
Ezra memanggil Ruben untuk bahas masalah kerja. Mungkin dalam waktu singkat Ezra akan mengandalkan Ruben untuk mengurus perusahaan. Ezra pasti akan sibuk mengurus kedua bayinya. Kalau bisa Ezra tidak ingin meninggalkan anaknya yang baru terlahir ke dunia. Mereka itu seperti magnet menarik Ezra agar mendekat.
Ruben mana berani menolak panggilan Ezra. Begitu diteleponi oleh lelaki itu Ruben segera menghadap ke bos besarnya itu. Makin hari Ruben juga makin berminyak karena posisinya telah cukup bagus di kantor. Masa depan Ruben telah terjamin selama dia tidak berbelok ke arah kiri.
Walaupun mempunyai posisi cukup tinggi Ruben tetap mengetuk pintu untuk berjumpa dengan Ezra. Ruben menunggu jawaban dari dalam untuk memindahkan tubuhnya ke dalam ruangan Ezra.
"Masuk!"
Ruben membuka pintu ruangan Ezra masuk ke dalam lihat bagaimana kabar abangnya itu. Ezra tampak bercahaya pagi ini walaupun di lingkaran mata ada bayangan hitam. Ini efek tidur lewat tengah malam.
"Selamat pagi pak!"
"Duduk! Katanya hari ini ada rapat dewan direksi?"
Ruben menarik kursi di depan Ezra tanpa memindahkan mata dari wajah Ezra. Ruben berusaha membaca guratan di wajah laki itu. Ada kegembiraan namun di sudut bibir tersimpan kebekuan.
"Ada apa pak?"
"Poni sudah melahirkan."
"Wow... akhirnya ada yang dipanggil papa. Selamat ya!" Ruben meloncat bangun menyalami Ezra antusias di poni telah punya keturunan.
"Iya....mereka sangat lucu. Kau tak ingin pergi lihat mereka?"
"Mau banget...emang boleh pergi sekarang?" seru Ruben lupa mereka masih ada tugas penting hari ini. Ruben senang bukan main akhirnya Ezra mendapatkan keturunan. Dia tak perlu takut Dilangit punah di tangan Ezra.
"Pergilah! Kau akan segera kenakan seragam OB."
"Ngak asyik...Eh mirip siapa? Kali aja mirip aku!"
Ezra ingin sekali cekik Ruben bikin moodnya makin buruk. Ezra baru saja dapat kabar tak sedap tentang Dorce dan Bu Humaira. Ditambah dokter songong yang klaim kedua bayinya mirip dengan dirinya. Muncul pula Ruben bertanya Kalau apa bayinya juga mirip dirinya. Kesabaran Ezra sedang diuji saat ini.
"Iya mirip kamu. Cuma hanya kukunya saja. Yang lain mirip aku."
"What? Cuma kuku doang? Aku ini omnya anak-anak. Masa tak ada kemiripan sedikitpun. Tega amat tuh Tuhan! Bikin cetakan kurang tepat. Maunya sisain dikit buat tempat aku. Bibirnya kek, hidungnya kek. Eh kuping kita hampir sama. Mungkin mirip di situ ya?" Ruben belum menyerah harus ada kemiripan dengannya. Kalau orang tak ngerti cara Ruben bercanda pasti anggap Ruben pernah selingkuh dengan Adeeva baru anaknya mirip dia. Tapi Ezra percaya adiknya itu hanya sekedar guyon.
"Nanti kalau aku cetak lagi pasti akan order yang ada mirip omnya. Puas?"
Ruben mengangguk puas. Jauh di lubuk hati Ruben tersimpan rasa bahagia tak bisa diukur. Akhirnya Ezra temukan jati diri tanpa kendali mamanya. Untung Adeeva muncul halau semua kabur kelabu dalam hidup Ezra. Laki itu sudah dapat haknya sebagai lelaki.
"Ben...mama kurang sehat. Dorce kena kanker rahim." ujar Ezra lirih.
Ruben tersadar sudut bibir Ezra tampak gelisah artinya ada masalah. Ternyata sumbernya dari orang masa lalu. Ezra punya rasa empati pada Bu Humaira dan Dorce. Namun Ezra tak mungkin merangkul Dorce lagi walaupun wanita itu butuh dukungan. Ezra bisa beri dukungan tapi dengan cara tersendiri.
"Lalu apa rencanamu?"
"Aku mau kamu pergi melihat Dorce dan menanyakan kondisinya. Jika perlu bawa dia berobat ke luar negeri. Dia masih muda. Masa depannya masih panjang. Tak mungkin kita biarkan dia begitu saja."
"Jangan bilang mau bawa dia kembali ke istana!" Ruben kontan sekak Ezra jangan main api lagi. Adeeva bukan wanita bisa toleransi lakinya simpan wanita lain.
"Kamu gila ya? Aku talak dia dengan talak tiga. Aku simpatik sebagai saudara. Apa yang ada di otakmu?" semprot Ezra pikiran Ruben menggembara ke mana-mana.
Ruben menggaruk wajahnya pelan sambil tertawa sinis. Jujur Ruben takut Ezra terjebak lagi seperti masa lalu. Kalau sudah gini cerita dengan Adeeva segera tamat.
__ADS_1
"Syukurlah kalau kau sadar! Ingat bang! Sudah ada keponakan aku. Kurangi sifat mata keranjang. Kuingatkan jangan terjebak dalam halusinasi dengan wanita manapun. Kau akan hancur." ujar Ruben terselip ancaman.
"Kau pikir aku tolol? Pergi sana! Kita rapat aku langsung balik ke rumah sakit. Kau jaga kantor. Kalau ada apa-apa teleponi aku."
"Ok...aku setuju. Aku pasti mampu ikat kaki kantor jangan lari. Sekali lagi selamat ya! Aku juga selamat jadi om paling ganteng sedunia." Ruben kembali riang ingat bocah-bocah milik Erza. Mereka pasti lucu-lucu. Jiwa kepo Ruben tergelitik ingin segera lihat keponakannya.
Ezra tertawa sendiri ikut senang lihat Ruben senang. Ezra makin yakin Ruben tulus kepadanya. Ezra sudah bisa percayakan perusahaan pada Ruben bila ada kesadaran darurat dia ada halangan ke kantor.
Kita tinggalkan Ezra di kantor. Kini melihat situasi di rumah sakit tempat Adeeva dirawat. Ruang rawat Adeeva mulai berdatangan keluarga sebelah Abah. Tak ketinggalan Oma yang cerewet. Oma berseri-seri melihat cicit kembarnya terlahir selamat ke dunia ini.
Gelak tawa warnai seluruh ruangan. Tak ada guratan kesedihan segaris pun di wajah keluarga sebelah Abah. Keluarga sebelah Umi belum ada yang datang karena jarak. Bukan bilang mau datang langsung datang. Masih butuh proses karena beda negara.
Teman Adeeva yang gokil mana mau ketinggalan jumpa dengan keponakan yang telah dia idamkan dari dulu. Nunik tak tak bergeming dari baby box jaga kedua anak Adeeva. Adeeva saja tidak lebay macam Nunik awasi setiap gerak gerik sang bayi. Nunik tentu saja berharap setelah nikah nanti dia juga punya anak seganteng anak Adeeva.
"Ya Allah...ini anak atau boneka? Mereka kok imut banget." keluh Nunik sambil mendekap dada. Kalau diijinkan Nunik ingin bawa kabur kedua bayi itu.
"Huusss omong apa itu? Itu malaikat Oma.." kata Oma juga tak kalah lebay dari Nunik.
"Kalau menculik anak itu legal maka detik ini juga kubawa lari kedua bocah ini. Legalkan dong Oma!" rengek Nunik pada Oma memble kan bibir.
"Culik saja! Hotel gratis sedang kosong siap menunggu kamu. Makan tidur gratis kan enak."
"Sadis bingit nih Oma! Satu saja ya!" Nunik keluarkan jurus kedua menggoyang tangan Oma biar diijinkan bawa bayi Adeeva. Anak gila ini sedang kumat kali. Belum bulan purnama gilanya sudah naik ke ubun.
"Oma sih boleh saja tapi tanya dulu sama bapaknya. Jangan-jangan dia ngamuk kirim kamu ke Nusakambangan."
Hati Adeeva terhibur lihat kebahagiaan keluarga sambut kelahiran anaknya. Adeeva tak bisa tahan keharuan telah menjadi seorang ibu. Kini tinggal bagaimana Adeeva mengurus anak serta perkembangan sikap Ezra terhadap anak isteri. Masih suka jajan di luaran atau betulan tobat. Semua jawaban ada di tangan Ezra sendiri.
"Eva...Minggu depan aku pesta lho! Kau harus datang ya! Aku tak mau tahu.. apapun cara kau harus hadir." ujar Nunik memaksa.
Nunik acung jempol memahami kondisi Adeeva. Nunik tidak akan kejar kesalahan Adeeva ingkar janji tak bisa datang. Sebagai sahabat dia harus maklum keadaan Adeeva. Yang penting doa Adeeva telah sampai padanya.
"Amin... ayok siapa namanya kedua bocah ini? Namanya harus mengandung nama bokap dan nyokap biar adil."
Adeeva belum terpikir nama untuk anaknya. Kalimat dari mulut mengingatkan Adeeva kalau anaknya belum ada nama. Adeeva tidak bisa mengambil keputusan sendiri karena harus meminta pendapat Ezra.
"Kita tunggu bokapnya datang. Terima kasih sudah support aku!" ujar Adeeva terharu lihat betapa antusias semua pada anaknya.
"Kau pikir kami ini siapa? Kami ini orang yang selalu ada di belakangmu. Kamu jatuh bangun kami tetap ada." kata Farhan Abang sepupu Adeeva.
Adeeva merentangkan tangan minta dipeluk abangnya. Adeeva anak satu-satunya dari Abah tak heran manja pada abangnya juga pada Deswita kakak iparnya. Farhan dengan senang hati memeluk Adeeva beri support kalau mereka tak pernah tinggalkan Adeeva di kala susah maupun senang.
Tak ada yang tak terharu melihat mesranya dua saudara saling menyayangi. Adeeva telah mendapat semua keinginan setelah lalui berbagai halangan untuk bersatu dengan Ezra.
Siang hari Ezra datang bawa makanan untuk Adeeva. Tentu saja makanan bergizi untuk ibu muda pasca melahirkan. Ezra tak sabar ingin lihat bayinya. Seluruh pancaran mata Ezra tertuju pada anak isterinya. Yang lain jadi tidak menarik lagi. Seribu Sonya juga takkan goyahkan iman Ezra.
Ezra mengecup kening Adeeva begitu masuk ke ruangan yang tinggal Abah dan Umi. Keluarga lain sudah pada pulang. Berkumpul terlalu lama di kamar berisi bayi merah juga bukan solusi baik.
Perawat sebenarnya keberatan ruang rawat Adeeva didatangi orang sangat banyak. Ini melanggar aturan rumah sakit. Namun berhubung Adeeva pasien istimewa punya anak kembar maka pihak rumah sakit kasih kelonggaran.
Adeeva tersenyum menyambut Ezra. Kini Adeeva merasa Ezra makin ganteng sejak menyandang gelar seorang bapak.
"Kenapa cepat pulang dari kantor?" tanya Adeeva pelan.
__ADS_1
"Ada magnet di sini menarik aku untuk datang. Aku sudah pesan pada Ruben untuk jaga kantor. Aku di sini sampai malam. Kau tidak merasa sakit kan?"
"Ngak dong! Hubby bawa apa?" mata Adeeva menangkap beberapa bungkusan di atas meja. Ezra telah jadi suami teladan sayang isteri. Adeeva tak peduli itu karena dia telah beri Ezra anak atau memang tulus dari hatinya. Yang penting Ezra perhatian.
"Makanan kesukaanmu!" kata Ezra sambil mengambil makanan untuk diperlihatkan pada Adeeva.
Abah dan Umi tertawa Ezra bilang makanan kesukaan Adeeva. Anak itu semua suka asal halal. Tak ada makanan tak sesuai seleranya.
"Makan yang banyak biar banyak ASI. Kamu harus ekstra makan untuk susui dia bayi." timpal Umi.
Adeeva terkekeh senang saksikan beberapa macam hidangan lezat di bawa Ezra. Semua mengandung lemak sangat tinggi. Adeeva curiga Ezra meracuni Adeeva dengan lemak biar jadi drum lemak.
"Ngak salah nih? Bistik daging, ayam goreng, semur bebek dan tumis brokoli. Hubby harus rancang pintu lebih gede biar aku bisa keluar masuk dengan lancar." Adeeva sendiri bergidik bayangkan semua makanan itu pindah ke perutnya.
"Ini makanan bergizi untuk ibu pasca melahirkan. Hubby sudah minta pendapat sama dokter. Mau makan yang mana?" Ezra biarkan Adeeva pilih sendiri. Ezra dengan senang hati layani isteri tersayang.
Abah dan Umi saling tukar senyum. Mereka di sana hanya jadi cicak di dinding ganggu pasangan muda ini. Mereka harus tahu diri biarkan Ezra dan Adeeva nikmati moments sebagai orang tua.
Ezra sibuk menyuapi Adeeva. Wibawa bos raja tambang jatuh ke sumur. Amblas ke dalam tanpa sisa. Yang ada budak cinta Adeeva.
"Eva...Abah dan Umi pulang sebentar ya! Nanti kami balik lagi. Kalian jaga baik-baik cucu kami ya! Kata perawat kalau tak ada halangan besok sudah boleh pulang ke rumah. Tinggal datang ke sini cek bekas jahitan." Umi utarakan niat pulang untuk istirahat. Mereka berdua juga lelah rawat Adeeva dan dua bayi. Namanya juga rawat anak kecil, tentu saja repot. Minta susu, ganti popok. Belum lagi bantu Adeeva bila hendak ke kamar mandi.
"Tapi Adeeva belum pulih betul! Biar seminggu di sini Umi. Tunggu sehat betul baru pulang." bantah Ezra ngeri bayangkan kalau tiba-tiba luka jahitan Adeeva terlepas. Padahal itu tak mungkin terjadi selama Adeeva tidak lasak.
"Nak Ezra ..rawat Eva di rumah lebih nyaman. Kita tunggu apa kata dokter saja. Abah dan Umi balik dulu." Umi mengambil tas sekalian baju kotor Adeeva untuk dibawa pulang. Baju bekas melahirkan pasti ada noda darah. Umi bawa pulang untuk dicuci.
"Cepat balik ya Umi! Nanti bawa bakso ayam ya!"
"Iya .. assalamualaikum!"
Abah sempatkan diri mengelus pipi cucunya sebelum pergi. Abah merasa sayang tinggalkan cucu namun badan juga minta dimanja. Beliau mesti pulang untuk rentangkan badan di ranjang favorit di rumah.
"Waalaikumsalam..."
Abah dan Umi menutup pintu ruang rawat Adeeva dengan hati-hati takut ganggu cucunya.
Ezra melanjutkan menyuapi Adeeva sampai wanitanya kenyang. Ezra tak peduli bentuk tubuh Adeeva mau seperti apa. Ezra bukan sayang pada tubuh Adeeva melainkan orangnya.
"Kenyang?" tanya Ezra setelah dua porsi makanan amblas dalam perut Adeeva.
"Kenyang...makasih ya Hubby! Oya...sudah ada nama untuk kedua bayi kita? Semua tanya namanya!"
"Aku mau nama ada nama kita. Coba kau pikir nama yang bagus."
Adeeva mengerutkan kening berpikir keras nama yang diinginkan Ezra. Ezra mau nama keduanya mengandung nama mereka. Gampang susah.
"Adzree Dan Adzraa."
Ezra mengangguk anggap kedua nama itu wakili nama mereka. Sangat tepat dan indah.
"Adzree Shaka Dilangit dan Adzraa Shakil Dilangit. Gimana? Nama indah bukan?
"Iya nama bagus dan keren. Artinya sang Abang Adzree dan adik Adzraa."
__ADS_1
"Salah..abangnya Adzraa dan Adzree. Abang dipanggil Ada dan adik dipanggil Ade. Boleh gitu kan?"
Adeeva mengangguk setuju. Sudah ada keputusan soal nama baik. Tinggal membesarkan mereka menjadi manusia multiguna.