
Adeeva tak berpikir kabur lagi dari Ezra. Dia punya tanggung jawab terhadap nasib kedua anaknya. Ntah terlahir laki atau perempuan, keduanya akan berharga.
Perasaan Adeeva terasa lebih baik dan nyaman otomatis memulihkan kesehatan tubuhnya.
Adeeva tak sabar ingin mengabari Nunik kalau dia akan segera menjadi seorang mama. Adeeva tidak tahu bagaimana reaksi anak nakal itu. Di mana keberadaan Nunik sekarang Adeeva tidak tahu sama sekali.
Adeeva angkat telepon bermaksud hubungi Nunik. Ada segunung rasa kangen memuncak di dalam hati.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Jangan bilang kamu sudah jatuh cinta kepada ikan paus ya!" itulah kalimat pertama dari mulut Nunik setelah sekian lama absen beradu mulut dengan Adeeva.
Adeeva tertawa derai tak sanggup tahan tawa dengar suara Nunik masih semangat seperti dulu.
"Kamu rasa?"
"Kamu takkan pernah jatuh cinta pada paus. Ingat lho masih ada Abang aku tunggu jandamu!"
"Huusss...doa kok jelek amat! Kamu di mana sekarang? Apa masih betah jadi nyonya juragan sapi?"
"Aku baru saja berantem dengan keluarga Akbar. Ayahnya songong ingin kuasai peternakan Akbar. Ayahnya sudah bangkrut maka mau tekan Akbar serahkan semua sapinya. Kuminta bang Satria datang ke sini selesaikan masalah ini. Seru deh!"
"Ada juga ayah stress! Tak tanam modal mau petik hasil. Kenapa tak kau beri hadiah bogem gratis ke otak orang gila itu?"
"Tenang...kuhajar anaknya sampai babak belur! Dia mau tuntut aku tapi banyak saksi bilang orang itu duluan pukul aku. Aku hanya bela diri. Puas banget deh! Kamu ada olahraga melatih ototmu yang karatan?"
"Ada...aku di rumah sakit." kata Adeeva melemah seolah sedang sekarat.
"Astaghfirullahaladzim..kau terluka sayang?"
"Sejak kita pisah banyak sekali kejadian. Aku cuma mau sampaikan padamu kalau tak lama lagi kamu akan jadi Tante.."
"Astaghfirullahaladzim.." untuk kedua kali Nunik mengucap. Nunik benar-benar kaget dengar ucapan Adeeva. "Kau hamil bestie?"
"Anak paus...ini hasil kecelakaan! Aku makin terikat pada ikan laut itu. Tapi dia banyak berubah. Selir-selir sudah get out dari istana. Tinggal urus si cabe dan bintang top lempar CD."
"Terdengar kamu seperti mulai memujanya. Ingat bestie dia itu musuh bebuyutan kamu! Gara-gara dia hidupmu hancur!"
"Sekarang aku tidak merasa begitu lagi karena ikan Paus banyak berubah. Kau tahu kalau sekarang aku ini adalah bos besar dari kerajaan Dilangit. Ikan paus sudah serahkan semua kekuasaan kepada diriku."
"Wah...nyonya bos! Aku harus segera pulang jumpa kamu. Tapi tunggu aku bereskan masalah sapi gila. Aku masih diperiksa oleh pihak kepolisian."
"Kamu juga sih terbawa emosi!"
"Yaelah...ngomong seperti bidadari! Kurasa kalau kamu di posisi aku abangnya si Akbar bukannya babak belur tapi bonyok. Kau pikir aku tidak kenal kamu? Emosi kamu lebih parah daripada emosi aku!"
Adeeva tertawa Nunik kenal baik sifat bandelnya. Sudah jadi seorang ibu Adeeva harus lebih rendah diri tak boleh sesuka hati hajar orang. Akibatnya rugi sendiri.
"Untuk sementara aku sudah tobat. Aku masuk rumah sakit gara-gara menghajar penculik suruhan seseorang yang ingin menculik aku."
"Culik kamu? Emangnya orangnya kaya sanggup kasih makan kamu si gentong nasi?"
"Aku belum tahu tujuan mereka menculik aku. Mungkin mau minta tebusan pada ikan paus ataupun ingin menghabisi aku demi ikan paus. Aku curiga pada Ika dan Si cabe merah. Tetapi penjahatnya masih diselidiki oleh pihak kepolisian. Sebentar kita juga akan tahu."
"Perlu bantuan?"
"Tak usah... kamu fokus aja sama si juragan sapi. Gimana hubunganmu dengan si juragan sapi? Apa ada kemajuan?"
"Dia butuh aku! Lama di sini menjadi asyik. Aku mulai betah berada di peternakan ini."
"Mau kirim undangan? Atau sedang cetak barang haram?"
"Sialan..jaga mulut kamu ya! Aku masih waras. Masih tunggu malam pengantin indah bersama sapi eh maksudku juragan sapi!"
__ADS_1
"Ngaku toh sudah jatuh cinta! Akbar itu baik kok! Waktu aku kabur dia jaga aku dengan baik. Dia pasti sayang padamu."
"Aku percaya. Aku bahagia kok jadi Tante. Jaga kesehatan! Begitu kasus aku selesai aku akan segera pulang jumpai kamu! Aku rindu banget kepada kamu Poni!"
"Aku juga. Aku doakan semoga kamu dan juragan sapi langgeng hingga akhir zaman kalian."
"Amin... eh ternyata juragan sapi mempunyai seorang adik yang sifatnya hampir mirip dengan kamu. Urakan dan tomboi. Kerjanya setiap hari mencari masalah di luar."
"Wow...Adik ipar idaman! Cocok dong kamu!"
"Justru tak cocok karena dia lebih parah dari aku. Dia suka brutal tak terarah. Sekarang dia ditahan karena pukul ayahnya."
"What? Ada anak hajar ayah sendiri? Durhaka dong!"
"Yang ini aku bela dia soalnya ayahnya bilang ibunya perempuan murahan hanya tahu harta saja. Namanya Muftia dipanggil Tia. Dia gampar ayahnya tanpa belas kasihan."
"Oh gitu...aku dukung teman baik kamu itu! Kenapa tidak antar jumpa malaikat maut saja?" Adeeva ikut geram ada lelaki tega caci mantan isteri. Emang siapa yang salah terjadi perceraian.
Abah dan Umi gemas lihat mulut Adeeva kembali nyerocos tak sopan. Sudah punya calon anak masih umbar emosi kayak masih single. Anak itu lupa di perutnya ada dua bocah menanti untuk melihat dunia.
"Eva jaga mulut!" kata Umi pelan takut di dengar Nunik.
Adeeva meringis lupa diri kalau sudah naik rasa kesal.
"Sori Umi..." Adeeva meminta maaf.
"Umi? Ada Umi ya? Wah artinya kamu betulan sakit. Aku akan segera datang ya! Aku akan ajak Muftia biar kenalan dengan biang pengacau tobatan."
"Kalau bisa besok ya! Aku kangen berat padamu sayang! Oya salam untuk Akbar dan Supono."
"Ok... hati-hati jaga keponakan aku ya! Kurangi kegiatan berbahaya."
"Beres Tante.. mereka hadir di dunia ini dengan selamat."
"Waalaikumsalam..."
Adeeva lega sudah lepas sedikit kangen pada Nunik. Kangennya akan impas bila sudah jumpa langsung. Sudah cukup lama Adeeva tidak jumpa dengan Nunik. Rasa kangennya sudah bergulung bak benang kusut. Susah di uraikan.
"Kenapa Nunik nak?" tanya Umi yang dari tadi nyimak. Umi dan Abah ikutan prihatin dengar Nunik ada masalah. Mereka sudah anggap Nunik sebagai anak sendiri.
"Tunangan Nunik bermasalah dengan ayahnya. Tahulah sifat Nunik! Dia hajar keluarga ayah tunangannya!" Adeeva bercerita seakan dia anak lembut berbudi halus. Adeeva lupa dia jauh lebih sangar dari Nunik. Kalau orang itu jatuh ke tangan Adeeva pasti tak jauh rumah sakit.
"Orang yang ngomong lembut budi ngak?" sindir Abah menyadarkan Adeeva sifat kasarnya.
Adeeva tertawa geli ingat dia juga suka main hakim sendiri hajar orang.
"Anak Abah sudah tobat." Adeeva mengerling manja.
"Iya tobat sampai harus dirawat."
"Janji akan jadi calon Umi teladan." Adeeva angkat jari ikat janji.
"Semoga gitu deh!"
Di kantor Ezra berusaha kejar waktu untuk bawa permintaan Adeeva. Ezra wanti-wanti pada diri sendiri menahan diri tidak memancing emosi Adeeva. Ibu hamil muda sangat rentan aborsi alami bila pikirannya terganggu.
Menjelang tengah hari Ruben datang bawa sedikit kabar hasil penyelidikan pihak kepolisian. Sudah ada sedikit sedikit titik terang mengenai penculikan Adeeva.
Setiap ada gerakan Ruben harus lapor biar Ezra makin tenang.
Ruben masuk tanpa mengetuk pintu lagi karena berita ini sangat urgen. Ezra harus segera tahu siapa dalang penculikan Adeeva.
"Sudah hilang sopan santun?" tegur Ezra lihat Ruben nyelonong masuk.
__ADS_1
"Hukumannya nanti pak! Ada kabar dari kantor polisi."
Ezra kontan semangat dengar ada kabar dari pihak berwajib. Semoga misteri penculikan segera terpecahkan.
"Kabarnya apa?"
"Menurut pengakuan salah satu penculik pada temannya kalau dia pernah kerjain mobil Herman suami Rani. Katanya mobil Herman memang diservis di bengkel karena besok Herman mau keluar kota. Malamnya dia datang kerjain mobil Herman sampai remnya bolong. Itu atas perintah Rani. Jadi kurasa penculikan Adeeva ada kaitannya dengan Rani. Orang itu adalah orang suruhan Rani."
Darah Ezra terkesiap dapat berita mencubit kupingnya. Dia telah menjaga Rani selama bertahun-tahun karena temannya meninggal dunia. Dan sekarang dapat kabar Rani yang kerjain Herman sampai terjadi kecelakaan. Bukankah ini seperti cerita dalam sinetron?
Apa maksud Rani celakai Herman? Kuasai harta laki itu? Ezra tak percaya Rani tega berbuat gitu pada suami sendiri apalagi Herman orangnya.
"Kita ke kantor polisi! Aku mau tanya langsung pada penjahat itu? Kalau memang dia kaki tangan Rani berarti Rani dalang semua ini. Aku takkan maafkan perempuan itu." geram Ezra merasa dibohongi selama bertahun-tahun. Dia menjaga Rani dengan tulus karena teman baiknya. Ezra tak terima bila memang Rani dalang dari dua peristiwa memilukan hati Ezra.
"Baik...kita ke sana biar lebih jelas."
Ruben dan Ezra bergerak cepat menuju ke kantor polisi. Ezra tak sabar ingin berjumpa dengan para penjahat itu. Ezra harus tekan mereka buat pengakuan jujur di depan polisi.
Gara keegoisan Rani buat ulah Ezra kehilangan teman baik dan nyaris kehilangan anak isteri. Ezra takkan berikan kata maaf untuk Rani bila terbukti berbuat curang.
Ruben dan Ezra tiba di kantor polisi langsung dijumpakan pada ketiga penjahat yang culik Adeeva.
Mereka di tempatkan di satu ruang terkunci dilengkapi kamera pemantau untuk lihat apa yang dikerjakan Ezra dan Ruben. Pihak berwajib lindungi narapidana walaupun mereka bersalah. Mereka akan dihukum sesuai dengan kesalahan mereka.
Ketiga penjahat itu berdiri dengan tangan masih diborgol. Sementara itu Ruben dan Ezra duduk di bangku besi yang telah tersedia di ruangan itu.
Ezra menatap lekak-lekat ketiga orang itu ingin menilai sampai di mana nyali orang itu melawan dirinya. Ezra tidak akan melakukan tidak akan kekerasan melainkan menekan ketiga orang itu agar buka mulut.
Ketiganya penduduk tak berani menatap orang nomor satu di kerajaan Dilangit itu. Kharisma Ezra terlalu keras untuk dilawan.
"Well.. aku sudah datang sendiri untuk mendengar penjelasan dari kalian. Aku akan membantu kalian meringankan hukuman bila kalian mengatakan sejujur-jujurnya. Tetapi bila kalian berbohong maka konsekuensinya keluarga kalian akan terimbas dari kesalahan kalian." tegas Ezra to the point. Terhadap pada penjahat tidak perlu basa-basi. Otak mereka terlalu tumpul untuk menerima kata-kata manis.
Tak satupun dari antara mereka menjawab pertanyaan dari Ezra. Mereka sangat takut salah bicara akan membawa akibat lebih fatal.
"Baik aku hargai kesetiaan kalian pada majikan kalian! Berhubung yang kalian sakiti adalah keluarga aku maka jangan salahkan aku bila terjadi sesuatu pada keluarga kalian juga. Kami permisi. Kupastikan kalian akan membusuk di sini. Sementara majikan kalian bersenang-senang di luar. Apakah Ini harga yang pantas kalian tanggung sendiri?" Ezra pura-pura ingin angkat kaki dari ruangan di kantor polisi.
Ketiga orang itu saling berpandangan. Mereka bukan tak kenal Ezra si raja tega. Siapa tak kenal si raja tambang tak kenal ampun itu. Laki itu bisa berbuat apa saja berdasarkan kekuatan dia.
"Apa pak Ezra akan bantu jaga keluarga kami?" tanya si gendut mulai goyah.
"Oh kamu...anakmu baru tiga tahun. Kau tega lihat bocah tak berdosa tanggung kesalahan bapaknya?"
Lelaki itu kaget Ezra sangat ngerti kondisi keluarganya. Laki itu memang baru punya satu anak setelah sekian tahun menikah. Kalau terjadi sesuatu pada anaknya dunia pasti akan runtuh baginya.
"Kalau kami bicara apa ada keringanan buat kami?"
"Hukum tetap jalan tapi kalian akan kubantu perkecil masa tahanan. Kalian kan hanya pelaksana dari sutradara kalian. Dia tertawa di luar sementara kalian dan keluarga hidup sengsara. Apa ini pantas?"
"Baik kami bicara. Kami ini memang orang suruhan Bu Rani. Pertama dia racuni mertuanya dengan tangan sendiri. Itu kami tidak ikut campur karena dia hanya minta dicarikan obat sianida. Lalu dia minta aku kerjain rem suaminya limpahkan kesalahan pada orang bengkel. Baru ini minta kami culik isteri bapak serahkan pada dia."
Ruben dan Ezra menahan nafas tak sangka wanita selemah Rani ciptakan tragedi demikian mengerikan. Hati Rani terbuat dari apa sanggup berbuat keji pada keluarganya sendiri.
"Kalian tahu motif dia berbuat gitu?"
Ketiga menggeleng tidak tahu. Ezra menarik nafas dalam-dalam kumpulkan udara dalam rongga dada agar tidak sesak.
Sia-sia dia buang tenaga dan pikiran lindungi Rani. Bahkan bertengkar dengan Adeeva gara-gara Rani. Ternyata yang dia lindungi adalah setan bertopeng manusia.
"Kalian ada bukti dia bos kalian?" tanya Ruben teringat mereka harus punya bukti kesalahan Rani.
Wanita licik pasti akan cuci tangan bila tak ada bukti mengarah padanya. Paling sok mewek pada Ezra bilang dizholimi.
"Ada...pergilah ke rumah aku! Minta ponsel aku pada isteri aku juga rekaman pembicaraan kami. Aku merekam perintah dia takut suatu hari dia akan serang balik kami. Semua bukti ada di situ termasuk perintahnya culik isteri pak Ezra. Dia pesan tak boleh sentuh pak Ezra."
__ADS_1
"Terima kasih. Aku akan biayai hidup keluarga kalian selama kalian di sini sebagai imbalan kejujuran kalian." Ezra beri janji melegakan ketiga begundal itu.