
Ezra melempar kunci mobil pada Adeeva yakin anak ini mahir bawa mobil. Tukar ban mobil yang bocor segampang makan nasi apalagi nyetir. Mungkin bukan hal luar biasa bagi Adeeva.
Adeeva lakukan tugas sebagai Aspri andalan tanpa mengeluh. Penderitaan akan segera berakhir dari semua kesialan. Ezra bersedia bantu dia untuk kelabui suami bangkotan juga Ezra akan segera angkat kaki dari kantor.
Sabar beberapa hari lagi Adeeva akan segera jadi manusia bebas. Lepas dari suami cabul dan bebas dari bos diktator. Adeeva akan menjadi manusia merdeka menjalani hidup tanpa perlu ingat adanya tanggung jawab moral.
Ezra duduk di jok belakang lagak seorang bos besar. Emang bos besar. Adeeva tak bisa pungkiri status Ezra yang setinggi menara Eiffel di Paris. Tinggi menjulang ke langit. Adeeva seorang pegawai kecil mana bisa menyamakan diri dengan seorang pengusaha tajir.
Ezra menyebut satu nama restoran mewah. Adeeva menelan air ludah mendengar nama restoran yang dimaksud Ezra. Sekali makan di sana bisa bikin kantong Adeeva bolong langsung jatuh ke lantai. Sekali makan di sana bisa jadi uang makan Adeeva selama sebulan. Beginilah nasib jadi orang kere!
Adeeva tidak membantah diajak ke restoran mahal. Syukur diajak Ezra ikut makan! Bisa irit pengeluaran hari ini.
Sesampai di restoran Ezra turun dari mobil tanpa peduli pada Adeeva. Keangkuhan bosnya itu bikin hati Adeeva menjadi kecut. Ezra berpenampilan perlente mana mau ditemani cewek berpakaian sederhana model Adeeva. Dari pada merusak image Ezra maka Adeeva memilih menunggu dalam mobil. Bisa istirahat sebentar.
Adeeva menyetel tempat duduk agar bisa tidur sebentar sementara Ezra makan siang. Apa yang ingin dilakukan bos bukan urusan Adeeva. Sadar diri itu penting dalam bermasyarakat. Adeeva tak boleh masuk terlalu jauh dalam hidup bos karena dia punya keluarga sendiri.
Sedang enak-enakan Adeeva pejamkan mata tiba-tiba pintu kaca mobil diketok orang dari luar. Dari balik kaca Adeeva melihat seorang gadis berpakaian seragam berdiri persis di samping mobil.
Adeeva membuka pintu dengan kesal. Rencana memanjakan mata ambyar sudah. Muncul juga tukang kacau.
"Ya ada apa nona manis?" Adeeva duluan keluarkan suara sebelum gadis itu berkata.
"Oh maaf nona! Anda disuruh jumpa bapak di dalam!"
"Bapak aku di rumah! Jadi aku di sini saja!" Adeeva malas berdebat. Dengan sekali sentak pintu mobil tertutup kembali. Gadis penyampai pesan balik dengan tangan kosong. Orang yang dipanggil ogah datang.
Adeeva kembali sandarkan kepala ke jok mobil sambil merem mencoba lanjutkan acara mimpi siang bolong.
Baru saja Adeeva nyaman bersiap tinggal landas menuju ke awang-awang, pintu mobil kembali di ketok orang. Kali ini bukan gadis berseragam lagi melainkan Ezra sendiri yang datang. Wajah kusut menahan amarah karena perintahnya diabaikan oleh Adeeva.
Kali ini Adeeva tak bisa sok-sokan mengabaikan perintah Ezra lagi. Bos sendiri turun tangan memanggilnya. Adeeva tak punya alasan mengelak terpaksa turun dari mobil secara suka rela.
Tubuh jangkung Ezra menutupi bayangan tubuh Adeeva yang kalah tinggi. Adeeva sudah cukup tinggi, masih harus akui bosnya lebih tinggi.
"Otakmu kena banjir ya?" tanya Ezra.
Adeeva meraba kepala efek pertanyaan Ezra. Sungguh Bos aneh tiada badai tiada hujan mengira otak Adeeva kena banjir. Dari mana kena banjir kena air hujan aja tidak Adeeva ijinkan.
"Tidak ada hujan kok banjir! Bapak sudah selesai makan siang? Kita balik kantor."
"Dasar telmi..ayok masuk! Ikut makan!"
"Tak usah pak! Aku masih kenyang sama roti." Adeeva pura-pura nggak butuh padahal pingin juga cicipi masakan Koki restoran mahal. Harus jaga gengsi biar tak dianggap murahan oleh Ezra.
"Apa sepotong roti bisa mengenyangkan perut kamu yang kayak karet itu?"
Adeeva melirik perutnya yang rata bebas lemak. Ini hasil kerja keras Adeeva push up dan sit up sebelum berangkat kerja. Atlet olahraga tubuh harus tetap terjaga supaya fit dalam situasi apapun.
"Perut aku belum melar pak! Masih terkontrol maka tidak mau diisi banyak. Aku di sini saja menjaga mobil. Bapak silahkan lanjut!"
"Kapan kau mau jadi anak patuh? Setiap hari melawan, apa tidak capek?"
__ADS_1
Adeeva menunduk malu dianggap pembangkang. Adeeva bukan mau melawan tapi kurang sreg sama bos yang suka main hakim sendiri. Tanpa sidang kasih vonis.
"Iya pak!" Adeeva langsung loyo tak punya energi melawan sang majikan tirani. Mata Adeeva sudah hampir padam tak bisa tahan rasa ngantuk. Banyak kesenangan Adeeva terhempas gara bos tak punya hati.
Ternyata Ezra sudah pesan banyak makanan lezat. Dari daging merah sampai ikan gurame goreng tepung. Betapa nyaman bila semua hidangan pindah ke perut kita. Cacing di dalam sana pasti langsung anteng kena sogokan makanan mahal. Biasa paling mahal ayam goreng salah satu gerai ternama. Itupun sekali-kali kalau baru gajian.
Ezra santai saja duduk tak peduli Adeeva masih segan duduk semeja dengan majikan. Di rumah Adeeva boleh bergaya bak putri raja tapi di sini dia tetap berstatus anak buah. Adeeva berdiri tegak di samping Ezra mengawal sang majikan makan siang.
Ezra mengernyit alis lihat Adeeva tidak tunjukkan gerakan ikut makan. Gadis ini malah siaga menjaga bos kalau tercekik tulang ikan.
"Kau tak lapar?"
"Masih kenyang pak! Silahkan!" Adeeva berusaha bertahan tidak tergoda makanan di meja. Adeeva tak boleh tampak lemah di depan Ezra biar tidak dibodohi laki itu terusan.
Ezra segera menyantap sendirian tak peduli pada Adeeva yang jual mahal. Jual mahal ya kelaparan. Ditawari sok gengsi tak butuh. Padahal air liur hampir jatuh basahi dagu. Adeeva buang mata ke arah lain biar tidak tergiur lihat Ezra makan dengan lahap. Makanan di atas meja pasti enak. Dari cara penataan sudah menarik apalagi rasanya. Maknyus gurih di lidah.
"Sudah lapar?" tiba-tiba Ezra membuyar lamunan Adeeva.
"Lapar...eh.. maksudnya nggak lapar!" Adeeva meringis salah jawab. Untung dapat koreksi seketika.
"Duduk dan habiskan semuanya! Sayang dibuang..."
"Bapak sudah selesai makan? Makan kok cuma sekepal?" Adeeva takjub Ezra akhiri makan siang sementara lauk pauk masih utuh. Malahan ikan goreng belum tersentuh.
"Sudah kenyang...atau suruh packing bawa pulang makan di kantor?"
"Nggak usah pak! Makan di sini saja! Repot bawa sana sini!" keluar juga perut naga Adeeva. Diisi berapa pun pasti muat.
"Duduk dan habiskan!"
"Gratis untukmu!"
Adeeva tak malu-malu lagi hajar semua hidangan. Adeeva mau makan takut Mubazir. Susah bayar mahal cuma dijadikan penghuni tong sampah. Daripada di buang ke tong sampah mending buang ke perut Adeeva.
Ezra tersenyum melihat cara makan Adeeva tidak sok elegan. Semua jenis makan dihajarnya sampai kandas. Lihat cara makan Adeeva saja Ezra ikut kenyang. Begitu alami tanpa rekayasa.
Perlahan Ezra makin mengenal isteri paling bungsunya. Tampaknya tak ada motif tersembunyi di balik pernikahan mereka. Murni karena nazar masa lampau. Nazar yang harus dibayar demi keselamatan kedua pihak.
Masih banyak misteri dalam istana mewahnya. Mengapa sang mama mengalah menyerahkan Adeeva. Padahal Ezra pernah bertanya pada mamanya tentang bayi kecil yang sudah digariskan jadi isteri kelak. Jawabannya tidak tahu di mana Adeeva. Sebagai balasannya Ezra diberi lima isteri terakhir Adeeva jadi genap setengah lusin.
Adeeva sudah muncul sudah saatnya Ezra hentikan kekacauan di rumahnya. Ezra harus benahi semua konspirasi besar dalam keluarganya. Ezra harus selesaikan pernikahan dengan Adeeva dulu. Adeeva harus terdaftar sebagai isteri sah baru bisa urus isteri lain di rumah.
"Pak..." Adeeva goyangkan tangan di depan mata Ezra.
Laki itu tersentak lantas menatap Adeeva yang sudah menyelesaikan makan. Hidangan di atas meja hampir tersapu bersih pindah ke tempat aman. Wajah Adeeva berseri-seri kena hidangan mahal. Makan siang ini bisa bertahan sampai besok. Malam tak perlu makan lagi. Paling ngemil roti dari Ezra. Artinya Adeeva hemat uang makan malam.
"Kita balik kantor atau pulang?" Ezra minta pendapat Adeeva sebelum bergerak mencari tujuan pasti.
"Kantor dong! Kerja aku masih segunung. Di divisi aku juga banyak tugas. Mungkin aku akan berguna membantu pak Judika menyelesaikan konsep yang baru turun."
"Sebenarnya kau ini ditempatkan di bagian apa? Kok serabutan?"
__ADS_1
"Aku bukan mau cari muka melapor keburukan kantor bapak. Tapi pejabat di kantor semena-mena pada karyawan baru macam kami. Divisi kami yang berpikir, atasan kami yang dapat pujian. Bapak kan sudah lihat sendiri cara mereka perlakukan kami. Aku borong semua tugas mereka."
Ezra tidak membantah laporan Adeeva. Dia sudah lihat sendiri kinerja pejabat berpangkat tinggi. Mereka presentasi karya orang lain, akhirnya temukan jalan buntu akibat tak kuasai materi.
"Aku tahu...kamu sudah kerja untukku maka kau tak perlu ikuti permintaan mereka. Kalau kau mau bantu divisi kamu silahkan tapi jangan abaikan tugas penting dariku!"
"Terima kasih pak! I do my best."
"Good...kita balik!" Ezra beri kartunya pada Adeeva untuk bayar makanan mereka.
Adeeva tertegun tak segera terima kartu warna hitam itu. Adeeva bukan orang bodoh tak tahu harga kartu unlimited itu. Bisa belanja sepuasnya tanpa batasan. Hanya orang kaya bisa gunakan kartu itu. Adeeva cuma punya kartu ATM buat tarik uang. Mana ada kartu kredit mainan orang kaya.
"Pergi bayar!"
"Tapi aku tak tahu kata sandi!"
"Kau tahu...tanggal lahir mu!"
"Hah? Tanggal lahir aku? Emang bapak tahu kapan aku lahir?"
Bukan hanya tahu nona kecil. Bahkan Ezra ada di tempat sewaktu Adeeva dilahirkan. Ezra juga orang pertama cium pipi bayi mungil yang baru lahir. Bayi yang ikut menyemarakkan dunia.
"Aku sudah lihat CV kamu."
"Oh... iseng banget gunakan tanggal lahir aku jadi kata sandi bapak! Bisa-bisa aku disate bini bapak. Dipikir aku selingkuhan bapak." sungut Adeeva sambil angkat kaki menuju ke kasir.
Ezra hanya tersenyum dengar omelan Adeeva. Berhadapan dengan suami sendiri saja tak tahu. Mau jadi apa anak ini kelak. Bertahan minta cerai atau menyerah pada Ezra. Ezra mau Adeeva suka padanya setulus hati. Bukan dari paksaan maka itu Ezra belum mau buka cerita siapa dirinya. Biarlah semua mengalir seperti air berakhir di wadah yang sama. Bersatu dalam wadah kokoh.
Selepas kantor Ezra ajak Adeeva belanja keperluan rumah juga keperluan Adeeva. Mungkin Adeeva butuh kebutuhan wanita. Ezra tak melihat Adeeva memiliki sesuatu yang berharga selain seraut wajah cantik. Itu saja modal Adeeva menarik perhatian para pejantan.
Ezra salut pada Adeeva tidak mengambil sepotong barang pun untuk diri sendiri. Semua keperluan rumah Ezra dan bahan isi kulkas. Ezra hanya temani Adeeva memilih barang keperluan tak punya insiatif menambah troli dengan belanjaan sendiri.
"Kau tak beli sesuatu untuk dirimu?" tanya Ezra sesaat mereka melewati bagian kebutuhan wanita.
"Tidak pak! Masih lengkap. Apa aku boleh membeli Snack untuk cemilan malam?"
"Sesuka kamu! Beli saja asal kamu suka."
"Thank you so much!" Adeeva meloncat senang dapat lampu hijau beli cemilan penghalau ngantuk bila lagi banyak tugas. Bekerja sambil mengunyah bisa mengusir rasa ngantuk.
Dalam sekejap troli penuh snack-snack makanan anak kecil. Ezra menggeleng heran mengapa masih ada orang dewasa doyan cemilan anak kecil. Apa ini tanda Adeeva belum tumbuh dewasa? Tubuh doang gede. Akal masih setara anak SMP.
Puas belanja keduanya langsung pulang ke rumah Ezra. Adeeva duluan pulang dengan mobil bututnya. Ezra ntah ke mana tidak searah pulang. Adeeva mana berani bertanya apa yang akan dilakukan oleh bos. Ezra adalah atasan sedangkan dia hanya bawahan. Sekarang lebih tepat dibilang pesuruh Ezra. Semua perintah Ezra harus dikerjakan dengan baik.
Adeeva tahu diri membereskan belanjaan lalu masak untuk makan malam. Masakan Adeeva tentu tak selezat masakan restoran. Namun untuk ukuran rumahan termasuk lumayan. Bukan koki jempolan namun masih bisa dijadikan kawan nasi.
Lewat magrib Ezra baru pulang sendirian. Adeeva berharap bosnya pulang bawa seseorang untuk temani mereka agar tidak berduaan dalam rumah. Sungguh mati Adeeva tak nyaman berduaan dengan lelaki asing walau notabene itu bosnya.
Adeeva sudah rapi menunggu Ezra pulang untuk makan malam. Tak ada yang bisa lakukan selain nonton tv yang iklannya berulangkali hiasi layar kaca. Sebagian durasi habis tersita oleh iklan berbagai produk.
Ezra tidak menegur Adeeva yang duduk manis di sofa ruang tamu. Laki itu nyelonong masuk ke kamarnya tanpa keluarkan sepatah katapun. Ada sesuatu disimpan laki itu. Adeeva tak tahu apa namun tak terbersit sedikitpun di hati ikut campur ranah pribadi Ezra. Tugasnya hanya kerja di kantor dan temani laki ini selama bertugas di sini.
__ADS_1
Adeeva kembali fokus pada layar tv menyaksikan acara talk show dengan puluhan iklan. Tidak terlalu menarik namun cukup bermanfaat bunuh rasa bosan.
Mata Adeeva di layar tapi pikiran melayang ntah ke mana. Bayangan wajah suram Ezra masih bermain di mata gadis ini. Bosnya itu sedang galau. Pertanyaannya apa yang bisa membuat seorang Ezra jadi galau.