Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Menguak Masa Lalu


__ADS_3

Adeeva tergugah dengar ocehan Ruben. Harus diakui jiwa Ezra sedang rapuh saat ini. Dia butuh support untuk menata mental yang sudah terlanjur rusak dari awal. Bu Humaira bertanggung jawab atas semua ini. Dia yang bentuk Ezra jadi tak bermoral.


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan pada ikan paus ini. Bawa dia ke darat dulu lalu panggang biar kering kerontang. Baru kita kembalikan ke laut."


"Waktu itu mungkin paus kamu sudah tewas dengan sukses. Ayo kita pulang! Bangunkan paus kamu."


Adeeva mengeluh keberatan harus berbuat baik pada Ezra. Rasa kesal pada laki ini belum tuntas total. Tetap saja merasa jijik disentuh oleh lelaki itu.


Tapi Adeeva tak punya pilihan lain selain ikuti saran Ruben bangunkan Ezra. Adeeva ulurkan tangan mengguncang bahu Ezra dengan kasar. Tak ada kelembutan sedikitpun. Jika perlu Adeeva ingin sekali mematahkan bahu itu biar lengan itu tak bisa meraba-raba tubuh sintal dari wanita lain lagi.


Ezra membuka mata dengan perlahan lalu mengarahkan netra ke arah Adeeva yang berdiri dengan tegak di depan laki ini.


"Sudah pulang kerja?" tanya Ezra dengan suara parau. Suara orang baru tersadar dari tidur lelap.


"Ini mau pulang. Atau pak Paus mau nginap di kantor saja! Ingat jangan berulah bawa sampah ke sini! Sial kantor aku!" Adeeva tak malu ngaku pemilik perusahaan untuk ingatkan Ezra dia bukan bos lagi.


"Kok masih bahas hal itu? Sekarang kau mau ke mana? Mau kuantar ke rumah Abah?" Ezra tampaknya malas berdebat soal tempat tinggal langsung tebak ke mana Adeeva mau pulang.


"Iya ke rumah Abah! Setelah itu kita ke kota B. Kita nginap di sana saja. Berangkat besok takut tidak terkejar waktu."


"Kan bisa gunakan pesawat."


"Biaya pesawat mahal. Harus irit. Aku tak mau perusahaan aku bangkrut hanya karena gaya hidup selangit. Jika perlu jual saja pesawatnya biar tambah modal perusahaan. Apa pesawat harus bayar STNK kayak kenderaan bermotor?"


Ruben dan Ezra hilang akal hadapi bos baru yang pelitnya minta ampun. Kalau semua masuk perhitungan maka roda perusahaan akan macet.


"Miss Adeeva yang cantik. Pesawat itu penting untuk keperluan mendadak. Seperti besok kita harus hadiri rapat rekan bisnis. Tak mungkin toh kita pergi jauh hari sebelum waktu. Kerja kita masih banyak di kantor." Ezra menjelaskan dengan sabar.


Adeeva mengusap dagu memikirkan alasan Ezra pertahankan barang mahal yang hanya buang uang perusahaan. Adeeva tidak ngerti bagaimana cara urus pesawat tapi baginya itu satu pemborosan.


"Aku akan pikirkan nanti. Sekarang kita pulang dulu. Kita bersiap berangkat ke kota B lewat darat."


Ezra dan Ruben tak berdaya lawan bos pelit baru mereka. Adeeva terlalu muda untuk pegang tampuk kekuasaan perusahaan namun Ezra biarkan gadis ini tuntaskan ego menyiksanya. Sudah bosan pasti akan mengundurkan diri secara suka rela.


"Baik...kita ke kota B! Kau jaga markas saja Ruben. Jangan biarkan ada orang bikin onar di sini! Aku akan kawal Miss Adeeva jumpa rekan bisnis." Ezra memberi arahan pada Ruben untuk jaga kantor dalam masa transisi kekuasaan. Ezra yakin pasti banyak rasa tak puas dari para pegawai sebelah pak Jul. Ezra belum tahu apa yang akan dilakukan pak Jul jika dilengserkan dari posisinya sebagai wakil Ezra. Mungkin pak Jul akan kuliti Adeeva.


Ezra bukannya tak takut Pak Jul gunakan cara kotor geser Adeeva dari kursi CEO. Trik keluarga pak Jul terlalu hebat kuasai perusahaan dari bawah hingga atas. Ini berkat peran Bu Humaira. Ezra ijinkan Adeeva lakukan pembersihan. Dengan demikian Ezra tak perlu malu pada Bu Humaira karena bukan dia yang lengser semua keluarga Bu Humaira melainkan Adeeva.


Ezra dan Adeeva berangkat ke kota B gunakan mobil Ezra. Dulu Adeeva yang jadi asisten sekarang gantian Ezra yang jadi asisten. Tugas Ezra adalah layani keperluan Adeeva sepenuhnya.


Sepanjang perjalanan Adeeva tidak ajak Ezra ngobrol untuk hindari keintiman. Adeeva ogah tempatkan diri sebagai isteri Ezra. Biarlah sekarang Adeeva sok jadi bos intimidasi bawahan.


Ezra putar lagu barat romantis. Semua lagu lawas penuh kenangan indah. Sayang Adeeva rasakan adanya keindahan dalam bercinta. Yang ada hanya rasa konyol serta kebodohan.


Tiba-tiba ponsel Adeeva berdering memanggil empunya ponsel untuk menjamah tubuh pipih nya. Sudah berapa hari Adeeva tidak gunakan ponsel sejak terima kabar omanya sakit.


Untunglah kesehatan Oma sudah stabil sehingga Adeeva mulai bisa aktifitas dengan tenang.


Adeeva mengeluarkan ponsel dari tas mungil warna hitam yang tergeletak di atas paha. Dari benda berbahan kulit itu muncul benda tipis penghubung dunia.


"Assalamualaikum.." Adeeva menempelkan benda itu di kuping.

__ADS_1


"Waalaikumsalam... di mana kamu say? Kabur tak ada kabar!"


"Aku sudah balik ke J. Ada sedikit kesalahan teknis. Lhu di mana?"


"Aku masih di Jateng. Masih di Blora peternakan Akbar. Gue ilfil sama Krisna karena asyik tanyain lhu! Ada cewek cantik di depan mata tapi masih melirik cewek lain. Contoh laki tak punya masa depan cerah. Calon suami penebar benih. Gue balik ke Akbar deh!"


"Eh cewek...lhu punya cinta ngak sih? Sesuka hati elu pindah hati. Kalau gue Akbar sudah kutendang dua belas pas. Akbar itu laki baik. Jangan kamu mainkan! Aku baru kenal dia saja suka kok!" kata Adeeva lupa ada ikan paus di samping. Gimana hati Ezra dengar isterinya suka pada laki lain. Sangat jujur pula.


Ezra melirik Adeeva pake ekor mata. Lirikan tajam berkilau penuh amarah terpendam. Namun Ezra tetap bungkam mau dengar lebih lanjut perasaan Adeeva pada laki bernama Akbar.


"Tamak amat lhu! Akbar itu calon yang telah digariskan bokap dan nyokap cuma gue ngak tahan jadi ibu asuh para sapi. Sini minus hiburan sis!"


"Nik...kalau kau sudah putuskan pilih Akbar maka kamu harus ikuti suami. Suami itu imam kita dalam agama. Kita mesti patuh dan terima semua kelebihan dan kekurangan suami kita. Kusaran engkau pikir ulang terima lamaran Akbar atau tidak. Jangan kecewa pada Krisna kau lampiaskan pada Akbar. Ini sangat tidak adil bagi Akbar."


"Kau ke sini dong! Bantu aku yakin diri jadi nyonya juragan sapi. Atau aku balik ke kota lupakan perjodohan ini."


"Sori sis..aku sangat sibuk berapa hari ini. Oya...gimana adik Parmin? Sudah dirujuk ke RS lebih lengkap?"


"Sudah...mungkin akan dilakukan transplantasi sumsum tulang. Pihak rumah sakit sedang cek apa Parmin cocok jadi donor untuk adiknya. Biayanya bertambah. Lhu bisa cari donatur?"


"Donatur ya? Akan kuusahakan. Atau gue jual saja mobil gue buat tambahan buat adik Parmin."


"Yaelah...mobil penyakitan mau dijual. Siapa mau mobil setia itu. Lebih baik kamu genitan dikit rayu mantan suami lhu keluarkan sedikit duit. Dia kan kaya raya."


Adeeva tak mungkin cerita kalau dia yang telah kuasai seluruh harta Ezra. Bisa jingkrak kesenangan si Nunik dengar dia berhasil siksa Ezra. Nunik juga ilfil pada Ezra.


"Aku akan coba! Aku akan kunjungi lhu di sana kalau pekerjaan gue selesai. Eh..jangan buka pabrik sebelum diresmikan ya! Jangan sempat ada produk muncul dari pabrik lhu!"


"Lhu yang sinis! Gue kan dalam keadaan darurat. Gue dalam perjalanan ke kota B. Ada sedikit tugas. Besok gue kabari lhu lagi! Salam untuk Akbar, Supono, Parmin dan ibu Akbar ya! Bilang Adeeva rindu."


"Okay say...ku lebihkan rindu untuk Supono. Dia pasti senang."


"Lebih berapa? Satu ton? Apa jiwanya sanggup angkat segitu banyak rindu aku? Bukan dinilai dari tubuh lho! Tubuhnya sih menjanjikan tapi jiwanya itu lho! Tulang lunak."


"Ular kali lunak! Ok deh! Cukup satu ons saja! Eh lhu sama siapa? Tumben romantis banget?"


"Romantis matamu! Ini musik rock kena modifikasi. Kuping lhu kelebihan beban! Salah dengar. Sudah tutup tuh telepon! Tidur!!!!"


"Sadis amat lhu! Gue cuma ngabarin kalau Krisna itu kesengsem ma lhu! Dia asyik cari tahu tentang kamu. Kamu pasti punya pelet ampuh bikin cowok terpesona."


"Pelet? Mungkin iya juga ya! Oya aku punya ilmu pelet monyet kesetrum listrik."


"Mati dong!"


"Nah itu hebatnya ilmu aku! Setiap orang lihat aku akan melihat monyet kesengat listrik. Mati rasa."


"Itu artinya tidak tertarik sama lhu! Kok lhu balik-balik cerita! Lhu operasi plastik aja ya! Obras wajah lhu jadi mirip Sukiyem pembantu gue! Gue biayai lhu!"


"Woi...gue ini orang tahu syukur sama Tuhan. Sudah dikasih wajah sempurna pake obras. Lhu aja diobras pakai ember plastik! Gue mah ogah. Dasar ngawur! Sudahan ya! Assalamualaikum." Adeeva mematikan hp dengan kesal.


Ezra memutar kepala sedikit menoleh ke arah Adeeva. Ezra telah menangkap sedikit kesalahan Adeeva dekat dengan laki lain selama jadi buronan. Ezra heran mengapa Adeeva bisa kenal Krisna yang juga orang tajir. Apa nasib Adeeva memang harus berhadapan dengan orang-orang punya kuku?

__ADS_1


"Mau cerita siapa Krisna? Akbar dan Supono?" tanya Ezra agak cemburu.


Adeeva tersadar keceplosan di depan Ezra. Kini laki itu punya nota hitam Adeeva walau belum terbukti cewek ini main gila.


Adeeva mana mau menyerah kalah sama laki ini. Adeeva harus tunjukkan dia bersih tidak genit macam Ezra.


"Akbar itu calon suami Nunik. Kenapa? Aku tak boleh berteman?"


"Boleh tapi kok pakai rindu segala?"


"Aku rindu pada teman apa salah? Aku juga rindu pada sapi di peternakan Akbar. Apa mau disidang ke pengadilan?" tantang Adeeva tutupi rasa bersalah telah dekat dengan Akbar sesaat. Akbar itu sangat baik telah timbulkan kesan mendalam di hati Adeeva. Laki itu pantas disayangi oleh wanita. Nunik beruntung bila berhasil jadi nyonya juragan sapi. Akbar pasti setia dan sabar.


"Hhhmmm peternak sapi ya? Lalu Krisna? Kau tahu siapa Krisna?"


"Tidak...kami diundang ke pesta adiknya karena dia beli sapi pada Akbar. Soalnya jumpa kamu!"


Ezra tertawa sumbang Adeeva tidak kenal siapa lelaki kaya itu.


"Krisna itu abangnya Ruben."


"What???? Bendi???" seru Adeeva kaget dengar cerita Ezra.


Ezra mengangguk. "Bapak Ruben dan Krisna itu sama cuma beda ibu. Bapak Ruben itu abangnya mendiang mama aku. Kami masih saudara tapi kurang cocok. Mamanya Ruben itu isteri simpanan Om Lippe. Om Lippe dan mama aku peranakan Jerman. Setelah mama Ruben meninggal Ruben tak diakui maka diambil oleh mama. Sayang mama tak panjang umur. Aku yang biayai dia kuliah dan bantu di kantor. Punya papa kaya raya tapi hidup seorang diri. Kau pikir hidup kami gampang? Kami berusaha dari bawah di bawah tekanan orang lain. Aku mulai sadar akan tanggung jawab setelah selesai kuliah tapi perusahaan sudah terlanjur dipegang oleh keluarga mama. Apalagi setelah papa meninggal. Mereka makin menjadi. Untung kamu muncul bawa sedikit cahaya untukku. Tapi aku telah salah lagi."


Adeeva turut bersedih pada nasib Ruben. Tak disangka Ruben yang ceria punya masa lalu tidak bahagia. Papa kaya raya tapi dia hanya jadi kacung Ezra. Betapa miris nasib Ruben.


"Aku mau ke pesta adik Krisna karena dengar kamu di sana. Kalau tidak tak sudi aku datang ke pesta orang sombong. Punya sedikit uang sok nya selangit. Sekarang kau paham perjuangan kami? Kami ini anak tanpa saudara dekat."


Adeeva merasa lambungnya bergemuruh hebat bikin asam lambung naik. Ada cairan asam naik ke kerongkongan akibat dirundung rasa bersalah terlalu tekan Ezra dan Ruben.


"Aku tak tahu hal itu. Tapi Krisna dan Ruben kok beda banget! Krisna mirip bule sedang Ruben mirip orang kita umumnya."


"Ruben mirip mamanya. Krisna mirip om Lippe. Sudahlah! Tak usah ungkit hal sedih. Yang penting kau usahakan bangun perusahaanmu lebih baik. Jangan coba-coba ladeni Krisna karena aku tak suka kau didekati laki lain. Kau sendiri bilang suami itu imam dan harus dipatuhi. Kau sudah laksanakan hal itu?"


"Apa aku ada bilang gitu?" Adeeva pura-pura hilang ingatan biar tidak dijadikan bahan bulan-bulanan Ezra.


Adeeva ingin sekali menampar mulut sendiri lupa ada Ezra di samping. Kini laki ini gunakan falsafah dari mulut sendiri skak Adeeva.


"Besok aku antar kamu ke dokter psikiater cek kejiwaan kamu. Pintar nasehati orang tapi tak bisa terapkan pada diri sendiri."


"Apa itu penting bagimu?" tantang Adeeva masih galak tak mau dikalahkan Ezra oleh kebodohan sendiri.


"Penting banget! Aku ini suamimu lho! Ingat itu!" Ezra ingatkan Adeeva kalau status mereka masih suami isteri.


"Suami tidak setia." gumam Adeeva pelan.


"Kuping aku masih ada. Aku sudah bilang aku bersalah. Kau boleh musuhi aku seumur hidup tapi jangan harap bisa bercerai."


"Keras kepala..." desis Adeeva buang pandangan keluar jendela mobil. Tak ada pemandangan menarik sepanjang jalan. Hanya kegelapan melingkupi jalan raya. Sekali-kali ada cahaya lampu sorot dari kenderaan lain usir kekelaman.


Adeeva tak tahu harus jawab apa karena dia memang telah berdosa mengabaikan suami. Ezra memang bersalah tapi dia masih berstatus suami Adeeva.

__ADS_1


__ADS_2