Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Cari Penyakit


__ADS_3

Adeeva menangkap tangan Ika dengan gampang. Sekali Adeeva tarik Ika hampir terjerembab di lantai. Untung saja Ika cepat pegang ujung meja Adeeva sehingga luput dari rasa malu. Gimana rasanya hendak memukul malah berbalik.


"Kau setan..."


Adeeva berjalan keluar dari belakang meja hampiri Ika. Adeeva menyembunyikan tangan ke belakang punggung agar jangan kelepasan hajar Ika sampai tak berbentuk.


Ezra bukan tak kuatir nasib Ika. Laki ini takut Adeeva terpancing berbuat anarkis hajar Ika. Ezra cepat-cepat tahan Adeeva makin mendekat dengan Ika.


Adeeva akan kalah bila sempat pukul Ika. Ika pasti akan gunakan kesempatan melapor Adeeva lakukan tindakan kekerasan di kantor. Adeeva bisa terjerat hukum dalam hal ini. Ika pasti menang.


"Sayang...jaga emosi!" Ezra memeluk Adeeva menenangkan wanitanya. Ezra tak punya pilihan selain lakukan hal paling tak disukai Adeeva yakni memeluknya.


"Ezra...kau bela wanita ini? Di luar masih banyak yang lebih ok dari Adeeva. Aku akan kenalkan wanita lebih cantik. Usir dia sekarang juga!" seru Ika tak peduli pasangan ini telah tersulut amarah. Ezra masih bertahan tidak terbawa arus emosi. Kalau dia ikutan meledak bisa remuk Ika.


"Ika... kuharap kau jaga sopan santun! Ini adalah isteri aku satu-satunya. Seribu wanita manapun tak bisa gantiin Adeeva. Kau pergi atau kupanggil satpam usir kamu. Mulai detik ini kau kupecat. Jangan injak kaki di kantor ini lagi! Tak ada tempat untuk orang picik macam kamu." akhirnya kalimat yang sudah lama tersimpan di hati Ezra terlontar keluar.


Ika dan Kenzo terpana tak sangka Ezra bisa umumkan berita spektakuler pecat Ika dengan mulus. Ezra sudah keluarkan kuku runcing tancap pada daging busuk pengganggu sirkulasi udara di kantor.


Adeeva tertawa renyah Ezra sudah bantu dia pecat Ika. Tugasnya jadi lebih ringan telah singkirkan salah satu parasit di kantor. Kali ini Adeeva beri bintang lima pada Ezra. Cling cling bunyi lima kali bintang jatuh.


"Ezra kau sadar apa yang telah kau katakan?" tanya Ika pikir kuping salah dengar tak tangkap suara Ezra dengan sempurna.


"Sadar sepenuhnya. Adeeva adalah bos sini. Setiap orang yang tak dia sukai wajib tinggalkan perusahaan. Aku lebih butuh Adeeva dari kalian. Pergilah sebelum aku panggil satpam!"


Ika tertawa sinis anggap Ezra hanya emosi sesaat. Dia sudah berkuasa di perusahaan selama tiga tahun. Hampir separuh pegawai perusahaan takut padanya maka Ika tidak takut walau Ezra telah umumkan pecat dia. Ika masih punya power gerakkan pegawai.


"Perusahaan ini akan hancur tanpa aku! Aku akan bawa semua orang kepercayaan aku. Kalian lihat saja!"


"Dengan senang hati. Bawa saja semua sampah kamu! Aku sudah punya pengganti jauh lebih kompeten." Adeeva angkat dagu tinggi-tinggi tidak termakan ancaman Ika.


Adeeva memang mau bersihkan antek Ika. Syukur banget dia ajak semua benalu dari perusahaan. Ini meringankan tugas Adeeva sapu bersih sampah.


"Tunggu saja kalian!" Ika melengos pergi dengan sombong. Kenzo seperti kerbau ke cocok hidung ngekor wanita itu dari belakang. Sebelum pergi sempatnya Kenzo beri senyum maut pada Adeeva. Laki ini pikir bisa bius Adeeva dengan kegantengan level top.


Adeeva merinding geli disenyumi pacar Ika. Ganteng doang tak bisa bikin hidup makmur. Laki model Kenzo hanya bikin kantong bocor.


Ezra bernafas lega setelah Ika pergi. Satu masalah selesai. Kini Ezra masih ada tugas lain yakni bersihkan juga wanita-wanita di rumah. Dia harus pulang langsung selesaikan kebebasan para selir nya. Ezra tak mau ambil resiko bikin Adeeva stress gara urusan selir-selir.


Adeeva adalah prioritas Ezra saat ini. Di dalam tubuh anak itu ada penerus Dilangit keluarga raja tambang.


"Well...kamu puas sekarang?" tanya Ezra setelah pecat Ika di depan Adeeva.


Adeeva angguk senang Ezra sudah penuhi ego ibu hamil. Adeeva puas sekali telah kalahkan Ika hari ini. Sekarang tinggal tunggu kawanan anggota klub gantiin para satpam serta penjaga gudang.


"Terimakasih."


"Sama-sama...Malam ini kita tidur di mana? Kau mau pulang ke rumah Abah atau tidur di apartemen?"


Adeeva besarkan mata sangat keberatan kembali ke apartemen yang selalu membawa kenangan buruk. perbuatan Ezra dan Sonya masih melekat di dalam sanubari Adeeva.

__ADS_1


"Ogah kembali ke tempat maksiat itu!"


"Aku sudah beli apartemen lain dekat kantor. Aku sudah persiapkan sebelum kita kembali ke sini. Aku tak mau kamu teringat pada kenangan yang tidak menyenangkan itu."


Adeeva sedikit terharu pada pengertian Ezra terhadap dirinya. Di saat dia sedang hamil semuanya terasa lebih lancar. Ezra yang banyak berubah serta kantor yang mulai kondusif.


"Aku mau lihat tempat baru kamu!"


Ezra tersenyum senang Adeeva isyaratkan mau ke tempat baru mereka. Adeeva katakan tempat Ezra hanya untuk tutupi ego seorang wanita yang dikalahkan oleh seorang wanita murahan.


Selanjutnya mereka tenggelam dalam pekerjaan yang masih tersisa. Adeeva makin banyak belajar berbisnis agar dapat membantu Ezra di kemudian hari.


Keheningan terkuak tatkala suara ribut di luar ruang kerja Ezra membahana. Terdengar jelas Ruben berdebat dengan suara wanita. Suara Ruben tidak begitu keras namun dapat balasan lengkingan seperti teriakan kuntilanak.


Adeeva mengerut kening siapa telah telan nyali beruang berani ganggu macan tidur. Macan yang telah adem ayem diganggu pula. Pasti akan mengaum kesal.


Pintu ruang terbuka sita perhatian Ezra dan Adeeva. Satu sosok bayangan merah nyelonong masuk dengan wajah merah padam.


Rani dengan penampilan panas menganggu retina mata Adeeva. Betul-betul wanita panas. Segalanya menyala siap bakar orang di depan mata dia.


"Ezra..kamu ini apaan serahkan kekuasaan pada anak bawang ini?" bentak Rani garang tertuju pada Ezra.


Ezra yang duduk di bangku tempat Adeeva kerja dulu angkat kepala menyoroti kehadiran Rani dengan dingin. Tak ada gelagat Ezra akan takut pada Rani.


"Memangnya kenapa?" tanya Ezra datar.


Adeeva memeluk tangan menyandarkan badan ke kursi dengan santai mau lihat kelanjutan kebodohan Rani usik dia. Adeeva bukan sombong telah jadi CEO melainkan doyan lihat kelakuan orang tolol.


Adeeva malah geli dituduh pelet Ezra. Boro-boro pelet laki itu, mimpi hidup bersama saja Adeeva ogah. Cuma sekarang dia tak berdaya karena sedang mengandung bayi Ezra. Mau tak mau dia harus terima Ezra.


"Tante...aku gunakan pelet Jin Kloset. Ritualnya harus dilakukan di toilet. Kalau mau melunturkan pelet ini Tante harus bertapa di toilet umum tujuh hari tujuh malam. Tak boleh di toilet rumahan. Harus di toilet umum karena peletnya butuh banyak kentut orang. Mau coba?"


Ezra dan Ruben nyaris ketawa lihat sifat iseng Adeeva muncul lagi mau kerjain Rani.


"Pelet apa itu?" Rani terheran baru kali ini ada pelet berhubungan dengan toilet.


"Tante ketinggalan jaman maka tak tahu ada pelet jenis baru. Gampang tak perlu bayar jasa dukun. Kalau Tante senang pada pak Ezra maka harus lunturkan pelet aku duluan. Maklumlah pelet kelas tinggi." ujar Adeeva dengan songongnya.


"Mau kerjain aku?" bentak Rani melotot mata dipulas maskara warna merah dan pink.


Adeeva angkat bahu serahkan pada Rani mau percaya atau tidak.


"Jangan salahkan aku bila laki pujaan Tante makin gila padaku! Tante lihat sekarang dia serahkan perusahaan, dua hari lagi serahkan tubuh dan hati. Habis dah kesempatan Tante. Sekarang Tante omong apa takkan masuk di otaknya karena isinya cuma ada Adeeva."


Ezra ingin sekali sumpal mulut bocor Adeeva. Sudah jadi ibu tak ubah sifat konyolnya. Sangat tidak bertanggung jawab sebagai seorang wanita.


Kalau Ruben lain lagi. Perutnya terasa sakit tahan tawa. Mau ledakkan tawa di tempat akan bikin Rani seperti orang tolol.


"Kau bohong.."

__ADS_1


"Terserah...emang aku paksa Tante ikuti omongan aku? Sekarang diskusi saja dengan Ezra Hakim Dilangit bin Adeeva."


"Lho kok bin Adeeva?"


"Pak Ezra itu milikku sekarang jadi ku paten milik Adeeva."


Rani benaran hilang akal hadapi orang gila model Adeeva. Makin dilayani kepala makin puyeng. Rani pilih tak mau bicara dengan orang kurang waras kekinian. Tujuannya dia datang adalah minta Ezra lepaskan Adeeva biar dia punya kesempatan masuk ke dalam hidup laki ini.


"Ezra...lebih baik kau tinggalkan anak gila itu. Aku sudah lama tunggu kamu. Aku rela kehilangan segalanya demi kamu termasuk kehilangan suami. Apa kau tak kasihan padaku menunggumu bertahun." rengek Rani tak malu memegangi lengan kokoh Ezra.


Adeeva bersiul menggoda Ezra. "Pepet terus sampai tua!"


Ezra menepis tangan Rani perlahan. Ezra tak mungkin kasar pada isteri mendiang sahabatnya itu. Sudah bertahun mereka bersahabat walaupun Ezra sudah punya banyak isteri. Rani tak pernah tinggalkan Ezra sekalipun.


"Apa maksudmu rela kehilangan suami? Kau lakukan sesuatu pada mobil suami kamu?" tanya Ezra tajam mengorek isi omongan Rani.


Rani menutup mulut tak sadar keceplosan buka kisah lama. Mata Ezra memancar sorotan tajam menunggu jawaban Rani. Ezra review kisah meninggalnya teman baiknya kecelakaan karena rem mobil bolong. Kata-kata Rani seperti siratkan dia tahu sesuatu.


"Maksud aku aku ikhlas kehilangan suami asal bisa bersamamu! Ayoklah Ezra! Kita mulai hidup baru. Aku akan dukung kamu walau kau tak punya apa-apa lagi. Kau bisa kelola perusahaan yang ditinggal oleh sahabatmu!" bujuk Rani mulai unjuk perasaan kepada Ezra. Rani tak malu lagi ungkap perasaan sesungguhnya pada Ezra.


Adeeva menduga perasaan Rani pada Ezra itu tulus karena tidak keberatan Ezra miskin. Rani siap tampung Ezra dalam kondisi apapun.


"Sungguh mengharukan kisah cinta tanpa pamrih! Aku dukung kisah indah kalian. Tante tak perlu takut! Pak Ezra akan ceraikan semua isterinya sisakan cuma satu. Itu antara aku dan Tante! Kalau dilihat dari umur aku memang telak. Aku muda, cantik, fresh dan pintar. Tante juga cantik cuma sayang mulai keriput. Tapi Tante tak usah takut. Cinta tulus tak pandang usia. Ayo semangat kejar cintamu!" Adeeva dukung Rani dengan Songongnya. Rani melongo dibuat oleh Adeeva. Mana ada orang dukung rival sendiri mencuri suami. Otak Adeeva ada kelainan mungkin.


"Kau gila...siapa bilang aku keriput? Aku rajin perawatan."


"Aku tak perlu perawatan karena usia kita beda puluhan tahun. Tante baiknya operasi plastik di klinik hewan...eh maksudku klinik kecantikan! Kudengar negara Korea paling hebat operasi plastik. Tante boleh ke sana oplas jadi bintang K pop. Siapa tahu masuk jadi idola dunia."


Ezra tak tahu itu kalimat tulus dukung Rani atau sedang sindir Rani sudah berumur. Jarak umur Rani dan Adeeva beda jauh. Selisih hampir sepuluh tahun. Wajar kalau terjadi kesenjangan kultur. Jiwa Adeeva muda membara sedang Rani produk lama.


Rani sesak tahu Adeeva sedang ejek dia. Di sini dia memang kalah total. Adeeva memang sedang ranumnya sebagai anak muda. Bak sekuntum bunga sedang mekar.


"Jaga mulutmu anak kecil! Sekarang kau merasa menang telah sukses kuasai Ezra. Kau lihat nanti aku akan bikin kamu sengsara. Kau akan minta ampun padaku!"


"Oya? Wow...aku takut!" Adeeva perlihatkan sikap pura-pura takut. Dalam hati sedikitpun Adeeva tak takut ancaman Rani. Justru Ruben dan Ezra yang terkesima Rani keluarkan ancaman pada Adeeva. Ezra mulai sangsi meninggal nya suami Rani murni kecelakaan. Ezra harus lebih hati-hati jaga Adeeva dari tangan jahat.


"Sekarang gimana? Ezra kau ikut aku pulang ke rumah saja! Ngapain ikut anak setan ini?"


Adeeva mendesah dibilang anak setan. Adeeva tidak keberatan dibilang setan tapi jangan tambah kata anak. Kalimat itu menyiratkan orang tua Adeeva adalah setan. Kedua orang tuanya sangat mulia mana mungkin setan.


Adeeva tidak terima orang tuanya terbawa dalam urusan dia. Wanita muda ini bangkit dari singgasana Dilangit hampiri Rani.


Tubuh Adeeva jauh lebih tinggi dari Rani membuat Adeeva seperti monster bagi Rani. Adeeva memutar tubuh Rani agar memandang wajahnya. Mata Adeeva menyala pancarkan sinar membunuh level tinggi. Kalau dalam dunia game nasib Rani sudah game over.


Rani mundur selangkah dapat intimidasi dari Adeeva walau wanita muda ini tidak mengeluarkan kata-kata. Dalam kebisuan Adeeva lebih mengerikan dibanding nyerocos songong.


Ezra menangkap gelagat tak baik segera berdiri tengahi Adeeva dan Rani. Rani bisa bonyok bila Adeeva berbuat kasar. Ezra tak harap ada kekerasan di ruang kerjanya.


"Rani...kau pergilah! Jangan usik keluarga aku! Aku takkan pisah dari Adeeva walau apapun terjadi. Simpan harapan kamu ingin berdiri di samping aku! Isteri aku cuma satu yaitu Adeeva. Aku takkan cari wanita lain lagi. Cukup Adeeva!" Ezra cepat berkata demikian agar Adeeva tenang.

__ADS_1


Ezra tak tahu Adeeva marah bukan karena Rani ingin Ezra melainkan wanita itu hina orang tuanya. Rani tak sadar telah salah omong membawa orang tua Adeeva secara tak langsung.


"Ezra...kau gila. Apa hebatnya anak ini? Aku ini Rani...temanmu dari dulu! Kita saling memahami. Kumohon ikutlah denganku! Kita mulai hidup baru!" Rani tak peduli pada Adeeva memohon perhatian Ezra.


__ADS_2