Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Petik Pelajaran


__ADS_3

Ezra merasa diusir dari rumah. Padahal Ezra ingin lebih lama bersama anak-anak. Ezra belum puas melihat anak-anak karena tadi pagi dini masih ngantuk. Hari ini Ezra ingin melihat anaknya lebih teliti.


Belum apa-apa sudah disuruh pergi oleh mertua. Ezra mau membantah takut dibilang lawan orang tua. Laki ini mau tak mau harus pisah sebentar untuk segera ke kantor. Ezra bukan tak percaya pada kedua orang tua Adeeva rawat isterinya melainkan Ezra masih pingin bersama anak isteri di hari penting ini.


"Umi...bolehkah aku lihat mereka sebentar lagi?" Ezra memelas pada Umi. Ezra pikir Umi lebih punya hati biarkan sang papa lewatkan waktu bersama anak.


"Tentu saja. Mau gendong? Biar Umi bantu kamu." Umi mengangkat salah satu anaknya berikan pada Ezra.


Ezra merasa geli harus gendong bayi merah. Tangannya belum terbiasa pegang makhluk demikian lemah nan imut.


"Ngak usah Umi. Nanti malah jatuh." Ezra menolak merasa tak mampu pegang di bayi.


"Kok gitu? Itu anakmu lho! Abahmu langsung bisa gendong. Ayoklah! Buka tanganmu!" Umi mengarahkan Ezra untuk belajar pegang anaknya.


Semula Ezra ragu namun Umi terusan mendesak membuatnya harus mencoba. Ezra agak gemetar menerima salah satu bayinya. Perasaan Ezra seperti anaknya bisa jatuh di tangannya padahal tangannya cukup besar untuk memeluk tubuh mungil itu.


Ezra berhasil memeluk bayinya dekatkan ke dada. Bayinya anteng karena kenyang atau terasa ikatan batin anak bapak terkait erat. Bayi itu damai dalam rengkuhan sang bapak.


Abah dan Umi tersenyum melihat menantu mereka belajar bertanggung jawab pada bayinya. Satu pemandangan langka CEO top belajar mengasuh bayi. Kalau sempat ada orang ambil foto masukkan ke medsos pasti akan viral.


"Yang mana Abang, yang mana adik?" tanya Abah bingung karena kedua bayi tampak sama.


"Di gelang tangan mereka ada tercantum jam kelahiran mereka. Sudah ada nama?"


"Belum Umi...aku harus minta pendapat Adeeva dulu. Dia yang mengandung para bayi ini maka dia paling berhak tentukan nama anak-anak." kata Ezra pelan takut bayinya terganggu oleh suara.


Umi puji kebesaran jiwa Ezra hargai perjuangan Adeeva melahirkan anak kembar. Ezra banyak berubah dibanding dulu. Mungkin inilah dikatakan takdir jodoh Ezra. Begitu banyak isteri namun tak satupun kena di hati laki ini. Begitu jumpa Adeeva semuanya berubah.


Ezra gantian gendong anaknya. Keduanya nyaris sama hampir tak ada bedanya. Sulit bedakan kedua bayi itu. Ezra dan Adeeva harus buat tanda agar mereka bisa bedakan bayi mereka.


Tak lama datang perawat cek kondisi kedua bayi dan ibunya. Mereka cek sebelum dokter datang lihat kondisi sang ibu pasca melahirkan. sejauh ini semuanya tampak sangat oke.


Perawat itu membersihkan bayi dengan air hangat lalu mengganti pakaian sang bayi dengan telaten. Tidak rugi Ezra membayar mahal-mahal biaya rumah sakit karena setimpal dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak rumah sakit.


Adeeva dibangunkan untuk tensi darah serta cek denyut nadi. Adeeva sendiri terbangun merasa satu badan agak lemas walaupun tidak merasa sakit.


Adeeva masih linglung tak percaya sekarang sudah menjadi ibu dari dua bayi ganteng. Setelah melihat perutnya sudah rata barulah Adeeva ngeh bahwa dia sudah melahirkan.


"Semuanya sehat. Ibu mau kamu kawani ke kamar mandi? Kita bersihkan badan dengan air hangat." perawat menawarkan jasa dengan sikap menyenangkan. Dari sikapnya saja sudah membuat pasien tenang.


"Iya sus! Aku juga merasa sangat lesu. Mungkin setelah bersih-bersih bisa lebih segar. Terima kasih sus!"


Perawat itu membantu Adeeva turun dari tempat tidur dengan perlahan. Semua gerakan mesti hati-hati karena di perut Adeeva ada bekas sayatan operasi.


Ezra lega ada pelayanan sempurna dari rumah sakit. Dengan begini dia tidak perlu khawatir kalau anak dan istrinya akan mengalami sesuatu tak diinginkan.


Abah dan Umi juga tenang melihat para perawat yang sangat ramah. Rasanya keluarga pasien tidak perlu repot turun tangan merawat pasien karena pelayanan yang sangat baik. Ada sebagian rumah sakit tidak mau tahu membabankan semuanya kepada keluarga pasien.


"Syukurlah perawatannya ramah! Abah rasa kamu sudah boleh berangkat ke kantor nak Ezra. Tak baik meninggalkan tugas terlalu lama. Adeeva akan baik-baik saja bersama kami. Kamu pergilah ke kantor!"


Ezra mengangguk. Dia sendiri merasa tenang untuk meninggalkan Adeeva kepada keluarganya karena perawatnya sangat sigap.


"Ya Abah! Aku akan segera berangkat ke kantor. Titip Adeeva dan anak-anak ya! Katakan pada Adeeva kalau aku sudah berangkat kerja untuk dia dan anak-anak. Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." sahut Umi memandang bangga pada menantunya. Bisa ingat anak isteri merupakan hal terpuji.


Abah angguk puas Ezra berubah patuh tidak arogan berbuat semaunya. Sebenarnya orang hanya mendengar kalau Ezra itu orangnya kejam tidak punya perasaan. padahal dari dulu Ezra itu orangnya baik dan penuh toleransi. Kalau tidak mana mungkin dia bisa bersabar dengan keluarga Pak Joel dan selir-selir di rumah atas rekayasa Bu Humaira. Dasarnya Ezra itu adalah lelaki yang baik.


Ezra tidak singgah di rumah Abah melainkan langsung ke kantor karena perlengkapan Ezra sebagian ada di kantor. Lelaki ini bisa ganti pakaian di ruang kerjanya.

__ADS_1


Biasa Ruben yang menyambut Ezra tapi kini Supono yang ganti posisi Ruben menanti bos di depan pintu masuk kantor. Laki itu tampak sudah lebih gagah. Gaya lebay perlahan berkurang akibat tekanan dari tugas segunung. Supono tak punya kesempatan memikirkan semua gaya negatif.


"Selamat pagi pak!" sapa Supono sopan nan lembut.


Ezra mengangguk dengan ramah. Hati Ezra sedang berbunga-bunga dikaruniai dua anak kembar. Ezra ingin semua orang tahu dia sedang bahagia.


"Hari ini ada jadwal meeting penting?" tanya Ezra sambil melangkah. Supono segera jejeri langkah imbangi langkah besar Ezra.


"Tidak ada pak. Cuma nanti kita ada rapat dengan dewan direksi dari seluruh cabang kantor."


"Tunda dulu sampai besok. Oya...bos kalian sudah melahirkan! Anak ibu sehat." ujar Ezra memberitahu Supono ingat Supono dan Adeeva adalah teman baik.


"Adeeva sudah punya baby? Alhamdulillah...laki ya pak?"


"Iya...kembar indentik. Mereka semua dalam kondisi sehat dan baik."


Supono sangat gembira mendapat kabar baik ini. Sebagai seorang teman supono tentu ingin adeva mendapat apa yang dia inginkan.


"Apa aku boleh melihat mereka?"


"Tentu saja. Adeeva pasti senang melihat kehadiranmu."


"Terima kasih pak!" ujar Supono lebih mirip orang berseru.


Ezra tak jawab lagi. Ezra tak sabar ingin kasih tahu Ruben kalau Adeeva sudah melahirkan. Kabar baik ini harus segera disebarkan kepada keluarganya. Saat ini yang paling dekat dengan Ezra hanyalah Ruben.


Sesampai di dalam ruangan kantor segera mengeluarkan ponsel untuk mengabari Humaira dan Bu Yuni. Apapun kesalahan Bu Humaira dia tetap wanita yang telah membesarkan Ezra. Baik buruk Ezra tetap harus memberitahunya.


Ezra duluan menelepon Ibu Yuni yang dia anggap jauh lebih baik daripada Bu Humaira. Kini Bu Yuni telah hidup bahagia bersama pasangan barunya di kota lain. Ezra turut mendoakan kebahagiaan mantan isteri bapaknya itu.


"Assalamualaikum Bu.."


"Hakim...tumben telepon ibu? Apa kabar nak?"


"Oh maaf Ibu lupa. Ibu terlalu senang mendengar suaramu. Kamu banyak berubah ya nak! Waalaikumsalam..."


"Ini semua berkat kesabaran Adeeva membimbing aku menjadi manusia yang lebih baik. Sekarang hidupku lebih damai sentosa tanpa trik jahat. Aku menelepon ibu untuk memberitahu bahwa adeeva sudah melahirkan sepasang bayi kembar."


"Wow... aku telah menjadi seorang nenek dong! Bagaimana kabar mereka?"


"Alhamdulillah mereka bertiga dalam kondisi stabil. Kapan ibu mau datang melihat cucu ibu?"


"Secepatnya. Nanti kamu kirim foto mereka ya! Ibu tak sabar mau lihat Hakim kecil. Mamamu sudah tahu?"


"Belum. Rencananya setelah menelepon Ibu aku akan menelepon Mama mengabari kabar ini."


"Andai dia tahu kamu duluan telepon ibu dia pasti akan kecewa. Kesehatannya sudah tidak bagus. Baru ini kudengar dia masuk rumah sakit karena hipertensi. Mamamu sangat terpuruk sejak keluarga adiknya hancur lebur. Kudengar si Ika sudah buka salon sedangkan si Ilham membawa taksi online."


"Begitu lah adanya! Aku tak mungkin membawa mereka kembali ke perusahaan yang sedang stabil ini. Mereka telah membawa nota hitam di dalam perusahaan. Kuharap Ibu memaklumi keadaan aku."


"Ibu tahu nak! Apa kamu tahu kondisi mantan istri-istrimu yang lain?"


"Tidak...aku tak pernah menghubungi Mereka lagi sejak mereka pindah dari rumah. Aku tak mau memberi harapan pada mereka lagi karena sifat mereka sangat buruk."


"Ibu dengar mereka sudah menikah lagi dengan pasangan masing-masing. Hanya Dorce yang belum menikah karena masalah kesehatan."


"Sakit apa dia Bu?"


"Kalau tak salah kanker rahim. Cobalah kau cari info!"

__ADS_1


"Baiklah Bu! Aku akan coba cari tahu. Aku akan telepon mama dulu. Aku tunggu kehadiran ibu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Ezra meletakkan ponsel di atas meja termenung dengan nasib Dorce. Setelah Renata kini Dorce pula bercanda dengan maut. Kanker adalah satu penyakit yang sangat mengerikan di telinga. Dengar kalimat itu saja orang sudah ngeri.


Apakah Ezra bersalah telah meminta para wanita itu keluar dari rumah. Tiga hidup tenang, satu tenang di alam baka dan satu lagi sedang berjuang melawan penyakit. Yang salah adalah Bu Humaira mementingkan diri sendiri celakai orang. Ezra tak pernah meminta diberi segitu banyak isteri. Namun demi menjaga posisi sebagai nyonya besar Bu Humaira telah korbankan beberapa wanita.


Ezra sangat menyesali mengapa semuanya terjadi kepada dirinya. Ezra memang sedang bahagia namun Ezra juga tidak bisa menutup mata melihat derita orang lain. Dorce menderita penyakit kanker memang bukan kesalahannya namun sedikit banyak acara juga akan mendapat pukulan batin. Ezra merasa bahagia di atas derita Dorce.


Ezra mengusap wajah tak tahu harus omong apa untuk derita Dorce. Mungkin sudah suratan takdir Dorce untuk mengalami cobaan ini. Ezra akan coba hubungi wanita itu untuk beri dukungan moral.


Sebelum menghubungi Dorce Ezra tetap harus menghubungi buku merah untuk menggambarkan kelahiran anak-anaknya. Ezra tetap harus hargai Ibu Humaira kedatipun sudah cukup banyak kesalahan dibuat oleh wanita itu.


Ezra angkat telepon hubungi wanita itu. Semoga saja Bu Humaira masih mau terima telepon Ezra. Sejak pergi mereka belum pernah saling kontak. Ntah bagaimana kabar wanita itu.


"Assalamualaikum..." sapa Ezra begitu Bu Humaira angkat telepon..


"Waalaikumsalam...Apa kabar Hakim? Tumben telepon mama. Pikir sudah lupa pada mama."


"Bagaimana mungkin lupa pada mama? Mama apa kabar?"


"Ya begitulah! Sudah tua ya rontok sama sini."


"Ada cek up ke dokter?"


"Ada...sakit orang tua! Gimana Adeeva? Sudah lahiran?"


"Sudah...semalam sakit dan operasi dini hari. Mereka kembar dua. Kapan mama mau ke sini?"


"Alhamdulillah...Mama akan usaha datang tapi tidak janji kapan. Kesehatan mama agak menurun. Tak bisa pergi jauh."


"Aku akan kirim pesawat jemput mama. Katakan saja kapan mau datang!"


Terdengar Bu Humaira tertawa. Seperti tawa kesedihan Ezra masih perhatian padanya walaupun banyak kesalahan dia lakukan. Ezra berbeda hati beri kesempatan padanya untuk hijrah menjadi manusia lebih baik.


"Baik...mama akan datang. Terima kasih masih ingat mama."


"Selamanya tetap mama saya. Kabari saja kapan mau datang. Sering cek up ke dokter ya! Atau mama pindah balik ke rumah biar aku bisa sering lihat mama."


"Tak usah..sana sepi! Di sini lebih ramai ada saudara mama. Mama tak apa. Kau harus jaga baik anak isterimu. Kurangi berteman dengan wanita model Sonya. Dia itu hanya noda hitam dalam hidupmu."


"Aku tahu ma! Dia sering coba hubungi aku lewat Ruben namun aku tak peduli. Sudah cukup dengan wanita. Aku puas punya Adeeva. Satu Adeeva wakili seratus wanita. Aku sangat mencintai Adeeva."


"Iya...mama tahu! Berbahagialah kamu nak! Lupakan masa lalu ya! Lembaran baru sudah menantimu. Jalani semuanya dengan hati. Sayangi anak isterimu! Ambil masa lalu papa kamu sebagai pelajaran. Jangan ada korban keegoisan masing-masing lagi! Mama sudah lelah seperti itu."


Ezra tertegun dengar suara Bu Humaira melemah. Ada apa dengan wanita bertangan besi itu. Dia pernah cengkeram seluruh hidup Ezra sampai Ezra berulang lakukan kesalahan. Apa daya tahan Bu Humaira sudah kendor?


"Akan kuingat semua nasehat mama. Mama kalau perlu apa jangan segan bilang! Aku akan penuhi semuanya. Jaga kesehatan untuk lihat cucu mendatang!"


"Kamu ini..isteri baru melahirkan sudah pingin anak lagi. Kau pikir Adeeva itu mesin cetak anak?"


"Dia itu masih muda sedang aku mulai berumur. Kalau tidak kejar target nanti keburu uzur. Yang penting mama sehat saja. Sepuluh cucu juga bisa lihat."


"Iyalah...selamat ya nak! Kirim salam mama buat Adeeva. Mama akan usaha datang."


"Ok kutunggu.. assalamualaikum."


"Waalaikumsalam.."

__ADS_1


Keheningan melingkupi seluruh ruangan Ezra. Hati Ezra bertambah dingin setelah ngobrol sama Bu Humaira. Orang yang bersalah akan dapat ganjaran setimpal. Bu Humaira sedang petik buah busuk dari bibir yang dia tanam.


Betapa bahagia jadi orang baik. Dari awal hingga akhir tak ada kekuatiran akan dosa. Contohnya keluarga Adeeva yang taat akan pada ajaran Allah SWT.


__ADS_2