
Farhan heran melihat tiga orang berpakaian serba hitam datangi mereka. Dari sikap mereka jelas bukan bagian dari tukang pukul Rani. Mereka sopan dan tegas.
"Siang...aku Ezra Dilangit yang meneleponi bapak!" Ezra menyalami ketiga pendatang tanpa melirik ke arah Rani.
Di lain pihak Rani tak percaya Ezra teleponi orang untuk lindungi dia dari serangan Rani. Demi menjaga Adeeva atau Ezra takut Rani berubah brutal. Rani tak pernah berpikir sakiti Ezra asal terima dia berada di samping Ezra.
"Ezra???? Apa maksudmu?" tegur Rani gusar belum ngerti keadaan.
"Rani...maafkan aku! Aku terpaksa minta perlindungan hukum karena kamu sudah terlalu meresahkan. Aku takut kamu sakiti Adeeva lagi."
Rani menuding wajah Ezra dengan berang. Rani tak sangka Ezra tega sakiti dia demi Adeeva. Apa arti kebersamaan mereka selama ini? Tawa canda warnai hari mereka walau tanpa ada hubungan intim. Mereka layak seperti pasangan suami isteri. Apa Ezra sudah melupakan hari bahagia mereka?
"Kau tega padaku ya? Kau tak usah takut! Besok aku akan kembali dengan kekuatan lebih besar. Aku takkan menyerah sebelum kau tunduk padaku. Aku punya segalanya kecuali kamu." Rani berkata sombong anggap remeh kehadiran aparat hukum. Rani pikir dengan uang dia bisa beli hukum sampai dia puas.
"Maaf Bu Rani! Kami ada bawa surat penangkapan! Anda ditahan dalam beberapa kasus. Dua pembunuhan dan satu penculikan. Mari ikut kami ke kantor!" salah satu aparat berkata tegas meminta Rani kerja sama.
"Pembunuhan? Siapa yang sudah kubunuh? Adeeva belum mati mana ada kasus."
"Ikut saja dulu nanti akan beri penjelasan! Kami harap kerjasama Bu Rani. Silahkan!"
Raut wajah Rani sedikit berubah melihat pihak aparat tidak memberinya kelonggaran untuk bicara. Rani sudah terbiasa gunakan uang sebagai jalan tengah menyelesaikan masalah. Kali ini yang dia lawan adalah raja tambang terkenal. Siapa lebih kuat? Rani dengan harta peninggalan suami atau Ezra si raja tambang.
"Aku mau jumpa pengacara kami." kata Rani melemparkan pandang ke arah Ezra dan Farhan. Rani sangat marah melibatkan pihak hukum dalam urusan asmara. Kalau Ezra mau patuh semua akan beres. Mengapa Ezra justru sengaja melawan dia.
"Baik Bu...tapi ikut kita dulu! Nanti silahkan hubungi pengacara keluarga anda. Kami siap kerja sama asal ibu juga kerja sama. Silahkan!" Salah satu polisi mempersilahkan Rani masuk ke mobil mereka.
Rani melengos merasa jijik numpang mobil tua. Dia mana level berada di mobil seharga ratusan juta. Levelnya yang bunyinya pakai ember-ember.
"Maaf ya! Apa aku harus numpang mobil rongsokan kalian? Aku pergi dengan mobilku sendiri."
"Maaf Bu! Anda harus ikut kami karena kami bawa surat tugas. Anda menolak berarti melawan hukum."
"Pokoknya aku tak mau ikut kalian. Salah satu di antara kalian boleh ikut mobil aku." kata Rani angkuh seolah dia adalah ratu di atas ratu.
Ketiga polisi saling berpandangan cari solusi terbaik jangan sampai dibilang anarkis pada tersangka. Mereka tetap harus mengaju pada praduga tak bersalah. Semua kejahatan Rani masih harus diusut lebih jauh.
"Baik Bu! Kami berdua yang akan bawa mobil ibu. Dan supir ibu ikut mobil kami. Kita saling menghargai. Bagaimana?"
"Baiklah! Oya Ezra.. aku menunggu jawaban kamu untuk segera menikah. Aku tidak peduli pada isteri kecilmu. Bagiku dia bukan apa-apa."
Ezra malas menjawab. Ezra serahkan semuanya kepada pihak aparat. Toh semua bukti susah mengarah kepada Rani. Mau mengelak juga takkan bisa.
Rani pergi dibawa oleh pihak kepolisian. Ezra dan Farhan menarik nafas lega akhirnya bibit penyakit bisa diamankan walau cuma untuk sementara.
Farhan segera menutup pintu pagar agar tak ada gangguan pada Ezra dan Adeeva. Farhan sudah melihat kesungguhan Ezra pada adiknya. Farhan bersyukur Ezra tidak seburuk cerita orang. Di mata Farhan justru Ezra sangat keren ungkap rasa sayang pada Adeeva. Tidak plin plan masih ingin menggoda Rani.
Kedua lelaki dewasa ini masuk ke dalam rumah bergabung kembali dengan segenap keluarga Abah.
Semua mengarahkan mata pada Ezra dan Farhan. Rasa kepo merajai hati mereka mau tahu siapa yang bikin onar.
"Siapa nak Ezra?" tanya Oma paling duluan.
"Orang suka bikin masalah. Tak usah kita pikirkan orang model itu. Sudah siap masakan Umi?" Farhan coba berkilah tak mau bebani adiknya dengan pikiran buruk.
"Sudah...ayok kita pindah ke ruang makan! Kita makan bersama sambut kepulangan Eva!" ajak Umi paham Farhan sedang tutupi sesuatu dari Adeeva. Umi orang berpengalaman pasti tahu Farhan sedang melindungi adiknya.
"Ayok...!" Oma bersemangat merayakan kemenangan Adeeva lawan Angkara murka. Adeeva berhasil menjinakkan rasa kesal pada Ezra. Oma tentu saja berharap Ezra dan Adeeva langgeng hingga anak cucu.
__ADS_1
Ezra balik ke kantor seusai makan siang. Ezra bukan cuma sekedar berkantor tapi harus tekan pihak polisi agar tidak tergiur pada janji materi Rani. Wanita gila itu tentu tak segan rogoh kantong agar terbebas dari segala jeratan hukum.
Ezra tak peduli berapa lama Rani akan dihukum. Yang penting wanita itu harus merasakan dinginnya lantai penjara agar kapok untuk berbuat jahat lagi.
Adeeva dimanja tak boleh banyak aktifitas oleh Umi. Walaupun sudah pulih Adeeva tetap harus jaga kesehatan agar anaknya berkembang dengan baik.
Adeeva dipaksa duduk manis di ruang keluarga tak boleh ke mana-mana sesuai amanah Ezra.
Adeeva tak bisa berbuat banyak selain patuh. Untunglah ada Desi siap temani Adeeva usir rasa bosan.
Kini kedua sahabat baik itu duduk santai sambil nonton televisi sarat dengan iklan. Sebentar-sebentar iklan muncul bikin ilfil.
Adeeva tidak fokus ke layar kaca karena hatinya melayang ke kantor. Adeeva tak tahu bagaimana perkembangan kantor sejak dia jatuh sakit.
"Eva...pikiran kamu tour sampai ke mana?" tegur Desi melihat pandangan mata Adeeva kosong.
"Teh...begitu banyak kejadian datang sejak aku masuk ke dalam hidup pak Ezra. Kadang aku bertanya apa kami ini jodoh atau tidak?" Adeeva memeluk bantal sofa ke dada ragu pada hubungan dia dan Ezra.
Desi tertawa merasa lucu Adeeva masih tanya soal jodoh. Dalam perut sudah ada Ezra junior masih ragu pada hubungan mereka.
"Eva...buang jauh pikiran buruk! Pak Ezra sangat sayang padamu! Kamu beruntung dapat suami baik walau tua sedikit untukmu. Pupuklah hubungan kalian! Buang semua keraguan dalam hati."
Adeeva menurun dagu ke atas bantal coba pahami maksud Desi. Apa yang dikatakan Desi ada benarnya tapi kehidupan percintaan Ezra carut marut. Apa Adeeva sanggup bersabar bila ada wanita lain datang.
"Kuakui Ezra memang baik walaupun aku belum hamil tapi aku tak tahan bila harus berbagi suami. Aku jijik."
"Kau harus yakin pada diri sendiri. Dia sudah tua dan kamu muda. Bila dia macam-macam kau ancam dia bawa lari anak kalian. Pasti kena serangan jantung."
"Gitu ya?"
"Pasti..."
"Oya...teteh kabur ke sini ada apa?"
Desi muram dengar pertanyaan Adeeva. Apa yang dialami oleh Desi bukanlah satu prestasi melainkan satu kebodohan.
"Aku dilabrak tunangan Judika. Kami memang pergi nonton bareng. Ada kang Imron dan teh Uci. Tapi mendadak teh Uci sakit perut dan pulang duluan. Tinggal kami berdua. Besoknya berita tersebar aku rebut Judika. Kau tahulah akhirnya. Aku malu maka minta pindah." cerita Desi sedih.
"Teh Desi dan Pak Judika tidak terjadi sesuatu kan?"
"Ya ampun kamu ini! Kita sekantor sudah berapa tahun? Kalau kami ada apa-apa mengapa baru sekarang terjadi? Aku juga duluan kenal Judika daripada tunangannya."
Adeeva mangut-manggut memahami maksud Desi. Kalau memang Desi suka pada Judika tentu sudah dimulai dari dulu. Toh selama ini hubungan mereka sangat akrab seperti saudara saja. Tak pernah bahas cinta.
"Sudahlah teh! Tenangkan saja pikiran di sini. Mulai besok teteh sudah boleh masuk kerja. Aku akan meminta pada Ezra untuk mengatur posisi kamu di kantor."
"Jangan jauh dari keahlian aku! Aku sudah terbiasa di bagian program."
"Kayak aku tak kenal teteh saja. Untuk tempat tinggal teteh tinggal saja di sini. Tak perlu kost di luaran."
"Apa tidak merepotkan keluarga kamu? Aku rasa lebih baik aku cari tempat tinggal yang dekat dengan kantor. Dengan demikian aku bisa menghemat uang transportasi."
"Nanti kita pikirkan itu! Untuk sementara teteh tinggal di sini saja. Aku rasa tak lama lagi Ezra pasti akan mengajak aku pindah ke rumahnya. Dia tentu tidak nyaman tinggal di sini."
"Bagaimana bagus di kamu saja. Aku sudah tak sabar ingin segera masuk kantor menghilangkan stres akibat tuduhan tunangan Judika."
"Aku juga bosan duduk seperti orang bodoh. Bertapa tak selesai-selesai. Ntah kapan bisa turun gunung masuk ke dunia persilatan lagi."
__ADS_1
"Hei..hei...jangan nak ya! Hentikan angan nakal kamu! Jangan mimpi mau berantem lagi! Apa kamu tak kasihan pada anakmu?"
Adeeva merasa Desi lucu kalau kuatir. Kedua alis saling bertautan kening berlipat-lipat. Adeeva merasa Desi mirip omanya kalau lagi banyak pikiran.
"Tenang teh! Aku akan hati-hati jaga bocil-bocil dalam perut aku ini! Mulai sekarang aku akan perkenalkan gerakan taekwondo biar mereka jadi petarung sejati."
"Mereka? Maksudmu anak kalian kembar?"
"Bukan mataku lho! Tapi kata dokter. Dokternya lucu dan asyik. Punya suami model dokter itu tak bakal sepi hidup kita."
"Tak pantas kagumi laki lain. Kamu sudah punya suami dan calon anak. Berdamai dengan hati kenapa?"
"Ok..."
Desi anggap Adeeva sudah sadar kalau Ezra adalah dunianya sekarang. Tak pantas puji laki lain lagi. Cukup lumuri seluruh mata dengan bayangan lelaki itu. Niscaya hidup Adeeva akan sempurna.
Ezra pulang lewat jam sembilan malam. Adeeva sudah tidur di kamarnya. Desi tahu diri mana berani tidur di kamar Adeeva karena tahu suaminya akan segera pulang. Desi harus punya rasa malu untuk tidak mengganggu pasangan suami istri.
Ezra yang kaya raya harus numpang tidur di rumah mertua demi keselamatan Adeeva. Andaikata Ezra membawa Adeeva pindah ke apartemennya maka keselamatan Adeeva akan menjadi taruhannya. Selama Rani belum ada ketetapan hukum Ezra tetap harus hati-hati.
Ezra merasa tenang melihat wanita yang dia sayangi telah pulas. Rasa lelah tak terasa begitu melihat Adeeva dalam kondisi stabil. Ezra tidak sabaran ingin melihat putranya lahir ke dunia. Ezra sangat merindukan momen menjadi seorang ayah.
Laki ini tidak ganggu tidur Adeeva melainkan memeluk wanita itu agar tidurnya juga nyenyak.
Malam ini Ezra merasakan tidur paling damai berada di dalam pelukan wanita yang tercinta. Semoga saja kedamaian ini tidak cepat berlalu. Tetap demikian sampai akhir hayat mereka.
Pagi subuh sudah terdengar aktifitas di rumah Abah. Satu persatu penghuni rumah bangun untuk laksanakan ibadah sholat subuh. Bumil muda tidak ketinggalan untuk mendapat ridho dari Allah.
Adeeva terbangun dengan tubuh makin segar. Semua telah kembali pada kondisi semula. Adeeva tidak terganggu oleh morning sick pagi ini. Mungkin efek kehadiran Ezra terapi rasa mual yang cukup menganggu.
Adeeva melirik sosok tinggi besar di sampingnya dengan senyum nakal. Ezra tertidur sangat pulas. Kalau ada gempa besar mungkin takkan ganggu tidurnya. Kebo saja kalah.
Adeeva menggunakan ujung rambut gelitik hidung Ezra biar bangun. Sekali tak ada reaksi. Kedua kali Ezra menggosok hidung tanpa buka mata.
Laki ini pasti masih bermimpi diganggu ulat bulu. Ezra tak tahu sedang diusik oleh kuda Poni nakal.
Adeeva gemas Ezra tak kunjung buka mata. Masa diganggu begitu masih ogah buka mata.
"Hubby..." bisik Adeeva penuh nada merayu. Orang yang mendengar pasti akan merinding dengar suara genit Adeeva. Persis cewek nakal rayu mangsa.
Pancingan Adeeva berhasil. Perlahan Ezra buka mata menatap wajah cantik Adeeva. Tanpa make up Adeeva tetap cantik. Gimanalah kalau wanita ini berdandan. Tentu cantiknya luar biasa.
"Pagi sayang... kok cepat amat bangun?"
"Ini sudah subuh. Ini tempat Abah. Hubby tentu tak mau dicap menantu produk umat atheis?"
Ezra menarik badan bersandar pada pinggir tempat tidur. Mata Ezra tak bosan menatap wajah bersih Adeeva.
Kata orang tua. Kalau mau tahu kecantikan seorang wanita adalah masa dia baru bangun tidur. Di situlah keaslian wanita itu muncul. Tanpa bedak, tanpa alat kosmetik.
"Kau cantik..." gumam Ezra tak bisa bohongi diri sendiri kalau Adeeva makin cantik.
"Pagi-pagi gombal! Belum ada yang receh! Ayo cuci muka dan berwudhu! Jangan maluin Eva tak mau sholat subuh!"
Ezra meringis mengingat belum sempat belajar agama akibat berbagai masalah hantam dia. Seluruh waktu tersita oleh tugas kantor dan juga urus Adeeva.
"Aku takut malu."
__ADS_1
"Ikut saja! Abah akan jadi imam. Lebih baik dimulai dari sekarang daripada tidak samasekali."
"Iya ratuku!" Ezra menyeret tubuh ke kamar mandi. Tak ada guna lawan ibu hamil. Tidak hamil saja mulut Adeeva sulit dilawan apalagi sekarang hamil. Jamin lebih runcing.