Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Ancaman


__ADS_3

Ezra tersenyum tipis mau tahu apa yang akan dilakukan oleh wanita ini. Untung kuda Poninya lebih cerdik segel gudang dengan orangnya. Ika mana tahu permainan kelas tinggi Adeeva. Wanita muda itu tidak gembar gembor namun hasilkan karya spektakuler.


Jujur Ezra takkan sanggup lakukan semua ini tanpa Adeeva. Secara tak langsung Adeeva adalah Dewi penyelamat kerajaan Dilangit. Adeeva terlalu cerdik dan pinter untuk ukuran keluarga licik itu.


Dalam dada Ezra mengalir rasa kangen pada anak bengal itu. Adeeva yang lucu bikin kepala Ezra pusing sepuluh keliling. Ezra makin sayang pada wanitanya itu.


Sayang rasa kangen itu harus ditahan karena tugas tak kalah penting menanti di depan mata. Ezra harus makin rajin karena akan segera punya anak. Tanggung jawab pada keluarga akan lipat ganda.


Waktu berlalu dari hari ke hari. Kesehatan Adeeva seratus persen fit maka wanita muda itu diijinkan pulang. Ezra sendiri langsung jemput Adeeva karena tak ingin wanitanya mendapatkan tekanan dari luar. Keselamatan Adeeva jadi perhatian Ezra. Apapun akan Ezra lakukan untuk protek Adeeva.


Untuk sementara Adeeva dititipkan pada Abah. Keluarga Abah ramai dan semuanya baik. Ezra yakin Adeeva aman bersama orang yang dia cintai.


Di rumah ternyata sudah ada Oma Adeeva lengkap dengan sanak saudara wanita muda ini. Deswita dan Farhan juga hadir beserta kedua orang tua Farhan.


Adeeva disambut bak ratu kerajaan. Semua bahagia melihat wanita muda yang bengal akhirnya ditaklukkan oleh kedua bayi dari Ezra. Semoga Adeeva bisa berubah lebih lembut belajar menjadi seorang Umi yang baik.


Oma memeluk Adeeva erat-erat tak sangka cucunya telah menjadi seorang ibu. Oma pikir selamanya Adeeva takkan berubah dari gaya konyolnya.


"Senang Eva?" tanya Oma belum melepaskan pelukan pada cucunya.


"Senang dong jumpa Oma tua. Keriput di wajah Oma kok berkurang? Oma seterika ya wajah Oma?" olok Adeeva bikin semua tersenyum.


"Huusss emang muka Oma ini kemeja? Oma tampak makin muda karena bahagia. Tak lama lagi Oma naik pangkat jadi uyut. Jarang lho orang bisa jabat jadi uyut. Ayok duduk!"


Adeeva dan Oma gandengan masuk ke ruang tamu. Yang lain ikut dari belakang mengelu ratu tanpa mahkota itu.


Ezra lega Adeeva telah berada di tempat aman. Tinggal bersamanya belum tentu aman karena ancaman selalu ada. Gara-gara Ezra jadi incaran Adeeva yang jadi target.


"Eh Eva..sekarang kau harus anteng! Sudahi kenakalan kamu!" nasehat Farhan ikut senang adiknya punya tanggung jawab terhadap anak. Kalau terhadap Ezra tidak perlu dikuatirkan. Ezra pria dewasa bisa jaga diri.


"Tenang... anakku pasti ngerti punya umi jagoan. Dari perut mereka sudah harus ngerti cara berantem biar tidak dijajah orang."


"Isshhh nih anak! Mau nginap di rumah sakit lagi? Sakit juga tidak bilang. Sudah pulang baru kasih tahu." omel Deswita.


"Aduh kak Des...Eva tahu bang Farhan orangnya reseh maka main rahasia. Bang Farhan bisa datang sepuluh kali sehari. Dokter dan perawat bakal ilfil lihat tampang laki laki Des." ujar Adeeva melirik Farhan. Farhan mengacungkan tinju ke wajah Adeeva. Belum sembuh juga penyakit Adeeva. Masih suka asal bunyi.


"Deswita benar... Eva sakit kok dirahasiakan? Emang Eva ini cuma milik kalian? Eva ini cucu aku!" Oma ikut ngomel merasa dilangkahi.


"Bu...kami bukannya tak mau kasih kabar tapi takut merepotkan. Dan lagi kalian tahu sifat Eva susah dibilang. Banyak pengunjung akan buat dia makin reseh. Yang penting Eva susah sehat." Abah melerai debat tak sehat ini. Abah tahu mereka kesal karena sayang pada Adeeva. Adeeva menyebalkan tapi disayangi.


Ezra hanya diam saja melihat dari samping. Keluarga bukan keluarga kaya raya namun terselip kehangatan. Dari sini kita bisa belajar kalau materi bukan segalanya. Masih ada kekuatan lebih kuat dari setumpuk emas permata.


Ezra harus belajar dari ketulusan keluarga Adeeva. Laki ini harus buka mata lebar-lebar perhatikan apa yang di namakan kasih tulus.

__ADS_1


"Kita makan siang bersama ya!" ajak Umi mulai repot siapkan makan siang untuk keluarga besar suaminya.


"Harus dong! Nak Ezra makan dulu baru balik kantor. Kami akan jaga anak dan isteri kamu dengan baik."


Ezra hanya manggut dengar kata Oma. Ezra yang gagah tak ubah jadi kucing imut di lingkungan keluarga hangat. Pancaran ketulusan tergurat di wajah mereka tanpa ada trik jahat. Trik apa bisa dilakukan karena mereka memang tak bahas soal materi. Yang ada kasih sayang.


Obrolan selanjutnya jadi monoton karena berputar sekitar kehamilan Adeeva. Ezra dan Desi orang luar hanya bisa jadi pendengar yang baik.


Desi agak iri pada nasib Adeeva. Wanita konyol itu demikian gampang meraih kebahagiaan sementara dia selalu malang soal cinta. Desi belum sempat curhat pada Adeeva soal persoalan dia.


Sebagai wanita normal Desi tidak bisa menampik pesona Ezra. Ezra pantas menjadi pria idaman semua wanita. Kalau Adeeva harus bersaing merebut Ezra dari tangan para wanita itu hal wajar. Ezra pantas digilai.


Desi sendiri kagum pada Ezra tapi tak berani berpikir untuk masuk ke dalam hidup suami temannya. Desi belum gila menikung sahabat sendiri. Desi juga harus sadar betapa dalam cinta Ezra pada Adeeva sampai serahkan tepuk pimpinan pada wanita muda itu. Nasibnya tak sebagus nasib Adeeva.


Sedang santai keluarga ini menunggu waktu makan siang terdengar suara ribut-ribut di luar membuat Farhan keluar untuk melihat siapa bikin onar di rumah pakdenya.


Ezra ikutan keluar curiga ada yang tak beres. Laki ini merasa ada yang aneh karena Adeeva baru pulang dari rumah sakit sudah ada keributan.


Dalam pikiran Ezra takut Ika bikin ulah tak terima gudang sudah disegel orang Adeeva. Wanita itu sudah pasti akan mendekam di penjara karena akan terbuka semua belang wanita ini.


Dugaan Ezra meleset jauh karena diluar pagar sudah ada wanita berbaju merah di dampingi dua lelaki berbadan besar.


Rani berdebat dengan Farhan memaksa ingin masuk ke rumah Adeeva. Mungkin Rani tak tahu kalau Ezra juga ada di situ. Cari ribut sama saja. antar nyawa.


Ezra maju dekati Rani dan kedua pengawalnya. Rani di cabe merah terkesima tak sangka Ezra ada di tempat Adeeva. Menurut informasi yang dia dapat Ezra tidak menjemput Adeeva karena ceking gudang. Maka itu Rani bergegas ke rumah Adeeva untuk pukul mundur mental Adeeva.


Ezra berdiri gagah di depan Rani sambil mengepal tinju. Kedua tangan Ezra jatuh ke samping tapi dalam posisi tergenggam saking marah.


Rani mundur selangkah karena situasi tak seperti harapan dia. Laki yang jadi biang kekacauan berdiri seperti patung Liberty Amerika. Kokoh menjulang ke atas.


"Ezra...kau di sini?" tanya Rani agak gemetar.


"Aku tetap di sini lindungi isteri aku! Kau mau apa?" tanya Ezra dingin.


Farhan salut pada kharisma Ezra. Laki itu tak perlu Adi urat wajah berdebat dengan Rani. Cukup bertanya dengan nada super dingin Rani sudah ketakutan.


"Ezra...aku ke sini cuma mau pastikan isterimu bukan wanita baik-baik. Aku sudah dapat rekam jejak dia pernah tinggal bersama lelaki lain di Jawa sana. Anak dalam kandungan dia bukan anakmu. Ayoklah Ezra! Kembali padaku! Aku janji akan jadi istri baik buat kamu." Rani memegangi lengan Ezra tanpa peduli tatapan mata Farhan.


Ezra menepis tangan Rani sambil tersenyum sinis. Ezra sudah tahu kalau Adeeva bersama Nunik di peternakan Akbar. Ezra sedikitpun tidak percaya Adeeva berani berselingkuh. Ezra percaya seratus persen pada Adeeva.


"Tak usah sebar fitnah Rani! Aku sudah tahu semuanya. Adeeva di sana bersama Nunik teman baiknya. Tak ada yang Adeeva sembunyikan dari aku! Kau belum juga kapok sebar kejahatan. Apa maumu?"


Rani tampak gusar Ezra tak termakan provokasi darinya. Rani lupa kalau Ezra lelaki punya power besar. Tak ada yang luput dari pandangannya bila dia mau tahu.

__ADS_1


"Permintaan aku sangat sederhana. Tinggalkan Adeeva dan hidup bersama aku! Aku takkan kekang kamu bila ingin bersama wanita lain asal kamu pulang padaku. Gampang kan?" Rani umbar senyum biar Ezra terpanah pada kecantikannya.


"Rani...segitu murahkan aku sampai harus jual isteri aku untuk kamu? Asal kau tahu. Di dunia ini tak ada wanita tak bisa kudapat tapi aku cuma mau Adeeva. Anak yang kulihat dari bayi. Seribu Rani tak bisa gantiin seorang Adeeva. Ingat itu!" Ezra menggeram marah Rani merendahkan Adeeva.


Dengan susah payah dia dapatkan Adeeva, seenak perut Rani minta dia tinggalkan wanita yang dia impikan dari dulu. Ezra bertahan tidak menikah resmi karena menunggu Adeeva muncul.


"Gimana kalau Adeeva mati? Apa kau masih suka pada jasadnya?" Rani mulai perlihatkan gejala kurang waras. Mengancam Ezra di depan orang ramai.


"Kau mau apa?"


"Aku mau apa? Kau sudah dapat jawaban dariku. Apa aku harus ulang dua kali? Ezra sayang.. kau lupa kekuatan Rani. Aku Rani... tak ada yang tak bisa ku genggam." Rani menaikkan kepala dengan yakin mampu menundukkan Ezra. Kini Rani tahu kelemahan Ezra terletak pada Adeeva. Tinggal kunci Adeeva maka Ezra pasti patuh.


"Lupakan semua impian kosong kamu! Aku Ezra tak pernah khianati Adeeva. Cukup Adeeva dalam hidupku." tegas Ezra makin muak pada wanita yang telah dilindungi selama tiga tahun ini.


"Ezra...aku sudah tahu tentang Adeeva. Apa kau tak takut kalau Adeeva kamu bakal temani Herman di alam sana? Biarlah mereka pacaran di sana! Di sini ada kamu dan kamu. Adil toh?"


Farhan yang dari tadi ikuti pembicaraan antara Rani dan Ezra gregetan ingin sumpal mulut Rani dengan cabe rawit. Omong seolah Adeeva itu sampah mudah disingkirkan. Untunglah Ezra gigih perjuangkan harga Adeeva. Bila Ezra tinggal diam Farhan akan hajar Rani tak peduli bakal kesandung hukum.


"Maaf ya Bu...aku tak kenal kamu! Kalau terjadi sesuatu pada adikku maka aku akan kejar kamu sampai ke ujung dunia. Aku sudah rekam semua ancaman kamu." tukas Farhan ikut campur. Farhan anggap Ezra terlalu lembek pada Rani. Tinggal ambil sapu bersihkan sampah limbah dari halaman rumah Adeeva.


Rani mendengus tak pandang sebelah mata pada Farhan. Rani anggap Farhan bukan level dia dalam ancam mengancam. Rani sudah tingkat kelas kakap.


"Lebih baik kamu diam! Ijinkan aku masuk nego dengan Adeeva! Kujamin semua akan aman. Kalau kau memang sayang pada Adeeva tak masalah. Anggap saja dia itu selingan di kala kau suntuk. Kau setuju Ezra? Aku terima Adeeva sebagai piaraan kamu. Kita berdua yang akan tampil ke depan sebagai pasangan. Deal?" Rani mengerling manja anggap telah temukan penyelesaian.


Betapa mudah Rani atur rencana sesuka hati. Dia pikir semua orang otaknya karatan macam dia. Punya uang bisa beli dunia.


"Deal kepalamu? Adikku itu bukan sampah kayak kamu. Sudah ditolak masih tak tahu malu. Kamu ini wanita model apa? Pernah sekolah tidak?" semprot Farhan makin gusar dengar Rani meremehkan Adeeva.


Ezra sudah gemas ingin gampar mulut Rani. Ezra hanya mengulur waktu menunggu pihak aparat datang menjemput wanita gila itu. Rani sudah hilang akal sehat akibat terobsesi pada Ezra. Di mata Rani hanya tahu bagaimana merebut Ezra dari tangan Adeeva. Ezra sudah bantu dia singkirkan para selir di istana. Sekarang rivalnya cuma Adeeva anak bawang.


"Rani... sudah kukatakan aku anggap kamu itu saudara! Kenapa kau terusan kejar aku? Aku ini suami orang. Jangan kau ulangi kesalahan sama karena kau akan terjerat hukum makin berat."


Rani mengedip mata pura-pura tak ngerti omongan Ezra. Namun dalam hati tentu tak bisa lupa apa yang telah dia rancang untuk kuasai harta Herman dan kuasai Ezra. Langkah hampir capai Finish namun muncul kuda Poni dahului dia capai ke pelukan Ezra. Rani tidak puas dikalahkan pemain baru.


"Aku salah apa? Mencintaimu itu salah? Aku mencintaimu dari dulu. Kau pikir aku suka Herman si gendut itu? No.. aku hanya pantas untuk kamu! Tak seorangpun pantas berdiri di sampingmu selain aku dan anak kita." kata Rani agak sendu tumpahkan isi hati pada Ezra dan Farhan. Rani korban cinta tepuk sebelah tangan.


Ezra menggeleng tak setuju dengan pengakuan Rani. Di mata Ezra Rani adalah istri temannya. Tidak akan berubah walaupun tanpa Adeeva. Ezra tak mungkin bersama Rani sampai kapanpun.


"Tak usah bertele-tele! Kau ini hanya orang gila suka pada suami orang. Pergilah dari sini! Jangan ganggu keluarga adikku lagi!" usir Farhan tak sabaran pada sikap plin plan Ezra. Farhan tak tahu Ezra sengaja menunggu pihak keamanan membawa Rani untuk pertanggungjawabkan semua kesalahannya. Kalau Rani masih berkeliaran pasti akan menyakiti Adeeva. Ezra tak mau ambil resiko terjadi sesuatu pada Adeeva.


Ezra melihat ada sebuah mobil warna hitam berhenti di samping rumah Adeeva. Dari dalam mobil keluar tiga lelaki berambut cepak langsung hampiri Rani dan Ezra.


"Selamat siang pak!" salah satu di antara mereka memberi salam dengan suara lantang.

__ADS_1


__ADS_2