
Para selir Ezra bungkam tak bisa bersuara. Ezra bersedia tidur dengan Adeeva wanita itu pasti punya kelebihan. Adeeva baru masuk ke dalam kehidupan Ezra namun berhasil curi perhatian laki itu. Pasti bukan sembarangan wanita.
"Tapi mengapa dia minta cerai?" tanya Renata ingat pertemuan terakhir Adeeva ngotot mau pisah dari Ezra.
"Dia mau pisah karena dia bukan wanita matre. Yang rela jual harga diri demi uang. Dia bekerja untuk hidupi diri sendiri tanpa sentuh uang aku! Kalian? Kartu kena blokir sudah kepanasan. Pikir sendiri beda Adeeva dengan kalian! Sekarang aku sudah tak bisa melihat kalian. Aku laki cacat. Apa yang bisa kalian harap dari aku?" Ezra terus serang selir-selir hasil karya mamanya.
"Mas...aku bisa bantu kamu kontrol perusahaan! Aku ini lulusan luar negeri. Aku juga pernah kerja jadi sekretaris PT Angin Ribut." Michelle maju hendak sentuh Ezra dengan segala pesona seorang wanita dewasa. Michelle lupa kalau Ezra sudah tak bisa saksikan betapa indah tubuh gitar Spanyol itu.
"Tidak perlu...aku ada asisten siap kerjakan semua tugas perusahaan. Lebih baik kalian pulang dan pikir ulang tawaran aku! Kalau batas waktu tawaran habis tak ada tunjangan dan kalian tetap harus keluar dari hidup aku! Kesempatan tidak datang dua kali."
"Mas rela kehilangan kami? Kami ini ikon mas lho! Semua orang salut mas mampu kontrol setengah lusin isteri dalam satu rumah. Mana ada sesama isteri akur satu sama lain." Dorce bantu Michelle yakinkan Ezra pertahankan mereka. Ezra buta makin gampang dikontrol. Siapa akan atur kehidupan mereka selagi Ezra buta.
"Ikon? Orang cibir aku sebagai cowok mesum kumpul wanita segitu banyak. Aku muak dan bosan hadapi kalian. Kalian pulang saja! Aku mau istirahat. Poni...antar aku masuk kamar!" Ezra berusaha bangkit mencari jalan ke kamar.
Adeeva segera bantu Ezra berjalan balik ke kamar diiringi tatapan mata para selir yang patah hati. Ezra sudah berubah total. Biasa Ezra dingin namun tidak kasar. Sekarang Ezra berubah jadi kasar dan pemarah. Efek dari kebutaan?
Kelima wanita itu saling berpandangan takut kemewahan yang tergenggam dalam telapak tangan segera berakhir. Tuntutan Ezra jauh dari jangkauan mereka. Semula mereka pikir bos yang sering dugem mana open pada selembar selaput dara. Tak pernah terlintas di otak mereka satu ketika Ezra akan mengeluarkan kalimat sakti memojokkan mereka.
"Mas Ezra kok beda dari biasa ya?" gumam Farah mengetuk jari di kening sendiri. Diketuk biar jalan darah lancar bisa berpikir lebih waras.
Yang lain ikutan lakukan hal sama berpikir keras mengapa Ezra berubah. Otak yang selama ini dibiarkan berkarat sekarang dipaksa berputar cari penyebab suami mereka mulai keras pada mereka.
"Ah...aku tahu...mungkin dia kena pelet Adeeva! Adeeva tutup matanya dari kita." Soledad beri pendapat perdana.
"Nggak mungkin... Adeeva kan minta cerai! Ngapain lagi pelet mas Ezra. Dan lagi mas Ezra sudah buta buat apa Adeeva tutup matanya. Emang sudah tak bisa lihat kita. Kurasa ini murni karena perusahaan. Perusahaan mau bangkrut!" Dorce berpendapat lain.
"Dorce benar...tampaknya kita harus berbuat sesuatu sebelum keluar tanpa dapat apa-apa. Kalau perusahaan jatuh kita semua ikut jadi pengemis. Mumpung masih ada tunjangan cerai mending kita ambil yang ada. Rumah dan sejumlah duit. Kan lumayan!" ujar Farah mulai goyah takut hidup susah.
"Kau benar Farah..kita minta rumah di kawasan elite! Lalu sejumlah uang. Kita masih bisa menikah dengan pria lain." Michelle sependapat dengan Farah.
"Kita pulang dulu lakukan rapat. Tak usah libatkan mama Ezra. Dia itu mana tahu perasaan kita. Hanya tahu bangga anaknya banyak isteri." Soledad mulai setuju. Hanya Renata masih belum punya pendapat mengenai hal ini. Ntah apa yang terlintas di pikiran isteri pertama Ezra itu. Renata bukan sembarangan wanita yang mudah menyerah.
Renata hanya perlu beri dukungan pada rival dalam merebut perhatian Ezra. Semakin sedikit wanita di samping Ezra makin besar peluang jadi ratu di hati Ezra. Biarlah pesaing Renata pergi satu persatu. Dia hanya perlu menunggu.
"Kita pulang...mana asisten genit mas Ezra? Enak banget keluar masuk kamar mas Ezra." omel Farah iri pada Adeeva bisa dekat dengan lelaki idaman itu.
"Dia hanya Aspri. Tak usah iri. Dia bukan level kita." Soledad melempar pandangan sinis ke arah pintu kamar Ezra.
"Tapi dia cantik dan muda. Itu saja sudah jadi modal goda suami kita. Dari mana muncul makhluk itu? Kok luput dari pantauan kita?" gumam Dorce pasti iri. Sudah pasti iri pada kecantikan Adeeva yang tak perlu beli kosmetika mahal untuk poles wajah.
__ADS_1
Orang yang jadi bahan omongan muncul dari balik kamar Ezra. Adeeva tetap berlaku sopan sebagai seorang karyawan biasa agar kelima selir Ezra tidak curiga siapa dia. Kalau mereka tahu yang namanya Adeeva adalah dia ntah bagaimana reaksi kawanan lintah pengisap darah itu.
"Hei asisten...Kuingatkan kamu jangan macam dengan suami aku! Kau tahu kami ini bukan orang peramah yang bisa terima tukang tilep suami orang." kata Farah angkuh memandang rendah pada Adeeva.
Adeeva tertawa. Ngatain orang tapi tak bercermin pada diri sendiri menjadi perusak rumah tangga orang juga.
"Apa ibu lupa beli cermin? Perlu aku sisihkan gaji sumbang kaca cermin untuk lihat siapa yang sedang bicara? Ibu itu sama saja dengan wanita lain tak punya rasa malu. Ngatain orang tapi tidak sadar diri sendiri!" semprot Adeeva pelan namun mencubit jantung.
"Kau.. kau kurang ajar! Aku ini isteri majikan kamu!" bentak Farah marah diremehkan Adeeva.
"Aku tahu kok...ibu ini salah satu gundik pak Ezra! Kayaknya ibu harus masuk ke kelas SD untuk belajar etika paling dasar. Ok..silahkan! Pak Ezra lagi kurang sehat butuh istirahat." Adeeva buka pintu lebar-lebar persilahkan para selir tinggalkan rumah Ezra.
Adeeva tak sabar ingin usir pengerat yang merusak lingkungan hidup Ezra. Adeeva makin ngerti kalau punya banyak gundik bukanlah keinginan laki itu. Ini sebuah konspirasi menguras uang laki itu. Sebagai seorang asisten Adeeva wajib lindungi Ezra dari persekongkolan dalam selimut. Menyelimuti Ezra dengan selimut indah namun penuh kutu busuk. Punah lah Ezra.
Kelima wanita itu pergi dengan pancaran sinar mata hendak menembus jantung Adeeva. Jika perlu hentikan detak jantung gadis ini agar tersingkir dari keseharian Ezra.
Rumah kembali sepi setelah gerombolan penyamun elite pergi. Wewangian dari tubuh selir-selir Ezra masih tertinggal di ruangan membuat Adeeva tutup hidung. Bau yang sangat menyengat. Persis bau minyak pelet menarik perhatian lelaki. Mungkin mau buat Ezra jatuh cinta.
Adeeva membereskan sofa dari bekas duduk wanita Ezra. Bantal-bantal kecil dirapikan kembali ke tempat semula barulah Adeeva buka jendela agar ruangan tidak pengap oleh parfum aneka rasa. Adeeva tidak terbiasa merepotkan diri dengan belanja minyak wangi mahal. Cukup pewangi bayi yang harumnya abadi.
Adeeva habiskan sisa waktu melanjutkan tugas yang diberi Ezra mengenai rekening gendut saudara mama Ezra. Adeeva cek ulang apa ada perubahan di rekening yang telah dikuras Adeeva. Pekerjaan sangat beresiko karena dia bisa ditangkap akibat kejahatan perbankan.
Adeeva mengerut kening melihat ada gerakan baru di e banking mama Ezra. Ternyata ada rekening baru yang tak diketahui atas nama Joana. Ada transaksi ratusan milyar dari rekening baru Mama Ezra ke Joana. Siapa Joana ini?
"Pak..." panggil Adeeva melihat Ezra duduk termenung di sofa besar menghadap jendela terbuka. Angin kencang berlomba-lomba masuk ke dalam kamar Ezra sambil mencolek seluruh tubuh lelaki itu. Sudah begini Adeeva jatuh iba pada Ezra. Sekeliling Ezra racun semua. Pantas laki ini tak mau tinggal serumah dengan para selir. Takut kena jebakan Batman.
"Hhhmmm.." sahut Ezra tanpa menoleh.
"Ada gerakan baru dari ponsel Bu Humaira. Dia punya rekening lain baru saja transfer sejumlah duit ke Joana."
"Joana? Itu anak angkat mama yang tinggal di Australia. Mulai bawa kabur uang ke luar negeri."
"Maaf aku tak bisa selamatkan uang itu karena sudah terlanjur dikirim. Di rekening Bu Humaira masih ada sisa tujuh ratusan juta. Apa kita kuras?"
"Kuras. Jangan ada sisa! Tak kusangka perusahaan demikian kacau. Seumur hidup aku mencari habis ditilep orang dekat. Terima kasih Poni!"
"Itu tugasku menjaga lahan semua rekan kerja. Aku bantu untuk semua rekan kerja. Aku rasa kita perlu sadap ponsel Bu Humaira dan Pak Jul. Semua atas ijin bapak."
"Kamu bisa?"
__ADS_1
"Bisa dong! Tapi harus ada uang bonus. Ini sangat beresiko. Bukan gampang masuk ke ponsel seseorang untuk sadap semua aktivitas. Itu ilegal."
"Ini yang namanya Hacker?"
"Lebih kurang gitulah panggilan orang pada pencuri data."
"Kau mau ajarin aku?"
"Nggak.. bapak tak perlu belajar jadi orang jahat macam aku. Bapak susah cukup jahat jadi kurasa tak perlu ditambah timbangan kejahatan."
"Aku jahat? Apa maksudmu?"
"Nggak tahu salah sendiri? Dosa pertama adalah menipu asisten menikah lalu mengumpulkan segudang wanita sampai enam orang. Dalam agama setiap laki cuma boleh punya empat isteri. Bapak sudah kelebihan dua. Itu termasuk kejahatan lho!"
"Aku menikahi asisten aku karena dia memang isteri aku. Lebih dosa ada isteri tak beri nafkah pada suami. Menolak kehadiran suami. Wanita macam itu takkan cium bau surga. Itulah kamu!" balas Ezra santai seolah ngerti agama.
Sholat saja tak pernah tapi sok ngasih ceramah pada Adeeva. Dari awal hubungan mereka telah kacau. Saling bohongi capai tujuan masing-masing walau akhirnya bersama lagi.
"Siapa tak beri nafkah? Bukankah bapak bilang sudah tahu aku ini perawan tingting? Artinya sudah pernah ngasih nafkah batin." Adeeva mana mau ngaku kalah balik serang Ezra.
Ezra bersorak dalam hati telah maju selangkah raih Adeeva ke pelukan. Untuk selanjutnya dia lebih mudah melakukan apa yang dia harapkan dari Adeeva. Dia harus hamili Adeeva agar tidak kabur darinya lagi.
"Itu cuma sekali. Apa makan nasi cukup sekali seumur hidup? Orang sehat makan tiga kali sehari ditambah cemilan lagi. Aku disuruh puasa berhari-hari. Apa ini adil buat suami?"
"Aiya...isteri bapak kan banyak! Aku bukan tak mau cium bau surga tapi aku takut ada kecebong nyasar di perut aku. Aku tak bisa latihan taekwondo lagi." Adeeva keceplosan tak sadar telah masuk perangkap Ezra.
"Oh itu masalahnya! Oke...kita gunakan pengamanan! Aku jamin kamu takkan hamil."
"Sekarang tak usah dulu ya! Bapak sedang sakit dan tugasku banyak. Biar kuselesaikan seluruh sistim baru kantor sini dan pekerjaan di kota B. Habis itu aku akan balik sini." Adeeva beri solusi minta waktu untuk perbaiki hubungan mereka. Jujur ini hanya akalan Adeeva hindari kontak fisik dengan Ezra. Adeeva belum siap lakukan keintiman dengan Ezra. Adeeva malu menyerah secara mudah pada Ezra.
"Kamu mau tunggu aku sudah keriput baru akui ini suamimu? Berapa tahun aku harus tunggu kamu siap? Sebulan, setahun atau satu abad?"
"Satu abad? Lama amat? Tulang kita saja sudah menyatu dengan tanah. Sepuluh tahun gimana? Waktu itu umur bapak sekitar empat puluhan. Kurasa masih produktif. Untuk sementara pilih dulu salah satu selir untuk jadi mur dari baut bapak." kata Adeeva ringan tak tahu betapa kesal Ezra disuruh tunggu sepuluh tahun. Selama kurun waktu itu peristiwa apa terjadi masih jadi misteri. Istilah mur dan baut baru kali ini terdengar di kuping Ezra. Istilah sangat buruk. Dasar anak sinting.
"Nanti kita datangi kiyai untuk dengar ceramah seberapa besar dosa wanita menolak melayani suami dalam segala kebutuhan. Api neraka sedang berkobar menanti tubuh wanita tak akui suami."
Adeeva mengelus kuduk merasa panas. Belum kena api neraka kok badan terasa hangat? Apa ini akibat durhaka pada suami? Tapi Ezra tidak kekurangan wanita mengapa ngotot harus dia? Menjadi Aspri tak masalah tapi kalau harus seranjang masih sulit diterima oleh Adeeva.
"Kita stop dulu soal itu! Kita kerjakan dulu hal penting. Aku kuras dulu sisa uang di rekening Bu Humaira. Kurasa mereka sudah sadar rekening mereka kena retas."
__ADS_1
"Mungkin iya. Wanita itu pasti sibuk urus uangnya. Maka itu dia tak datang jenguk aku. Kau lakukan cepat sebelum sisa uang pindah lagi. Kamu pantau juga pak Jul. Siapa tahu ada rekening lain."
"Oke...untuk sadap mereka bapak harus kirim chat pada mereka. Aku akan kirim sesuatu kode biar dibuka mereka. Di situ kita sudah terhubung dengan ponsel mereka. Begini...bapa kirim pesan suara pada pak Jul katakan coba cek file nomor sekian. Dia pasti akan save nomor itu di ponselnya untuk cari nomor file yang bapak maksud. Itu bukan nomor file melainkan nomor kode untuk masuk ke ponselnya. Untuk Bu Humaira begitu juga. Bapak harus buat Bu Humaira terima kode yang kita kirim."