Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Mengobrol


__ADS_3

Ezra terkagum pada anak muda produk zaman kekinian. di zaman Ezra kuliah dulu mana ada teknologi model beginian. Tapi ini juga tergantung isi otak orang yang pelajari ilmu itu. Kalau otaknya mandek dijejali berbagai rumus juga tak bisa berfungsi baik.


Adeeva pasti ada keistimewaan sendiri baru mampu berbuat sejauh ini. Data akun dan ponsel adalah sesuatu yang sangat pribadi. Tidak gampang retas data pribadi orang kecuali orang itu memiliki keahlian luar biasa.


"Baik...kita mulai besok! Hari ini kamu kuras dulu semua uang yang ada di rekening orang yang kita curigai."


"Baik pak! Oya...aku ada usul!"


"Usul apa?"


"Bapak harus bisa pinjam ponsel selir bapak satu persatu agar kita bisa retas ponsel mereka."


"Kenapa tidak kita lakukan seperti ada om Jul dan mama?"


"Tuhlah kalau kepala penuh dengan cewek! Mampet tak bisa diajak diskusi."


"Kamu sedang memaki suami kamu?" Ezra menoleh ke arah suara Adeeva dengan jengkel. Dia sudah akting buta tetap saja dikerjain anak itu. Apa tak ada rasa iba di hati anak itu?


"Ya nggak bos cuma bos telmi!"


"Apa lagi itu? Telmi...ada bahasa Indonesia gitu?"


"Telat mikir bos!"


"Kamu ini...bicara dalam bahasa manusia kenapa? Kau anggap aku ini sobat kamu?" dengus Ezra lagi-lagi dibuat malu oleh Adeeva. Ternyata dia sudah kuno tak bisa imbangi Adeeva yang memang produk jaman now.


"Apa rencanamu?"


"Bapak tak punya alasan kirim kode verifikasi pada gundik bapak. Apa bapak mau suruh mereka buka brankas atau apa? Nggak kan? Jalan satunya adalah pinjam ponsel mereka agar aku bisa tanam software ke ponsel mereka. Caranya terserah bapak! Menari bugil biar mereka ileran? Bisa juga ajak mereka nginap di ranjang bapak. Di saat mereka terlena aku akan sadap ponsel mereka."


Kalau bukan lagi akting ingin sekali Ezra jewer kuping Adeeva. Ngasih saran selalu bikin Ezra naik darah. Apa tak ada cara yang lebih manis kerjain ponsel mereka. Mengapa harus pakai bahasa tubuh jadi umpan.


"Apa cuma ada cara cabul?"


Adeeva tertawa geli lihat Ezra menahan rasa kesal. Gadis ini bergeser ke depan Ezra melelet lidah panjang mengejek laki itu. Laki itu kan buta mana tahu sedang diusilin. Kadang rasa kesal melebihi rasa iba.


"Ada sih tapi harganya mahal lho! Bapak pergi Konsul ke dokter saja harus bayar. Ini kan konsultasi dengan aku ya pasti ada harganya."


Ezra ingin tabrak dinding saja biar kepala lapang sedikit. Punya isteri model gini umur Ezra akan lebih cepat berakhir. Disuruh ambil uang di ATM dia tak mau tapi ngobrol dikit minta bayaran. Manusia model apa Aspri songong ini.


"Berapa bayaran? Sejuta? Sepuluh juta? Atau seratus juta."


Adeeva tertawa senang bisa peras bosnya lagi. Bayaran halal untuk satu pekerjaan. Anggap saja ini uang lembur selain gaji pokok.


"Nggak banyak kok! Cukup lima ratus ribu. Aku mau beli sepatu baru. Sepatu aku sudah butut. Ada kutawarkan pada tikus siapa tahu bisa ditukar sama keju. Tikusnya nolak."


Ezra tak dapat tahan rasa geli di dada. Adeeva betul-betul manusia koplak bikin hidup suasana. Rasa gundah di hati Ezra akibat korupsi besaran di perusahaan agak terobati oleh kelucuan Adeeva. Dia murni hanya ingin hibur Ezra.


"Deal lima ratus...kamu tarik dari ATM nanti. Kubayar cash."


"Terimakasih pak! Namun sebelumnya kita harus buat hitam putih agar kelak aku tidak dituduh korupsi. Berhubung bapak tak bisa melihat kecantikan aku lagi maka kita gunakan metode lain."


"Pusing aku dibuat oleh kamu! Apa lagi?"


"Aku mau bapak omong langsung kalau uang di ATM kurang lima ratus ribu karena beri ikhlas padaku. Bukan kutarik sendiri dari uang bapak." Adeeva mengeluarkan ponsel bermaksud merekam kata-kata Ezra untuk jadi bahan bukti dia berikan uang itu pada Adeeva. Bukan Adeeva pintar tarik sendiri.

__ADS_1


Ezra tentu saja melihat jelas Adeeva aktifkan rekaman merekam omongan Ezra. Gadis ini sangat hati-hati bertindak supaya tidak terjebak dalam pusaran korupsi di kantor Ezra. Walau nilainya kecil itu termasuk uang Ezra.


"Baik...aku Ezra berikan uang sebanyak lima ratus ribu pada Poni secara tulus."


Adeeva tersenyum puas. Hatinya lega menerima uang yang memang pantas jadi hak dia. Bekerja merangkap gini haji juga tidak seberapa. Maka itu Adeeva harus pintar cari uang sampingan.


"Sekarang katakan rencanamu!"


"Bapak ajak para gundik liburan di mana kek! Usahakan ada acara berenang biar kukerjain ponsel mereka serentak. Kalau berenang kan tak mungkin bawa ponsel. Bapak alihkan perhatian mereka biar tidak fokus padaku. Aku butuh waktu setengah jam saja. Gimana?"


Ezra termenung. Rencana Adeeva memang bagus tapi kenapa yang harus jadi korban tetap dia. Ezra bayangkan betapa jijik digerayangi para wanita nakal walau mereka isteri Ezra.


"Kayaknya kok aku jadi tumbal?"


"Emang ada cara bagus kerjain mereka sekaligus? Atau bapak bikin mereka mabuk. Itu juga ok."


"Aku punya cara lebih bagus! Kita undang mereka datang untuk bahas soal tawaran aku. Lalu kita masukkan obat tidur di minuman mereka. Mereka tertidur kamu bisa beraksi."


"Itu cara berbahaya bagi jiwa orang. Salah-salah bisa lewat hadap malaikat maut. Ngeri ah!"


"Aku punya takaran. Besok malam kita laksanakan. Kita urus yang penting dulu. Gimana?"


"Aku kok merasa menjadi penjahat di bawah bimbingan mafia kelas kakap. Aku tak pernah berbuat sejauh itu. Aku masih muda ogah liburan di hotel gratis."


"Aku yang bertanggung jawab. Besok kau beri undangan pada madu kamu untuk datang ke villa kami." tegas Ezra tak mau lewatkan kesempatan emas cari tahu tujuan para selirnya. Ezra harus singkirkan mereka satu persatu agar hidupnya tidak di bebani sederetan wanita tak punya hati. Mulut bilang cinta sayang tapi buntutnya tetap ke dolar.


"Iya deh! Aku di luar...kalau bapak perlu tinggal pasang aksi tarzan! Teriak ala tarzan kota ya!" ujar Adeeva sebenarnya sedang mengejek Ezra.


Ezra hanya bisa urut dada punya Aspri kanibal. Bos sendiri dijadikan bahan lelucon. Parahnya Ezra masih berstatus suami gadis urakan itu. Tak ada rasa segan sedikitpun pada Ezra. Nasib Ezra tertarik pada barang langka ini.


Untunglah muncul kesatria pembasmi tikus berupa gadis gagah bantu Ezra dari belakang. Soal kejujuran Ezra tak ragu pada Adeeva. Hitam putih seorang gadis bisa dilihat dari rekan jejak keseharian dia.


Adeeva berusaha cari rekening Pak Jul yang lain. Tampaknya tidak ditemukan rekening lain selain sering transfer uang pada Renata. Adeeva harus gunakan bukti transferan jadi black note pak Jul. Tinggal cari nomor ponsel isteri pak Jul lalu kirim salin data transferan yang besar dan rutin ke isteri pak Jul. Mau perang dunia ketiga bukan urusan Adeeva. Jadi penonton setia cukup menghibur hati.


"Poni..." teriakan Ezra bergema memecahkan konsentrasi Adeeva sedang berselancar di dunia maya. Satu persatu rekening Adeeva cek ulang cari tahu siapa lagi yang berhubungan dengan pak Jul. Adeeva merasa bukan cuma Renata nikmati hasil uang korupsi Pak Jul. Pasti masih ada selir Ezra terlibat.


Adeeva tinggalkan laptop di meja untuk menemui ikan paus yang sedang berteriak kencang. Mungkin ekor paus kejepit selimut tak bisa mengepak ekor bergerak maju.


Adeeva masuk tanpa mengetok pintu lagi. Ikan paus sepertinya sudah bosan ditiup angin kencang dari balik jendela. Adeeva rasa perut Ezra cukup kembung akibat diisi segoni angin.


"Ya pak? Ada perlu apa?"


"Kau ada masak? Aku lapar."


"Ada...makan di sini atau kita makan di luar?"


"Di luar saja! Tak enak makan dalam kamar. Seperti orang sakit saja."


"Apa bapak bukan sedang sakit? Ayok kubantu keluar!"


Adeeva meraih tangan Ezra tanpa gerakan kasar. Kalau ini Adeeva tidak bercanda karena memang waktunya Ezra makan dan minum obat. Adeeva berharap bosnya cepat sembuh sehingga tugasnya akan ringan.


Beriringan mereka menuju ke ruang tamu. Suasana intim meliputi kedua insan beda jenis. Adeeva tulus melayani makan siang Ezra. Adeeva bukan orang stress tak bisa bagi waktu canda dan waktu serius. Biarlah Ezra makan tenang! Setelah itu baru ada tenaga bertengkar dengan bini mudanya yang hot.


Adeeva menempatkan Ezra di kursi dengan super hati-hati. Andai laki itu terbanting jatuh, nyawa taruhan Adeeva.

__ADS_1


"Masak apa?" tanya Ezra meraba meja tak ada makanan sama sekali. Jangan-jangan keisengan Adeeva kumat suruh dia makan angin. Apa yang mustahil bagi anak stress ini.


"Ada deh! Tunggu ya! Aku ambilkan!" Adeeva bergerak lincah menuju ke dapur.


Pertama Adeeva hidangkan abon sapi dan bawang goreng barulah mengeluarkan menu utama bubur ayam campur wortel. Sebenarnya Ezra suka makan bubur tapi bau wortel bikin perut laki ini mual. Adeeva ahlinya menyiksa Ezra.


Padahal Adeeva tak tahu Ezra tak suka wortel. Yang gadis ini tahu wortel sangat baik untuk kesehatan mata. Mata Ezra bermasalah maka harus diberi makanan menyehatkan mata.


"Bubur?" Tebak Ezra pura-pura tak tahu.


"Iya..ini wortel sangat bagus untuk kesehatan mata. Aku sengaja masak untuk bapak biar cepat pulih. Biar kedua senter bapak bisa menyala lagi. Bisa lihat paha mana panuan."


"Jaga mulut sopan dikit! Apa tak ada makanan lain?"


"Untuk hari ini tak ada. Kita makan bubur! Mau kusuap?" Adeeva menyodorkan satu mangkuk berisi bubur hangat. Tidak terlalu panas pas di mulut.


"Tidak perlu..aku bisa makan sendiri! Mulut aku tidak ikut buta kan?" Ezra duluan mengatakan kalimat menyudutkan dia. Menyudutkan orang kan keahlian Adeeva.


Adeeva tertawa Ezra sadar diri. Kelihatannya Ezra mulai mengenal sifat konyol Adeeva. Semoga ke depan bisa saling memahami.


Adeeva makan bubur dengan lahap sedangkan Ezra makan dengan setengah hati. Rasa bubur yang lezat tertutup oleh bau langu wortel.


Dengan terpaksa Ezra habiskan juga bubur penyiksaan hasil olahan Adeeva. Keahlian Adeeva mengolah makanan tak usah diragukan. Gadis ini bisa menjadi ibu rumah tangga baik walau ada sintingnya.


Adeeva melirik mangkuk Ezra yang telah kosong. Hati Adeeva senang Ezra hargai jerih payahnya. Kalau laki itu tak mau makan Adeeva berniat kasih minum air putih satu galon biar kembung perut.


"Obatnya di mana pak?" Adeeva teringat obat dari rumah sakit yang harus dikonsumsi Ezra. Resep dokter tetap tiga kali sehari sesuai takaran.


"Oh tadi pagi sudah dikasih Don! Sehari dua kali karena hanya untuk memulihkan otot mata yang terluka." kilah Ezra hindari minum vitamin berlebihan.


Adeeva bukan orang ngerti pengobatan hanya bisa manggut-manggut. Ezra yang jumpa dokter tentu lebih paham apa yang mesti dia lakukan agar cepat sembuh.


"Bapak mau balik ke kamar atau duduk nonton tv?"


"Nonton tv sinetron pendekar berjubah hitam." jawab Ezra sewot. Sudah tahu dia buta masih menawarkan nonton tv. Masih waraskah nih anak?


Adeeva tertawa terpingkal-pingkal dengar nada suara Ezra seperti kesal padanya. Adeeva suka lupa bosnya tak bisa melihat. Dilihat secara kasat mata tak ada yang tak beres dengan laki ini. Matanya masih jernih tidak seperti ada kekurangan. Kalau tak cerita tak ada yang percaya Ezra itu buta.


"Bapak duduk di sini saja ya! Aku bereskan meja makan dulu. Nanti kita bahas lagi soal rekening gendut saudara bapak."


"Kau menemukan sesuatu yang lain?"


"Aku menduga Pak Jul masih ada hubungan dengan gundik bapak yang lain. Cuma aku belum periksa dana mengalir ke rekening yang mana lagi. Renata sudah pasti. Dia itu pasti ada something happen dengan om kamu itu."


"Kau telusuri terus ke mana uang om Jul mengalir. Aku mau tahu sampai di mana game orang ini." geram Ezra.


"Kurasa om Jul ini hanya pelaksana. Otak sesungguhnya adalah mama bapak. Tanpa dukungan orang dalam tak mungkin om Jul bisa masuk cukup dalam. Besok bapak ganti semua sistim alasan sistim lama sudah tidak aman. Gampang diretas orang. Jadi pak Jul akan pikir bapak juga korban dari peretasan maka ganti sistim keamanan. Bapak bilang sudah undang ahli dari luar negeri untuk protek sistim baru. Bapak gunakan orang luar agar keamanan lebih terjamin. Orang luar tak tahu perusahaan apa sedang bapak geluti dan akan segera ganti kata sandi begitu semua sistim telah dicover."


"Poni...kuakui kamu pintar! Mengapa kau gunakan kepintaran kamu jadi isteri baik untuk suami?"


"Pasti tapi yang pasti bukan bapak!" jawab Adeeva yakin tak mau berdiri sejajar dengan wanita lain.


"Apa ada orang mau terima janda Ezra?"


"Kenapa tidak? Aku akan jujur aku ini janda. Tak perlu sok masih gadis. Aku ini harus jaga diri dari penyakit dunia akhirat. Aku takut yang namanya penyakit kelamin. Piaraan bapak segitu banyak. Celup sana sini dan gundik bapak juga main celupan dengan laki lain. Kuman semua."

__ADS_1


__ADS_2