
Ezra mau tahu apa yang ingin dikatakan Desi. Sekedar rasa hormat pada pemimpin atau mau tusuk Adeeva dari belakang. Ezra sudah banyak lihat wanita model Desi. Hatinya sudah tidak termakan rayuan recehan model Desi.
"Kau tak perlu repot antar makanan. Tugas ini tugas Adeeva." kata Ezra dingin.
"Adeeva itu anak nakal mana tahu sopan santun. Aku kenal dia cukup lama. Selalu berbuat sesuka hati tak pandang bulu. Adeeva belum pantas menjabat posisi tinggi di kantor." kata Desi seolah prihatin dengan kelakuan Adeeva.
"Kurasa Adeeva jauh lebih baik dari wanita yang pernah kutemui. Punya hati emas dan penyayang. Kau bilang sudah lama berteman artinya kau berteman tak pakai hati. Dia begitu sayang pada kamu tapi kamu jelekkan dia. Kamu ini teman model apa?" semprot Ezra benci pada teman penuh trik macam Desi.
Desi kaget Ezra bukannya senang dikasih tahu kalau Adeeva punya banyak kekurangan. Laki ini tampak gusar Desi jelekkan Adeeva.
"Bukan itu maksudku pak! Kuakui Adeeva itu sangat baik tapi dia masih kekanakan. Dia tak pantas berdiri di samping bapak. Hanya bikin malu bapak. Bapak perlu seseorang yang lebih dewasa. Yang ngerti segalak kebutuhan bapak."
"Kau tak perlu ajar aku tentang Adeeva. Aku lebih mengenalnya dari kamu. Dan lagi Adeeva tak butuh teman macam kamu. Apa kamu mau bilang kamu lebih pantas dari Adeeva? Kuingatkan kamu bahwa justru kamu tak pantas berada di sekitar kami. Bersiaplah pindah tugas! Kalau tak mau pindah tugas kau boleh resign sendiri. Jangan sampai Adeeva tahu punya teman ular! Kau jumpai bagian HRD!" Ezra bangkit tinggalkan Desi yang terpuruk.
Desi merasa diangkat ke atas lalu dibanting hingga berkeping-keping. Keserakahan membuatnya gelap mata ingin bersaingan dengan Adeeva. Persahabatan yang terjalin bertahun hancur begitu saja karena ketamakan Desi.
Desi anggap Adeeva bukan apa-apa bila dibanding dengan dirinya. Mengapa anak itu bernasib mujur duduk di posisi tertinggi di perusahaan. Dapat dukungan sepenuhnya dari Ezra pula.
Trik Desi tak berlaku digunakan pada lelaki yang sudah tobat. Desi pikir Ezra gampang diprovokasi ingat laki itu pernah punya banyak isteri. Gunakan sedikit bahasa tubuh Ezra pasti takluk.
Sayang itu hanya dugaan Desi. Ezra ikan paus milik Adeeva sulit ditaklukkan. Laki itu bucin habis pada Adeeva.
Untung tak dapat diraih malang tak bisa ditolak. Ezra secara kejam singkirkan dia dari kantor. Ultimatum Ezra bukan main-main. Desi percaya Ezra pasti akan lakukan segala cara buat dia jauhi Adeeva. Desi jadi orang berbahaya buat Adeeva.
Pesta berlangsung meriah buat yang lain. Sunyi buat Desi yang harus segera menyingkir dari Adeeva. Desi jadi tak menarik buat Desi. Desi harus resign sebelum Ezra mempermalukan dia. Semua salah ego Desi.
Pesta bubar lewat jam sebelas malam. Ezra dan Adeeva nginap di rumah Cendana sedangkan yang lain pulang ke tempat masing-masing. Semua puas hanya Desi nelangsa.
Kini Adeeva dan Ezra sudah berada di tempat tidur. Mereka akan lalui malam penuh kesyahduan saling memberi dan menerima. Adeeva tak ingin lari dari Ezra lagi. Jodohnya memang Ezra. Tak ada guna berlari lagi kalau akhirnya tetap kembali ke garis start.
Ezra memeluk Adeeva erat-erat ke dalam pelukan. Inilah surga Ezra yang sempat hilang. Ezra berjanji tidak akan berbuat bodoh lagi berjalan menjauhi surga. Ezra anggap kehadiran Desi hanyalah sebagai cobaan menguji imannya. Ezra makin mantap untuk melangkah bergandengan dengan Adeeva menyongsong hari lebih cerah.
"Hubby..." lirih Adeeva pelan membuat Ezra hentikan lamunan.
"Ya sayang..."
"Apa semua ini bukan mimpi? Kita berlari ke arah berbeda dan akhirnya jumpa lagi."
"Itu bukan mimpi tapi kita memang ditakdirkan bersatu. Aku ini adalah orang yang menyaksikan tangisan pertama kamu sewaktu lahir. Tangismu begitu keras seakan menyapa aku."
"Iya...aku belum percaya akhirnya jadi isteri lahir batin ikan paus."
"Kau harus percaya. Aku ini memang suamimu yang pertama dan terakhir."
"Lalu aku ini yang keenam dan apa ada lanjutan?"
"Tidak....cukup setengah lusin! Lupakan yang sudah-sudah! Kini hanya kau dan aku serta anak kita. Besok kita cek up ke dokter ya!"
"Iya...peluk aku!"
"Cuma peluk? Rugi dong! Sini kukasih tahu kegiatan rutin sebagai suami isteri." olok Ezra tentu saja mengharap lebih. Sekian lama berpuasa mengusik kelakian Ezra untuk menuntut lebih.
Adeeva merasa pipinya bersemu merah digoda Ezra. Adeeva sudah tahu apa yang diinginkan oleh suaminya. Adeeva tak berhak menolak permintaan suaminya kalau memang ingin merasakan keindahan sisa malam ini.
__ADS_1
Selanjutnya apa yang terjadi hanya mereka berdua yang tahu. Yang penting adalah kisahnya membekas di dalam hati terdalam Ezra. Malam penuh makna buat Ezra karena di sini dia berhasil menaklukkan kuda poninya. Kini Adeeva telah utuh jadi miliknya.
Dari istana Ezra kedua orang ini langsung ke kantor. Ezra maupun Adeeva makin hidup setelah lalui malam penuh kesan. Seisi dunia terasa indah walau penuh dengan asap polusi. Karena cinta semua seolah jadi segar.
Wajah Ezra yang biasa keras kini tampak rilex santai. Ada guratan senyum terbiasa di bibir. Hanya orang yang pengalaman tahu apa makna dari senyum Ezra. Senyum bahagia.
Ruben pagi-pagi sudah menanti Ezra di luar ruang kerja. Sejak naik pangkat Ruben tak menunggu Ezra di depan kantor lagi. Kini tugas itu sudah jadi milik Supono. Lelaki jadi-jadian itu kini bertugas menggantikan seluruh pekerjaan yang dilakukan oleh Ruben tempo dulu. Tampaknya Supono cukup cerdik untuk menangkap semua arahan Ruben.
Ruben ikut merasakan aroma segar dari Ezra. Wajah abangnya Itu tampak lebih manusiawi memancarkan sinar gemerlap. Ikan paus yang baru mendapat umpan lezat dari kuda poni. Makanya lebih semangat dan lebih segar.
"Selamat pagi pak! Baru dapat asupan gizi alami ya?" gurau Ruben membuat Adeeva tersipu. Ezra hanya melirik tanpa pandangan membunuh seperti biasa.
"To the point!" Ezra sudah bisa baca keinginan Ruben lapor sesuatu.
"Kenzo sudah ditangkap dan sekarang berada di kantor polisi. Dia lari ke Thailand menghambur-hamburkan uangnya Ika. Uangnya masih ada sisa hampir setengah. Uang itu sudah aku minta dia transfer kembali ke rekening Ika. Kini tunggu proses hukum. Dia menangis minta jumpa Ika mau mohon ampun."
"Tak perlu jumpa. Proses terus tak perlu beri kelonggaran. Kau ada jumpa Ika?"
"Ada...dia lagi ditangani psikiater! Kasihan juga kondisinya. Dia sangat menyesali semua kelakuannya. Dia bilang dia sudah dapat karmanya."
Ezra menghela nafas. Yang jahat pasti akan dapat balasan. Ezra harus makin sadar sangat buruk bila berada di jalan hitam.
"Kau pantau proses hukumnya. Ada kabar dari Rani?"
"Kudengar pak Satria bilang maksimal hukuman mati. Bisa juga penjara seumur hidup. Kini yang aku pikirkan adalah anaknya. Sementara ini anak itu dibawah asuhan saudara Herman. Mereka menuntut hukuman mati buat Rani."
Ezra angguk-angguk paham. Kalau saudara Herman minta hukuman maksimal tidak salah karena wanita itu sangat keji. Tega lakukan apa saja demi capai tujuan.
Ezra tak bisa beri jawaban melainkan masuk ke dalam kantor. Adeeva merinding dengar semua percakapan Ruben dan Ezra. Untunglah dia tak punya hasrat jadi orang jahat. Jadi orang baik saja sudah susah apalagi jadi orang jahat.
Ruben dan Ezra surprise Adeeva minta hukuman Rani diperingan. Apa wanita lupa kalau Rani juga berniat habisin dia. Hati Adeeva terbuat dari apa punya segitu banyak rasa kasihan.
"Duduklah dulu!" Ezra mendudukkan Adeeva di kursi mahalnya.
Ruben juga ikut masuk mau lihat apa rencana Ezra terhadap Rani. Kalau Ezra mau membantu maka hukuman Rani bisa diperingan dengan alasan anaknya. Ini semua karena Rani merencanakan menghabisi Adeeva. Kalau Ezra bersedia mencabut tuntutan terhadap Rani maka hukumannya bisa diperingan tak perlu hukuman mati.
"Sayang...bukan kita yang tentukan hukuman Rani. Polisi akan usut sampai tuntas. Kita berdoa saja semoga Rani mau tobat kembali ke jalan benar." Ezra memberi penjelasan biar Adeeva tidak berpikiran.
"Tapi hukuman mati itu sangat mengerikan."
"Iya...tapi semua ada prosesnya! Tak usah kau pikirkan. Aku akan pikir semuanya. Bersiap kita rapat jam sepuluh nanti. Kau persiapkan berkas rapat. Hubby keluar sebentar mau bicara dengan Satria. Ok?" Ezra menjulurkan tangan menepuk pipi Adeeva. Ezra hanya ingin Adeeva tenangkan diri. Urusan Rani bukan urusannya.
Adeeva mengangguk walaupun jauh di lubuk hati masih ada rasa iba pada Rani. Mengapa wanita itu sebodoh itu permainkan nyawa sendiri. Anaknya juga jadi korban akibat kebodohan ibunya.
Ezra beri kode pada Ruben untuk ikut dengannya keluar. Ada hal Adeeva tak boleh mendengar percakapan mereka. Ezra ingin menyingkirkan semua yang mengganggu pikiran Adeeva. Wanita itu harus berada dalam kondisi fit selama kehamilan dan melahirkan dengan selamat.
Ezra mengajak Ruben bicara di dalam ruangan Ruben. Ezra minta Ruben tutup pintu agar tak ada yang ikut nguping pembicaraan. Ezra harus ekstra hati-hati agar Adeeva tak tahu apa yang akan dia omongkan dengan Ruben.
Ruben sendiri agak heran dengan sikap aneh Ezra. Main rahasia segalanya. Ezra jarang bertingkah seperti anak kecil takut ketahuan sama ibu sedang berbuat nakal.
Ezra duduk di sofa ruangan Ruben sambil merentangkan tangan di pinggiran sofa.
Ruben tak berdiri duduk hanya berdiri dekat Ezra menunggu laki itu kumandangkan sesuatu.
__ADS_1
"Ben...kau harus singkirkan Desi dari Adeeva!"
Ruben cukup surprise Ezra tega singkirkan sahabat baik Adeeva. Apa yang telah dibuat oleh Desi sampai mengusik batas kesabaran laki itu.
"Kenapa?"
"Dia bukan teman baik buat Adeeva. Semalam dia menjelekkan Adeeva."
Otak Ruben cepat bekerja paham maksud Ezra. Desi sedang mencari sela masuk ke dalam hidup Ezra. Menyingkirkan Adeeva adalah langkah pertama. Selanjutnya gampang baginya berdiri kokoh di sisi Ezra.
"Dia menggoda kamu?"
"Lebih kurang begitu! Adeeva tak butuh teman model itu. Kusuruh dia resign ataupun dimutasi ke tempat lain."
"Baik..akan kuurus Desi. Adeeva anggap dia sebagai saudara sampai berikan tempat tinggal. Kalau dia berbuat gitu memang harus segera dihapus dari kantor kita. Aku akan kembalikan dia ke kantor cabang."
"Adeeva jangan sampai tahu! Kau tahu betapa sedih Adeeva bila tahu kebenaran. Aku tak mau dia stress gara perempuan licik."
"Itu artinya pagar makan tanaman! Untung aku belum dekati anak itu. Kukira anak baik nyatanya sama saja dengan selir di istanamu. Aku akan urus dia! Wanita model gitu jangan ada di dekat kita lagi!"
"Terima kasih."
Kuping Ruben seperti didengar ratusan lebah dengar ucapan terima kasih dari Ezra. Seumur hidup Ruben baru kali ini dengar Ezra minta terima kasih.
Ruben tak sangkal Ezra cinta mati pada Adeeva. Demi wanita muda itu Ezra siap lakukan hal yang tabu baginya.
"Sama-sama. Sekarang juga aku akan panggil Desi untuk tanya dia mau ke mana?"
Ezra segera bangkit tinggalkan ruangan Ruben. Ezra bersedia lakukan apapun buat Adeeva.
"Aku jumpa Satria dulu. Kau jaga kakak ipar kamu jangan sampai dikecoh Desi! Aku harus tahu keadaan Rani terkini."
"Mau apa kamu? Bebaskan dia? Kurasa itu bukan ide bagus. Dia begitu gampang keluar pasti akan lakukan hal lebih ekstrim."
Ezra menunda langkah mengartikan maksud Ruben. Ruben saja tahu betapa bahaya Rani, bagaimana Ezra masih mau berhubungan dengan pembunuh berdarah dingin itu.
"Bebaskan dia? Apa aku aparat? Aku cuma mau tahu sampai di mana kasusnya. Di mana dia ditahan."
"Pak ..jangan ke sana! Nanti Adeeva salah sangka lagi. Kau ke sana untuk bantu Rani. Kurasa biar aku yang tangani kasus ini. Aku kan harus tangani kasus Kenzo. Biar sekalian. Kau balik ke ruangan temani kuda poni mu. Jangan buat dia kuatir! Pergilah! Serahkan semua padaku!"
"Baiklah! Lakukan yang terbaik!"
Ruben acung jempol menenangkan Ezra. Ruben sudah berjanji pasti akan tepati janji. Satu persatu masalah akan Ruben tangani hingga tuntas.
Ezra yakin Ruben akan mampu handel semuanya. Tidak sia-sia dia didik Ruben untuk mampu berdikari tanpa harap bantuan dari pihak bapaknya. Ruben telah tumbuh dewasa.
Debut pertama Ruben adalah panggil Desi untuk minta pendapat gadis itu tentang mutasinya. Kalau Ezra sudah turun perintah siapa berani membantah. Kehadiran Desi di kantor sudah tak ada arti lagi. Cepat atau lambat akan lukai Adeeva bila sudah ada niat jahat.
Desi dipanggil segera menghadap. Desi masih bersyukur tidak harus langsung berhadapan dengan Ezra dan Adeeva. Dia akan disidang oleh tangan kanan Ezra.
Desi malu juga jumpa dengan Ruben. Ezra pasti sudah cerita kronologi mengapa dia akan dipindahkan ke tempat lain. Memalukan menggoda bos perusahaan demi cari keuntungan pribadi.
"Kau tahu mengapa kau dipanggil?" tanya Ruben.
__ADS_1
Desi mengangguk tanpa berani angkat kepala. Menekuni lantai marmer lihat apa ada surat cinta Ruben jatuh ke lantai. Siapa tahu Ruben mau kirim surat cinta buat Desi. Ini bisa kurangi dosa.
"Kau ada pilihan?" tanya Ruben lagi karena Desi tak kunjung jawab.