
Adeeva menatap iba pada Anisa. Maju kena mundur juga kena. Apapun ceritanya korban tetap mereka yang dibawah. Keset kaki para bos. Kesal tinggal gesekan kaki di atas keset tak tahu betapa sakit keset menahan beban derita akibat ulah para bos.
Adeeva sangat paham situasi di hadapi Anisa. Dia sendiri juga bawahan yang selalu jadi penahan peluru atasan.
"Dan kau Ben! Pergilah jelaskan pada om Jul situasi sekarang! Tunggu aku sehat dulu baru kita bahas soal kontrak. Aku tak mau jadi korban kelicikan mereka. Untuk dua hari ini kau handel semua masalah kantor. Jangan ada kontrak atau cari klien baru. Tunggu perintah dari aku!" pinta Ezra dingin. Kalau bertugas muncul kewibawaan Ezra. Tapi kalau di rumah tak lebih cowok manja caper. Adeeva diam saja lihat apa kemauan Ezra selanjutnya. Asal masih berada di rel sebenarnya dengan senang hati Adeeva laksanakan perintah bos.
"Baik pak! Tapi ponsel bapak tak aktif. Gimana mau hubung bapak?"
"Bukankah masih ada kuda poni? Telepon ke ponselnya saja! Aku akan gunakan ponselnya untuk sementara."
"Eit...itu tidak boleh! Habis pulsa aku! Aku bukan orang kaya." potong Adeeva tinggalkan kesan tak senang.
"Berapa pulsa kamu sebulan? Aku yang bayar. Tugasmu terima telepon dan telepon kalau aku suruh. Keberatan?" Ezra mencari sumber suara Adeeva berbuat seolah dia memang buta. Ezra harus pandai membuat kesan bahwa dia memang betul-betul buta. Ini untuk mendapat perhatian penuh dari Adeeva. Akting luar biasa.
"Sebulan lima ratus ribu. Itu sudah termasuk biaya sewa ponsel."
"Kau mau merampok bos kamu ya?"
"Terserah mau omong apa! Kan yang minta. Aku kan tak nawarin." Adeeva jual mahal biar dapat uang sampingan lagi. Padahal ambil paket telepon bulanan tak sampai seratus ribu. Cari uang sampingan toh bukan dosa. Yang penting halal tak menipu.
"Dasar rentenir..." rutuk Ezra tak berdaya dibuat Adeeva. Dia butuh anak ini untuk bongkar kasus penyimpangan dana maka Ezra harus super sabar. Coba ganti cewek lain persulit Ezra, mungkin sudah dikirim ke planet mars.
"Apa ada rentenir yang cantik, gagah dan pintar?" Adeeva menepuk dada pamer dia orang hebat.
Ruben pusing lihat tingkah Ezra bila bersama Adeeva. Laki hilang pamor CEO lawan Aspri Songongnya. Biarlah mereka berantem sampai bosan. Ruben akan menunggu sampai Ezra bosan pada Adeeva barulah dia akan maju kejar cinta gadis itu.
"Pak...aku permisi dulu!" Ruben pilih tinggalkan kedua manusia aneh itu. Berada di antara mereka kepala ikut pusing.
Adeeva mendengus balik ke meja kerjanya. Ladeni Ezra hanya buang energi. Lebih baik kerjakan tugasnya atur ulang semua sistim dari bawah hingga ke level owner.
Ezra yang tak tahu harus kerja apa. Mau aktifitas di depan Adeeva sama saja umumkan dia tidak buta. Jamin gadis itu akan penggal kepala sampai putus. Anak ini pantang dipermainkan. Pengabdiannya tulus setia walau dibumbui sifat usil.
Detik demi detik berlalu buat Ezra makin bosan sedangkan gadisnya fokus banget pada pekerjaan sampai tak sadar di ruang itu masih ada orang hidup. Orang hidup cacat mata.
"Poni...kita pulang beres-beres ke villa?" tanya Ezra buyarkan konsentrasi Adeeva.
"Kita pergi sekarang?"
"Pulang dulu baru ke sana! Aku agak lelah."
Mata Adeeva terangkat dari layar laptop mengarah pada Ezra yang memang tampak kurang ok. Gadis ini tak memaksa lanjut kerja memahami kondisi Ezra. Bercanda ada waktunya. Bos lagi dalam kondisi kurang fit mana mungkin Adeeva tak peduli.
"Kita pulang! Apa kita tidak ke dokter dulu?"
Ezra goyangkan tangan menolak usulan Adeeva. Pergi ke dokter sama saja buka kartu di depan Adeeva. Sekarang adalah berakting sedang down agar Adeeva timbul rasa belas kasihan.
"Ok deh kita pulang!" Adeeva mulai tunjukkan jiwa malaikatnya. Gadis ini bantu Ezra beres-beres untuk pulang.
"Kasih tahu Ruben kita sudah pulang. Minta kunci mobil padanya. Kita akan liburan di villa. Aku butuh ketenangan."
__ADS_1
Adeeva terkekeh geli bayangan ketenangan apa yang dicari Ezra bila lima ekor ulat bulu keliaran di sekitarnya. Bukan ketenangan malah bencana. Semua pasti ingin dekat dengan suami mereka. Semua punya hak atas Ezra. Itu bukan urusan Adeeva. Tugasnya cuma kawal Ezra dan jaga dia segala kemungkinan buruk.
Adeeva cari Ruben dulu sebelum ajak Ezra pulang. Adeeva perlu kunci dan surat keterangan pemilik kendaraan biasa disebut STNK. Adeeva paling malas urusan dengan pihak kepolisian apabila kena tilang. Yang salah bukan polisi tapi mereka yang tak lengkapi kenderaan dengan surat lengkap.
Ruben dan Adeeva berdampingan mengantar Ezra sampai ke mobil bertubuh kekar. Adeeva cocok kendarai mobil tegap itu karena diapun punya sesuatu yang bisa dibanggakan sebagai seorang atlet seni bela diri.
"Selamat berlibur pak! Kalau perlu sesuatu telepon saja. Aku akan datang. Tak perlu kuatir tentang kantor. Aku akan tutup semua akses mereka main curang." janji Ruben sebelum Ezra pergi. Ruben harap Ezra segera pulih agar perusahaan cepat berjalan normal lagi.
"Kupegang janjimu!"
Adeeva sudah duduk di belakang stiur memberi kesempatan pada Ruben dan Ezra ngobrol. Mereka tak tahu kalau dari atas ada sepasang mata sedang awasi gerak gerik Ezra dan Ruben. Mata itu belum menangkap adanya bahaya dari Aspri Ezra yang baru. Seorang gadis bisa apa kalau bukan hanya sekedar pemanis buat seorang CEO.
Pemilik sepasang mata itu adalah om Jul yang sedang kebingungan soal sistim. Orang yang dia bayar perbaiki sistem belum berhasil patahkan sandi yang dibuat Adeeva. Adeeva bukan orang bodoh tak tahu bakal ada saingan akan coba buka kata sandi darinya.
Uang triliunan raib tanpa bekas. Tersangka utama tentu pak Jul yang kelola uang perusahaan. Pak Jul bukannya tidak galau ada orang bermain di belakang layar. Namun Pak Jul belum curiga siapa orangnya. Orang itu pasti orang hebat. Begitu Ezra kecelakaan semua uang yang bersangkutan dengan Ezra raib tanpa jejak.
Pak Jul segera angkat telepon begitu melihat mobil Ezra meninggalkan halaman kantor. Dari atas pak Jul melihat Ruben tinggalkan halaman parkir masuk ke dalam kantor.
"Halo mbak...dia sudah pergi!"
"Aku tahu. Dia ada janji dengan isteri-isterinya untuk liburan ke villa. Sepertinya dia hilang semangat gara matanya buta. Kau berhasil mendapatkan tanda tangannya?"
"Tidak...ada Ruben di sampingnya! Kita harus tunggu dia lengah. Kita depak dia dari perusahaan biar aku bisa naik jadi pemilik tunggal."
"Bukan hal gampang bila ada Ruben lindungi dia. Aku juga salah tidak jenguk dia sesaat kecelakaan. Aku panik tiba-tiba semua uang raib. Untung aku ada transfer sedikit ke Joana. Kita jatuh miskin Jul!"
"Kau tenang dulu. Coba kau cari pakar yang lebih lihay. Orang bisa kenapa kita tak bisa. Ada orang yang kau curigai?"
"Ada...Si Jal. Bukankah dia selalu ingin menang dari kita? Triknya jauh lebih kotor."
"Tapi dia di Sulawesi."
"Ya ampun kak! Permainan ini tak perlu orangnya hadir di depan hidung kita. Cukup satu jari bisa hancurkan kita." Jul teringat pada adik kandungnya yang juga berambisi jadi pemilik perusahaan tambang terbesar di tanah air.
Siapa tidak tergiur menjadi lelaki dengan bergunung-gunung emas di sekeliling. Hidup mewah dikelilingi oleh barang-barang branded, digilain oleh puluhan wanita dari yang terjelek sampai yang tercantik. Pak Jul sudah bayangkan kehidupan demikian sejak diangkat jadi direktur utama oleh Ezra.
"Aku tak mau tahu kau harus usaha kembalikan semua uang aku! Aku tak mau hidup dalam kemiskinan."
"Mbak pikir aku pingin? Aku lagi pusing mikirin anakku yang sedang kuliah di Amerika. Dari mana biaya bulanan bila uang kita belum ketemu nyasar ke mana."
"Anakmu kuliah apa jadi wanita murahan di sana? Tiap bulan habiskan dana besar kuliah tak beres. Kau lihat Joana! Sukses di Australia."
"Sukses apanya? Bukankah juga minta uang untuk foya-foya. Kerja sehari langsung bikin laporan sudah hebat. Nggak usah sok penting! Uang yang kamu kirim Kujamin seminggu ludes."
"Jangan doain yang jelek! Kalau bukan aku kamu masih jadi gelandangan. Cari solusi selesaikan Ezra."
"Kalau main nyawa aku tak berani mbak! Aku memang pembohong dan pencuri tapi aku bukan pembunuh. Kalau itu tak perlu mbak harapkan dari aku. Oya ..Ezra ada kirim kode untukku buka akunnya. Ini artinya dia masih percaya padaku. Aku takkan siakan kesempatan ini beli hatinya."
"Bagus. Coba kau buka akun apa itu? Mungkin dana simpanan dari suami aku dulu."
__ADS_1
"Maksudmu mas Leo ada dana simpanan?"
"Kurasa ada. Setelah berhasil kau buka kasih tahu aku isinya apa."
"Iya...mbak tamak sekali. Cukup nggak cukup. Sekarang kita berada di pinggir jurang mbak masih pikir dana lain. Mungkin Ezra mau test aku! Aku takkan bodoh masuk perangkap."
"Gimana kalau isinya rekening Trilliunan. Cukup sekali kamu pindahkan semua akan hidup makmur."
"Parah amat kau mbak! Ezra itu anak yang kau asuh dari kecil. Apa tak ada rasa iba lihat kondisinya? Kacau kau ini mbak! Sudah ah! Aku mau kerja dulu." Pak Jul menutup telepon dengan kasar.
Dia sudah cukup tamak, nyatanya ada yang lebih tamak darinya lagi. Bu Humaira parah habis. Anak yang dia asuh sejak bayi mau dihabisi. Ibu model apa itu? Pak Jul tamak tapi belum terpikir berbuat sejauh itu. Apa kata Ezra bila tahu orang yang dia hormati ingin nyawanya.
Pak Jul kembali pikir cara selesaikan kontrak dengan klien Jepang yang mau beli hasil tambang dari perusahaan mereka. Untuk sementara Ezra bekukan kontrak. Kepala pak Jul auto puyeng. Obat paling mujarab pun takkan mampu sembuhkan kepala yang terlanjur diajak naik Komidi putar.
Di apartemen Ezra jauh dari kantor. Adeeva sedang menyiapkan pakaian Ezra dan pakaiannya untuk berlibur beberapa hari. Adeeva rasa ini bagus untuk kesehatan Ezra. Biarlah laki itu tinggalkan semua keruwetan bisnis fokus cari kembali penglihatannya.
Ezra hanya bisa duduk manis menunggu Adeeva menyiapkan segalanya. Dia tak bisa berbuat apa-apa selain duduk tenang harap Aspri istimewa ini maju ke depan kawal dia.
Sebelum pergi Adeeva periksa semua keamanan rumah. Dari kompor sampai aliran listrik. Ini wajib dipatuhi untuk hindari bencana akibat kelalaian manusia.
Setelah semua aman Adeeva segera bawa Ezra menuju ke tempat yang dituju. Adeeva belum pernah main ke villa suaminya karena memang tak mau tahu apapun tentang aset Ezra. Dia hanya isteri persinggahan.
Adeeva singgah di minimarket beli air mineral dan Snack untuk jadi cemilan di kala mulut lagi nganggur. Lumayan manjakan mulut selama perjalanan.
Selama Adeeva pergi belanja, secara diam-diam Ezra meneleponi seseorang meminta orang itu menyediakan sesuatu untuk diantar ke villanya. Tampaknya seperti sangat rahasia. Hanya Ezra yang ngerti isi pesan rahasia ini.
Ezra pura-pura tak lihat Adeeva beli berkantong-kantong cemilan. Makanan tak sehat namun paling dicari untuk isi perut di kala santai.
"Beli apa?" tanya Ezra seolah tak lihat gadis ini masukkan berkantong makanan ke jok belakang.
Adeeva tersenyum licik tak mau beritahu apa yang dia beli. Pasti sejuta kata protes muncul dari bibir kasar nan sensual milik Ezra. Bibir yang digilai para wanita. Adeeva sudah beberapa kali kena sapuan bibir itu. Harus diakui bibir itu memang dahsyat.
"Hanya makanan kecil. Kita berangkat pak! Baca bismillah dulu dalam hati agar selamat sampai ke tujuan." oceh Adeeva melirik Ezra berharap laki itu beri jawaban memuaskan.
"Kamu yang pintar baca saja! Aku numpang saja!"
Adeeva mendengus tak suka jawaban kurang memuaskan. Maunya laki itu peka ngerti apa arti memohon pada Yang Maha Kuasa.
Adeeva tidak jawab melainkan hidupkan mobil menuju ke tempat di mana selirnya yang lain sedang menunggu. Tak dapat dibayangkan betapa heboh liburan kali ini. Adeeva tak sabar menanti tayangan sinetron live di villa nanti. Adeeva cukup nikmati setiap adegan demi adegan konflik para isteri rebutan suami. Jamin tayangan lucu.
Bayangkan itu saja perut Adeeva geli sendiri sehingga tanpa sadar gadis ini tertawa kecil. Ezra menangkap tawa Adeeva mulai berpikir apa isi otak anak ini. Mau bertanya takut ke buka kartu pura-pura buta.
"Villa arah mana? Jangan-jangan nyasar pula ke planet Jupiter?" canda Adeeva hibur bosnya yang dirundung duka.
"Arah ke Puncak. Aku jadi berpikir jangan-jangan kamu ini alien nyamar jadi manusia."
Tawa Adeeva pecah merasa lucu Ezra punya pikiran kurang waras kayak gitu. Jelas laki ini sedang hilang akal sehat. Gadis semanis Adeeva dianggap alien.
"Tenang pak! Aku pasti bawa bapak ke planet aku untuk jadi bahan penelitian. Kok ada makhluk bumi demikian mesum."
__ADS_1