
Nunik dan Adeeva segera meninggalkan lokasi tempat tinggal Ezra sebelum kepergok laki itu. Adeeva ingin pulang ke rumah orang tuanya tapi takut Ezra pasang mata-mata di situ. Adeeva banyak memegang rahasia perusahaan Ezra. Jauh dari kemungkinan Ezra akan lepaskan Adeeva begitu saja. Segala upaya pasti ditempuh laki itu untuk mencari Adeeva sampai ketemu.
Nunik bawa Adeeva ke rumahnya agar cewek ini tidak terlunta-lunta di luar sana. Balik ke kota B merupakan hal paling berbahaya. Ezra tak mungkin lewatkan tempat itu lacak keberadaan Adeeva.
Orang tua Nunik jarang di rumah sedangkan Satria sibuk dalam tugas sehingga kedua cewek ini selalu berdua di rumah ditemani para pembantu.
Sepulang dari rumah Ezra kedua cewek ini diskusi langkah Adeeva selanjutnya. Keduanya berbaring santai di kasur mahal Nunik. Adeeva menatap langit-langit sedangkan Nunik menatap Adeeva dari samping. Wajah Adeeva sangat cantik cuma sayang perjalanan cinta sangat buruk. Nunik tidak tahu apakah ada cinta di dalam hati ada Adeeva terhadap Ezra. Ezra tak pantas dicintai kalau ingat kelakuannya yang merendahkan wanita. Mentang-mentang dia kaya bisa berbuat semaunya terhadap wanita.
"Kau sudah hubungi orang tuamu?"
"Belum...Abah dan Umi pasti syok lihat tingkah laki itu. Abah sudah percaya padanya tapi dia malah bikin sensasi luar biasa. Aku harus bisa meyakinkan Abah untuk membantuku menuntut perceraian."
"Kurasa abahmu pasti akan mengijinkan kamu bercerai daripada si ikan paus itu. Tak ada lagi yang perlu kamu ingat dari laki itu."
"Kurasa juga begitu. Aku coba telepon Abah dulu ya! Pulang ke sana tak mungkin. Ikan paus pasti sudah pasang mata-mata di sana."
"Cobalah!" Nunik beri spirit pada Adeeva untuk segera akhiri pernikahan tak sehat ini.
Adeeva mencari-cari ponselnya di dalam kantong celana. Cewek ini mendesah tak menemukan benda ajaib penghubung dunia itu.
"Hp aku mana?" Adeeva mendadak bangkit mencari benda penting itu.
Nunik tertawa geli Adeeva mencari benda itu sementara benda itu berada di atas perutnya. Adeeva bangkit benda itu auto melorot ke kasur.
"Ckckck...umur sejagung pikun seabad. Gue curiga lhu jatuh cinta pada si paus maka lhu kepikiran."
"Cis...gue pingin lumatkan dia! Dia telah rampas semua kebahagiaan aku. Gue telepon Abah dulu. Diam dulu bibir cerewet lhu!" Adeeva menekan kontak Abahnya.
Sudah berada di tahap ini siapa lagi akan jadi pelindung kalau bukan orang tua sendiri. Mengadu pada orang tua adalah solusi tepat.
"Assalamualaikum Abah!"
"Waalaikumsalam. Kau telepon juga. Gimana kabarmu nak? Abah dan Umi kamu kuatir tentang kamu."
"Eva baik saja Abah. Sekarang Eva di rumah Nunik. Abah dan Umi sehat?"
"Sehat..kenapa tak pulang rumah saja? Abah bisa jaga kamu."
"Belum bisa bah. Eva takut laki itu cari ke rumah Abah. Abah harus bantu Eva tuntut cerai dari laki itu. Eva tak mau lagi jadi bulanan laki itu. Ini saat tepat tuntut cerai."
"Abah dan Umi juga pikir gitu. Abah akan paksa dia talak kamu."
"Tak segampang itu bah! Laki itu sudah urus surat nikah kami secara legal. Kita harus tuntut ke pengadilan agama. Minta tolong sama bang Farhan untuk urus semuanya biar Eva bisa hidup normal seperti dulu. Laki itu mafia bah!"
"Gitu ya! Baik...Abah segera laksanakan permintaan kamu. Kamu jaga diri ya nak! Abah dan Umi akan bela kamu walau apapun terjadi. Maafkan Abah telah paksa kamu menikah dengan serigala. Abah menyesal bukan main."
"Tak ada perlu disesali. Apa Eva boleh ke Singapore? Di sana sampai semua aman."
"Kenapa tidak? Abah akan kirim uang untukmu."
"Terima kasih Abah. Salam untuk Umi dan semuanya. Eva sayang pada kalian."
"Abah juga. Nanti kalau kau sudah di sana Abah dan Umi nyusul ke sana. Kita jumpa di sana."
"Baik Abah. Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam.."
Adeeva melempar ponsel ke kasur tak peduli nasib benda itu mau protes tak guna soalnya pemilik lagi hilang akal sehat.
"Aku kabur ke kampung Umi saja!"
"Emang Singapore itu kampung?"
"Pokoknya itu kampung kelahiran Umi. Mau kota gede tetap disebut kampung halaman. Lhu ikut nggak?"
__ADS_1
"Dari pada lhu kabur jauh gimana kalau kita cari juragan sapi? Selesaikan amanah bokap dan nyokap! Anggap kita jalan-jalan buang stress." usul Nunik kasihan pada nasib sahabatnya itu.
"Lhu siap jumpa hello Kitty?"
"Mau hello Kitty maupun boneka Barbie tetap harus jumpa untuk selesaikan masalah berbelit ini." Nunik busungkan dada sok kuat padahal dalam hati ngeri bayangkan jumpa cowok Cinderella.
"Gue nggak yakin lhu siap. Emang di mana sih kampung calon laki lhu?"
"Punya mulut dijaga sopan santun! Apa gue sudah bilang terima cowok itu? Cuma mau pastiin dia itu makhluk amphibi jenis apa? Buaya buntung atau katak dalam tempurung."
"Kasih waktu aku berpikir. Emang kita ke sana dengan apa? Gue takut laki itu pantau setiap terminal atau stasiun. Apalagi bandara."
"Nah lhu mau kabur ke Singapura! Lebih cepat ditangkap sama ikan itu."
"Betul juga ya! Kita pergi dengan mobil saja. Gue nyetir."
"Ogah...lhu lagi sakit jiwa gitu bawa mobil! Ntar kita sudah pesan lahan satu kali dua. Gue yang pesan tiket. Lhu tenang aja! Mau kabur dengan apa? Super bus atau kereta super cepat?" Nunik menyombongkan diri bisa tangani pelarian mereka. Jujur Nunik tak ingin ditinggal oleh Adeeva. Adeeva teman menyenangkan bisa imbangi jiwa bebasnya. Tak ada rasa iri apalagi sok jaim.
"Maunya naik pedati ya! Tak ada yang pantau kita." gumam Adeeva bikin Nunik ngakak habis. Masa ke Jawa Tengah naik pedati. Berapa tahun sampainya?
"Gini saja! Kita naik sepeda saja! Anggap latihan otot kaki." Nunik beri usul lebih gila.
"Dasar stress..." omel Adeeva tak tertarik pada usulan Nunik.
"Lalu naik pedati waras? Lhu yang stress habis! Sama pesawat saja. Biar kuurus tanpa libatkan namamu! Ok?"
"Sayang duit sis! Pesawat kan mahal. Mending kita beli sate satu gerobak. Gue lagi bokek nih. Manalagi belum gajian."
Nunik memeluk Adeeva dari samping supaya dekat dengannya. Saat beginilah Adeeva butuh perhatian dari sahabat.
Adeeva rebahkan kepala ke bahu Nunik. Nunik jadi sandaran Adeeva halau kesedihan di dada. Adeeva mulai simpatik pada Ezra tapi sayang lelaki justru hancurkan rasa simpatik itu. Adeeva kesal dan sedih percaya pada Ezra. Adeeva akan tetap beri pelajaran pada Ezra dan Sonya sampai kedua makhluk itu kapok terlahir ke dunia ini.
"Terserah kamu deh! Diajak ke Antartika juga ok! Kali aja ada duda beruang nyari bini. Aku bisa jadi nyonya beruang." ujar Adeeva asalan.
"Edan...besok saja! Mana pesawat malam ke rumah hello Kitty lhu! Emangnya di mana sih?"
"Blora..."
"Cek dulu jadwal terbang sis! Jangan main tebak!"
"Ok..." Nunik cari jadwal terbang Ke kota Jawa Tengah itu. Nunik hanya ingin hapus kesedihan di wajah Adeeva setelah Ezra bikin skandal sangat besar. Semua media masih sibuk kejar berita ini cari tahu di mana Sonya dan Ezra. Keduanya lenyap bak di telan bumi. Adeeva sudah persiapkan skenario lebih hebat untuk antar Sonya ke derita lebih dahsyat.
"Hei...ini ada penerbangan sore ini! Ayok bersiap kita cabut!" seru Nunik membuat Adeeva kaget. Tiada badai tiada angin berseru kayak kesetanan.
"Ya Allah...kayak mau jalan ke mal saja! Ijin dulu sama nyokap ataupun bang Satria. Nggak boleh praktek jurus orang mabuk."
Nunik tertawa malu kelewat semangat sampai lupa prosedur semestinya pergi jauh. Ke Jawa Tengah bukan tempat dekat. Naik pesawat makan waktu satu jam lebih. Dengan kenderaan darat bisa puluhan jam.
"Sori sis! Over semangat! Gue telepon nyokap dulu ya! Dia pasti senang gue mau jumpa hello Kitty. Emang itu harapannya."
"Terserah deh!" sahut Adeeva kurang bergairah. Separuh jiwa Adeeva terbawa oleh kebejatan Ezra. Lelaki dengan setengah lusin selir masih simpan cewek untuk lampiaskan nafsu setan.
Nunik bawa ponsel keluar kamar untuk bicara dengan mamanya tentang rencana dia dan Adeeva sambangi juragan sapi hasil rekomendasi mamanya. Mama Nunik tentu girang bukan main akhirnya Nunik luluh mau jumpa anak sahabatnya. Nunik langsung dapat stempel ijin berangkat.
Nunik balik masuk kamar lapor pada Adeeva hasil obrolan dengan nyokap gaulnya. Sebenarnya tak ada niat Nunik jumpa lelaki bikin ilfil itu. Namun demi Adeeva yang moodnya lagi berantakan Nunik bersedia lakukan apapun. Menghindar ke tempat tak pernah terpikir oleh Ezra adalah jalan terbaik.
Nunik naik ke ranjang rebahan di samping Adeeva ikutan menatap langit-langit. Langit-langit jadi layar kosong isi imajinasi dari otak kedua cewek ini. Masing-masing menayangkan kisah sesuai keinginan hati.
"Sudah tamat?" tanya Nunik setelah lama saling berdiam diri.
"Apanya tamat?" Adeeva miringkan kepala hadap ke wajah sahabatnya.
"Angan liar lhu! Gue sudah minta ijin kabur ke Jateng. Dan kita dapat restu. Semua biaya ditanggung nyokap. Kita terbang sore ini. Bersiaplah!"
"Kau memang gila. Barusan rencana sekarang kau ajak terbang. Aku masih bimbang pergi ke sana. Tadi Abah suruh ke Singapura. Kok malah kabur ke Jateng?"
__ADS_1
"Bukan Abah yang suruh tapi lhu yang minta! Kita ke Jateng sekalian bantu aku tuntaskan perjodohan ini. Gue bisa bebas cari pacar sendiri."
Adeeva melihat kesungguhan di wajah Nunik mau bereskan perjodohan tak kunjung selesai ini. Nunik mau melangkah cari pacar takut kena Omelan sang nyokap rada egois itu. Kalau Nunik sudah jumpa merasa tak cocok maka nyokap tak ada alasan memaksa Nunik lagi.
"Baiklah kita jumpa hello Kitty! Tunggu aku datang hello Kitty tersayang!" olok Adeeva buat muka imut Nunik berlipat jengkel.
"Sarap..." Nunik melempar pandangan membunuh kepada temannya. Adeeva bukannya ketawa malah senang.
Nunik dan Adeeva segera bersiap kejar pesawat ke tempat baru. Mereka berdua belum pernah main ke kota yang sangat terkenal dengan satenya yang lezat.
Di belahan lain Ezra masih dipenuhi rasa sesal tak dapat dilukis dengan gambar. Harinya menjadi sepi tanpa celoteh maut Adeeva. Ezra mulai terbiasa dengan Adeeva walau katanya suka bikin kuping panas.
Ezra merindukan kata pedas anak itu. Sayang ntah ke mana anak itu ngumpet. Ezra sudah kerahkan anak buah cari Adeeva di kota B dan hasilnya nihil.
Ezra masih di villa tunggu rumor agak reda baru kembali ke kantor. Siapa berani ngejudge laki ini. Ezra lelaki kaya wajar punya simpanan. Yang tidak wajar Sonya beri contoh buruk pada masyarakat menjadi wanita simpanan dan murahan pula.
Ezra tidak pura-pura buta lagi. Sekarang tak ada gunakan kebutaan jerat Adeeva. Cewek itu sudah pergi ntah kemana.
Selagi Ezra melamun wanita kesayangan kabur tanpa kabar ponsel Ezra berbunyi.
Laki ini mengangkat setelah yakin yang telepon orang pantas diajak bicara.
"Halo...ada apa?"
"Poni ada di sekitar kita! Tadi pagi dia datang ambil bajunya di apartemen. Dia langsung pergi setelah itu."
"Kenapa tidak ditahan?" seru Ezra naikkan oktaf suara. Kalau ada nyamuk lewat langsung pingsan kena sembur suara bernada tinggi.
"Bagaimana mau ditahan? Orang aku baru dapat laporan dari pengawas apartemen. Poni tertangkap di layar Cctv."
"Sialan...apa kerjamu sampai dia lolos lagi? Cari sampai dapat!"
"Ke mana mau cari lagi pak? Poni itu jarang berteman kecuali dengan orang klub. Orang klub...aku ingat! Itu anak yang ikut nonton tanding klub. Aku akan segera ke rumah anak itu. Mengapa tidak terpikir olehku anak yang sama gilanya."
"Anak mana lagi?"
"Teman yang ikut dia ke kota B nonton pertandingan taekwondo itu. Pasti bersama anak itu. Mereka berteman baik. Aku segera ke rumahnya."
"Cari sampai dapat! Lusa aku mau balik ke kantor. Aku tak mau jumpa wartawan. Ingat itu!"
"Baik pak! Oya pihak manager Sonya ada hubungi aku minta jumpa."
"Mau apa mereka?"
"Mereka memohon agar bapak mau akui Sonya sebagai isteri agar dia bisa kembali berkarir. Sonya sangat terpukul di depak dari dunia hiburan."
"Mereka pikir aku ini yayasan sosial tampung orang buangan? Dia bikin skandal dan sekarang minta diakui. Hebat..dia pintar merencanakan semua ini. Tolak semua atas nama Sonya. Jangan sekali-kali kau ungkit nama itu lagi!"
"Iya pak! Aku akan usaha yang terbaik. Aku pergi jumpa Nunik dulu?"
"Siapa Nunik?"
"Teman si Poni."
"Secepatnya dapat kabar!"
"Iya pak!"
Ezra melempar ponsel ke sofa kesal Ruben terlambat deteksi teman Adeeva. Ke mana otak anak ini.
Rasa rindu pada Adeeva semakin merajai jiwa Ezra. Makin diingat makin menggila kerinduan itu.
Ruben dan Ezra tak tahu kalau orang yang mereka incar sudah terbang ke belahan pulau Jawa lain. Untung Nunik tanggap segera berangkat. Satu mereka berangkat Ruben datang bertamu cari Nunik. Ruben tentu saja tidak bilang cari Adeeva pada penjaga rumah mewah itu. Orang tua Nunik pasti bukan sembarangan orang.
Ruben mendapat jawaban sangat mengecewakan kalau Nunik telah berangkat ke luar kota bersama temannya. Ruben menduga keras kalau teman Nunik itu Adeeva.
__ADS_1