Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Berdamai


__ADS_3

Adeeva dengan kasar menyeret Rani menghadap wajahnya. Rani boleh hina tapi jangan coba-coba hina orang tuanya. Adeeva takkan biarkan Rani berbuat sesuka hati.


Rani menelan ludah lewati kerongkongan dapati wajah Adeeva tidak seramah tadi. Kini wajah cantik itu seperti wajah monster siap ***** Rani hingga remuk.


"Kau punya orang tua tidak?" tanya Adeeva menekan suara geram.


"Punya dong! Orang tua aku kaya raya tidak seperti orang tuamu kere sampai jual anak pada orang kaya!" sahut Rani masih angkuh.


Tangan Adeeva secepat kilat pindah ke leher Rani menjepitnya dengan keras. Ezra kaget tak sangka Adeeva demikian marah berbuat anarkis pada Rani.


"Adeeva ..lepaskan dia!"


"Manusia ini tak pantas punya orang tua karena tak tahu hargai orang tua. Kurasa dia ini anak haram tak kenal kata orang tua. Ingat kau ******! Kau boleh lawan aku tapi jangan kau bawa orang tua aku. Mereka terlalu mulia lolos dari mulut busuk kamu." Adeeva mendekatkan wajahnya ke wajah Rani tanpa lepas cekalan di leher Adeeva.


Ezra menarik tangan Adeeva agar jangan berbuat kasar. Yang rugi tetap Adeeva karena Rani bisa melaporkan Adeeva lakukan tindak kekerasan.


"Sayang...ingat anak! Lepaskan dia!" bujuk Ezra lembut tahu Adeeva makan lembut tak makan keras. Makin dilawan Adeeva akan makin brutal.


Adeeva melirik Ezra lantas melepaskan Rani sambil dorong wanita itu hampir jatuh ke lantai. Rani memegangi lehernya yang nyaris putus akibat amarah Adeeva. Rani tak sangka Adeeva akan melawannya berbuat kasar.


"Kau..." Rani masih syok tak mampu lanjutkan kalimat. Wanita itu pucat pasi diperlakukan kasar oleh Adeeva.


"Rani... kuharap kau jangan usik kami lagi! Selama ini aku hanya lindungi kamu sebagai sahabat. Tidak lebih. Orang yang kucintai adalah Adeeva."


"Ezra...kau tega padaku? Aku mencintaimu dari dulu. Aku tak pernah cinta pada Herman. Cintaku hanya padamu." rengek Rani berlari kepada Ezra.


Adeeva buang muka jijik pada adegan live dua insan bahas cinta. Nyali Rani patut dapat dua jempol. Berani ungkap perasaan pada laki orang.


"Rani...kau tahu dari dulu aku hanya cinta pada bayi aku! Tak ada wanita lain dalam hidup aku selain Adeeva isteriku juga bayiku. Kau tahu hal itu dari dulu."


Rani mundur selangkah dengar pengakuan Ezra. Dari dulu dia memang tahu Ezra cari bayi yang sangat dia cintai dari kecil. Bertahun bayi itu tidak muncul membuat kewaspadaan Rani melemah. Dan kini cerita bayi muncul lagi. Apakah bayi itu Adeeva?


"Adeeva kah?" Rani melempar pandangan pada Adeeva yang masih marah pada Rani.


"Iya Adeeva...aku sudah bertahun menunggunya! Apa kau pikir aku akan lewatkan wanita yang kucintai?"


"Andai Adeeva tak ada apa kau akan kembali padaku?" lirih Rani belum bisa terima kenyataan dikalahkan oleh anak kemarin sore.


"Tidak...bagiku kau hanya sahabat. Tak lebih." tegas Ezra membuat Rani murung.


Rani telah cukup sabar menanti hari ini tiba. Suarakan isi hati yang sudah lama tersimpan. Ternyata sangat sesuai dengan harapan Rani.


"Hanya karena Adeeva kau tolak aku?" Rani memutar badan melirik Adeeva yang berpangku tangan saksikan adegan haru biru sepasang manusia dilanda kemelut cinta.


"Ya...karena aku hanya mencintai Adeeva. Dari dulu hingga sekarang tak berubah. Maafkan aku bila aku tak bisa menerima cintamu! Kamu cantik dan baik pasti masih banyak laki lain siap menemani kamu setiap saat."


Rani terkulai layu bak bunga tak pernah kena siram air. Kuyu tinggal mati.


"Kau akan kembali padaku Ezra. Di dunia ini tak ada orang ngerti kamu seperti aku! Kau akan menyesal menolak aku! Dan kau hati-hati anak kecil!" kata Rani memilih pergi untuk sementara. Dia harus pikir jalan lain untuk merebut Ezra dari tangan anak bawang seperti Adeeva. Tidak sulit singkirkan Adeeva selama di brankas masih tersimpan batangan emas.


Ezra lega sekali Rani bersedia pergi tidak usik keluarganya lagi. Dia harus super hati-hati jaga Adeeva karena takut Rani berbuat nekat sakiti Adeeva. Orang kalap sanggup lakukan segalanya demi tercapai kepuasan batin.


"Kau tak apa?" tanya Ezra perhatian.


"Aku ok...perhatian pada kecebong bapak atau isteri yang cantik ini?"

__ADS_1


"Duanya...besok kita kontrol dokter ya! Aku mau lihat perkembangan bayi kita."


"Ok..." sahut Adeeva ringan tak masalah ikut Ezra ke rumah sakit.


"Terimakasih...satu lagi permintaan aku! Jangan panggil aku bapak lagi! Aku merasa seperti kakek sedang menanti kelahiran cucu. Rasanya tua amat!"


Adeeva tertawa geli Ezra masalahkan panggilan dia. Padahal apa artinya satu panggilan. Semanis apapun panggilan bila tidak keluar dari hati juga tak ada guna.


"Mau dipanggil apa? Opa atau kakek?"


"Astaghfirullah... panggil bapak saja aku keberatan! Kau mau naikkan pangkat aku jadi kakek? Mau bikin malu aku? Kakek punya bini daun muda?" Ezra besarkan mata kesal dipermainkan Adeeva. Kapan anak ini mau serius jalin hubungan dengannya?


"Wah ada kemajuan.. sudah bisa ngucap juga ya! Pasti efek dari debay dalam perut ini. Anak ini bawa angin positif pada bokapnya."


"Tak usah ngejek nyonya Dilangit!"


"Aku akan penuhi permintaan bapak tapi ada syaratnya. Sederhana saja tidak menyusahkan bapak. Aku akan panggil bapak dengan sebutan Honey Bunny. Mau?"


Mata Ezra kontan bersinar akan dapat panggilan manis dari Adeeva. Ezra sudah bosan dipanggil Bapak oleh Adeeva. Panggilan itu seakan ciptakan jarak antara mereka.


"Mau...apa syaratnya?"


"Bapak harus jadi imam yang baik di rumah. Pemimpin sholat dan rajin ke mesjid." Adeeva mengutarakan niatnya supaya Ezra betul-betul tobat setelah menjadi seorang bapak.


Ezra termenung karena lupa kapan terakhir dia sholat. Ntah berapa puluh tahun Ezra tidak pernah ke mesjid maupun sholat. Ayat-ayat dalam bacaan laksanakan sholat mungkin sudah terhapus dari memori kepala.


"Aku...aku tak ingat cara bersholat!" kata Ezra gugup.


"Nah artinya bapak belum siap jadi imam keluarga. Tak apa... kita mulai berkeluarga bila bapak sudah siap jadi imam. Kita pending dulu bentuk keluarga samawa." ujar Adeeva tanpa emosi.


"Apa maksudmu?"


Ezra terhenyak tak kira dari mulut tajam itu keluar kalimat setajam samurai kuno dari Jepang. Sekali babat langsung putus.


"Jangan konyol! Ini anak kita! Baik...beri aku waktu satu Minggu. Tak ada yang tak bisa dilakukan Ezra. Dan kamu juga harus bantu aku!"


Adeeva tak peduli itu terpaksa atau memang Ezra mau tobat. Yang penting ada niat dulu. Adeeva bangga telah membawa orang murtad kembali ke jalan benar. Pahalanya berlipat ganda.


"Deal..." Adeeva setuju beri waktu ada Ezra untuk pelajari tuntunan sholat dari awal lagi.


"Terima kasih! Bolehkah aku memeluk anakku?" tanya Ezra penuh harapan. Sorot mata Ezra memancarkan hasrat terpendam mendalam. Ezra ingin peluk Adeeva secara suka rela tanpa paksaan. Ezra ingin ketulusan Adeeva memaafkannya. Terlepas dari semua kebodohan di masa lalu.


Adeeva manggut malu-malu kucing. Adeeva sendiri heran mengapa hatinya melemah setelah lalui waktu bersama beberapa hari ini. Banyak hal membuka mata Adeeva kalau Ezra memang sayang padanya.


Ezra merentangkan tangan minta isteri mudanya masuk ke pelukannya. Di situ tersimpan rasa hangat bagi ibu hamil.


Adeeva menyusul ke pelukan laki ini meresapi bau badan laki ini. Kepalanya plong begitu tercium bau maskulin dari bapak bayinya. Ini efek dari kemanjaan debay dalam perut butuh wewangian sang papa.


Tangan Adeeva melingkar di badan Ezra sementara kepala menempel di dada rasakan detak jantung tak beraturan dari laki ini.


Ezra sendiri merasa damai memeluk orang yang telah rampas seluruh semangat hidupnya. Ezra bersumpah akan lindungi Adeeva dari tangan-tangan jahil.


Lama sekali Adeeva berada dalam rengkuhan Ezra. Semua keangkuhan Adeeva luntur berada di tempat tepat. Gap antara keduanya telah terbangun jembatan berkat hadirnya debay Ezra. Kini tergantung Ezra bagaimana tangani selir-selir di rumah.


Menjelang sore rombongan dari kota B tiba. Adeeva beri perintah pada Ruben untuk atur kerja rekan klubnya serta sediakan tempat tinggal untuk mereka. Mereka adalah rekan baik Adeeva selama berada di klub. Adeeva mana tega anggap mereka pegawai rendahan. Penjaga gudang juga punya tanggung jawab penting terhadap keamanan gudang.

__ADS_1


Berhubung hari sudah terlalu sore maka semua rekanan Adeeva di tempatkan di gudang sampai Adeeva atur tugas masing-masing. Adeeva berpesan tak boleh ada orang lain masuk gudang selain rekan klub yang pasti bela Adeeva.


Hari ini begitu banyak kejadian berat terjadi di dalam hidup Adeeva. Dari Ika disusul Rani dan berita kehamilan Adeeva semua ini cukup mengguncang adrenalin Adeeva.


Ezra tak ijinkan Adeeva punya menanggung beban pikiran lebih banyak maka segera mengajak Adeeva pulang. Ezra tidak memaksa Adeeva harus tinggal di mana. Semua Ezra serahkan kepada Adeeva. Mau pulang ke rumah Abah boleh mau ke apartemen baru mereka juga boleh. Ezra sama sekali tidak mengekang keinginan Adeeva yang sedang hamil itu.


Kini keduanya sudah berada dalam mobil menuju ke tujuan yang ditentukan oleh Adeeva. CEO yang terkenal kejam dan sangar itu kini seperti kerupuk kena air. Lembek tidak mempunyai tulang hanya bisa bersandar pada Adeeva.


Ezra bucin habis. CEO yang digandrungi para wanita hilang tak berbekas. Yang ada hanya lelaki bucin mengekor isteri tersayang.


"Ke mana kita? Rumah Abah atau tempat baru kita." tanya Ezra sebelum mobil bergerak ke jalan besar.


Adeeva berpikir sejenak lantas mengelus perut minta pendapat pada bayi dalam perut harus ke mana? Sebenarnya Adeeva lebih nyaman pulang ke rumah abah supaya bisa bermanja sama Umi. Tapi adeeva juga tidak ingin berjauhan dengan Ezra.


"Lihat tempat baru kita! Masih ada bau pelakor tidak?"


"Jamin bebas kuman penyakit. Nanti malam kita pesan makanan online saja ya! Aku tak ingin keluar rumah lagi. Aku sangat capek."


"Baik... come on!" seru Adeeva ceria.


Ezra menarik bibir tipis singgung senyum. Begini kan aman sentosa. Mengapa harus begitu banyak drama antara mereka. Untuk mencapai hari ini mereka telah menempuh jalan berliku-liku. Ezra bersyukur berkat kehadiran janin di dalam perut Adeeva semua menjadi damai.


Mereka berangkat dengan hati damai. Namun kedua orang ini tak sadar ada mobil lain sedang mengikuti mereka dari jarak cukup jauh.


Ezra terlalu senang sehingga hilang rasa waspada. Biasanya dia paling care soal keselamatan. Adanya Adeeva di samping membuat Ezra lupa dia banyak musuh.


Ezra membawa Adeeva ke satu bangunan tinggi menjulang ke langit. Dinilai dari tempat dan lokasi, apartemen ini harganya tidak murah. Persis di jantung kota tak jauh dari kantor Ezra.


Ruben sengaja cari tempat memudahkan Ezra dan Adeeva berangkat kerja. Tak perlu berantem sama kemacetan kota. Berjalan kaki santai juga tiba di kantor.


"Kok dekat?" tanya Adeeva surprise mereka telah tiba di tempat tujuan.


"Aku sengaja cari tempat strategis supaya kamu tidak capek. Ayok turun! Perlu digendong?" olok Ezra.


"Ngak usah...nanti berapa bulan lagi boleh gendong aku! Tunggu gunung di perut aku membesar dulu." Adeeva sigap buka safety belt tak sabar mau mandi. Badannya terasa capek seharian tak rasa air segar.


"Kamu ini...waktu itu perutmu sudah segede gunung Himalaya. Bisa tergencet aku ini."


Adeeva tertawa membuka pintu mobil. Udara jelang senja terasa sedikit lembab mungkin langit akan segera nangis tersedu-sedu tumpahkan air mata.


Sekitar apartemen agak gersang tak banyak tumbuhan penyejuk. Cuma ada beberapa batang pohon mahoni sebagai peneduh.


Ezra biarkan Adeeva pantau tempat tinggal barunya. Rasa ingin tahu wanita itu terlalu berlebihan apalagi menyangkut tempat pribadi. Rumah adalah tempat paling vital bagi insan di bumi. Semua pasti berharap dapat tempat nyaman.


"Kita naik?" tanya Ezra setelah Adeeva puas cuci mata.


"Ya...Oya pakaian aku gimana?" Adeeva teringat baju gantinya.


"Sudah di sini! Aku sudah minta Ruben bawa pakaianmu ke sini. Semoga kamu dan anak kita suka rumah barunya."


"Amin..."


Ezra ulurkan tangan mau gandeng Adeeva. Kalau dulu Ezra lakukan hal ini yang ada kena bogem gratis. Adeeva menerima uluran tangan Ezra. Anggap saja kuda poni Ezra sudah jinak. Sudah bisa dituntun ikuti kemauan Ezra.


Mereka melapor pada penjaga kalau mereka penghuni baru di blok apartemen ini untuk hindari hal tak diinginkan. Tanpa melapor mereka bisa dianggap penghuni ilegal.

__ADS_1


Ternyata Ruben sudah atur segalanya termasuk lapor bosnya akan nginap di situ mulai malam ini. Ruben memudahkan jalan pasangan ini menuju ke tempat istirahat setelah seharian kerja.


Tempat Ezra berada di lantai enam. Keduanya gunakan lift untuk naik ke atas cari tempat baru mereka. Cat gedung didominasi warna serat kayu. Kesannya alami agak gelap. Adeeva maunya warna bersih supaya rumah tampak terang. Tapi Adeeva tidak protes hargai usaha Ezra membuatnya nyaman. Tak peduli untuk Adeeva ataupun untuk janin di dalam perutnya. Yang patut dihargai adalah usaha Ezra.


__ADS_2