punya energi.
"Kau harus latihan pasang dasi suami. Waktumu layani aku masih cukup panjang. Aku akan kirim kamu belajar cara urus suami."
"Tidak perlu...aku bisa kok urus suami! Asal diumpan nasi tidak kisut ya sudah! Sekarang kurang apalagi sebelum ke kantor?" tanya Adeeva tidak ramah samasekali.
"Sisir rambut aku dan bantu semprot minyak wangi."
"Sisir di kamar mandi kan? Kok nggak bilang dari tadi biar sekalian dikeluarkan. Dasar paus..." sungut Adeeva putar badan balik ke kamar Ezra. Sudah buta doyan pula menyiksa orang.
Ezra tersenyum lihat wajah cantik dipenuhi kerutan. Kalau Ezra tukang setrika langsung setrika wajah cewek itu sampai kinclong.
Singkat cerita Ezra mengubah diri menjadi manis tidak merepotkan Adeeva lagi. Sebentar lagi mereka akan perang melawan musuh tidak kasat mata. Di dalam kebutaan Ezra akan melihat jelas siapa pemimpin tikus di perusahaan. Ezra telah undang pembasmi tikus kanibal. Sikat dan basmi tikus kembali ke habitat aslinya di rawa.
Ruben datang menjemput Ezra dan Adeeva ke kantor. Ruben agak kuatir kesehatan Ezra yang belum pulih sepenuhnya. Laki ini tak tahu kalau bosnya sedang Galang opini dia tak bisa berbuat apa-apa karena kehilangan sepasang mata. Kini hidupnya hanya mengandalkan orang lain. Terutama pada Adeeva.
Ezra tak ijinkan siapapun dekati dia selain Adeeva. Ezra tidak percaya pada siapapun selain Adeeva yang tak punya target padanya selain ingin cepat bebas dari paus raksasa.
Ratusan pasang mata menatap kasihan pada bos mereka yang mengalami kecelakaan. Bagi mereka yang betul ingin bela perusahaan tentu saja ikut prihatin namun bagi mereka yang berencana kudeta posisi Ezra pasti sedang bersorak gembira. Hari ini Ezra akan buka semua topeng semua pegawainya.
Adeeva menuntun Ezra masuk ke dalam kantor dengan hati-hati. Sejak kecelakaan baru hari ini Ezra injak kantor. Mungkin suasana telah berbeda karena seluruh kantor gelap bagi laki ini.
"Ya Allah Ezra...gimana kabarmu nak?" seru satu suara sok prihatin.
Adeeva menoleh lihat seorang lelaki berumur sekitar lima puluhan tergopoh-gopoh dekati Ezra. Sikapnya memang perlihatkan rasa cemas lihat kondisi Ezra. Adeeva tak tahu itu tulus atau sedang sandiwara biar dibilang perhatian.
"Om Jul???" kata Ezra ragu siapa orang di depannya.
__ADS_1
"Siapa lagi kalau bukan om kamu? Maaf om tak sempat datang ke rumah! Ada sedikit masalah dengan sistim kantor kita."
"Maksud om?"
"Ntah kenapa sistim kita tak bisa diakses sebagian! Mungkin sedang error dan satu lagi lebih fatal. Sebagian dana perusahaan raib tak jelas." kata orang bernama om Jul gelisah.
"Apa maksud om raib? Dana segitu besar hilang sendiri di saat aku sedang sakit? Permainan apa ini? Kita lapor polisi." kata Ezra tegas.
"Jangan dulu! Om sedang minta orang perbaiki sistim. Mungkin terblok maka tak bisa dicek sisa saldo. Kalau nanti tak bisa baru kita cari solusi."
Ezra puji insting Adeeva kalau pengerat ini tak berani lapor polisi. Permainan akan makin menarik bila mereka tak mampu bongkar siapa telah kacaukan sistim baru perusahaan.
Ruben dan Adeeva diam saja tidak ikut nimbrung dalam pembicaraan tingkat tinggi. Mereka berdua hanya pegawai biasa mana boleh ikut campur. Adeeva bisa baca ekspresi om Jul sangat panik dengan error sistim perusahaan. Bagaimana tidak? Uangnya disikat Adeeva hingga nihil. Sungguh jahat jari tangan mungil Adeeva. Satu kali gerak sudah hancurkan kebanggan om Jul.
"Kita rapat!" perintah Ezra tanpa kompromi.
"Rapat apa nak? Kita cari solusi dulu perbaiki sistim kita. Om sudah undang orang pintar terobos sistim yang telah diganti kata sandi."
"Hasilnya?" tanya Ezra dingin.
"Belum terdeteksi karena hacker ini sangat lihay. Dia bikin pertahanan sangat kokoh susah diterobos."
Ezra baru tahu kalau Adeeva memang sangat pintar. Ezra yakin Om Jul undang ahli IT lebih pintar dari sebelumnya namun belum berhasil pecahkan skema sistim Adeeva.
"Kapan om beri jawaban?" tanya Ezra datar seakan tak percaya om Jul mampu handel kekacauan ini.
"Secepatnya! Oya...om akan kirim beberapa dokumen harus kamu tanda tangani! Ini soal pengiriman hasil tambang ke luar negeri. Ini urgen karena kapal tak bisa berangkat tanpa persetujuan kamu."
"Baik...aku mau jawaban semua kekacauan hari ini! Siapa berani main kotor di saat aku sedang dalam musibah. Aku takkan maafkan orang yang berani main belakang. Kupastikan dia akan hancur tak berbentuk." ancam Ezra geram.
Om Jul angguk kecil seolah turut kesal pada orang yang telah mengacaukan sistim perusahaan.
"Om setuju.."
"Oya...aku akan kirim kode akses pada Om. Coba cek akun aku yang satu ini apa terkena retas juga? Ini akses pribadi tak bisa Kupercayakan pada orang lain. Om yang harus tanggung jawab tentang akun rahasia aku!"
"Pasti nak! Siapa lagi bisa kamu percaya kalau bukan om. Kirim saja nanti om coba cek. Sekarang om antar kamu ke ruang kerja dulu!"
"Tak usah om! Om urus saja perbaikan sistim. Oya kenalkan ini Poni! Dia ini Aspri aku yang baru. Kalau perlu sesuatu katakan padanya saja!" Ezra perkenalkan Adeeva pada om Jul secara resmi agar pak tua itu tak tanya-tanya siapa gadis gagah ini.
Mata Om Jul berpindah pada Adeeva yang segera mengangguk sopan pada Om Jul. Jul meneliti Adeeva menimbang karakter gadis ini bisa diajak kerja sama tidak. Wajah cantik rupawan tanpa cela cuma agak keras tanpa kelembutan.
"Nona Poni...selamat bergabung! Jaga keponakan aku baik ya! Hati-hati jangan sampai terjadi sesuatu!"
"Siap pak!" jawab Adeeva gagah.
"Good...kalian naik saja! Nanti sekretaris om akan antar dokumen untuk ditanda tangani! Dan kau Ben! Jangan lengah jaga abang kamu! Dia butuh dukungan saat ini!" Om Jul sok perhatian pada nasib Ezra. Mungkin jauh di lubuk hati harap Ezra cepat modar.
"Ya pak Jul..aku akan berusaha semaksimal mungkin kawal pak Ezra." sahut Ruben sopan.
Di sini masing-masing ambil peran tersendiri biar semua tampak berjalan normal. Ezra boleh buta tapi the show must go on. Roda perusahaan harus tetap berputar karena nasib ribuan karyawan tergantung pada hidup mati perusahaan.
Adeeva menggandeng Ezra berjalan ke arah lift pribadi Ezra untuk naik ke lantai atas tempat kerja Ezra. Ruben ikut dari belakang diiringi tatapan tajam om Jul. Tak ada yang tahu apa isi hati dari orang licik itu. Mau terbang ke surga atau mengendap di neraka. Hanya om Jul yang tahu.
Om Jul berjalan tinggalkan lantai dasar kantor naik ke atas di mana adanya ruang kerja dia. Om Jul cukup pusing karena perubahan sistim yang telah dirombak total. Akses inti banyak yang kena blok tak bisa diakses. Hanya sebagian bisa diakses. Itupun bagian umum untuk semua pegawai biasa. Tingkatan manager telah ditutup. Apa kepala om Jul tidak pusing. Belum lagi dana di rekeningnya kena sabotase hingga nihil. Kalau bukan jiwa om Jul kuat mungkin sudah stroke.
__ADS_1